Angel Of Love

Angel Of Love
Panic mode


__ADS_3

Adelia langsung berlari kedalam dapurnya karena kakaknya ada didepan pintu dan dia tidak mau sampai kakaknya tahu bahwa Chris ada dirumahnya.


"Chris, cepat kau pergi." pintanya dengan panik.


"Hei, kenapa? Aku belum selesai makan." jawab Chris dengan santai.


"Ya Tuhan Chris, cepatlah." Adelia menarik-narik tangan pria itu.


"Ada apa denganmu? Kenapa panik begitu?" tanya Chris penasaran.


"Diluar ada kakakku jadi cepatlah kau pergi kalau tidak kakakku akan melihatmu disini dan salah paham."


"Biarkan saja kakakmu itu melihat." Chris menjawab dengan santai dan meneguk air putih yang diambilnya.


"Apa kau sudah gila?" tanya Adelia kesal.


Bel kembali berbunyi diluar sana dan Adelia semakin panik dibuatnya.


"Chris please." mohonnya lagi.


Chris bangkit berdiri dan memeluknya, dia juga mengusap wajah Adelia dengan lembut.


"Jangan panik seperti itu, jika aku pergi bukankah aku akan bertemu dengan mereka diluar sana."


Eh, benar juga.


"Jadi bagaimana ini?" tanya Adelia dengan panik.


"Biarkan saja kakakmu melihat." jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Tidak...Tidak...Jika kakakku melihat maka aku bisa dikarantina dirumah."


Chris terkekeh dan mengusap wajah Adelia yang tampak semakin panik.


"Jadi, harus bagaimana?" tanyanya.


Adelia melihat sekitarnya dan pada saat itu ponselnya berbunyi, pasti itu kakaknya yang menghubungi.


"Cepat sembunyi." ujarnya.


"Dimana?"


"Didalam lemari, dibalik tirai, dibalik pintu atau dibawah meja juga boleh yang penting kau sembunyi." jawabnya dengan nada yang semakin panik.


"Hei, aku tidak mau ya bersembunyi ditempat-tempat itu." tolak Chris.


"Jadi bagaimana dong?" Adelia memutar otaknya dan pada saat itu sebuah ide muncul dikepalanya.


"Cepat ikut aku." Adelia menarik tangan pria itu dan membawanya menuju kamarnya.


"Sembunyi disini." Adelia membuka pintu kamarnya.


"Baiklah, setelah ini kau harus mengikuti permintaanku kalau tidak aku akan mengatakan semua ini pada kakakmu nanti."


"Oh my God, Chris, please." pinta Adelia karena suara bel diluar sana kembali berbunyi untuk kesekian kalinya.


Chris tersenyum dan memegang wajah Adelia dan pada saat itu, Chris menciumi bibir Adelia sejenak setelah itu barulah dia masuk kedalam kamar Adelia untuk sembunyi.


Setelah menutup pintu kamarnya, Adelia segera berlari keluar membukakan pintu untuk kakaknya dan Robet.


"kak, kenapa kau datang kesini?" tanya Adelia basa basi.

__ADS_1


"Ya ampun Del, kenapa begitu lama? Kami sudah menunggu lama disini." ujar kakaknya kesal.


"Sory kak." Adelia terseyum pada kakaknya.


"Hai, kak Robet." sapa Adelia pula.


Robet tersenyum melihat gadis cantik itu sedangkan Sean segera masuk kedalam rumah adiknya dan Robet mengikutinya. Adelia menutup pintu pagar rumahnya dan didalam hatinya sangat cemas, dia takut kakaknya tahu jika Chris ada disana.


Saat kakaknya hendak masuk kedalam tampak sebuah sepatu pria ada disana.


"Del, ini sepatu siapa?" tanya Sean dengan heran.


"Ya Tuhan, habislah! Aku lupa." kata Adelia dalam hati.


"Kak, itu sepatu milik ....Milik..Milikku." katanya dengan ragu.


"Hei, sejak kapan kau pakai sepatu pria, ukurannya begitu besar pula." tanya Sean dengan heran pula.


"Kak, pokoknya itu punyaku." Sambil mengambil sepatu itu dan menyimpannya.


Sean melihatnya dengan curiga tapi kemudian pria itu masuk kedalam rumah adiknya.


"Kak, ada apa kalian datang kemari?" tanya Adelia mengalihkan pembicaraan.


"Oh, aku dan Robet ingin mengajakmu makan siang disuatu tempat, kau belum makan siangkan?"


"Tapi kak?"


"Ayolah Del." ajak Robet pula.


Pria itu sengaja mengikuti sahabatnya supaya bisa semakin dekat dengan Adelia dan Seanpun ingin membantu sahabatnya itu untuk mendapatkan adiknya.


"Ikut saja, tidak makan juga tidak apa-apa." ajak Robet lagi.


