
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Chris segera keluar dari ruangannya dengan cepat.
Pria itu menyambar kunci mobilnya dan berjalan dengan cepat pula, dia sudah tidak sabar ingin menemui wanita yang berani mematikan ponselnya.
Karena sudah lama tinggal di Indonesia membuat pria itu sudah hapal jalanan yang ada di ibu kota.
Chris memacu mobilnya dengan cepat dan berhenti disebuah ruko dua lantai.
Pria itu keluar dari Mobilnya dan masuk kedalam ruko itu dan dengan tidak sabar dia bertanya pada resepsionis yang ada disana.
"Apa Adelia ada?" tanyanya.
Pegawai Adelia itu langsung terpana melihat pria tampan yang berdiri didepannya itu.
"Hei!!" panggil Chris kesal karena wanita itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Oh sorry sir, bu Adel baru saja pergi." katanya resepsionis itu dengan cepat.
"Dengan siapa?"
"Maaf saya tidak tahu." jawab resepsionis itu lagi.
Chris berdecak kesal dan memutar langkahnya, dia segera berjalan keluar dari tempat itu.
Chris mengambil ponselnya dan menghubungi Adelia, tapi sudah beberapa kali berbunyi, panggilannya tidak dijawab sama sekali oleh Adelia.
Chris semakin kesal dibuatnya, pria itu masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin, dia segera memacu mobilnya menuju kesuatu tempat.
Sedangkan saat itu Adelia, sedang bersama dengan kakaknya. Adelia hanya melihat ponselnya yang berbunyi tanpa menjawabnya, dia sedang malas menjawab panggilan yang masuk itu karena dia tidak kau berdebat didepan kakaknya.
"Del, kenapa kau tidak menjawab panggilan itu?" tanya Sean penasaran.
Mereka sedang didalam perjalanan menuju kerumah mereka.
"Tidak apa-apa kak, hanya nomor tidak dikenal." jawab Adelia dengan malas.
Sebenarnya dia tahu siapa yang menghubunginya tapi dia tidak mau menjawab panggilan dari Chris dan lagi pula, buat apa Chris menghubunginya?
Adelia menyimpan ponselnya kembali kedalam tas dan dia berharap Chris tidak menghubunginya lagi.
"Del, apa kau sudah punya pacar?" tanya Sean tiba-tiba.
"Kenapa kakak bertanya demikian?"
"Kakak hanya ingin tahu saja."
"Tidak ada."
"Bagaimana menurutmu teman kakak?" tanya Sean lagi.
Adelia memandangi kakaknya itu dengan heran.
"Teman? Yang mana?"
"Robet, apa kau lupa dengannya?"
"Oh kak Robet? Biasa saja." Jawabnya.
"Begitu."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja." jelas Sean.
__ADS_1
Padahal dia berharap adiknya akan suka dengan Robet, tapi sepertinya adiknya tidak memiliki perasaan pada Robet. Tapi bisa saja lambat laun adiknya itu akan menyukai Robet dan dia berharap hal itu terjadi.
Selama diperjalanan ponsel Adelia kembali berbunyi berkali-kali sampai membuatnya kesal, tapi dia tidak menjawab panggilan itu karena dia tahu siapa yang menghubunginya.
Adelia tidak mau sampai kakaknya mendengar pembicaraannya dan tahu jika dia sedang menjalani masa pacaran pura-pura dengan seorang klientnya.
Saat itu mobil yang dibawa oleh Sean tiba disebuah rumah,pria itu Segera memarkirkan mobilnya digarasi yang ada.
Adelia segera turun dari mobil dan berlari kecil masuk kedalam rumah itu, dia sudah lama dia tidak kembali dan dia sudah sangat rindu dengan ayah dan ibunya.
"Mommy."
Adelia berlari kearah ibunya yang sedang menyiapkan makanan diatas meja.
"Wah lihatlah, putriku yang cantik ini." ibunya segera memeluk putrinya yang manja itu.
"Del, bagaimana kabarmu sayang?" tanya Mirna Firnanda ibunya.
"Aku baik-baik saja mom."
Adelia melepaskan pelukan ibunya dan menyomot makanan yang ada.
"Hei, anak gadisku baru kembali."
Roy Rajendra keluar dari kamar dan menghampiri mereka dan pada saat itu Adelia langsung berlari dan memeluk ayahnya dengan manja.
"Daddy, aku sangat rindu denganmu."
"Adel, kau itu sudah besar, jangan selalu manja seperti itu." sela Sean yang berjalan menghampiri mereka.
