
Hari itu Sean tidak berangkat kekantornya, dia sedang tidak enak badan karena terkena angin pantai dan harus pulang dalam keadan basah.
Sedangkan Viara sehat-sehat saja, stamina anak muda memang berbeda. Setelah dari pantai akhirnya Sean pulang kerumahnya dengan Viara dalam keadan basah kuyup.
Yang lebih membuatnya kesal adalah mereka ditinggal oleh Adelia begitu saja, Adelia melakukan itu supaya kakaknya pulang kerumahnya.
Saat ini Sean sedang menyembunyikan dirinya didalam sebuah selimut tebal, entah kenapa tubuhnya terasa menggigil, kepala pusing dan hidungnya, mampet!
Lengkap sudah penderitaannya dan seharusnya dia tidak ikut Adelia kepantai walaupun yah, dia menikmati juga.
Mirna membuka pintu kamar putranya dengan segelas minuman hangat dan obat ditangannya, wanita itu berjalan menghampiri ranjang dan duduk disisinya.
"Kau ini ya sudah tua tapi malah sakit seperti ini!!"
"Mom memangnya sudah tua tidak boleh sakit." Sean bangun dari tidurnya dan mengambil minuman hangat dari tangan ibunya.
"Lagian ya kau ini! Sudah tidak pulang beberapa hari begitu pulang malah bawa penyakit!"
"Mommy tega banget sih ngomongnya? Akukan kecebur dilaut dan mommy lihatkan semalam aku pulang dalam kondisi basah kuyup."
Mirna hanya bisa menggeleng, putranya benar-benar!
"Sean kamu itu ya, untung Viara tidak sakit sepertimu. Lagian kenapa sih tidak beli baju disana? Jangan bilang dipantai itu tidak ada mal atau toko baju."
"Ngak mau ah mom, baju yang belum dicuci bikin gatal dan alergi."
Mirna mendengus kesal dan bangkit berdiri.
"Minum obatnya dan tidur!" perintahnya.
Sean melihat jam yang berada di dinding kamarnya, ini sudah lewat jam sekolah kenapa Viara belum juga kembali?
"Mom, kok Viara belum juga pulang?"
"Kenapa? Kau rindu dengannya?" goda ibunya.
"Ya ampun mom, cape ah ngomong sama mommy, gak jauh beda sama Adel mendingan aku tidur aja!" Sean langsung menutup dirinya dengan selimut.
Mirna hanya terkekeh melihat putranya dan berjalan keluar dari kamar itu, benar ini sudah lewat jam sekolah, kenapa Viara belum juga kembali dari sekolahnya?
Pada saat malam Viara baru Kembali, gadis itu masuk kedalam rumah itu dengan pelan. Dia lupa memberi kabar pada tante Mirna dan dia harap tante Mirna tidak memarahinya.
Viara hendak menaiki anak tangga tapi langkahnya terhenti karena tante Mirna memanggilnya.
"Viara, kok kamu pulang malam sih? Udah tante telephone kamu dari tadi tapi ponselmu ngak aktif mulu." terdengar suara tante Mirna dari arah dapurnya.
__ADS_1
Viara membalikkan badannya dan dia sangat merasa tidak enak hati karena telah membuat tante Mirna khawatir.
"Maaf tante, Viara ada tugas kelompok dengan teman Viara dan ponsel Viara juga mati." jelasnya.
"Oh begitu, ya sudah sana mandi dan makan, lain kali harus beri kabar ya."
"Baik tante." Viara kembali menaiki anak tangga untuk menuju Kamarnya.
Dari kamar yang ditempatinya terdengar suara Sean yang sedang batuk,Viara masuk kedalam kamarnya dan mungkin nanti dia harus melihat keadaan Sean.
Setelah selesai mandi, Viara turun kebawah untuk makan malam bersama dengan Om Roy dan tante Mirna.
"Viara nanti kau mau masuk perguruan tinggi mana?" tanya om Roy tiba-tiba.
"Tidak tahu om, mungkin setelah lulus Sma Viara ngak lanjutin sekolah lagi." jawab Viara sambil tertunduk lesu.
