Angel Of Love

Angel Of Love
Diabaikan


__ADS_3

Saat itu diruang tamu rumah keluarga Rajendra, tampak seorang anak muda sedang duduk disana untuk menunggu Viara, pemuda itu adalah Rava.


Pagi itu Rava datang kerumah itu untuk menjemput Viara dan menunggu gadis itu untuk berangkat kesekolah bersama-sama.


Walaupun sekolah mereka berbeda tapi jaraknya tidaklah jauh, Rava berangkat pagi-pagi dari rumahnya dengan supir pribadinya dan tentu saja, sebelum berangkat kesekolahnya anak muda itu mampir untuk menjemput gadis pujaan hatinya.


Dia tidak akan menyerah begitu saja karena sedari dulu dia sudah menyukai Viara dan akan dia buktikan cintanya pada gadis itu.


Beruntungnya pagi-pagi dia sudah datang karena Viara masih ada dirumah dan belum berangkat kesekolah.


Sedangkan saat itu Viara tampak sedang sibuk didalam dapur untuk membantu tante Mirna, itu kebiasaannya setiap pagi semenjak dia tinggal dirumah itu.


Jika ada waktu dia pasti akan mambantu tante Mirna sekalipun dilarang karena dirumah itu memang ada beberapa pembantu.


Dia tidak enak hati jika tidak melakukan apapun apalagi keluarga itu sangat baik terhadapnya, Viara berusaha melakukan apapun yang dia bisa untuk membalas sedikit budi keluarga itu walaupun itu tidaklah berarti bagi mereka.


Setelah selesai membantu tante Mirna membuat sarapan, Viara segera berlari hendak naik keatas untuk mengganti pakaian Sekolahnya.


Dia harus bergegas karena tidak ingin membuat Rava menunggu lama tapi tidak hanya itu, dia juga tidak mau terlambat pergi kesekolah.


Saat melewati Rava, dia menghentikan langkahnya dan berkata:


"Rava, tunggu sebentar ya." pinta Viara saat gadis itu melewati sahabatnya.


"Ngak apa-apa, santai aja masih banyak waktu kok." ujar Rava pula.


Rava berkata demikian supaya Viara tidak merasa enak hati karena sudah membuatnya menunggu.


Viara tersenyum manis dan segera berlari menaiki anak tangga dan setelah tiba dikamar, Viara membuka pintu kamarnya dan pada saat Viara hendak masuk kedalam kamarnya, tampak Sean keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga.


Matanya terbelakak kaget saat melihat seorang pemuda sedang duduk diruang tamu sambil memainkan ponselnya.


Sambil berjalan Sean menggerutu dalam hati:


"Lagi-lagi anak ini!" gerutunya kesal.


Walaupun begitu, Sean hanya melihatnya sejenak dan langsung menuju dapurnya tanpa memperdulikan Rava.


Lagi pula apa yang mau dia bicarakan pada pemuda itu? Lebih baik dia kedapur untuk sarapan.


Sementara diatas, setelah memakai baju seragamnya, Viara segera meraih tas sekolahnya dan berlari kebawah. Dia sangat tidak enak hati membuat Rava menunggunya terlalu lama.


Dia berlari kecil menuruni anak tangga dan mungkin lebih baik dia langsung mengajak Rava pergi tanpa sarapan lagi.

__ADS_1


"Rava, maaf membuatmu menunggu." ujar Viara saat sudah berdiri didepan anak muda itu.


"Ngak apa-apa, kalau udah selesai ayo kita berangkat." 'Rava bangkit berdiri.


"Bentar ya, aku pamit dulu."


Rava mengangguk dan mengikuti langkah Viara menuju dapur dirumah itu, sesampainya didapur Rava mendapat sebuah tatapan tajam dari seseorang tapi dia tidak menyadarinya.


Sean melotot saat melihat Rava disana, mau apa anak muda itu?


"Om, tante, Viara mau berangkat dulu ya." Viara meminta ijin pada Roy Ranjendra dan istrinya.


Tapi gadis itu tadi tidak mau melihat kearah seseorang dan hal itu membuat Sean jengkel.


Apa Viara tidak melihat dirinya disana? Apa gara-gara ada pemuda itu? Hal itu benar-benar membuatnya kesal!!


