
Disebuah sekolah khusus perempuan, tampak seorang pria tampan sedang berdiri didepan gerbang sekolah itu.
Pria itu sedang bersandar pada pintu mobilnya untuk menunggu seseorang, pria itu adalah Sean.
Padahal niatnya tadi hendak membantu adiknya pindah rumah tapi dia jadi kesal saat melihat kemesraan adiknya dengan suaminya.
Dia tidak berniat sama sekali untuk datang kesekolah itu tapi dari pada dia mati kesal dirumah adiknya lebih baik dia datang kesana untuk menjemput Viara.
Lagi pula adiknya keterlaluan bermesraan didepannya dengan suaminya, padahal seharusnya mereka tahu jika dia masih jomblo.
Dia yakin Adelia dan Chris melakukan hal itu untuk membalas perbuatannya tapi tetap saja dia merasa sangat kesal.
Selama menunggu Sean melihat arloji dipergelangan tangannya, setengah jam lagi Viara pulang sekolah dan rasanya masih lama.
Sean hendak masuk kedalam mobilnya tapi pada saat itu seorang anak muda dengan seragam sekolah menghampirinya.
"Om sedang menunggu pacar ya?" tanya anak muda itu.
Sean memandangi anak muda itu yang sepertinya seumuran dengan Viara.
"Untuk apa kau tahu?" tanyanya ketus.
"Bukan begitu om, jika om sedang menunggu pacar jadi kita sama dong, oleh karena itu dari pada kita bosan bagaimana jika kita menunggu bersama-sama?." Tanya anak muda itu.
"Boleh juga." Sean mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobilnya.
"Siapa namamu?" Sean bertanya pada anak muda itu.
"Aku Rava, kalau om?"
"Panggil aku kak Sean dan jangan panggil aku om! Aku belum om-om dan sejak kapan aku menikah dengan bibimu?" Sean mulai kesal, kenapa akhir-akhir ini dia selalu dipanggil om?
Apa para anak muda seusia Viara menganggapnya sudah seperti om-om? Padahal dia baru dua puluh sembilah tahun dan belum jadi om-om!
"Maaf kak Sean, karena menurut anak muda seperti kami ini kak Sean sudah terlihat seperti om-om." ujar Rava blak-blakkan.
"Apa benar?" Sean memegangi wajahnya, dia sungguh tidak percaya dengan ucapan Rava.
"Tentu saja benar." jawab Rava.
Sean sedikit shock mendengarnya, pantas saja saat pertama kali Viara melihatnya gadis itu memanggilnya om! Dia baru tahu ternyata dari sudut pandang anak seumuran mereka, dia sudah terlihat sepertinya om-om.
"Siapa yang kak Sean tunggu? Apa ibu guru disini?" tanya Rava pula.
"Hmm...Bukan!" jawab Sean dengan cepat.
__ADS_1
"Wah, jangan bilang pacar kak Sean murid disini ya?" Rava menatapnya tidak percaya.
"Memangnya kenapa?" Sean jadi penasaran dibuatnya.
"Kak Sean, untuk pria seperti kak Sean berhubungan dengan gadis belia itu tidak pantas. Kalian berdua seperti ayah dan anak atau kak Sean mau disebut pria hidung belang!"
"Jlleebb!" rasanya sebilah pisau menancap dihati Sean saat mendengar ucapan Rava.
Apa benar demikian? Kenapa rasanya harga dirinya terluka padahal dia tidak sedang berhubungan dengan gadis belia.
"Jangan sembarang bicara, aku sedang menunggu adikku jadi jangan mengatakan hal-hal yang bisa melukai perasaan orang. Lagi pula aku tidak setua yang kau kira!" ujar Sean kesal.
"Oh begitu, maaf. Aku kira kak Sean menunggu pacar kakak." ujar Rava tidak enak hati.
"Sudah lupakan! Kau disini sedang menunggu siapa?" tanyanya pula.
"Aku menunggu temanku, Kami teman sekelas disekolahku tapi entah kenapa tiba-tiba dia pindah. Beberapa hari yang lalu aku menanyakan kabarnya dan dia bilang pindah kesekolah ini." jelas Rava.
