
Hari itu, Sean berada didalam kamar adiknya yang sedang ditempati oleh Viara. Dia disana karena Viara meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas sekolah yang tidak dia mengerti.
Viara sedang memegang bukunya dan menanyakan soal-soal yang tidak dia mengeri dengan Sean tapi Sean diam saja tidak menjawab pertanyaan Viara.
Hal itu membuat Viara sangat heran, kenapa Sean diam saja? Apa dia sedang tidak enak badan?
"Kak..kak Sean."
Viara memanggil Sean sambil melambaikan tangannya didepan wajah pria itu dan pada saat itu Sean langsung tersadar dari lamunannya.
"Ya, ada apa?" Sean langsung menatap kearah Viara yang tampak cemas.
"Kak Sean kenapa, apa kakak sedang sakit?"
Tanpa Sean duga, tangan Viara langsung menyentuh dahinya dan dia begitu kaget karena Viara begitu berani menyentuhnya.
Tangan Viara cukup lama disana dan sambil memegangi dahi Sean, Viara juga memegangi dahinya untuk merasakan suhu tubuhnya juga.
"Hm...Dahi kak Sean tidak panas berarti kak Sean tidak sedang sakit." ujar Viara santai.
Sean merasakan panas diwajahnya dan jantungnyapun mulai berdebar-debar tidak karuan karena sentuhan gadis itu.
"Kak Sean?" Viara memanggilnya lagi.
Dengan cepat Sean segera menangkap tangan Viara dari dahinya dan melepaskan tangan gadis itu.
"Maaf, aku baik-baik saja. Sampai dimana tadi?"
Sean mencoba mengalihkan perhatian Viara dan bangkit berdiri dari kursinya, dia berjalan kearah ranjang karena dia tidak mau Viara melihat wajahnya. Jangan sampai Viara melihat wajahnya yang memerah dan mendengar jantungnya yang berdebar akibat sentuhan gadis itu
"Sialan! Aku sudah seperti anak sma yang sedang jatuh cinta!" maki Sean dalam hati.
Sean mengusap rambutnya dan menjatuhkan diri disisi ranjang, pria itu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya dan menangkan jantungnya.
Viara segera mengambil bukunya, berjalan mendekati Sean dan duduk disisi pria itu. Viara membuka bukunya dan menunjukan soal yang tidak dia mengerti kepada Sean dan bertanya bagaimana cara mengerjakan soal Itu?
Selama Viara bertanya, mata Sean tidak berfokus pada buku itu tapi matanya menatap gadis manis yang sedang berbicara disampingnya.
Sean menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bibir ranum milik Viara, entah setan apa yang telah lewat diantara mereka dan berbisik ditelinga Sean.
__ADS_1
Rasanya dia sangat ingin mencicipi bibir ranum milik Viara, dia mulai tersadar saat mendengar pertanyaan dari Viara. Sean mulai memaki dalam hati, apa yang sedang ada didalam pikirannya saat ini?
"Jadi kak Sean, bagaimana cara mengerjakan soal ini?" tanya Viara sambil menunjukan soal yang tidak dia mengerti.
"Oh, yang mana?" Sean mengambil buku itu dari tangan Viara.
Viara kembali menunjuk bukunya sedangkan Sean mulai serius dan mulai menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan soal itu pada Viara.
Viara mengangguk saat mendengar penjelasan Sean sebagai tanda jika dia mengerti dengan penjelasan pria itu.
"Apa kau mengerti sekarang?" Sean bertanya pada Viara.
Viara tersenyum manis dan mengambil bukunya dari tangan Sean.
"Tentu, terima kasih kak."
Tanpa Sean duga Viara menciumi pipinya dan sebelum Viara beranjak pergi Sean melihat wajah Viara memerah karena malu.
Viara memalingkan wajahnya dan bangkit berdiri, dia hendak kembali kearah meja belajar tapi pada saat itu Sean menangkap tangannya sehingga Viara menghentikan langkahnya.
