
Kembali lagi saat Sean keluar dari kamar adiknya dan mengejar ibunya yang berteriak dibawah sana.
Sean melangkah menghampiri ayah dan ibunya yang berada dimeja makan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia hanya merasa tidak enak hati karena kepergok oleh ibunya.
Dia juga malu tapi apa boleh dikata, ibunya telah melihat perbuatannya tadi.
Sean menarik sebuah kursi dan duduk disana bersama kedua orang tuanya tanpa berkata apa-apa, sebenarnya dia juga tidak tahu harus berkata apa.
"Sean, mana Viara?" ibunya memulai pembicaraan.
"Lanjut belajar kayaknya." jawabnya dengan malas.
"Kenapa tidak kau ajak makan bersama?"
"Nanti juga Viara turun makan jika sudah belajar mom."
"Sean." Mirna menatap putranya dengan serius.
"Ada apa?" Sean mengambil segelas air lalu meneguknya.
"Kenapa kau cium Viara?"
"Bruuuss!!" air yang berada didalam mulut Sean langsung tersembur keluar saat mendengar pertanyaan ibunya dan sialnya air itu menyembur kearah ayahnya.
Kenapa ibunya bertanya demikian?
"Sean!!!!" Roy melotot pada putranya dengan air menetes dari wajah dan rambutnya.
"Sory dad." katanya dengan tidak enak hati.
Mirna segera menarik tisu untuk mengelap wajah suaminya, dia juga menggeleng melihat sikap putranya. Apa dia sudah salah bertanya?
"Kau ini ya!!!" Roy juga menarik beberapa tisu untuk mengelap wajahnya.
"Daddy jangan salahkan aku, salahkan mommy yang bertanya demikian." Sean tidak terima disalahkan ayahnya karena semua itu gara-gara ibunya yang melontarkan pertanyaan seperti itu!
"Loh, kok salah mommy? Aku kan cuma mau tahu kenapa kau menciumi Viara?" Mirna membela diri tidak mau disalahkan juga.
"Lagian mommy kenapa masuk kedalam kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu sih? Mengganggu kesenangan orang saja!" gerutu Sean kesal.
"Mommy mana tahu kamu didalam sana!"
"Ck, sudahlah mom." ujar Sean malas.
Mirna kembali melihat putranya, jujur dia masih penasaran kenapa putranya menciumi Viara?
"Jadi katakan pada kami kenapa kau menciumnya, apa kau menyukai Viara?" tanya ibunya lagi.
Sean berpikir sejenak, memangnya dia menyukai gadis belia itu? Tidak mungkin bukan?
Jika iya mau ditaruh dimana mukanya? Apalagi saat adiknya tahu?
__ADS_1
Bayangan saat Adelia menertawakannya langsung terbesit dikepalanya dan hal itu tidak boleh terjadi, bisa-bisa dia jadi bahan tertawaan adiknya untuk seumur hidup.
"Ngak tahu mom, tadi itu cuma kebawa suasana." jawabnya.
"Sean, jawaban macam apa itu? Jika kau berani mempermainkan Viara awas saja kau!!" ancam ibunya.
"Aku tahu."
"Sean, Viara masih belia seharusnya kau tahu itu sebelum kau mempengaruhinya." ujar ibunya lagi.
"Mom aku tidak mempengaruhinya."
"Jadi aku menyimpulkan kau menyukainya."
"Mom, walaupun aku menyukainya tapi Viara masih?"
"Apa? Jangan bilang jika Viara masih belia sedangkan tadi aku lihat kau menciumnya dan sepertinya kau tidak memperdulikan hal itu."
Waduh, Sean merasa langsung mati kutu karena perkataan ibunya.
"Daddy." Sean mencoba meminta bantuan.
"Aku tidak ikut campur jadi aku cukup jadi pendengar saja." elak ayahnya.
"Sean jika kau menyukai Viara tidak apa-apa tapi kau harus tahu usia kalian dan Viara masih sekolah jadi apa kau bisa menunggu Viara sampai menyelesaikan sekolahnya?"
"Maksud mommy?"
"Diusia Viara pasti banyak laki-laki yang tertarik dengannya dan tidak menutup kemungkinan jika dia akan menyukai seseorang nantinya." kata ibunya lagi.