Sean diam saja memperhatikan anak muda itu.
"Tapi sebenarnya aku sudah menyukainya sejak lama makanya aku mencarinya disini." kata Rava lagi.
Sean menarik nafasnya dengan berat dan mengusap rambutnya, dasar anak muda!
"Kau anak muda masih sekolah, uang jajan saja masih diberi oleh orang tua tapi sudah menyukai anak gadis orang!" ceramahnya.
"Aku tidak sepertimu, aku ini tipe serius jadi aku lebih fokus dengan pelajaran dari pada pacaran!"
"Pantas saja, kak sean ternyata tidak pernah merasakan cinta kasih disekolah!"
"Ck, itu tidak penting!" gerutu Sean.
Pada saat itu terdengar lonceng berbunyi yang menandakan jika murid-murid disana sudah boleh pulang. Para murid disekolah itu mulai keluar dan tampak Viara melangkah melewati gerbang bersama dengan teman-temannya.
Viara berpamitan dengan teman-temannya dan hendak pulang tapi pada saat itu Rava berteriak memanggilnya.
"Viara."
Sean terbelalak kaget, jangan bilang gadis yang disukai oleh Rava adalah Viara?
Viara melihat datangnya suara dan melihat Rava disana sedang berdiri disamping Sean.
Rava segera mendekati Viara dan memegangi tangan gadis itu.
"Viara, aku sudah rindu padamu." ujarnya.
__ADS_1
Viara langsung menarik tangannya karena malu dilihat oleh teman-temannya apalagi Sean juga sedang melihat kearahnya.
"Rava, kenapa kau kemari?"
"Tentu saja untuk mencarimu, aku sudah sangat rindu padamu." jawab Rava cepat.
"Rava, jangan asal bicara yang bisa membuat orang salah paham." Viara segera berjalan menghampiri Sean sedangkan Rava tampak bingung melihatnya.
"Kak Sean, kok ada disini?" tanyanya.
"Oh aku hanya kebetulan lewat dan aku pikir untuk sekalian menjemputmu."
Rava melihat kedua orang itu tidak percaya, sejak kapan Viara memiliki seorang kakak?
Apakah jangan-jangan?
Tanpa menungu lagi, Rava langsung menghampiri mereka dan menarik tangan Viara.
"Viara sejak kapan kau punya kakak?" tanyanya.
"Rava ini bukan urusanmu." Viara menarik tangannya.
"Bukan begitu, kau tahukan aku?"
"Rava, maaf aku mau pulang." Viara memotong perkataan Rava dengan cepat.
"Maafkan aku, apakah besok kita bisa bertemu?" tanya Rava pula.
Viara mengangguk dan pada saat itu Rava mengusap rambut Viara dengan lembut.
"Nanti balas Wa ku ya." katanya.
Viara kembali mengangguk sedangkan Sean hanya melihat kedua anak muda itu dan entah mengapa dia merasa sedikit kesal.
"Apa sudah selesai?"tanyanya.
"Iya kak, maaf telah membuat kakak menunggu." ucap Viara tidak enak hati.
Dia sungguh merasa tidak enak hati dilihat oleh Sean dan sungguh dia tidak menyangka Rava bisa datang ketempatnya.
"Kalau begitu ayo pulang karena setelah ini aku harus kembali kekantor."
Sean masuk kedalam mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Viara dan membanting pintu mobilnya dengan kencang, rasanya dia benar-benar kesal.
Viara mengikuti Sean masuk kedalam mobilnya dan didalam sana, gadis itu hanya menunduk dan tidak berani menatap wajah Sean yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Sean mengantar Viara pulang dan selama diperjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan.
Setelah mengantarkan Viara, Sean segera memacu mobilnya untuk pergi kekantornya, lebih baik dia menghabiskan waktu dengan pekerjaannya sedangkan Viara melihat kepergian Sean dengan heran. Apa dia sudah membuat kesalahan? Kenapa sepertinya Sean kesal dengannya? Sungguh dia benar-benar jadi tidak enak hati.