
Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan Chris dan Laura.
Adelia datang kekantornya dengan perasaan gembira, setelah menerima panggilan dari Laura beberapa hari lalu, Adelia sangat yakin jika perjodohan itu sudah berjalan dengan lancar apalagi ini sudah beberapa hari dan tidak ada yang menghubunginya untuk complain.
Laura bahkan memintanya mengirimkan profil Chris dan meminta semua informasi tentang pria itu padanya.
Seperti yang dia tebak, dia tidak akan salah memilihkan Laura untuk pria tua itu.
Adelia masuk kekantornya dengan hati gembira, dia sangat siap untuk menjodohkan klient lainnya.
"Selama siang bu." sapa resepsionis yang melihat kedatangannya.
"Siang." jawabnya.
"Bu, ada tamu yang menunggu."
"Siapa? Klient?"
"Bukan, kakak anda telah menunggu diruangan anda."
"Oh kak Sean, oke."
Adalia segera berlalu dari sana, hatinya sedang gembira karena dia pikir telah sukses menjodohkan Laura dan Chris.
Saat masuk kedalam ruangannya, Adelia melihat kakaknya sedang duduk dengan seorang pria disampingnya.
"Kak Sean, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Del, darimana saja kau? Kakak sudah menunggumu sedari tadi."
"Maaf kak, aku ada urusan."
Adelia meletakkan tasnya dan duduk dikursinya, dia juga melirik kearah pria yang sedang duduk disamping kakaknya.
"Oh ya kenalkan, ini teman kakak."
Adelia segera bangkit berdiri untuk menghampiri pria itu, begitu juga dengan Robet, dia sudah tidak sabar untuk berkenalan dengan Adelia.
"Kau?" tanya Adelia, samar-samar dia masih mengenali wajah itu.
"Masih Ingat denganku?" Robet tersenyum padanya.
"Kau pria kemarin." kata Adelia tidak percaya.
"Benar."
Adelia tersenyum dan mengulurkan tangannya, dia tidak menyangka jika pria itu adalah sahabat kakaknya.
"Adelia." kau pasti sudah tahu dari kakakku ujarnya.
Robet tersenyum manis dan menerima uluran tangan Adelia, dia juga memperhatikan wajah cantik Adelia dengan seksama.
"Robet."
Adelia kembali tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman tangan Robet, dia melakukan itu karena Robet tidak melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Kakak ada perlu apa kemari?" tanyanya.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu dan tentu saja temanku ini ingin meminta bantuanmu"
"Apa benar?" tanya Adelia.
"Tentu, benarkan Robet?" tanya Sean.
Robet mengangguk dan kembali duduk diatas sofa.
"Apa kakak tidak ingin meminta bantuanku? Aku bisa memilih kakak ipar yang cocok untuk kakak." godanya.
"Oh tidak... Tidak! Aku punya banyak pacar jadi aku tidak butuh bantuanmu!" tolak Sean dengan cepat.
"Dasar playboy." ucap Adelia kesal.
"Apa kau tidak suka dengan playboy?" sela Robet.
Adelia langsung melihat kearah Robet, apa maksudnya? Mana ada wanita yang suka dengan seorang playboy.
"Asal kalian berdua tahu, tidak ada wanita yang suka dengan playboy." jawabnya.
Diam-diam Sean menyikut lengan Robet dan berbisik pada sahabatnya itu.
"Jika kau ingin mendapatkan adikku maka berhentilah bermain-main dengan wanita" bisiknya.
"Sialan, kangan berbisik disini nanti adikmu akan mendengar." maki Robet pelan.
"Del, apa kau sudah makan siang?" tanya Sean.
"Bagaimana jika makan siang dengan kami." ajak kakaknya.
"Boleh saja, aku juga lagi senggang."
"Kalau begitu ayo, tunggu apa lagi."
Sean bangkit berdiri begitu juga dengan Robet sedangkan Adelia mengambil Tasnya untuk mengikuti kedua pria itu kelaur dari ruangannya.
Dengan menggunakan mobil Sean mereka menuju kesebuah restoran yang ada ditengah-tengah ibukota jakarta.
Sedangkan saat itu ditempat lain, Chris benar-benar sudah malas mengikuti perjodohan itu dan tidak mau meminta bantuan Adelia lagi.
Semenjak pertemuannya dengan Luara, wanita itu datang kekantornya berkali-kali dan menggangunya.
Chris sangat marah, dari mana wanita itu tahu alamat kantornya?
