
Sudah tiga hari Sean dan Robet mengikuti Adelia tapi selama tiga hari itu mereka tidak menemukan Adelia bersama dengan seorang laki-laki.
Adelia tampak sibuk dengan pekerjaannya dan terkadang memang wanita itu pergi dengan kliennya, tapi Adelia tidak terlihat bertemu dengan pria seperti yang Robet katakan.
Saat itu Sean dan Robet sedang berada disebuah restorant dan tampak lesu, sepertinya mereka harus menghentikan main detektif-detektifan ala-ala mereka.
Sean menyeruput minuman dingin yang dipegangnya degan cepat, lagi-lagi hari ini mereka tidak mendapati Adelia sedang bersama seorang laki-laki yang dikatakan oleh Robet.
Ya iyalah, selama tiga hari Chris pergi keluar kota untuk menemui rekan bisnisnya.
Tiga hari yang lalu saat Robet memergoki Adelia sedang bersama dengan seorang pria asing dan pada saat itu Chris memang menjemput Adelia dan mengantar kekasihnya itu pulang kerumah.
Tapi setelah itu, Chris memberitahukan pada kekasihnya jika dia harus berangkat ke Bali selama tiga hari dan malam itu dia harus berangkat karena ke esokkan paginya dia sudah harus berada disana untuk menemui klientnya.
Walaupun berat dan pastinya harus menahan rindu, Adelia tidak bisa mencegah kepergian kekasihnya.
Chris mengajaknya pergi bersama tapi Adelia menolak karena dia sedang banyak pekerjaan yang tertunda.
Jadilah pengintaian yang dilakukan oleh Sean dan Robet tidak membuahkan hasil alias nihil.
"Robet, aku rasa waktu itu kau sedang bermimpi?" ujar Sean putus asa.
"Jangan bercanda, jelas-jelas aku tidak tidur waktu itu." Robet juga mulai putus asa.
"Lalu, kenapa selama tiga hari ini kita tidak melihat Adelia bersama dengan lelaki yang kau maksud?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
Sean menarik nafasnya dengan berat, apa adiknya tahu jika mereka sedang memata-matainya sehingga Adelia menyembunyikan pria itu dari mereka?
Tapi tidak mungkin, dari mana adiknya itu bisa tahu apalagi mereka mengikuti Adelai secara diam-diam.
"Robet." panggilnya.
"Apa?" jawab Robet pula.
"Sampai disini saja permainan kita menjadi Sherlock Holmes." katanya putus asa.
"Ya, aku juga tidak mau lagi! Pekerjaanku jadi tertunda semua karena ide gilamu ini." Robet menyetujui perkataan sahabatnya.
"Benar, pekerjaanku juga sama. Setelah ini aku pasti dimaki oleh ayahku."
Robet terkekeh, ternyata menjadi mata-mata sungguh merepotkan. Tapi walau begitu dia masih sangat penasaran dengan pria waktu itu yang dilihatnya bersama dengan Adelia.
Tidak mungkinkan dia bermimpi seperti yang dikatakan oleh sahabatnya? Dia sangat yakin jika dia tidak salah lihat tapi kenapa salama tiga hari mereka tidak mendapat Adelia dengan lelaki yang dilihatnya itu?
Sedangkan ditempat lain, tampak Adelia sedang memeluk pria yang tidak dia temui selama tiga hari.
Siang itu Adelia berada dikantor Chris untuk menemui pujaan hatinya, tentu saja untuk melepas rindu karena sudah tiga hari tidak bertemu.
Adelia memejamkan matanya dan memeluk kekasihnya itu dengan erat. Dia sangat suka saat seperti itu, merasakan kehangatan tubuh kekasihnya dan wangi maskulin dari tubuh kekasihnya.
"Sayang, apa kau begitu rindu denganku?" tanya Chirs pada Adelia.
__ADS_1
"Tentu saja, memangnya kau tidak rindu denganku?" Adelia balik bertanya.
Chris tersenyum senang dan mengangkat tubuh Adelia dan berjalan kearah sofa, dia duduk disana sedangkan Adelia duduk diatas pangkuannya dan memeluk pria itu dengan erat.
"Aku juga rindu padamu sayang." bisik Chris ditelinganya.
Wajah Adelia bersemu merah, sekarang Chris lebih banyak memanggilnya dengan sebutan 'sayang' dan hal itu membuatnya benar-benar senang.
