
Dika Berkunjung Ke Rumah Maya.
Malam ini Dika memang mengantar Maya pulang. Dia bertujuan untuk menjenguk mamanya Maya. Sepanjang perjalanan Dika dan Maya hanya diam saja. Mereka tak berani memulai pembicaraan duluan. Maya dan Dika masih kikuk.
Untuk mencairkan suasana, Dika pun mencoba membuka obrolan.
"Kita makan malam dulu yuk May..!! Sekalian nanti kita beli makanan buat tante dan Adit"Ajak Dika pada Maya.
"Gimana kalo kita makan di rumah aja, Mas..!! Kalo kita makan diluar dulu baru bawa makanannya ke rumah, mama nanti kemalaman makan malamnya. Karena biasanya mama dan Adit menunggu Maya pulang kerja biar makan malam bersama. Apalagi sejak Maya kerja di kantornya mas. Kan jam kerja nya tetap dan nggak terlalu malam untuk menunggu Maya makan malam bersama."Jelas Maya.
"O iya kamu benar, May..!! Ya sudah kita singgah di cafe itu ya. Kita beli makanan untuk kita makan di rumah kamu saja."Dika memutuskan.
"Baik mas. Lebih bagus begitu."Maya setuju usul Dika.
Dika membawanya ke cafe tempat Maya kerja dulu. Maya yang tak menyadarinya pun ngikut saja dengan Dika. Tak lama Dika pun berhenti di depan cafe itu.
"Loh kok kita berhenti mas?"Tanya Maya
"Kan mas tadi sudah bilang mau beli makan malam untuk kita makan di rumah kamu."Jelas Dika.
"Iya Maya tau. Tapi inikan cafe tempat Maya kerja dulu. Kita beli di tempat lain saja mas. Maya nggak mau ketemu sama manager Maya dulu. Maya masih nggak suka sama dia."Maya jujur mengatakannya.
"Ooo karena itu. Nggak apa-apa May. Sekarang kan kamu jadi tamu mereka bukan pegawai. Nggak perlu takut. Kamu kan nggak bakalan di marahi sama manager itu lagi."
"Iya juga ya mas. Baiklah kalo gitu ayo kita turun."Ucap Maya.
Dika dan Maya pun turun dari mobil. Bersama dengan Dika, Maya berjalan masuk ke dalam cafe itu. Dika menyuruh Maya duduk di kursi karena dia akan memesankan makanan yang akan dibungkus buat di bawa pulang.
Maya pun menuruti keinginan Dika. Selayaknya kebiasaan pelayan melihat ada tamu yang duduk di cafe itu pelayan pun langsung mendatanginya dan bertanya pada pelanggan tersebut.
"Selamat siang mbak. Mau pesan apa?"Tanya pelayan itu pada Maya.
"Sita? Apa kabar?"Maya langsung ramah melihat temannya dulu itu.
__ADS_1
"Aku baik kok Maya. Kamu ngapain ke sini? Mau ngelamar kerja di sini lagi?"Tanya Sita.
"Nggak dong. Aku sudah dapat pekerjaan lain Sit. Lumayan juga gajinya."Cerita Maya.
"Syukurlah aku senang mendengarnya kalo kamu bisa dapat kerjaan bagus dengan cepat. Trus kamu ngapain kesini? Mau makan? Kamu sendiri?"Tanya Sita penasaran.
"Oo itu. Aku sama mas Dika. Itu loh orang yang nabrak aku kemaren. Aku sekarang kerja di kantornya dia. Aku hanya menemani mas Dika membeli makanan di sini. Katanya dia mau makan di rumahku sekalian jenguk mama."Jelas Maya.
"Cie.. Cie.. Kelihatannya Maya dapat cowok kaya nih..!! Selamat ya..!!"
"Belum jadi pacar Sita. Lagian mana mau sih dia sama aku. Secara aku sama dia itu kan beda kelas. Kamu tau sendiri kan aku anak yatim dan miskin sementara dia bos perusahaan besar. Aku nggak berani bermimpi Sit. Cerita CEO perusahaan jatuh cinta dan menikah dengan karyawan atau pembantunya hanya ada di cerita novel. Aku belum pernah melihatnya di kehidupan nyata."Kata Maya
"Ya elah May. Jangan pesimis gitu. Namanya juga jodoh. Kan Tuhan yang menentukan. Kita nggak tau jalan kehidupan kita ke depannya. Bisa jadi kamu berjodoh dengannya. Kan hidup kamu bisa berubah jadi lebih baik May."Jelas Sita.