Bahkan saat ini Laura datang lagi dan mengajaknya pergi makan siang disebuah restorant yang telah dipesannya.
"Chris, ayolah pergi makan siang denganku." bujuk Laura.
Chris memijat pelipisnya, kesal dengan Laura. Dia paling benci dengan wanita pemaksa seperti ini.
Tapi sekretarisnya memberikan saran untuknya, meminta bosnya untuk mencoba bertahan dengan Laura, siapa tahu mereka akan menjadi pasangan yang cocok.
"Laura, aku sedang sibuk!" katanya kesal.
__ADS_1
"Oh Ayolah, hanya makan siang. Setelah ini aku akan pergi." pinta Laura.
Chris menarik nafasnya dengan berat, sepertinya dia tidak punya pilihan karena dia tidak mau Laura mengganggunya sepanjang waktu.
"Hanya makan siang." katanya terpaksa.
Laura langsung tersenyum senang karena Chris mau makan siang dengannya, tidak membuang waktu, merekapun pergi kesebuah restorant yang telah dipesan oleh Laura.
Selama diperjalanan, Laura bergelayut manja dan menempel padanya, bahkan wanita itu tidak henti-hentinya berbicara sampai membuat kepala Chris pusing.
Chirs benar-benar menahan hatinya, berusaha bersabar. Perkataan ibunya kembali terngiang dikepalanya memintanya untuk mencoba.
Bukannya dia benci dengan wanita, dia hanya terlalu kaku dan entah kenapa selalu tidak bisa. Apalagi menghadapi wanita seperti Laura? Tidak bisa diam sedari tadi, apa mulut wanita itu tidak ada remnya?
Dia bukan pecinta sesama jenis, tapi dia benar-benar butuh wanita yang mengerti akan dirinya.
Setelah mereka tiba, Laura menggandeng tangannya dengan mesra sedangkan. Chris hanya membiarkannya, bagaimanapun dia tetap harus mencoba.
Mereka duduk disebuah meja yang telah dipesan oleh Laura sebelumnya, restoran itu cukup ramai karena memang sedang jam makan siang.
"Chris, apa yang ingin kau makan?" tanya Laura padanya.
"Terserah." jawabnya malas.
Chris hanya memperhatikan orang-orang didalam restoran itu dan membiarkan Laura memesan apapun yang dia suka karena dia benar-benar malas saat itu.
Tidak lama kemudian makanan yang Laura pesanpun datang, Chris memakan makanan itu dengan tidak niat. Selera makannya benar-benar hilang apalagi mulut Luara yang tidak bisa diam.
Entah apa yang dibicarakan oleh Laura, selalu saja ada yang dibahasnya dan Chris mendengarnya dengan malas, rasanya Laura seperti induk bebek yang sedang mencari anaknya yang hilang dan itu, membuat telinga Chris sakit.
Setelah selesai makan, Chris bangkit berdiri hendak pergi kekamar kecil. Saat melewati beberapa meja, mata Chris menangkap tiga orang yang sedang berbicara dan tertawa.
Chris menghentikan langkahnya untuk melihat ketiga orang itu dengan seksama.
"Adelia sedang bersama dengan dua orang pria." katanya dalam hati.
Saat Sean pergi kearah kasir, Chris segera menghampiri Adelia, mengurungkan niatnya untuk kekamar kecil.
Dia ingin berbicara pada pemilik biro jodoh itu, memintanya untuk menjauhkan Laura darinya karena dia sudah tidak tahan dengan wanita itu.
"Apa kau juga menjodohkan pasangan gay?"
Chris berdiri didepan Adelia dan menatap kedua orang itu dengan tajam sedangkan Adelia begitu kaget saat melihat Chris disana.
"Chris?" katanya dalam hati.
Kenapa pria aneh itu ada disana? Tanpa basa basi Chris segera menarik tangan Adelia dan membawanya pergi keluar dari restoran itu dengan cepat.
"Hei, tunggu!" Robet bangkit berdiri untuk mengejar Adelia.
Sean memalingkan wajahnya saat mendengar teriakan Robet, dia melihat kearah Robet yang sedang mengejar Adelia yang tampak sudah keluar dari restoran itu bersama dengan seorang pria.
Apa yang telah terjadi? Adiknya pergi dengan siapa? Walau begitu dia tidak bisa mengejar adiknya karena dia sedang membayar makanan yang telah mereka makan.
Adelia mengikuti Chris dengan kebingungan dan bertanya dalam hati, ada apa?
__ADS_1