Sean hanya diam saja, mencerna satu persatu perkataan ibunya.
"Viara masih muda, ibarat bunga yang mulai mekar sedangkan kau ibarat bunga yang mulai layu." goda ibunya.
"Wow mom, aku tidak setua itu." gerutu Sean kesal sedangkan ayahnya hanya tertawa saja.
"Ini akibatnya kau menyiksa adikmu dan melarang hubungannya dengan suaminya dulu dan inilah karma untukmu!"
"Ya ampun mom, jahat banget sih ngomongnya."
Mirna hanya terkekeh, dia hanya menggoda putranya saja yang memiliki gengsi tinggi itu, seandainya ada putrinya pasti sangat menyenangkan.
"Jadi Jika kau menyukai Viara maka kau harus menjaganya dari para lelaki seperti seekor an*ing penjaga tapi jika tidak jangan mempermainkan gadis polos sepertinya, kasihan."
Sean kembali berpikir, apa dia menyukai Viara?
"Ngak tahu lah mom, aku malas memikirkannya." Sean mulai menyendok nasi dan meletakkan nasi keatas piringnya.
"Sean sana panggil Viara untuk makan." perintah ibunya.
"Mommy saja, aku malas."
__ADS_1
"Sean, kakiku sakit turun naik tangga jadi sana panggil Viara untuk makan bersama kita."
Sean bangkit berdiri sambil menggerutu, pria itu mulai barjalan kearah tangga untuk menuju kamar adiknya.
Saat tiba didepan pintu kamar adiknya Sean agak ragu, apa yang mau dia katakan pada gadis yang ada didalam sana nanti?
Sean menelan ludahnya sebelum mengetuk pintu itu, dia tidak punya pilihan jadi mau tidak mau dia harus memanggil gadis itu.
Sean mulai mengetuk pintu kamar itu dan memanggil Viara.
"Viara, turun makan."
Sean berdiri disana tapi tidak ada jawaban dari dalam, Sean sangat penasaran dan kembali mengetuk pintu kamar itu.
Apa Viara marah padanya karena dia telah mencium gadis itu secara tiba-tiba?
"Viara? Apa kau ada didalam?" tanyanya.
Jika Viara tidak mau membuka pintu itu maka akan dia buka dengan paksa.
Tidak lama kemudian terdengar jawaban dari Viara dan setelah itu, Viara keluar dari kamarnya sambil tersipu malu. Viara hanya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merona dan tidak berani melihat Sean secara langsung.
"Iya kak?" tanyanya sambil menunduk.
"Mommy mengajakmu makan."
Sean memperhatikan gadis manis itu sambil beranjak pergi dengan tanda tanya d dalam hati, apa benar dia menyukai Viara?"
"Iya kak, aku akan turun makan." Viara hendak masuk kedalam kamar itu kembali tapi Sean menangkap tangannya.
"Viara, aku minta maaf soal tadi." ujarnya.
Viara kembali menunduk malu saat mengingat kejadian tadi sedangkan wajahnya sudah merah padam.
"Tidak apa-apa kak."
"Jadi, aku harap kita lupakan kejadian tadi dan anggap tidak pernah terjadi."
Viara memutar tubuhnya dan menatap kearah Sean, kenapa memintanya melupakan kejadian tadi?
Apa Sean sengaja menciumnya dan mempermainkannya? Viara menggeleng pelan, itu juga salahnya karena terbawa suasana dan dia tidak bisa menyalahkan Sean sepenuhnya atas kejadian tadi.
"Aku yang salah karena telah menciummu tiba-tiba jadi maafkan aku, aku harap kau lupakan kejadian tadi." pintanya.
"Tidak apa-apa kak, Viara juga salah." katanya pura-pura.
Padahal Viara sangat sedih, mana mungkin dia bisa melupakan ciuman pertamanya? Tapi walau begitu gadis itu mengangguk pasrah.
"Baguslah, sebaiknya segera turun makan." Sean melepaskan tangan Viara dan melangkah pergi.
Dia tidak tahu jika permintaannya sudah melukai hati Viara sedangkan Viara melihat kepergian Sean dengan kesedihan dihatinya.
__ADS_1