
Setelah kepergian Laura dari sana, Adelia segera duduk diatas sofa. Sebenarnya dia sudah sangat ingin pergi dari sana tapi karena ada hal penting yang mau dia bicarakan dengan Chris membuatnya membatalkan niatnya karena dia tidak mau usahanya datang kesana menjadi sia-sia.
Adelia tampak mengipas-ngipas wajahnya dengan map yang dibawanya dengan cepat, padahal ruangan itu tidak panas tapi dia melakukan hal itu untuk mendinginkan hatinya yang gerah akibat kejadian tadi.
"Hei apa ruangan ini panas?" tanya Chris kesal saat melihat Adelia mengipas-ngipas wajahnya.
Adelia hanya menekuk wajahnya dan melirik kearah Chris dengan malas sedangkan Chris cuek saja seperti tidak terjadi apapun diantara mereka.
Adelia sangat kesal karena sekarang Laura tambah membencinya dan itu ulah pria yang sama yang telah menambahkan api permusuhan diantara mereka berdua.
"Aku berbicara padamu, apa kau tidak punya telinga?" tanya Chris lagi.
"Dasar pria tua menyebalkan." gerutu Adelia dalam hati.
"Tidak!" jawabnya dengan malas.
"Kalau begitu berhentilah mengipas, kau membuatku gerah."
Adelia memincingkan matanya, menatap pria itu penuh dengan kekesalan. Kenapa dia harus mengenal pria menyebalkan seperti Chris?
"Chris, bisa tidak lain kali kau tidak sembarangan menciumku?" pintanya.
"Kenapa?"
"Pokoknya aku tidak mau!"
"Ciuman itu hanya sebuah salam." ujar Chris santai.
"Apa katamu?" Adelia tidak percaya mendengarnya.
"Bagi kami diluar negri ciuman itu seperti salam."
"Apa? Kau mau menipuku?"
"Tidak."
"Aku yakin hanya kau yang menganggap sebuah ciuman itu sebagai salam."
Chris hanya menarik bibirnya, tersenyum mendengar perkataan Adelia. Mana mungkin ciuman sebagai salam? Jika Adelia percaya maka dia wanita bodoh.
Adelia memejamkan matanya berusaha menahan kekesalan dihatinya, rasanya ingin cepat keluar dari tempat itu.
"Lagi pula ini di Indonesia, jadi berperilakulah yang sopan." katanya lagi.
Chris bangkit berdiri menghampirinya dan langsung duduk disamping Adelia tanpa berkata apa-apa.
"Hei, kenapa kau duduk disini?" Adelia melotot pada Chris yang duduk disampingnya.
"Terserah aku, ini kan sofa milikku."
Adelia menggeser duduknya sedikit tapi Chris mengikutinya hal itu membuat Adelia sangat kesal dan menggeser duduknya kembali tapi lagi-lagi Chris mengikutinya.
"Kau mau apa sih?" tanyanya kesal.
"Ingin dekat denganmu." jawab Chris santai.
"Sudah gila ya!" makinya.
__ADS_1
Adelia bangkit berdiri hendak duduk ditempat lain tapi Chris menangkap tangannya dan menariknya sehingga membuat Adelia terduduk diatas pangkuan Chris.
Dengan cepat Chris memeluknya dan membenamkan wajahnya didada Adelia tanpa berkata apa-apa, tubuh Adelia langsung kaku, Apa yang harus dia lakukan? Kenapa Chris seperti ini terhadapnya?
"C....Chris." panggilnya dengan ragu.
Jantungnya berdebar tidak karuan karena ini pertama kalinya seorang pria memperlakukannya seperti ini.
"Diam, biarkan aku seperti ini."
"Tapi?"
Chris semakin memeluknya dengan erat dan hal itu membuat Adelia semakin dipenuhi tanda tanya. Sekarang mereka seperti pasangan yang sedang pacaran sungguhan saja dan dia berharap Chris tidak lupa jika mereka hanya pacaran pura-pura.
Lima menit telah berlalu tapi Chris tetap seperti itu, Adelia semakin salah tingkah dibuatnya dan jantungnya mulai berdebar-debar. Siapa coba yang ngak grogi dipeluk seperti itu?
"Chris mau sampai kapan kita seperti ini?"
"Apa kau tidak suka?"
"Bagaimana jika ada yang melihat?"
"Tidak akan!".
"Chris ingat, kita ini sedang pacaran pura-pura."
Chris mengangkat wajahnya dan menatap wajah Adelia dengan lekat, Adelia benar-benar jadi salah tingkah ditatap seprti itu.
"Kenapa kau selalu mengatakan hal ini? Apa kau membenciku?" tanya Chris lagi.
