Angel Of Love

Angel Of Love
Aku akan menebusnya


__ADS_3

Sean langsung memegangi kedua bahu gadis yang telah berani memanggilnya dengan sebutan 'om', dia sangat kesal dan tidak terima dipanggil seperti itu.


Dia belum tua tapi beraninya gadis itu memanggilnya dengan sebutan om! Apa gadis itu mengira dia sudah om-om?


"Hei, jangan asal bicara kau." ucapnya kesal dan pada saat itu, sean mendorong tubuh gadis itu hingga pelukannya tertepas.


Gadis manis itu menangis dan menatapnya dengan tatapan memohon, seolah-olah sangat berharap bantuan darinya.


"Via, apa yang kau lakukan?" wanita yang mengejarnya langsung menangkap tangan gadis itu.


"Tidak mau, lepaskan! Aku tidak mau menikah dengan kakek-kakek itu." teriaknya gadis itu dan tangisannya semakin pecah.


"Via, jangan asal bicara." kedua orang yang mengejar Via tadi langsung menarik tangan gadis itu untuk membawanya kembali kedalam ruangan tadi.


"Om tolong, aku tidak mau dijual!"


Tangan Via mulai menggapai-gapai kearah Sean dan menangkap jas yang dipakai oleh pria itu.


"Via jangan asal bicara! Tidak ada yang akan menjualmu jadi ayo cepat kembali!"


Kedua orang itu kembali menarik sehingga tubuh Sean ikut tertarik oleh Via dan terjadilah aksi tarik menarik diantara keempat orang itu.


"Wow hentikan!" Sean sangat kesal jadinya.


Kedua orang itupun menghentikan aksi tarik menarik gadis itu.


"Hei, bisa kalian lepaskan dia?" Sean mulai marah.


"Tuan ini tidak ada hubungannya denganmu dan maafkan putri kami telah menarikmu."


"Aku bukan putrinya." teriak Via.


Via segera melepaskan tangannya dari pegangan kedua tangan orang itu dan berlari bersembunyi dibelakang Sean.


"Om tolong aku, paman dan bibiku ingin menjualku demi bisnis." pintanya.


"Hei, bisa kau tidak memanggilku om? Aku belum tua!" Sean sangat kesal mendengarnya, memangnya dimata gadia itu dia sudah setua apa?


"Via, kau jangan asal bicara." teriak seorang lelaki yang ternyata paman gadis itu.

__ADS_1


"Paman, aku tidak mau menikah dengan kakek-kakek itu sebagai penebus hutang kalian." teriak Viara dengan kencang.


"Via, kau tidak punya pilihan jadi ayo ikut dengan kami." ajak bibinya.


Wanita itu mendekati Via dan hendak meraih tangan gadis itu tapi tangannya langsung ditangkap oleh Sean.


"Kalian sungguh keterlaluan! Hanya karena hutang sampai rela menjual keponakan kalian sendiri." ujar Sean marah.


"Tuan, kau hanya orang asing dan jangan ikut campur dalam urusan kami!" kata bibi gadis itu.


"Yah, aku tidak akan ikut campur tapi sebaiknya kalian hentikan keinginan menjual keponakan kalian sendiri."


"Aku mau jual keponakanku atau tidak itu tidak ada hubungannya denganmu." kata paman gadis itu.


Mereka berdua kembali menarik tangan Via dan mendorong tubuh gadis malang itu untuk masuk kembali kedalam ruangan tadi, tentu saja untuk menukar gadis malang itu dengan hutang mereka.


Via berteriak dan melihat kearah Sean, dia benar-benar menatap Sean dengan tatapan memohon supaya pria itu mau membantunya dan membawanya pergi dari sana.


Sean berdecak kesal dan entah mengapa dia merasa iba pada gadis malang itu. Tanpa pikir panjang dan dengan cepat Sean berjalan menghampiri gadis malang yang masih mencoba bertahan agar tidak diseret masuk kedalam sana.


"Hei kalian!"


Panggilan Sean membuat paman dan bibi gadis itu menghentikan langkahnya.