"Loh kenapa Via? Sayangloh kalau ngak lanjut?" ujar tante Mirna pula.
"Viara gak punya biaya tante untuk melanjutkan sekolah Viara nanti, Viara ngak mau merepotkan om dan tante lagi." jawab Viara dengan tidak enak hati.
"Via, kau ini sudah seperti putri kami dan lagi pula menyekolahkanmu tidak akan membuat kami miskin." kata Roy Rajendra.
Saat mendengar itu mata Viara berkaca-kaca, kenapa begitu baik padanya?
"Sudah...Sudah..Kami tidak terima balas budimu tapi cukup jadi menantu tante saja." goda Mirna.
Wajah Viara memerah dan gadis itu langsung tertunduk malu sambil mengusap air matanya.
"Sebaiknya kita segera makan dan Viara, mulai sekarang cari fakultas yang kau inginkan dan nanti kau bisa mengabari Sean. Setelah makan maukah kau mengantarkan makanan untuknya?"
"Tentu tante, Via akan mengantar makanan untuk kak Sean."
Mirna tersenyum pada gadis itu, dia berharap Viara mau menjadi menantunya. Itupun jika putranya menyingkirkan gengsinya.
Setelah selesai makan dan membereskan piring kotor, Viara membawa sepiring makanan dan segelas air putih ditangannya.
Gadis itu berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar Sean, saat tiba didepan kamar Sean, Viara berdiri disana dan memanggil Sean dengan ragu.
"Kak, boleh Viara masuk?"
"Ya."
Saat mendapat ijin Viara segera masuk kedalam sana dan tampak Sean masih meringkuk dibawah selimut karena masuk angin yang dialaminya.
"Apa kak Sean baik-baik saja?"
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat!"
Viara berjalan mendekati ranjang dan meletakkan makanan yang dia bawa disamping meja.
Viara duduk disisi ranjang sedangkan Sean bangun dari tidur dan duduk diatas ranjang, Viara hanya menunduk dan tidak berani menatap Sean.
Sean mengambil air putih dari tangan Viara karena gelas air itu masih dipegangnya, saat tangan Sean menyentuh tangan Viara entah kenapa mereka berdua jadi tersipu malu.
"Kak Sean, kenapa tidak kedokter saja?" Viara memecahkan keheningan diantara mereka.
"Tidak perlu, istirahat sebentar juga sembuh." Sean meneguk air didalam gelas dan meletakkan gelas itu diatas meja.
"Kak Sean apa mau aku kerik?"
"Apa itu kerik?" Sean mengernyitkan dahinya, baru dengar.
"Itu, punggung kak Sean dikerik pakai minyak angin dan koin. Biasanya kalau dikampung jika masuk angin cukup dikerik saja maka akan cepat sembuh." jelas Viara.
Sean semakin mengernyitkan dahinya, benar-benar baru dengar ada metode pengobatan seperti itu.
Tapi tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu sakitnya bisa cepat sembuh.
"Boleh deh."
"Oke, tunggu ya."
Viara bangkit berdiri dan keluar dari kamar itu, tapi tidak lama kemudian Viara kembali lagi dengan minyak angin dan sebuah koin ditangannya.
"Kak Sean lepas bajunya." pinta Viara.
Tanpa ragu Sean membuka bajunya dan pada saar itu Viara menelan ludahnya saat melihat tubuh Sean. Dengan cepat gadis itu berdiri dibelakang punggung Sean untuk mengerok punggungnya.
"Aku mulai ya kak." ujar Viara.
Sean mengangguk sedangkan Viara mulai menuangkan minyak keatas punggung Sean. Karena gugup membuat Viara mengerok punggung Sean dengan kencang hingga pria itu berteriak.
"Oh my God Viara, apa yang kau lakukan?" tanyanya kesal.
"Maaf kak Viara terlalu kencang." Viara merasa tidak enak hati.
"Pelan-pelan, pakai cinta."
Wajah Viara merona, gadis itu mengangguk sedangkan senyum mengembang diwajah Sean.
"Metode pengobatan yang tidak buruk." katanya dalam hati.
__ADS_1