
Pagi itu terdengar suara ketukan didepan pintu rumah keluarga Ranjendra sedangkan semua anggota keluarga sedang sarapan dimeja makan kecuali Adelia.
Dia sudah tidak tinggal disana lagi sejak menikah tapi rumah itu tetap memiliki gadis manis yaitu Viara.
Sebelum berangkat kesekolah, Viara membantu Mirna menyiapkan sarapan dan setelah itu mereka makan bersama-sama.
Saat ketukan dipintu berbunyi,seorang pembantu keluar untuk membukakan pintu rumah itu tapi tidak lama kemudian, pembantu itu kembali dan mengatakan sesuatu pada Viara.
"Neng Viara, ditunggu sama pacar neng didepan."
Sontak saja perkataan pembantu itu membuat Sean tersedak makanan yang sedang dimakannya.
Pria itu terbatuk dan memukul-mukul dadanya, hal itu membuat Roy dan istrinya saling pandang. Ada apa dengan putranya?
"Pacar? Pasti bocah tengil itu!!" kata Sean dalam hati.
Dengan cepat Sean meraih gelas air putih dan meneguknya, berani sekali bocah tengil itu datang kerumahnya!!!
Viara segera bangkit berdiri dan sungguh dia sangat merasa tidak enak hati pada keluarga itu. Bisa dia tebak, jika yang ada didepan sana adalah Rava.
Dia juga tidak menyangka jika Rava akan berani datang kerumah itu, semalam Rava menanyakan dimana Viara tinggal sekarang melalui pesan Wa dan dia memberikan alamat rumah itu tanpa curiga sama sekali.
Dia kira Rava hanya bertanya saja tapi siapa sangka jika pria itu, begiru berani datang mencarinya.
Jika dia tahu Rava berani datang maka dia tidak akan memberikan alamat rumah itu kepada Rava.
"Maaf om, tante, Viara permisi sebentar." pintanya dengan sopan.
Setelah berkata demikian Viara segera berjalan keluar untuk menemui Rava dan benar saja dugaannya, Rava sudah menunggu disana dan tersenyum senang saat melihat kedatangannya.
"Viara, ayo kita berangkat kesekolah." ajak Rava dengan penuh semangat.
Viara menutup pintu rumah itu dan berdiri diluar sana.
"Rava kenapa kau datang kemari?" tanyanya.
"Tentu saja untuk menjemputmu." jawab Rava santai.
"Bukan begitu maksudku? Jangan datang kemari seenaknya, aku jadi tidak enak hati dengan keluarga ini." ujar Viara pula.
"Hei, kau bilang mereka sangat baik bukan? Aku sangat yakin mereka tidak akan keberatan saat pacarmu datang." jawab Rava dengan penuh percaya diri.
"Rava, kau bukan pacarku jadi jangan asal bicara."
"Aku tidak asal bicara Viara, bukankah kau sudah tahu bahwa aku menyuakimu sejak dulu?"
Viara menggengam tangannya, dia sudah tahu tapi dia tidak memiliki perasaan pada Rava.
__ADS_1
"Hm!" Sean berdehem pelan dan mengagetkan Viara dan Rava.
Dia sudah bersandar didepan pintu dan melihat kedua anak muda itu bahkan mendengar pembicaraan mereka.
"Kak Sean, maaf." Viara semakin tidak enak hati.
"Hei jika kalian mau saling menyatakan cinta jangan didepan rumahku, aana ketempat lain." kata Sean kesal.
Viara menunduk dan dia sangat sedih mendengar perkataan dari Sean, tidak hanya itu, dia bener-benar tidak enak hati.
"Maaf kak, jika begitu boleh aku meminjam Viara?" pinta Rava.
"Kau kira dia barang!" jawab Sean kesal.
"Bukan begitu, aku hanya ingin berbicara serius dengan Viara."
"Rava, maaf. Aku tidak punya waktu!" tolak Viara cepat.
"Viara, selesaikan masalahmu dan sebaiknya kau habiskan sarapanmu dan berangkatlah kesekolah!" perintah Sean.
