
Sudah tiga hari Sean beristirahat dirumah karena demam yang dideritanya dan selama tiga hari itu pula Sean selalu mendapati jika Viara selalu pulang malam.
Sean jadi heran dan curiga, kemana Viara pergi beberapa hari ini? Walaupun ibunya berkata bahwa Viara sedang tugas kelompok dengan teman-temannya tapi Sean tidak percaya begitu saja.
Bahkan saat ini sudah waktunya jam makan malam tapi kenapa Viara belum juga pulang?
Sean duduk dengan gelisah, melihat makanan didepannya dengan malas. Entah kenapa dia jadi sangat kawatir dengan gadis itu. Sebenarnya apa yang Viara lakukan?
"Sean kamu kenapa? Masih tidak enak badan?" Mirna bertanya demikian karena melihat putranya begitu gelisah bahkan makanan yang sudah tersedia tidak disentuh oleh Sean sama sekali.
"Mom, aku kepikiran Viara, beberapa hari ini kemana sih? Kok pulang malam terus?" tanyanya penasaran.
"Kan udah dibilangin lagi kerja kelompok dengan teman-temannya."
"Ngak mungkin, ini udah malam loh mom."
"Kalau tidak percaya besok kau ikuti saja."
Mengikuti Viara, apa perlu dia lakukan? Tapi tidak ada salahnya dari pada mati penasaran, yang lebih membuatnya penasaran selama beberapa hari ini bocah tengil si Rava juga tidak terlihat. Biasanya anak muda itu pagi-pagi sudah datang tapi beberapa hari ini benar-benar tidak kelihatan batang hidungnya.
"Jangan-jangan mereka pacaran sepulang sekolah sampai malam?" itu yang ada didalam pikiran Sean.
Dan pikiran itu membuat Sean kesal, jika sampai itu terjadi maka akan dia pukul anak muda itu sampai babak belur.
Sean mulai memakan makanannya dengan tidak nafsu, didalam otaknya mulai membayangkan Rava dan Viara bermesraan berdua sepulang sekolah dan hal itu semakin membuatnya emosi.
Sean meletakkan sendok makannya dengan kasar dan meneguk air putih dengan cepat. Hal itu membuat Mirna dan Roy melihat putranya dengan heran, ada apa dengannya?
Sean bangkit berdiri hendak melangkah pergi tapi pertanyaan ibunya menghentikan langkahnya.
"Sean belum selesai makan, mau kemana?"
"Udah kenyang mom, gak nafsu lagi!"
"Hei kau baru makan sedikit." kata ibunya tidak percaya.
__ADS_1
Tapi Sean tidak menjawab perkataan ibunya dan langsung meninggalkan meja makan, dia langsung naik keatas untuk menuju kamarnya.
Sean hanya berdiri didepan jendela kamarnya dan melihat keluar sana lewat kaca jendela itu.
Tidak lama kemudian tampak Viara pulang diantar oleh seseorang, pria yang mengantar Viara adalah Rava.
Anak muda itu bahkan keluar dari mobilnya dan berbicara dengan Viara sejenak, saat melihat itu rahang Sean mengeras.
Dia sangat kesal, apalagi sepertinya tebakannya benar jika Viara pergi pacaran dengan Rava sampai malam.
Sean mengepalkan tangannya dengan perasaannya tidak menentu. Rasanya dia ingin turun kebawah sana untuk menghajar Rava tapi tampak anak muda itu telah pergi sedangkan Viara melambaikan tangannya dan mulai masuk kedalam rumah.
Sean berdiri didepan jendela dengan perasan berkecamuk dihatinya, jangan bilang dia sedang cemburu saat ini!
Tapi tidak mungkin dan Sean menyangkal pikirannya dengan cepat. Dua puluh menit telah berlalu Sean berdiri didepan jendela tapi tidak lama kemudian pria itu segera memutar langkahnya dan keluar dari kamarnya.
Sean berjalan dengan cepat menuju kamar adiknya dimana ditempati oleh Viara saat ini, dia tahu gadis itu pasti ada didalam kamar saat ini.
