
Saat itu dikediaman keluarga Rajendra.
Tampak Roy Rajendra sedang makan malam dengan istrinya dan putranya Sean Rajendra, putrinya Adelia Firnanda memang sudah lama tidak tinggal bersama mereka lagi sejak memutuskan untuk hidup mandiri.
Mereka menikmati makanan yang ada sambil berbincang dengan hangat sampai suatu pertanyaan muncul dari mulut Mirna Firnanda kepada putranya.
"Sean, kapan kau akan menikah?" tanya Mirna kepada putranya.
Sean menatap ibunya sejenak, dia sendiri belum memikirkan hal itu apalagi saat ini dia sedang tidak ada pacar karena sedang malas menjalin hubungan dengan seseorang.
"Nanti, aku masih belum punya pacar." jawabnya dengan santai.
"Dari dulu selalu belum punya pacar, sana minta bantuan adikmu untuk mencarikan seorang pacar untukmu." ujar ayahnya.
"Sory ya dad, mau disimpan dimana wajahku. Seorang Sean Rajendra meminta bantuan adiknya untuk mencarikan seorang pacar. Yang benar saja?"tolaknya.
Roy Ranjendra dan istrinya langsung tertawa mendengar perkataan putranya.
"Ngomong-ngomong Sean,bkabar Adelia bagaimana?" tanya ibunya.
Pasalnya putrinya itu jarang pulang dan memberikan kabar kepada mereka.
"Kemarinkan baru pulang mom." Jawab Sean pula.
"Adel sih terlalu sibuk menjodohkan orang sampai lupa memberi kabar pada kami." sela Roy Rajendra.
"Sean, adikmu itu sudah punya pacar belum sih?" tanya ibunya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi aku pernah bertanya dan dia bilang tidak ada." jawab Sean.
"Aduh itu anak,bmau sampai kapan menjodohkan orang lain sedangkan dia tidak memikirkan dirinya sendiri." celetuk ibunya.
Roy meletakkan gelas yang dipegangnya keatas meja.
"Aku sudah memikirkan ini sejak lama, aku ingin menjodohkan Adelia dengan anak temanku bagaimana menurut kalian? tanya Roy.
"Apa?" tanya Mirna dan Sean secara bersamaan.
"Adelia sudah dewasa, bahkan sudah mandiri. Sudah saatnya dia menikah." kata Roy lagi.
"Wow dad, siapa anak temanmu itu?" tanya Sean pula.
"Ya, dia seorang tentara dan aku rasa dia cocok dengan Adelia." jawab ayahnya.
"Roy, aku tidak mau punya menantu seorang tentara." tolak istrinya.
"Mom, dad, kalian tenang saja. Temanku Robet menyukai Adelia dan aku rasa kita bisa menjodohkan mereka."
__ADS_1
"Robet?" tanya ibunya.
"Benar, diam-diam Robet menyukai Adelia sejak lama dan aku rasa mereka cocok apalagi Adelia belum punya pacar."
Roy dan istrinya saling pandang, mereka tahu Robet adalah sahabat putranya sejak lama.
"Jadi Sean, apa maksudmu Robet menyukai Adelia?" tanya Mirna memastikan.
"Iya mom, Robet bahkan memintaku mengenalkan Adelia padanya dan mengajakku menemuinya beberapa kali." jelas Sean.
"Baguslah kalau begitu, bagaimana jika kau mengajak Robet datang untuk membicarakan masalah ini." ujar ayahnya.
"Itu bisa diatur dad, aku rasa Adelia juga tidak akan menolak karena dia juga sudah mengenal Robet. Aku jamin Robet pasti dapat menjaga Adelia dengan baik." kata Sean lagi.
"Baiklah jika begitu, segera hubungi Robet dan adikmu. Kita akan membicarakan hal ini jika temanmu itu setuju dan menurutku lebih cepat lebih baik."kata ayahnya.
"Tentu, setelah ini aku akan menghubungi mereka."
Malam itu mereka membuat keputusan tanpa bertanya pada Adelia terlebih dahulu, apa Adelia menyukai Robet apa tidak?
Setelah selesai makan, Sean segera keluar dari ruang makan dan berjalan menunu kamarnya, dia ingin menghubungi Robet untuk mengatakan niat keluarganya yang mau menjodohkan Robet dengan Adelia dan tentu saja Robet sangat senang mendengarnya apalagi dia memang sudah menyukai Adelia sejak lama.