"Chris."
"Ya?"
"Bagaimana perjalananmu?"
"Biasa, aku sibuk disana sehingga tidak bisa menikmati pulau Bali yang indah."
"Apa lain kali kita berlibur kesana?" tanya Adelia.
"Boleh saja sayang, kapan kita akan pergi?"
Adelia tersenyum manis dan mengelus wajah tampan kekasihnya.
"Chris, apa kau serius berhubungan denganku?"
"Tentu saja,kau tahu sendiri umurku sudah berapa."
Adelia terkekeh dan menciumi wajah kekasihnya.
"Usia kita beda jauh apa kau tidak keberatan?" tanyanya lagi.
Adelia memukul bahu Chris dengan pelan.
"Dasar kau ulat pejantan."
Chris tertawa, walaupun awalnya dia ragu tapi sekarang tidak lagi. Dia sudah sangat yakin dengan pilihannya.
"Sayang, apa kau mau bertemu dengan kedua orang tuaku?" tanyanya.
"Apa?"
"Yah, asal kau tahu saja aku meminta bantuanmu untuk mencarikan seorang pacar karena ibuku selalu bertanya kapan aku akan menikah dan lihatlah, hasilnya diluar dugaan. Aku malah lebih tertarik padamu dari pada wanita yang kau kenalkan padaku."ujar Chris.
Senyum Adelia kembali menghiasi wajahnya, dia juga tidak menyangka akan menyukai klientnya sendiri.
"Jadi, seperti apa ibumu?"
"Ibuku sangat baik, dia juga orang indonesia."
"Benarkah?" Adelia tidak percaya mendengarnya.
"Yah, apa itu aneh?"
"Tidak, bukan begitu."
__ADS_1
"Lalu?"
Adelia memandangi wajah Chris dengan lekat.
"Wajahmu tidak seperti blasteran." ujarnya tidak percaya.
"Hei, gen ayahku lebih kuat jadinya seperti ini."
Adelia tertawa mendengar ucapkan kekasihnya.
"Dimana orang tuamu?"
"Di inggris, aku akan meminta mereka untuk datang jika kau sudah siap menemui mereka."
Adelia kembali memeluk Chris dengan erat dan membenamkan wajahnya dileher pria itu, satu saja penghalang dari hubungan mereka yaitu restu keluarganya.
Sampai saat ini dia belum mengatakan hubungan mereka kepada keluarganya karena dia takut mereka tidak akan setuju dan memutus hubungannya dengan Chris, dia tidak mau hal itu terjadi tapi sepertinya dia sudah harus mengatakan hubungan mereka kepala keluarganya.
"Chris."
"Ya?"
"Malam ini aku akan pulang kerumah orang tuaku."
"Untuk apa?"
Adelia menarik nafasnya sejenak dan kembali menatap wajah kekasihnya.
"Aku akan mengatakan hubungan kita pada keluargaku, kau sangat serius denganku maka tidak ada alasan untuk menyembunyikan hubungan kita terus menerus pada mereka jadi bagimanapun mereka harus tahu cepat atau lambat."katanya lagi.
"Kau serius?" tanya Chris tidak percaya.
Adelia mengangguk sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
"Oh sayang, aku sangat senang mendengarnya."
Chris memegangi dagu Adelia dan langsung menciumi bibirnya sedangkan Adelia memejamkan matanya dan menerima ciuman itu.
Walapun dia masih ragu apakah keluarganya bisa menerima hubungan mereka tapi dia tidak mau menunda lagi karena Chris sangat serius berhubungan dengannya.
Chris melepaskan ciuman mereka dan mengelus wajah Adelia dengan lembut.
"Katakan padaku jika nanti terjadi sesuatu padamu."
"Tentu Chris, aku akan memberimu kabar."
Chris tampak senang, dia juga berharap keluarga Adelia merestui hubungan mereka.
"Sayang, apa kau sudah lapar?"
"Ya, aku memang sudah lapar sedari tadi."
"Kalau begitu ayo kita pergi makan, nanti lambungmu bisa sakit."
__ADS_1
Adelia mengangguk dan bangkit berdiri dan segera mengambil tasnya yang berada diatas meja.
Salama keluar sari sana, Chris melingkarkan tangannya dipinggang Adelia dan memeluknya dengan erat. Mereka segera pergi menuju kesebuah restoran untuk makan siang.