"Braaakkkkk!!!!" Sean mendobrak pintu kamar itu dengan kencang dan menutup pintu kamar itu dengan kasar pula sampai Viara yang berada didalam sana sangat kaget.
"Viara katakan padaku apa yang kau lakukan dengan Rava sampai semalam ini?" tanyanya tanpa basa basi sambil memegangi kedua bahu Viara.
"Kak Sean, aku tidak melakukan apa-apa. Rava hanya mengantarku pulang saja." Jawab Viara. Sesungguhnya gadis itu tidak mengerti kenapa Sean menanyakan hal demikian dan kenapa Sean terlihat begitu marah.
"Jangan menipuku Viara, apa kau pergi pacaran dengannya sampai kau selalu pulang malam beberapa hari ini?"
"Tidak kak, Viara pergi kerja kelompok dengan teman-teman Viara."bViara memalingkan wajahnya yang merona kesamping.
Dia sangat malu karena saat ini tubuhnya hanya dililiti sehelai handuk saja karena dia baru saja mandi.
"Lalu kenapa kau pulang dengannya? Kalian ini beda sekolah!" Sean menatap gadis itu dengan tajam.
"Kak Sean jangan seperti ini, kita bisa bicarakan baik-baik." pinta Viara.
Wajah Viara semakin merona karena handuk yang dipegangnya dengan satu tangannya hampir lepas.
__ADS_1
Sean melihatnya dan pada saat itu, Sean menelan ludahnya dengan susah payah karena handuk yang dipegang oleh Viara sudah merosot dan memperlihatkan setengah dada sekal gadis itu.
"Sialan! Tubuh bocah ini boleh juga!" maki Sean dalam hati.
Karena kesal dan cemburu saat membayangkan tubuh Viara disentuh oleh Rava membuat akal Sean langsung hilang.
Tanpa Viara duga Sean langsung memeluk pinggangnya dan me**mat bibirnya, bibir itu yang selalu membuat Sean penasaran.
Sontak saja handuk yang dipegang oleh Viara langsung lepas dari tangannya karena gadis itu begitu kaget.
Sean mengusap punggung Viara bahkan meraba bokong gadis itu dan membelainya. Viara berusaha mendorong tubuh Sean tapi pria itu semakin mengencangkan pelukannya dan me**mas bokong gadis itu sampai Viara mengerang pelan.
Hal itu membuat Sean semakin gila, pria itu mulai menciumi leher Viara sedangkan tangannya mulai naik keatas dan mer**as dada sekal milik Viara.
"Kak Sean, jangan!" Viara masih berusaha mendorong tubuh Sean tapi pria itu masih meneruskan aksinya.
"Kak, Viara mohon!" Teriak Viara ketakutan dan tanpa terasa air matanya mulai mengalir.
Sean langsung tersadar dan dengan cepat dia segera mendorong tubuh Viara yang telanjang.
Sean melihat gadis itu dengan nafas memburu dan dengan cepat Sean langsung memutar langkahnya keluar dari kamar itu dengan wajah merah padam sedangkan Viara terduduk lemas diatas lantai.
Sean masuk kedalam kamarnya, berdiri dibelakang pintu sambil mengatur nafasnya. Apa yang baru saja dia lakukan?
Kenapa dia memperlakukan Viara seperti itu? Sekarang dia benci dengan dirinya sendiri!
"Sialan sekarang aku benar-benar seperti pria hidung belang!" makinya.
Sean mengusap wajahnya frustasi, sepertinya dia sudah gila!
"Ini pasti akibat aku kelamaan jomblo!" Sean berjalan kearah kamar mandi untuk menenangkan sesuatu disana.
Sementara itu, Viara memunguti handuknya dan menghapus air matanya yang tersisa. Viara memakai bajunya dan bertanya dalam hati. Kenapa Sean melakukan hal seperti itu?
Apa Sean memiliki perasaan untuknya?
__ADS_1
Viara menggeleng dan duduk disisi ranjang, tidak mungkin Sean menyukainya karena dia hanya gadis desa biasa. Mereka bagaikan langit dan bumi, Sean berada diatas sedangkan dia berada dibawah.