
Waktu sebelum Viara bubar sekolah, hari itu Sean datang kesekolah Viara dengan diam-diam. Tentu saja dia melakukan hal itu untuk mengikuti Viara karena dia sangat penasaran apa yang dilakukan oleh Viara akhir-akhir ini?
Sean berdiri sedikit menjauh dari gerbang sekolah itu, dia tidak mau sampai Viara mengetahui kedatangannya.
Tidak lama kemudian tampak Rava datang dan berdiri didepan gerbang sekolah Viara, anak muda itu juga tampak menunggu Viara disana.
Dan pada waktunya, Viara tampak keluar dari gerbang sekolah itu dan Rava menghampirinya. Rava dan Viara tampak berjalan bersama menuju kesuatu tempat sedangkan Sean mengikuti mereka, supaya tidak ketahuan Sean memakai sebuah topi dan kaca mata hitam.
Dia akan mengikuti kedua anak muda itu dan Sean berjalan dibelakang mereka untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Viara sampai kapan kau mau membohongi keluarga itu jika kau sedang kerja kelompok?" tanya Rava pada Viara.
Saat mendengar itu, Sean terbelalak kaget. Jadi Viara berbohong? Pasti ada alasan dibalik itu semua dan dia ingin mencari tahu apa yang sedang gadis itu lakukan.
"Aku tidak tahu Rava, kau tahukan aku melakukan ini untuk mengembalikan uang kak Sean." Jawab Viara putus asa.
"Tapi mau sampai kapan Via? 200juta bukan uang yang sedikit loh!"
Viara menunduk sedangkan Sean, yang berjalan dibelakang mereka sungguh tidak percaya mendengarnya.
Ternyata beberapa hari ini Viara pulang malam karena mencari uang untuk mengganti uangnya?
"Entahlah Rava, mungkin aku harus bekerja sampai tua baru bisa mengganti uang kak Sean. Tapi yang pasti mulai sekarang aku akan berusaha mencari uang untuk mengganti uang kak Sean."
Sean masih mengikuti kedua muda mudi itu untuk mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut.
"Viara, bagaimana jika kau jadi tunanganku saja. Kita bisa menikah setelah kita lulus sekolah dan aku akan membantumu membayar hutangmu pada kak Sean."
Sean sangat kesal saat mendengar ucapan Rava. Beraninya!
"Tapi Rava?"
"Tidak bisa!!" Sean menyela ucapan Viara dan memegangi tangan gadis itu.
Sontak saja Viara dan Rava begitu kaget dan menghentikan langkah mereka, mereka memutar tubuh mereka dan begitu kaget saat melihat Sean berdiri dibelakang mereka.
"Kak Sean." Viara tidak percaya melihatnya, jangan-jangan Sean sudah mendengar semua pembicaraan mereka.
Tanpa basa basi, Sean langsung menarik tangan Viara dan membawa gadis itu pergi. Viara hanya bisa mengikuti Sean sedangkan Rava berteriak dibelakang mereka.
"Kak Sean, lepas! Viara mau pergi bekerja." pinta Viara.
Tapi Sean tidak perduli dengan permintaan Viara, pria itu membawa Viara menuju kemobilnya dan mendorong tubuh Viara masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Kak Sean." Viara mencoba memanggil pria itu saat Sean sudah duduk dibangku kemudi.
Sean mengusap Wajahnya dengan kasar, dia sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Sebelum bertanya pada Viara, Sean menarik nafasnya sejenak agar dia tidak emosi.
"Viara, apa maksudmu ingin mengembalikan uangku dan bisa jelaskan pembicaraan kalian tadi?" tanyanya.
Viara menggenggam tangannya dengan erat, sepertinya dia tidak bisa menyembunyikan hal ini lagi.
"Maaf kak, aku hanya tidak ingin membuat kak Sean semakin membenciku jadi aku bekerja untuk mengembalikan uang kak Sean dan supaya aku bisa pindah dari rumah kak Sean." Viara berkata demikian sambil menunduk.