"Aku nggak berani bermimpi seperti itu. Takut sakit kalo kenyataannya tak seindah di mimpi."
"Ya sudah deh kalo gitu. Kamu nggak mau pesankan? Aku mau ngelayani tamu lain deh. Tuh liat manager galak itu ngeliat ke sini terus dengan tatapan hendak menelanku hidup-hidup. Kamu tau sendirikan?"Ucap Sita.
"Ya sudah Sit, kamu kerja aja. Aku nggak pesan apa-apa kok. Kan sudah dipesankan sama mas Dika di sana."Maya menunjuk keberadaan Dika.
"Masih sama kok Sita. Aku nggak pernah ganti nomor telpon."Maya memastikan pada Sita
"Baiklah. Bye Maya..!!
Sita pun pergi ke meja lain tempat tamu yang baru datang duduk. Sita menyapa dan menanyakan makanan apa yang mau dipesan tamu itu.
Beberapa menit kemudian, Dika pun kembali ke meja tempat Maya duduk. Dika membawa beberapa plastik makanan di tangannya.
"Ayo May. Kita pergi dari sini."Ajak Dika.
"Banyak banget makanannya mas? Mubazir nanti kalo nggak kemakan."Ucap Maya.
"Kamu tenang aja May. Saya juga pernah susah. Jadi saya tau cara menghargai uang. Tak akan ada makanan yang terbuang. Sebagian makanan ini bisa di panaskan untuk sarapan dan makan siang kalian besok. Supaya kamu nggak kerepotan besok pagi sebelum pergi kerja."Dika menjelaskan
__ADS_1
"Aku nggak merasa capek kok mas kalo untuk keluargaku. Justru aku senang kalo melihat mereka juga senang."
"Ya sudah deh. Mas percaya kok. Yuk kita pulang. Takut makanannya keburu dingin"Ajak Dika.
"Ayo mas."
Maya dan Dika pun berjalan ke arah parkiran mobil Dika. Dika memasukkan semua makanan yang sudah dibelinya ke bangku belakang. Lalu Dika masuk ke mobil dan melajukan mobilnya ke arah rumah Maya. Untungnya Dika masih mengingat jalan ke rumah Maya.
Tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah Maya. Maya pun mengetuk pintu rumahnya beberapa kali. Mendengar ada tamu Adit langsung membukakan pintunya.
"Assalammualaikum..!!"Sapa Maya.
"Walaikumsalam kak Maya. Eh ada mas Dika juga. Silahkan masuk kak."Suruh Adit.
"Adit, ini mas bawain makanan. Di siapin ya biar kita makan malam bareng. Kata kakak kamu, kalian biasa makan malam bersamas etiap malamnya."Dika menyerahkan bungkusan makanan itu pada Adit.
"Biar Maya aja mas supaya Adit bisa membangunkan mama di kamar agar kita bisa makan."Ucap Maya.
"Baiklah kalo gitu. Bungkusan ini mas kasi ke kamu aja ya."Dika menyerahkan bungkusan makanan itu pada Maya.
Maya bergegas ke dapur. Dia memindahkan makanan yang harus dimakan secepatnya ke wadah lalu menatanya di meja makan kecil rumah mereka. Sementara Adit membantu mamanya berjalan ke arah ruang makan agar mereka dapat makan bersama malam ini.
Melihat mama Maya keluar dari kamar, Dika spontan menyalam mama Maya dan menyapanya. Mama Maya yang melihat perlakuan Dika hanya diam terpaku mencoba megingat siapa gerangan pemuda ini.
Setelah sekian lama, mama Maya pun mengenali Dika sebagai teman Maya yang ntah siapa namaya.
"Kamu teman Maya yang kemaren nolongin tante kan?"Mama Maya mengingatkan.
"Iya tante. Benar. Saya orang itu. Gimana keadaan tante apa sudah enakan? Ada lagi yang sakit?"Tanya Dika.
"Nggak ada Dika. Tante beneran nggak sakit lagi kan?"Dika memastikan.
"Benar kok nak. Tante sudah sehat.Dokter bilang tadi tante penyakit Mama Maya sudah tidak ada lagi tadi."
__ADS_1
Dika mengajak mamanya Maya ngomong panjang kali lebar segera setelah ngobrol dengan penjual bakso tersbut di dekat minimarket itu. Mereka semua makan dengan lahap dan cepat.