"Gubrak!" paman gadis itupun langsung terjungkal kebelakang.


"Tuan, kau hanya orang asing tapi beraninya kau ikut campur dalam permasalahan keluarga kami!!" paman gadis itu bangkit berdiri dan menyeka darah yang keluar dari bibirnya.


"Aku tidak akan ikut campur jika kalian tidak menganiaya gadis malang ini! Jika kalian masih bersikeras aku bisa melaporkan hal ini kepada pihak berwajib." ancam Sean.


"Silahkan saja, lagipula keponakan kami sudah tujuh belas tahun dan sudah diperbolehkan untuk menikah." jawab bibi gadis itu dengan cepat.


"Apa? Tujuh belas tahun?" Sean tidak percaya.


"Om, tolong aku. Aku sungguh tidak mau menikah dengan kakek-kakek itu." pinta Via lagi dengan berderai air mata.


Dia sungguh berharap pria itu mau membantunya karena dia tidak mau menikah dengan pria tua yang ada didalam sana.


Sean menarik nafasnya, frustasi! Dunia sungguh sudah gila, atau orangnya yang gila?

__ADS_1


"Aku akan menebusnya jadi katakan berapa hutang kalian?" tanyanya.


Paman dan bibi Via saling pandang, apa maksudnya?


"Jangan bercanda tuan, hutang kami tidak sedikit. Mana ada orang sebaik anda yang mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk seorang gadis kampung." jawab paman Via.


"Yah memang tidak ada, tapi anggaplah gadis malang itu bertemu dengan seorang malaikat penolong jadi katakan padaku berapa hutang kalian dan aku akan menebusnya walaupun dia hanya seorang gadis kampung!" ujar Sean kesal.


Via langsung melepaskan tangannya dari genggam tangan bibinya dan setelah itu Via segera berlari kearah Sean dan memegangi tangannya.


"Om, jika om mau menebus Via maka Viara berjanji akan mengikuti kemanapun om pergi. Viara bisa bersih-bersih, mencuci dan memasak jadi Viara bisa menjadi pembantu dirumah om untuk menebus hutang Via pada om." ujar gadis itu panjang lebar.


"Kau tidak perlu melakukan itu dan kau bisa kembali pada kedua orang tuamu."


Viara menggeleng sedangkan air matanya masih mengalir dari kedua matanya.


"Om, orang tua Viara sudah tidak ada. Viara tinggal dengan paman dan bibi tapi jika Om sudah menebus Viara maka Viara akan ikut dengan om. Viara tidak mau tinggal bersama mereka lagi karena Viara takut dijual oleh mereka lagi." mohon gadis malang itu.


Sean mengusap rambutnya dan perasaan iba mengalir didalam hatinya apalagi gadis itu benar-benar memohon padanya.


"Baiklah, aku akan menebusnya jadi katakan padaku berapa hutangmu?" tanya Sean pada paman dan om gadis itu.


"Tuan hutang kami sangat banyak, jadi jangan bercanda."


"Katakan saja!" teriak Sean kesal.


"Du... Dua ratus juta." jawab paman Viara dengan ragu.


"Cih, uang segitu saja! Aku akan membayarnya dan ingat, kalian tidak boleh mencarinya lagi karena sekarang dia sudah jadi milikku."


Setelah berkata demikian Sean segera menarik tangan Viara masuk kembali kedalam ruangan dimana gadis itu keluar tadi, tentu saja untuk menemui orang yang berada didalam saja.


Dan benar saja, seorang kakek-kakek sudah menunggu disana.


"Benar-benar gila!" maki Sean dalam hati.


Setelah menebus gadis malang itu, Sean segera membawa Viara pergi bahkan membawa gadis malang itu pulang kerumahnya.


Dan lagi-lagi terjadi keributan dikeluarga Ranjendra malam itu karena mereka menyangka Sean sudah menculik seorang gadis dan membawanya pulang.

__ADS_1


Sean kelabakan menjelaskan situasi itu pada kedua orang tuanya karena Viara berkata dia sudah menjadi milik Sean sedangkan Adelia tertawa dalam hati.


"Rasakan!"


__ADS_2