Adelia melihat kearah pintu kamarnya, bagaimana sekarang?


"Maaf kak Robet, aku baru saja makan siang dan juga sedang sibuk membersihkan rumahku." tolaknya dengan halus.


Jika dia pergi bagaimana dengan Chris nantinya?


"Del, kakak maksa nih!" ujar Sean.


"Kak, aku benar-benar sibuk."


Adelia berjalan kearah dapurnya, pura-pura menyibukkan dirinya.


Sean dan Robet masuk kedalam dapur mengikuti gadis itu dan mereka melihat diatas meja terdapat makanan yang masih tersisa dan dua piring seperti baru dipakai oleh dua orang.


Mereka berdua saling pandang dan mulai curiga apalagi dengan sepatu pria yang mereka lihat tadi.


"Del, katakan padaku, kau sedang bersama siapa?" tanya Sean memastikan.


"Maksud kakak?"


"Katakan padaku, apa ada pria yang datang?"


"Tidak kak, dari tadi aku hanya sendirian dirumah." elaknya.


"Jangan bohong padaku, sepatu siapa tadi dan dengan siapa kau makan?" tanya Sean lagi.


Adelia menelan ludahnya, sepertinya kakaknya mulai curiga tapi sebisa mungkin dia harus membuat kakaknya tidak semakin curiga dan memeriksa rumahnya.

__ADS_1


"Kak, percayalah padaku, itu sepatuku dan semua ini bekas piring kotor yang aku gunakan sendiri." dustanya lagi.


"Del, jangan mecoba menipu kakak."


Sean mulai mencari, siapa tau adiknya itu benar-benar menyembunyikan laki-laki dirumahnya?


"Kak, percayalah padaku." Adelia berusaha bersikap setenang mungkin.


Jika kakaknya tahu maka dipastikan kebebasannya selama ini pasti akan hilang.


"Kak." Adelia menahan kakaknya saat pria itu hendak membuka pintu kamarnya.


"Kak, percayalah padaku tidak ada siapa-siapa disini seperti yang kakak kira."


"Bukan begitu Del, kakak tidak akan terima jika kau menyembunyikan seorang laki-laki dan kau tahukan, aku akan menyeretmu pulang dan tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun." ujar kakaknya.


"Apa kakak menuduh adik kakak sendiri melakukan perbuatan yang tidak benar?" Adelia menutupi wajahnya pura-pura menangis.


Robet yang sedari diam saja langsung menepuk pundak sahabatnya.


"Sean, percayalah pada adikmu sendiri." ujar pria itu.


Sean menatap sahabatnya dengan lekat, mungkin dia terlalu berlebihan tapi sebagai seorang kakak dia hanya ingin melindungi adiknya.


Chris berdiri didepan pintu kamar itu dan mendengar semua pembicaraan ketiga orang yang ada diluar sana, dia ingin keluar dari sana tapi dia juga memikirkan keadaan Adelia. Jika sampai Sean tahu sudah dipastikan dia tidak akan bisa bertemu dengan Adelia dan dia tidak mau itu terjadi.


"Maafkan kakak." Sean menarik adiknya itu kedalam pelukannya.


Adelia pura-pura mengusap air matanya dan bernafas dengan lega.


"Bukankah kakak mau pergi makan siang?" tanyanya.


"Iya, jadi apa kau mau ikut?" tanya Sean sambil melepaskan pelukannya.


"Baiklah aku akan ikut."


Adelia berpikir semoga setelah dia pergi Chris keluar dari rumahnya dan tentunya dia tidak akan mengunci pintu rumahnya.


Mereka bertigapun keluar dari sana untuk makan siang dan pada saat sudah keluar, Adelia pura-pura lupa untuk tidak mengunci pintu rumahnya tapi Sean langsung mengingatkan.


"Hei, kenapa kau tidak mengunci rumahmu?" tanya Sean heran.


"Sudah kak." kata Adelia pura-pura.


"Aku tidak melihatnya, sana kunci rumahmu yang benar karena sedang banyak pencuri." kata Sean lagi.


"Tapi aku sudah..?"


"Berikan kunci rumahmu." pinta Sean sambil menyodorkan tangannya.


Dengan berat hati Adelia memberikan kunci rumahnya pada Sean dan benar saja, Sean mengomeli adiknya karena pintu rumahnya tidak dikunci.


Padahal Adelia sengaja melakukannya supaya Chris tidak terkunci disana, dia juga tidak bisa meninggalkan kuncinya karena dia tidak punya kunci cadangan.


Setelah memastikan pintu rumah adiknya terkunci, merekapun pergi dari sana.


Adelia menatap rumahnya sebelum pergi dan berkata dalam hati:


"Sory uncle."


Dan Chris terkunci dirumah itu tidak bisa pergi kemana-mana.

__ADS_1


__ADS_2