Sean tidak percaya mendengarnya, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Viara selama ini?
"Viara, dengarkan aku." Sean memegangi tangan Viara dan pada saat itu, Viara mengangkat kepalanya dan menatap Sean dengan serius.
"Kapan aku pernah berkata jika aku membencimu dan kapan aku pernah memintamu untuk mengembalikan uang itu? Dan lagipula kemana kau mau pergi jika keluar dari rumahku?" Sean menatap Viara dengan serius.
"Aku tidak tahu tapi aku tidak mau membuat kak Sean tidak nyaman karena ada aku disana dan lagi pula, bukankah kak Sean pergi dari rumah karena kak Sean benci denganku?"
Sean kembali menarik nafasnya dengan berat, sepertinya Viara sudah salah paham.
"Viara, aku mengungsi kerumah Adel bukan karena aku membencimu."
"Jadi?" Viara masih menatap Sean dan menunggu jawaban dari pria itu.
"Aku pergi karena aku tidak mau?" Sean kembali mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf semalam aku kelepasan." katanya lagi.
Wajah Viara langsung memerah saat mengingat kejadian semalam, jadi Sean pergi bukan karena membencinya?
"Oh aku benci diriku saat ini, aku sudah seperti pria hidung belang." katanya Frustasi.
"Jadi kak Sean tidak membenciku?" tanya Viara.
"Mana mungkin aku membencimu Viara, aku?" Sean ragu melanjutkan ucapannya.
Viara tersenyum padanya dan mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Sean.
"Kak Sean, Viara bukan gadis bodoh yang mau dicium siapa saja. Sejak malam itu, Viara sudah jadi milik kak Sean." Viara berkata demikian dan menciumi wajah Sean.
Sean kembali terbelalak kaget, bisa dia simpulkan dari ucapan Viara jika gadis itu tidak menolaknya dan sekarang dia merasa menyesal karena sudah uring-uringan tidak jelas.
"Sekalipun aku sudah om-om apa kau tidak keberatan denganku?"
__ADS_1
Viara mengangguk dan tertunduk malu.
"Sekalipun aku mesum seperti pria hidung belang?" tanya Sean lagi.
"Kak Sean memang pria hidung belang." kata Viara dan dia masih menunduk malu.
"Sialan! Seharusnya aku meniru adik iparku dan membuang gengsiku!" makinya.
"Viara, mulai sekarang berhenti bekerja karena aku tidak terima uang darimu!"
"Apa kak Sean tidak keberatan dengan Viara? Meskipun Viara tidak punya apa-apa dan merepotkan?"
"Aku tidak perduli itu! Jadi kau harus mendengarkan semua perkataanku dan mulai sekarang kau harus menjauhi sibocah t*ngik itu."
"Aku dan Rava hanya berteman kok kak."
"Aku tidak perduli, jangan membuatku cemburu!"
"Kak, apa tidak apa-apa menunggu Viara sampai lulus sekolah?"
"Tentu aku akan menunggu dan pada saat itu maukah kau menjadi istriku?"
"Dari awal aku memang sudah menjadi milik kak Sean."
"Baiklah, tapi ingatkan aku jika sampai kejadian semalam terulang lagi."
"Kak sean mesum." Viara hendak memukul sean tapi pria itu sudah menangkap tangannya.
"Aku memang mesum."Sean mengangkat dagu Viara dan mengecup bibir gadis itu.
"Tanda kau adalah milikku."
Sean kembali mengecup bibir Viara sedangkan gadis itu memejamkan matanya.
"Kak sean aku menyukaimu."
Saat mendengar itu Sean tampak begitu senang.
"Aku juga." Sean kembali menciumi bibir Viara.
Setelah selesai Sean melepaskan bibirnya dan mengusap wajah manis Viara.
"Nyonya Rajendra, Sebaiknya kita pulang karena mommy telah menunggu." Sean segera menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Viara tersipu malu saat mendengar panggilan itu, yah tidak lama lagi dia akan lulus dan mungkin Sean akan langsung menepati ucapannya untuk menikahi Viara.