
Sean sedang menyandarkan tubuhnya didinding dekat lemari yang ada dirumahnya, pria itu sedang melihat gadis yang sedang membantu ibunya menyiapkan makan malam.
Sudah seminggu sejak kejadian ditoko baju dan hal itu membuat Sean semakin dipenuhi dengan tanda tanya, ada apa dengannya?
Bahkan saat ini Sean hanya berdiri termenung memperhatikan gadis manis itu, dia sudah seperti itu begitu lama dan pada saat itu Adelia menuruni anak tangga, dia sangat heran saat melihat kakaknya berdiri disana sedangkan matanya berfokus pada sesuatu.
Adelia mendekati kakaknya dan melihat kemana arah mata kakaknya memandang, senyumnya langsung mengembang diwajahnya saat melihat arah pandangan kakaknya.
"Viara sangat cantik ya." pancing Adelia.
"Ya, dia cantik dan juga manis." Sean menjawab dengan setengah sadar.
"Jadi kakak suka?" pancing Adelia lagi.
"Suka, siapa yang tidak akan suka dengan gadis manis sepertinya?"
"Oh jadi Viara sangat manis menurut kakak?"
"Semua lelaki juga akan menganggapnya manis."
"Jadi kakak suka ya dengannya?" Adelia kembali menanyakan hal demikian.
"Suka?"
Eh? Sean langsung tersadar dan melihat kearah adiknya yang sedang tersenyum dengan manis.
"Jadi kakak suka ya?" goda Adel lagi.
"Adel, awas kau ya!!"
"Jika kakak suka terus terang saja."
"Jangan sembarangan bicara!"
Sean ingin menangkap tangan adiknya tapi Adelia segera berlari dan Sean mengejarnya, apa-apaan pertanyaan adiknya itu?
"Adel, jangan lari! Awas kau!"
"kak, kenapa kau marah?" Adelia bertanya sambil tertawa.
Adelia berlari menaiki anak tangga dan Sean tetap mengejarnya, mereka membuat keributan sampai ibu dan ayahnya menggeleng-geleng kepala mereka, ya sudah lama sih putra dan putrinya seperti itu.
"Adel!"
Sean menangkap tangan adiknya dan menjepit leher Adelia dengan lengannya yang kekar.
"Adel,vjangan asal bicara lagi ya!" ucapnya dengan kesal.
"Kak maaf, aku cuma menggodamu saja."
"Kenapa sih kau selalu pulang kerumah, tidak seperti biasanya? Sana pulang kerumahmu!"usir Sean kesal.
"Kak, aku hanya ingin menghabiskan waktu dirumah ini sebelum aku menikah memangnya tidak boleh!"
Adelia memegangi lengan kakaknya yang berada dilehernya.
__ADS_1
"Bukan begitu! Kau disini hanya mengganguku saja!"
"Jadi kak Sean tidak mau diganggu supaya bisa mendekati Viara, begitu?" goda Adelia lagi.
"Astaga, Adel!" Sean kehabisan kata-kata sedangkan Adelia memukul-mukul lengan kakaknya.
"Kak Sean lepas!" pintanya.
Sean melepaskan tangannya dan duduk diatas ranjang, pria itu menarik nafasnya dengan panjang dan melihat kearah adiknya yang sedang merapikan rambutnya.
"Del, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?"
"Sudah hampir selesai, kenapa?"
"Baguslah, bagaimana perasaanmu saat hendak menikah?" tanya Sean pula.
"Hei, pertanyaan macam apa itu?"
"Aku ingin tahu saja."
Adelia melihat kakaknya dan duduk disampingnya.
"Tentu saja senang kak, aku sangat bahagia kerena Chris sangat pengertian dan perhatian denganku dan sikapnya juga sangat dewasa. Waktu itu kami pergi melihat rumah dan dia benar-benar menyerahkan semuanya padaku dan membiarkan aku melakukan apapun yang aku suka. Aku sangat senang bertemu dengannya karena dia benar-benar mengerti apa yang aku inginkan."Adelia menceritakan hal itu sedangkan kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
Sean tersenyum dan mengusap kepala adiknya dengan pelan, dia sangat senang melihat kebahagiaan adiknya.
"Adel."
"Ya."
Adelia memalingkan wajahnya,
dan menatap kakaknya dengan heran.
"Bagaimana apanya? Makanya kakak jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai kakak jadi pria kuno!"