"Eh?"
"Tidak, aku tidak membencimu." jawabnya.
Chris mengangkat kedua tangan Adelia dan mengalungkan tangan wanita itu dilehernya, tidak hanya itu pria itu juga mulai mengelus wajah Adelia dengan lembut.
"Jadi, kau juga tidak membenci ciumanku bukan?"
Adelia semakian salah tingkah sedangkan jantungnya semakin berdetak tidak karuan sampai dia sendiri dapat mendengar detakkannya.
"Ja....Jangan seperti ini." pintanya sambil memalingkan wajahnya yang merona.
"Hei lihat aku."
Chris memegang dagu Adelia supaya wanita itu melihat kearahnya. Mereka saling pandang sesaat dan pada saat itu Chris mulai mendekatkan bibirnya kebibir Adelia.
Adelia mulai terbius dengan tatapan Chris dan tanpa sadar, dia mulai menutup matanya dan menerima bibir Chris.
"Sialan, pria aneh ini menyebalkan tapi sungguh menawan." gerutunya dalam hati.
Mereka mulai berciuman dan semula itu ciuman ringan saja tapi semakin lama ciuman itu semakin liar.
Mereka mulai membelitkan lidah mereka satu sama lain dan Adelia membalas permainan lidah Chris didalam mulutnya.
Tangan Chris mulai mengusap-usap punggungnya sedangkan tangan Adelia melingkar dileher Chris dan memeluknya dengan erat.
"Sir, ada yang perlu aku bicarakan."
__ADS_1
Pada saat itu Danil membuka pintu ruangan itu dan begitu kaget melihat kedua orang itu yang sedang berciuman.
Adelia sangat kaget dan wajahnya langsung merah padam, dengan cepat Adelia melepaskan bibirnya dan membenamkan wajahnya yang memerah keleher Chris.
"Oh Tuhan, apa aku sudah gila?" tanyanya dalam hati.
"Sorry sir menggangu." ujar Danil, dia masih berdiri didepan pintu dan tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Sepertinya bosnya itu sudah mulai bertindak.
"Ada apa?" tanya Chris dengan kesal karena. Danil datang diwaktu yang tidak tepat.
Chris memeluk Adelia dan membelai rambut wanita itu, dia bahkan menciumi rambut Adelia dan tidak memperdulikan Danil yang masih berada disana.
"Sorry sir, ini ada dokument yang harus anda tanda tangani." Danil masuk kedalam sambil memperlihatkan dokument yang dibawanya.
"Letakkan disana." perintahnya.
Danil mengangguk dan meletakkan dokumen itu dan setelah selesai Danil segera keluar dari ruangan itu.
"Apa dia sudah pergi?" Adelia bertanya dengan pelan.
Sungguh dia sangat malu mengangkat kepalanya untuk melihat Danil, bagaiamana jika dia bertemu dengan Danil nanti?
"Yah." jawab Chris singkat.
Adelia langsung mengangkat kepalanya dan melepaskan diri dari pelukan Chris, dia juga bangkit berdiri dan segera duduk ditempat lain sambil mengipas-ngipas wajahnya yang masih memerah dengan tangannya, sekarang dia merasa ruangan itu terasa sangat panas.
"Ya Tuhan, aku benar-benar sudah gila." gerutunya.
Chris hanya tersenyum melihat tingkah Adelia, entah mengapa dia suka melihat wajah Adelia yang memerah.
"Bagaimana aku bisa keluar nanti, mau ditaruh dimana wajahku?" gerutunya lagi.
"Apa wajahmu bisa dipindahkan?" tanya Chris.
Adelia langsung melotot pada Chris, semua ini gara-gara pria aneh menyebalkan itu, yah walaupun tidak semua salahnya sih.
Chris bangkit berdiri tapi dengan cepat Adelia langsung berkata:
"Stop, jangan mendekat." pintanya.
Chris hanya tersenyum dan melangkah melewatinya.
"Kau terlalu percaya diri."
Wajah Adelia kembali merah padam, malu karena dia sudah salah paham.
"Seseorang tolong bawa aku pergi dari sini." gerutunya lagi dalam hati.
Tidak lama kemudian Chris kembali dengan sebotol air dingin ditangannya dan segera menyodorkan air itu didepan Adelia.
"Minum, untuk mendinginkan kepadamu." ledeknya.
Adelia melihat pria itu dengan penuh kekesalan dan segera menyambar minuman dingin yang disodorkan oleh Chris.
"Apa disini ada kolam?" tanyanya.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Aku ingin menenggelamkan diri disana."
Chris terkekeh mendengar perkataannya dan duduk kekursinya sedangkan Adelia meneguk minuman dinginya untuk menenangkan hatinya.