"Bilang saja kakak iri." ledek Adelia.
"Hei, untuk apa aku iri denganmu?"
Saat itu ponsel Adelia kembali berbunyi, Adelia meletakkan tasnya tanpa mau menjawab panggilan itu.
Sean sangat heran karena sedari tadi adiknya itu terus mengabaikan panggilan yang masuk diponselnya. Apa adiknya sedang diganggu oleh seseorang?
"Adel, kenapa kau tidak menjawab panggilan itu?" tanyanya penasaran.
"Tidak apa-apa kak, itu hanya nomor yang tidak dikenal." katanya baralasan.
"Kalau begitu berikan padaku, aku akan menggantikanmu menjawabnya."
"Eh, tidak perlu kak.abaikan saja."
Adelia berlalu pergi untuk mengambil minuman dingin dikulkas, saat dia pergi lagi-lagi ponselnya kembali berbunyi.
Sean langsung mengambil ponsel adiknya yang berada didalam tas, dia sangat ingin memarahi orang yang mengganggu adiknya itu.
"Siapa kau?" tanyanya dengan kasar.
Chris diam saja, kenapa suara seorang laki-laki?
"Hei jawab!" pinta Sean dan dia bertambah kesal dibuatnya.
"Dimana Adelia?" Chris mulai membuka suaranya.
"Siapa kau? Penguntit?"
"Bukan!" jawab Chris.
Saat itu Adelia kembali dengan segelas minuman ditangannya, dia sangat kaget saat melihat ponselnya berada ditangan kakaknya.
__ADS_1
Dengan cepat Adelia berlari dan menyambar ponsel itu dari tangan kakaknya.
"Apa yang kakak lakukan?"
"Del, aku hanya membantumu memarahi penguntit itu."
"Apa? Penguntit?"
Disebrang sana Chris dapat mendengarnya, sebenarnya hatinya sangat kesal saat mendengar seorang pria menjawab panggilannya.
Siapa pria itu? Kenapa Adelia memanggilnya kakam? Entah mengapa dia jadi sangat penasaran.
Chris mulai membayangkan Adelia sedang bersama dengan seorang pria disuatu tempat saat ini dan hal itu membuat hatinya semakin kesal.
Adelia segera masuk kedalam kamarnya dengan kesal, kakaknya begitu seenaknya menjawab panggilan yang masuk keponselnya dan dia tidak suka.
"Halo."
"Kenapa tidak menjawab panggilanku sedari Tadi?" tanya Chris kesal.
"Aku sibuk!" dustanya.
"Sibuk dengan laki-laki?"
"Hei apa urusanmu?"
"Sedari tadi aku menghubungimu tapi kau tidak menjawabnya, sekarang beritahu aku, siapa pria itu?" tanya Chris marah.
"Bukan urusanmu kenapa kau harus marah?" Adelia semakin kesal dibuatnya, Apa sih mau pria aneh ini?
"Siapa bilang ini bukan urusanku, katakan siapa pria itu?"
"Hei uncle, kau itu bukan suamiku untuk apa kau tahu?"
"Tapi sekarang aku pacarmu!"
Adelia memijit pelipisnya, sepertinya dia sudah salah mengajak pria aneh itu pacaran pura-pura.
"Sudahlah, tidak usah diributkan lagi. Ada apa mencariku?" tanyanya dengan malas.
"Tidak, aku hanya kawatir saja denganmu."
Hah? untuk apa Chris menghawatirkannya?
"Terima kasih, aku baik-baik saja."
"Kau ada dimana? Aku akan segera menjemputmu."
"Tidak perlu."
"Hei, aku tidak suka kau sedang bersama pria lain."
"Chris kau sangat aneh, kau seperti seorang pacar yang sedang cemburu saat mengetahui pacarmu sedang bersama dengan pria lain."
"Asal kau tahu, kita ini hanya pacaran pura-pura dan pada saat aku menemukan wanita yang cocok untukmu maka masa pacaran kita selesai." kata Adelia.
Beberapa menit dalam keheningan dan Chris tidak berkata apa-apa, tidak lama kemudian Chris segera mematikan ponselnya.
Adelia hanya memandangi Ponselnya dengan heran, tapi kemudian dia melemparkan ponselnya diatas ranjang dan segera melangkah keluar.
Sedangkan Chris segera memacu mobilnya untuk kembali kerumahnya.
"Cemburu? Apa aku sedang cemburu? Tapi ini tidak mungkin!" kata pria itu dalam hati.
__ADS_1