Angel Of Love

Angel Of Love
Mission 1


__ADS_3

Sedangkan saat itu Sean, setelah selesai mandi dia segera turun kebawah dan menuju ruang makan. Disana tampak gadis yang dia bawa pulang sedang menyiapkan makanan membantu ibunya.


Gadis itu tampak sibuk mengangkat piring kotor dari atas meja dan membawanya ketempat pencuci piring dan dia hanya menunduk saja saat Sean masuk kedalam sana.


Viara berjalan kearah lemari untuk mengambil serbuk kopi dari sana karena dia ingin membuatkan segelas kopi untuk Sean.


Sean menarik sebuah kursi dan duduk disana dan tidak lama kemudian Viara mendekatinya dan memberikan segelas kopi untuknya.


"Viara, kau jangan masuk kedalam kamarku lagi ya." ancamnya.


Viara menunduk malu dan dia jadi tidak enak hati. Padahal dia hanya berniat membangunkan Sean saja tapi dia malah membuat hal bodoh yang membuatnya malu.


Tapi yang dia lakukan sesuai dengan perkataan Adel tapi dia tidak menyangka akan membuat Sean marah.


"Maaf kak." Viara berlalu pergi untuk mencuci piring kotor yang ada.


"Adelia, awas kau ya!" umpat Sean kesal.


Entah kanapa adiknya itu meminta Viara membangunkannya dengan sebuah ciuaman, memangnya tidak bisa dengan cara lain?


"Sean." panggil ibunya.


"Ya mom."


"Apa kau sibuk hari ini?" tanya ibunya pula.


"Tidak."


"Baguslah, sana kau bawa Viara untuk mendaftar disekolah baru." perintah ibunya.


Sean sangat kaget mendengarnya, daftar sekolah? Yang benar saja!


"Mom, aku tidak mau." tolaknya dengan cepat.


"Sean, kau yang membawanya pulang jadi kau harus bertanggung jawab. Viara masih butuh sekolah jadi sana kau pergi membawa Viara untuk mendaftar disekolah baru, kasian jika sampai dia putus sekolah." kata ibunya lagi.


"Tapi mom."


"Sean!" bentak ibunya.


Beraninya putranya itu tidak bertanggung jawab!! Jika Viara putus sekolah lalu mau jadi apa nanti? Viara masih muda dan masa depannya masih panjang, jaman sekarang jika berpendidikan rendah maka akan sulit mendapat pekerjaan kecuali punya keahlian.


Viara jadi tidak enak hati saat mendengar bentakan tante Mirna, dia juga tidak enak hati karena telah menyulitkan Sean, orang yang menolongnya.


"Tidak perlu tante, Viara tidak sekolah lagi juga tidak apa-apa." gadis itu hanya bisa menunduk tidak berani melihat kearah Sean.


Sean melihat kearah Viara dan menghembuskan nafasnya dengan berat,

__ADS_1


tapi saat melihat gadis itu lagi-lagi dia merasa iba.


"Ya sudah sana, ganti bajumu! Aku akan membawamu mendaftar kesekolah baru dan kau juga harus mengambil semua barang-barangmu dari rumah paman dan bibimu." kata Sean pasrah.


"Kak Sean tidak perlu repot." tolak Viara.


Dia sungguh merasa tidak enak hati harus selalu menyulitkan Sean.


"Viara, segera bergegas dan jangan merasa tidak enak hati, kau sudah seperti adikku sekarang."


Viara melihat kearah Sean sejenak kemudian dia menjawab:


"Baik kak."


Wajah Viara langsung terlihat ceria karena dia bisa sekolah lagi walaupun bukan disekolah lamanya tapi dia sangat senang bisa melanjutkan sekolah lagi.


Gadis itu segera berlari menuju anak tangga dan masuk kedalam kamar Adelai untuk mengganti bajunya, yah baju yang dia pakai tentu saja baju yang diberikan Adelia.


Untung saja ukurannya pas sehingga Viara bisa mempunyai baju ganti kalau tidak dia akan selalu mengenakan gaun merah yang dipakainya kemarin.


Setelah Viara siap, gadis itu segera turun kebawah dan dibawah sana Sean sudah menunggunya.