Sean berdehem pelan sambil menyeruput kopinya, dia berharap Viara melihat kearah dirinya tapi ya, gadis itu cuek saja sampai membuat Sean semakin jengkel.


"Viara, kenapa tidak sarapan dulu?" tanya tante Mirna.


"Ngak usah tante, Viara bisa sarapan disekolah karena tidak enak hati membuat Rava menunggu lama." jawabnya.


"Ngak apa-apa kok Via, kamu sarapan aja dulu, aku bisa tunggu kok." jawab Rava yang sedang berdiri dibelakang Viara.


Sean terbelakak kaget dan melolot pada ibunya, kenapa harus mengajak pemuda itu sarapan bersama? Yang benar saja!


"Memangnya pemuda itu tidak punya makanan dirumah!!" gerutu Sean dalam hati.


Tapi walaupun dia kesal, dia hanya bisa diam saja dan tidak berkata apa-apa.


"Ngak usah tante." tolak Rava dengan cepat.


"Bagus, cepat pergi sana!" kata Sean dalam hati.


"Ngak apa-apa ayo sini." ajak tante Mirna lagi.


Dengan tidak enak hati Rava mengikuti Viara duduk dimeja makan itu untuk ikut makan bersama dengan keluarga itu.


Saat melihat Sean yang sedang duduk didepannya Rava melebarkan senyumnya dan menyapa pria itu.


"Selamat pagi kak Sean." sapa pemuda itu.


Tapi Sean tidak menjawab dan hanya melirik kearah Rava dengan tajam dari balik cangkir kopi yang sedang dimulutnya.

__ADS_1


Rava jadi bingung dibuatnya, sepertinya dia sudah salah ikut bergabung sarapan disana karena dari lirikan mata Sean sangat jelas mengatakan jika pria itu tidak suka dengannya.


Sean meletakkan gelas kopinya dan bangkit berdiri.


"Loh Sean, mau kemana?" tanya ibunya.


"Mandi mom, aku jadi ngak berselera makan." ujar Sean sambil melihat kearah Rava dengan tajam.


Sean melangkah pergi sedangkan ibu dan ayahnya menatap kepergian putranya dengan heran.


"Ada apa dengan anak itu?" batin mereka.


Viara menundukkan kepalanya dan gadis itu jadi salah paham. Apa karena ada dirinya dan Rava membuat selera makan Sean hilang?


Mereka makan dalam diam dan setelah selesai makan Viara membereskan piring kotor yang ada.


Karena Viara sudah harus berangkat jadi Mirna melarang gadis itu mencuci piring kotor yang ada dan mengatakan jika pembantu yang bisa membereskannya.


Viara mengiyakan perkataan tante Mirna dan segera berpamitan untuk berangkat kesekolah.


Viara dan Rava berjalan keluar dari rumah itu dan pada saat diluar sana Rava merangkul bahu Viara dan membawa gadis itu menuju mobilnya.


"Rava, jangan seperti ini." Viara menyingkirkan tangan Rava dari bahunya.


"Kenapa? Aku hanya merangkulmu saja." Sekarang Rava malah memeluk pinggang Viara.


"Rava aku tidak suka ya kau seperti ini." ujar Viara kesal.


"Iya deh, iya. Maaf." Rava melepaskan tangannya.


Saat tiba dimobil Rava, seorang supir tampak menunggu dan membukakan pintu untuk tuan mudanya.


Rava masuk kedalam mobil itu begitu pula dengan Viara, mobil itu segera melesat dan membawa mereka kesekolah.


Sedangkan saat itu, Sean sedang berdiri didepan jendela kamarnya melihat kebawah sana.


Sean bahkan melihat Rava merangkul bahu Viara bahkan memeluk pinggang gadis itu.


Sean mengusap wajahnya, frustasi! Saat jari jemarinya menyentuh bibirnya Sean langsung teringat saat dirinya merasakan bibir manis Viara.


Bibir gadis itu sangat manis dan rasanya dia ingin mencicipinya lagi.


"Oh Tuhan, apa yang aku pikirkan!!" dengusnya kesal.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus segera mengungsi!" Sean Segera memutar langkahnya menuju kamar mandi.


__ADS_2