"Kak..Kak Sean." Viara mulai merasa gugup karena Sean menatap kearahnya dengan tajam karena Viara takut jika Sean akan memarahinya karena tindakannya.
Viara semakin gugup saat Sean melingkarkan tangannya kepinggangnya sedangkan tangan pria itu mulai mengusap bibirnya.
"Kak...kak Sean." panggil Viara dengan gugup.
"Ssttttt..!" Sean menunduk dan mengecup bibir Viara tanpa ragu dan sontak saja, buku yang dipegang oleh Viara jatuh dari tangannya.
Viara diam saja tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan setelah Sean melepaskan bibirnya, dia semakin terlihat gugup.
"Kak?"
Sean tidak memperdulikan panggilan Viara dan tangannya kembali mengelus wajah manis Viara, dia juga menatap gadis itu dalam-dalam.
Wajah Viara semakin memerah sedangkan jari Sean kembali mengusap bibirnya, rasanya dia ingin merasakan bibir manis milik Viara lagi.
Sean kembali menunduk sedangkan Viara menahan nafasnya, tadi itu ciuman pertamanya dan itu sungguh ciuman tidak terduga.
Seharusnya dia tidak menciumi pipi Sean tapi walau begitu dia tidak menyesalinya karena dari awal, dimalam Sean menebusnya, dia sudah jadi milik Sean.
__ADS_1
Viara memejamkan matanya, mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Sean dengan erat.
Karena mendapat lampu hijau tidak ditunggu lagi oleh Sean, pria itu langsung mel*mat bibir Viara yang telah membuatnya penasaran sendari tadi.
Viara mengernyitkan dahinya saat Sean memasukkan lidahnya dan menjelajahi rongga mulutnya, Viara mulai kelabakan karena tidak bisa mengikuti permainan lidah Sean.
Dia belum pernah melakukan hal seperti ini dan jujur saja, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Viara meletakkan tangannya didada Sean dan hendak mendorong tubuh Sean karena dia sudah hampir kehabisan nafas tapi Sean tidak perduli, pria itu terus menciumi bibirnya seperti lebah jantan yang sedang menghisap madu bunga.
Saat Sean sibuk merasakan bibir Viara pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dan Mirna muncul dari sana.
"Sean, Viara apa kalian sudah?" Mirna menghentikan ucapannya saat melihat aksi putranya.
Pada saat itu, Sean langsung tersadar dan melepaskan bibirnya dan dengan nafas yang terengah-engah Sean menatap wajah Viara yang memerah sedangkan bibirnya sedikit membengkak karena ulahnya.
"Maaf, kalian bisa lanjutkan." Mirna kembali menutup pintu kamar itu.
Seharusnya dia tidak mengganggu mereka dan sungguh dia datang diwaktu yang tidak tepat.
Setelah kepergian ibunya, Sean langsung memundurkan langkahnya, apa dia sudah gila?
Kenapa dia melakukan hal seperti itu pada Viara?
"Entah ini gara-gara bisikan setan atau gara-gara aku terus menerus melihat adegan ciuman adikku dengan suaminya." kata Sean dalam hati.
Tapi walau begitu tidak seharunya dia melakukan hal seperti itu pada Viara.
"Roy, kita sudah memiliki calon menantu." teriak Mirna dibawah sana.
Sean segera memutar langkahnya dan berlari keluar dari kamar itu untuk mengejar ibunya. Jangan sampai kedua orang tuanya salah paham dengan apa yang telah dia lakukan!
"Mom, jangan salah paham!!" teriaknya sambil menuruni anak tangga.
Setelah Sean keluar dari ruangan itu, Viara memegangi wajahnya yang memerah.Kenapa dia begitu berani membalas ciuman Sean?
Seharusnya dia tidak melakukan hal gila itu dan seharusnya dia tahu, dia bukan siapa-siapa Sean.
Dan yang pasti setelah ini, dia pasti tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan tante Mirna karna dia benar-benar malu dengan tante Mirna.
__ADS_1