
Adelia tersenyum senang saat melihat seorang pria berdiri didepan rumahnya, pria itu ya si Chris.
Pagi itu Chris datang kerumah kekasihnya untuk menjemputnya dan seperti biasa pria itu selalu tampak rupawan.
Adelia membuka pintu rumahnya dan mengajak Chris masuk kedalam dan begitu Chris masuk kedalam dia langsung mencium bibir kekasihnya.
Chris memeluk Adelia dengan erat sedangkan Adelia mengalungkan tangannya dileher Chris, perbedaan tinggi badan mereka membuat Adelia harus berjinjit saat menciumi pria itu.
"Good morning my Angel." bisik Chris ditelinganya.
"Good morning my?" Adelia jadi bingung.
"Apa?" tanya Chris sambil terkekeh.
"Ah kau menyebalkan." gerutu Adeia.
Chris tersenyum dan mengusap pipi Adelia dengan lembut.
"Apa kita akan seperti ini sepanjang hari?" godanya.
"Chris, kau benar-benar menyebalkan." Adelia mendorong tubuh Chris dan berlalu pergi.
"Chris, apa kau sudah sarapan?" tanyanya.
"Belum." Chris mengikuti Adelia masuk Kedalam dapurnya.
Adelia mulai menyiapkan segelas kopi dan memanggang dua buah roti untuk Chris.
"Chris ,kenapa kau tidak sarapan dirumah? Apa tidak ada yang membuatkannya untukmu?"
"Ya, sekarang sudah ada yang membuatkan." jawabnya sambil menarik sebuah kursi dan duduk disana.
Adelia hanya tersenyum, ternyata seperti ini rasanya punya pacar. Setelah selesai membuat kopi, Adelia meletakkan kopi dan roti yang telah dia buat diatas meja dan dia duduk didepan Chris.
"Apa kau tidak makan?" tanya Chris padanya.
"Tidak, aku baru selesai sarapan."
Chris menyeruput kopi itu dengan santai dan menatap Adelia, hal itu tidak berbeda jauh dengan Adelia, dia juga melakukan hal yang sama.
"Apa kau sudah puas melihatku?"
"Apa sih?!" Adelia tersipu malu dan bangkit berdiri.
"Mau kemana?"
"Siap-siap untuk pergi bekerja."
"Sini." Chris melambaikan tangannya.
Adelia segera mendekati Chris dan pada saat itu, Chris memegangi tangannya dan segera menarik Adelia hingga wanita itu duduk diatas pangkuannya.
"Del." Chris memeluknya dan membenamkan wajahnya didada Adelia.
"Chris, jangan seperti ini."
"Kenapa? Apa kau tidak suka?"
"Bukan begitu."
__ADS_1
"Lalu?"
Adelia memeluk leher Chris dan langsung mengecup bibir Chris.
"Nanti terlambat." ujarnya.
"Biarkan saja, tidak ada yang marah."
"Yah, kau benar tapi nanti aku terlambat karena aku sudah ada janji."
Chris menatap wajah Adelia sedangkan Adelia tersenyum padanya dan mendekatkan bibirnya.
"Sebentar saja ya." bisiknya.
Mereka kembali berciuman dengan mesra dan setelah itu Adelia bangkit berdiri untuk bersiap-siap berangkat bekerja.
Dia memang ada janji dengan klient jadi dia tidak bisa berlama-lama seperti itu walaupun dia sangat ingin.
Seperti biasa Chris mengantar Adelia ketempatnya bekerja, saat sudah tiba, Chris menciumi dahi Adelia dengan lembut.
"Adel sayang, aku pergi ya."
Adelia tersenyum dan sebelum turun dari mobil, Adelia menciumi pipi kekasih tampannya.
"Hati-hati." setelah berkata demikian Adelia segera turun dari mobil Chris.
Dia tidak langsung masuk kedalam dan masih berdiri didepan sambil melambaikan tangannya saat mobil Chris telah pergi, setelah itu Adelia segera masuk kedalam untuk menemui klientnya.
Adelia sibuk berbicara didalam ruangannya sampai tiba-tiba dua orang polisi mendatangi tempat itu.
Para karyawan Adelia sangat kaget dibuatnya dan dengan cepat asisten Adelia berlari kedalam ruangan bosnya dengan tergesa-gesa untuk memberitahukan pada wanita itu jika ada polisi diluar sana.
Dengan cepat Adelia segera keluar dari ruangannya dan meninggalkan klientnya bersama asistennya untuk menemui polisi diluar sana.
"Selamat siang pak, ada apa ya?" tanyanya.