Merekapun pergi tapi tujuan mereka yang pertama adalah menuju kerumah paman dan bibi Viara untuk mengambil semua barang milik gadis itu.


Tidak banyak memang barangnya, hanya buku pelajaran dan surat penting milik Viara juga pakaian gadis itu.


Disana Viara akan sekolah dengan aman dan akan banyak teman tanpa diganggu oleh serigala liar, disanalah dulu Adelia belajar.


Setelah selesai mendaftar dan berbicara dengan kepala sekolah disana, Sean segera keluar dari ruangan kepala sekolah itu.


Minggu depan Viara sudah bisa mulai sekolah jika surat-suratnya sudah lengkap, mereka mulai berjalan dilorong sekolah dan pada saat itu, bel tanda istirahat berbunyi.


Para murid yang mayoritas adalah anak perempuan mulai keluar dari ruangan kelas dimana mereka belajar, Viara melambaikan tangannya pada murid-murid yang berpapasan dengannya sedangkan Sean mulai menjadi pusat perhatian para murid yang ada disana.


Murid-murid disana mulai berbisik, apa ada guru baru?


Dengan setelan jas yang dipakainya membuat Sean terlihat seperti guru disana, tapi pria itu tidak menyadarinya.


Seorang murid perempuan mulai mendekatinya dan bertanya:


"Pak, apakah anda guru baru?" tanya murid itu.


Sean menghentikan langkahnya dan melihat gadis yang sedang berdiri didepannya.


"Eh, bukan." jawabnya cepat.


"Bohong, bapak guru Fisika barukan?" tanya murid lainnya.

__ADS_1


Dalam sekejap mata Sean sudah menjadi pusat perhatian dan para murid mulai mengerumuni pria tampan yang mereka sangka guru Fisika baru mereka.


"Pak, namanya siapa?" tanya seorang murid diantara kerumunan itu.


"Pak, umurnya berapa?" tanya seorang lainnya.


"Pak minta alamat IG nya dong?" seorang lagi bertanya demikian.


"Pak foto bareng dong." pinta murid lainnya lagi.


"Hei jangan salah paham, aku bukan guru baru!" jawab Sean.


"Seriusan pak?" seseorang bertanya demikian.


Semua murid melihat kearahnya dan menunggu jawaban Sean sedangkan Sean menelan ludahnya dengan kasar, kenapa sekarang dia merasa seperti sedang dikelilingi oleh anak ayam?


"Aku memang bukan guru kalian jadi minggir."


"Waaahhhh!" sorak murid-murid itu.


Reaksi mereka diluar keinginan Sean dan para murid semakin mengerumuni pria itu tanpa ragu.


"Om ayo selfi dengan kami." ajak salah satu murid disana.


"Apa? Om lagi?" Sean kesal mendengarnya.


Tapi walau begitu para murid wanita disana mulai berselfi ria dengannya, Sean menelan ludahnya dan segera menarik tangan Viara untuk pergi dari sana, jangan sampai dia babak belur oleh gadis-gadis belia itu.


"Viara, lari!" ajaknya dan tanpa menunggu lagi mereka berdua langsung berlari meninggalkan para murid wanita yang sedang mengerumuni mereka.


"Yah om kok lari!" teriak salah seorang murid disana.


Sean sangat kesal, tadi mereka memanggilnya pak saat mengira dia guru disana tapi kenapa sekarang jadi Om?


Memangnya tampangnya sudah seperti om-om?!


Sean mengatur nafasnya saat sudah keluar dari sekolah itu dengan tampang yang tampak frustasi.


"Sekolah khusus wanita memang mengerikan." kata Sean pelan.


"Maaf ya kak jadi membuat kak Sean dalam kesulitan." Viara kembali merasa bersalah.


"Ini bukan salahmu jadi tidak perlu meminta maaf."


Sean segera mengajak Viara pergi dan pastinya dia tidak akan mau kembali kesekolah itu lagi karena dia tidak mau menjadi pusat perhatian gadis-gadis belia lagi.


Setelah mengatar Viara pulang, Sean segera menuju kantornya. Lebih baik dia bekerja dari pada harus terlibat dengan gadis-gadis belia.

__ADS_1


__ADS_2