Setelah berkata demikian, Sean segera berlalu pergi masuk kembali kedalam rumahnya. Entah kenapa, dia merasa kesal saat mendengar Rava menyatakan cintanya pada Viara.
Tidak seharusnya dia seperti ini, dia benar-benar sudah seperti seorang pria yang cemburu karena kekasihnya ditembak pria lain.
Viara semakin tidak enak hati setelah kepergian Sean, dia harap Sean tidak marah dan dia memandangi Rava kembali.
"Rava maaf, tolong jangan datang kemari tiba-tiba. Aku sangat tidak enak hati dan aku takut kak Sean salah paham." pintanya.
"Rava!" Viara menyela perkataan Rava dengan cepat.
"Maaf, mulai besok jangan datang seenaknya. Ini bukan rumahku dan jangan buat aku malu apalagi mengatakan kau pacarku." pintanya.
Rava menghampiri Viara dan memegangi tangannya.
"Maaf ya, besok aku akan datang lagi dan tidak mengatakan jika aku pacarmu."
Hah? Viara memandangi Rava kembali dan tampak bingung, apa Rava tidak mengerti dengan perkataannya?
"Tapi kau tidak perlu repot Rava." tolaknya.
"Tidak apa-apa, sekalian jalan." jawab Rava.
Viara hanya bisa mengangguk dan menarik tangannya dari pegangan tangan Rava.
"Kalau begitu kita berangkat bareng yuk." ajak Rava.
"Tunggu ya, aku minta ijin sama om dan tante Rajendra terlebih dahulu."
__ADS_1
Rava mengangguk dan setelah Viara masuk kedalam untuk berpamitan, pemuda itu berdiri didepan sana yang pasti dia tidak akan menyerah.
Viara kembali mendekati meja makan dimana disana hanya ada Roy Rajendra dan istrinya saja sedangkan Sean entah kemana.
"Om, tante, Viara mau pergi kesekolah ya." ijinnya.
"Apa kau akan pergi dengan pacarmu?" tanya Mirna pada gadis manis itu.
"Tidak tante, dia hanya teman Viara saja disekolah lama." jawab Viara.
Mirna tersenyum pada gadis manis itu.
"Tidak apa-apa dan jangan malu. Segeralah pergi sebelum terlambat."
Viara mengangguk tapi dia tidak juga beranjak dari sana, dia sangat ingin tahu dimana Sean berada. Apakah Sean marah dengannya?
"Tante, kak Sean ada dimana?" tanyanya.
"Mungkin ada dikamarnya."
"Terima kasih om, tante, Viara pergi dulu ya."
Setelah pamit Viara keluar dari dapur itu tapi dia menghentikan langkahnya sesaat saat berada didekat tangga.
Viara sedikit ragu tapi pada akhirnya gadis itu menaiki anak tangga satu persatu, Viara berjalan kearah kamar Sean dengan cepat dan mengetuk pintu kamar itu saat sudah berdiri disana.
"Kak Sean?" Viara kembali mengetuk tapi tidak ada jawaban.
"Kak Sean." gadis itu kembali memanggil tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.
Viara menelan ludahnya, tangannya mulai memutar handle pintu dan membuka pintu itu.
Viara mengintip tapi Sean tidak ada didalam sana, dengan ragu Viara melangkah masuk kedalam kamar Sean dan kembali memanggil.
"Kak Sean."
"Ya?"
Sean keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk melilit dipinggangnya, pria itu baru saja mandi dan air masih menetes dari rambut hitamnya.
"Viara, kenapa kau ada didalam kamarku?"
Viara langsung menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
"Maaf kak, Viara cuma mau bilang jika Viara sudah mau pergi."
Viara membuka sedikit jari tangannya untuk mengintip dan melihat otot perut dan otot dada Sean yang kekar.
__ADS_1
"Ya sudah pergi sana nanti terlambat." Sean berjalan kearah lemari pakaiannya sambil mengeringkan rambutnya.
"Permisi kak Sean." Viara segera keluar dari kamar itu sedangkan Sean memandangi kepergian gadis itu dan entah mengapa dia merasa galau!