"Apa kau pemilik tempat ini?" salah seorang polisi itu bertanya.
Adelia menjawab dengan sebuah anggukan.
Seorang polisi tiba-tiba mengeluarkan sebuah surat perintah dan memberikannya pada Adelia.
"Anda kami tahan karena kami menerima laporan tempat ini menjadi tempat penyedia wanita penghibur."
"Apa?" Adelia terbelalak kaget.
"Jangan asal ya pak, tepat ini ada ijinnya loh. Mana mungkin kami menyediakan wanita penghibur." jelasnya.
"Maaf bu, ikut dengan kami dan ibu bisa jelaskan nanti dikantor kami." ujar polisi itu lagi.
"Apa? Sudah gila ya pak! Siapa yang melaporkan hal ini?" Adelia tampak tidak terima.
"Bu, tolong kerja samanya." pinta polisi itu.
Adelia tertunduk lesu dan mau tidak mau dia harus mengikuti polisi itu untuk menjelaskan semuanya tapi sebelum itu. Adelia meminta asistennya untuk menghubungi kakaknya dan juga meminta semua karyawannya untuk pulang karena tempat itu ditutup sementara.
Adelia keluar dari tempat itu dan engikuti para polisi yang membawanya dan pada saat itu asistennya menghubungi Sean.
Sontak saja Sean sangat kaget mendengarnya, siapa yang telah berani menggangu adiknya?
__ADS_1
Sean segera menuju kantor polisi dimana adiknya ditahan dan tidak lupa pria itu juga menghubungi kedua orang tuanya.
Sean berlari dengan cepat untuk menemui adiknya dan saat dia tiba, Adelia tampak tertunduk lesu.
Dengan cepat Sean menghampiri adiknya dan memeluknya.
"Del, apa yang terjadi?" tanya Sean dengan tidak sabar.
"Tidak tahu kak, ada yang melapor jika aku menyediakan wanita penghibur." jelasnya.
Sean segera menghampiri polisi yang ada disana dan menatap polisi itu dengan tajam.
"Katakan padaku, siapa yang berani memfitnah adikku!" tanyanya dengan kesal.
"Maaf pak, kami mendapat laporan dari seorang wanita jika disana menyediakan wanita penghibur."
"Apa kalian punya bukti?" tanya Sean pula.
"Kami akan segera mengumpulkan bukti." jawab polisi itu.
"Jika begitu kenapa kalian menahan adikku disini sebelum ada bukti?" Sean semakin marah.
Tanpa bukti beraninya menahan adiknya!
"Maaf, kami membawanya hanya untuk mengintrogasinya saja." kata polisi itu lagi.
Sean menarik nafasnya untuk menenangkan emosinya, siapapun yang memfitnah adiknya tidak akan dia maafkan.
"Katakan padaku, siapa yang berani memfitnah adikku?"
"Nona Laura, Laura Malik." jawab polisi itu.
Adelia terbelalak kaget, Laura?
Wanita gila itu? Dia sungguh tidak menyangka jika Laura akan memfitnahnya seperti itu.
Pada saat itu, Roy Rajendra dan istrinya sudah datang dan berlari ditempat itu. Mirna Firnanda langsung memeluk putrinya saat melihatnya.
"Apa yang terjadi?" tanya ibunya.
"Mom, aku sedang difitnah oleh klientku." jelas Adelia.
"Siapa?" tanya Roy Rajendra dengan cepat.
"Laura Malik, dia cucu dari Ben Malik dan entah kenapa dia sangat membenciku." jelas Adelia.
Sean melangkah kearah keluarganya dengan tangan yang terkepal disisinya.
"Laura Malik? Dasar wanita gila ini." geram Sean marah.
"Cucu Ben Malik? Beraninya!!" Roy juga marah saat mendengarnya.
"Mirna, bawa Adelia pulang! Aku dan Sean akan menyelesaikan masalah ini." pinta Roy pada istrinya.
Mirna mengangguk dan segera membawa putrinya dan tentunya setelah mendapat ijin dari pihak kepolisian disana dengan syarat Adelia tidak di ijinkan pergi keluar negri atau keluar kota untuk diselidiki lebih lanjut.
Hari itu, biro jodoh yang dibuka oleh Adelia ditutup dengan paksa dan sebuah garis polisi terpasang diruko dua lantai itu.
Dan pada saat Itu, Roy Rajendra beserta putranya pergi menemui Laura Malik. Mereka akan memastikan apa wanita itu yang telah memfitnah Adelia?
__ADS_1
Jika benar maka wanita itu akan mendapatkan balasannya.