"Hei aku tidak kuno ya!" sangkal Sean dengan cepat.
"Kak, cinta itu tidak pandang usia dan kita tidak tahu jodoh kita, bisa saja dengan orang yang berada didekat kita atau bisa saja dengan orang yang lebih tua atau lebih muda dari kita."
Sean hanya diam saja, mencerna satu persatu perkataan adiknya.
"Kakak kenapa sih hari ini?" tanya Adelia curiga.
"Tidak kenapa-napa, aku hanya bertanya saja padamu."
Senyum Adelia mengemban diwajahnya dan pada saat itu sebuah ide muncul dikepalanya.
"Kakak salah menanyakan hal ini padaku, seharusnya kakak menanyakan hal ini pada Chris. Bagaimana rasanya jatuh cinta dengan gadis yang jauh lebih muda? Chris pasti bisa memberikan jawaban kepada kakak." saran Adelia.
"Aku tidak mau ya!" jawab Sean dengan cepat.
"Kenapa? Kakak malu ya? Malu ketahuan sedang jatuh cinta dengan gadis yang lebih muda dari pada kakak?" Tebak Adelia.
"Jangan asal menebak, aku mana mungkin suka dengan Viara." jawab Sean dengan cepat.
__ADS_1
"Aha!" Sorak Adelia dalam hati sedangkan senyum licik langsung mengembang diwajahnya.
"Jadi kakak menyukai Viara?" tanyanya.
"Tidak, aku salah bicara!" sangkal Sean dengan cepat.
"Jadi kenapa kakak menyebut namanya?" tanya Adelia lagi.
Sean langsung bangkit berdiri dan menatap adiknya dengan tajam, seharusnya dia tidak bertanya tadi dan dia sudah salah bertanya pada adiknya yang seorang mak comblang.
"Ngak tahu ah, aku stres jika berbicara terlalu lama denganmu!" ucapnya kesal.
"Aku heran kenapa Chris bisa menyukai wanita yang jauh lebih muda darinya, jujur saja kalau aku sih ngak bakal mau!"
"Kak, awas ya kemakan omongan sendiri!" Adelia mulai kesal.
"Tidak akan! Aku tidak akan seperti pacarmu yang menyukai seorang gadis dengan usia yang terpaut sangat jauh dariku!"
Adelia semakin kesal mendengar perkataan kakaknya, awa saja nanti dan dia berharap kakaknya menyukai Viara biar dia tahu rasa.
"Asal kakak tahu saja, dulu aku juga berkata demikian 'mana mungkin aku menyukai pria tua itu' dan sekarang kakak lihat, aku bahkan akan menikah dengannya."
"Itu dirimu bukan aku! Jadi jangan samakan aku denganmu."
Sean berjalan hendak keluar dari kamar adiknya tapi kemudian pria itu menghentikan langkahnya.
"Oh ya Del, kemarin aku bertemu dengan Robet dan dia mengucapkan terima kasih padamu."
"Kenapa? Aku tidak melakukan hal apapun untuknya." Adelia tampak heran.
"Hei apa kau lupa? Berkat kau dia bisa bertemu dengan putranya dan dia berterima kasih akan hal ini."
Adelia mengangguk tanda dia mengerti.
"Apa kak Robet akan menikahi Erlyn?" tanyanya pula.
"Sepertinya, dia bilang padaku dia melakukan itu demi putranya."
"Baguslah."
Adelia bangkit berdiri dan menghampiri kakaknya.
"Turun makan yuk." ajaknya.
Sean mengangguk dan segera merangkul bahu adiknya, mereka berjalan bersama sambil bercanda, entah apa yang mereka bicarakan bahkan terkadang mereka tampak tertawa.
Mereka menuju kemeja makan dan disana tampak kedua orang tua mereka telah menunggu dengan seorang gadis manis yang tersenyum manis kearah mereka.
Kedua orang tua mereka sangat senang melihat putra dan putri mereka yang tampak akrab.
Adelia duduk disamping ayahnya sedangkan Viara menarik sebuah kursi dan duduk disamping Mirna
Sebelum makan Sean melirik kearah Viara sejenak dan melihat gadis itu yang sedang berbicara dengan ibunya dan tampak tersenyum dengan manis.
Sean memalingkan pandangannya dan mengumpat dalam hati, ini pasti akibat dia sedang jomblo.
__ADS_1