Mereka membuat kesepakatan hari apa nantinya Robet akan datang kerumah Sean dan tentunya untuk membicarakan perihal pernodohan itu lebih lanjut dan setelah itu Sean menghubungi Adiknya.
"Del, Kau sedang apa?" tanya Sean pada adiknya itu.
Saat itu Adelia sedang jalan disebuah mall dengan Chris, setelah makan malam mereka jalan sambil bergandengan tangan untuk menghabiskan waktu berdua.
"Ada yang ingin kami bicarakan denganmu, jadi apa besok lusa kau bisa pulang?" tanya Sean lagi.
"Mau bicara apa? katakan saja disini." pinta Adelia.
"Tidak bisa, ini penting dan lebih enak jika kita bicarakan langsung jadi sebaiknya kau pulang."
Adelia melihat kearah Chris sejenak, entah apa yang ingin dibicarakan oleh kakaknya tapi dia malas pulang.
"Tidak bisa kak,am aku sibuk." katanya pura-pura.
"Del, ini permintaan daddy dan mommy. Aku cuma diminta menghubungimu jadi besok lusa kamu harus pulang."
"Apa sih? Seperti ada rahasia saja! Kalian merencanakan sesuatu ya?" Adelia mulai kesal.
"Tidak ada Del, cuma ingin membicarakan beberapa hal penting." jawab Sean disebrang sana.
"Ya sudah deh, besok lusa aku akan pulang." Adelia menyetujuinya dengan pasrah.
"Bagus, ingat harus pulang."
__ADS_1
"Iya cerewet!" Adelia langsung mamatikan ponselnya.
"Ada apa?" tanya Chris yang sedari tadi mendengar pembicaraan kekasihnya.
"Kak Sean memintaku untuk pulang besok lusa." jelasnya.
"Boleh aku ikut?"
"Tidak boleh." tolak Adelia dengan cepat.
Chris terkekeh pelan dan memeluk pinggang kekasihnya.
"Jika aku ikut aku bisa sekalian kenalan dengan keluargamu." godanya.
"Tidak mau, mereka pasti akan shock nanti."
"Apa aku begitu buruk?"
"Tidak."
"Lalu kenapa mereka harus shock saat melihatku? Bukankah Sean sudah pernah bertemu denganku dan kami ini rekan bisnis? Jadi aku rasa kau tidak perlu khawatir."
Eh, benar juga! Tapi Adelia merasa tidak akan semudah itu apalagi kakaknya pernah berkata jika dia tidak akan setuju jika adiknya itu berhubungan dengan pria yang lebih tua darinya.
Jika dia tiba-tiba membawa Chris pulang kerumahnya tanpa menjelaskan hubungan mereka terlebih dahulu kepada keluarganya bisa-bisa keluarganya langsung mengusir Chris dan dia tidak mau hal itu terjadi.
"Tapi tidak boleh, aku akan mempertemukan kalian saat aku sudah menceritakan hubungan kita pada kedua orang tuaku."
"Baiklah, apa besok kau akan menceritakan hubungan kita saat kau pulang?" tanya Chris padanya.
Adelia berpikir sejenak, dan berakata dalam hatii, apa tidak terlalu cepat? Tapi tidak ada salahnya juga menceritakan hubungan mereka dan jika keluarganya setuju maka mereka tidak perlu pacaran secara sembunyi-sembunyi lagi.
"Aku lihat dulu situasinya dan aku juga tidak tahu apa yang mau keluargaku bicarakan padaku tapi nanti jika ada waktu yang tepat pasti aku akan mengatakan tentang hubungan kita."
Chris tersenyum dan mengencangkan pelukannya, dia berharap Adelia bisa jujur pada keluarganya dan dia berharap keluarga Adelia mau menerima dirinya. Tapi jika tidak? Tentu dia akan mendapatkan Adelia dengan caranya.
"Terima kasih." Chris menunduk dan menciumi wajah Adelia.
Adelia tersenyum senang, bodo amat sama yang melihat.
"Jadi, mau kemana lagi kita?" tanya Chris.
"Pulang saja, kakiku sudah pegal."
"Baiklah, Jika kau tidak malu aku bisa menggendongmu." godanya.
Adelia memukul dada Chris dengan pelan dan tersipu malu.
__ADS_1
"Menyebalkan." gerutunya.
Chris hanya tertawa dan setelah itu mereka pergi dari sana tanpa tahu apa yang telah direncanakan keluarga Adelia.