
Sudah hampir seminggu ini Seara seolah menghindari Anan, saat bekerja sebagai Asisten atau pun supir Seara, wanita cantik itu selalu meminta Risa selalu menemani nya, dan hal itu membuat Anan tak bisa mendekati Seara.
Bahkan setiba nya mengantarkan Seara pulang ke rumah, wanita cantik itu segera berjalan menuju kamar nya dan kemudian mengunci pintu kamar dari dalam. Seara juga meminta makan malam nya di antarkan oleh Mbak Yuni ke kamar dan meminta Mbak Yuni untuk meletakkan makannya di meja yang berada di samping pintu depan kamar nya.
Anan semakin uring uringan ketika kecurigaan nya terhadap Ratna terbukti ada nya. Sejak pulang dari Mall, Ratna secara terang terangan mendekati Anan, dan pernah beberapa kali ketika Anan bangun pagi, mendapati Ratna tengah tertidur di samping nya, padahal semalam Anan sudah memastikan Dia tidur sendiri di kamar nya.
Ya sejak seminggu yang lalu, Seara memang meminta agar Anan pulang ke rumah Pak Budi, dan melarang Anan menginap di rumah nya, sehingga Anan pun selalu pulang ke rumah nya setelah mengantarkan Seara pulang.
Ratna berlari menuju kamar mandi saat Anan, Pak Budi dan Ratna tengah sarapan pagi. Dari ruang makan, Anan dan Pak Budi bisa mendengar Ratna yang tengah muntah muntah.
" Coba Kamu lihat Ratna dulu Nan" Anan berdecak kesal mendengar permintaan Ayah nya namun enggan mengangkat tubuh nya dari bangku yang tengah di duduki nya.
" Kamu nggak dengar dia muntah? " Anan pun terpaksa meninggalkan meja makan menghampiri Ratna yang kini tengah terduduk di depan kloset duduk yang berada di kamar mandi.
" Kamu kenapa?. Sudah hampir seminggu ini kamu muntah muntah terus setiap pagi " Ucap Anan yang sudah berada di belakang Ratna, dan membuat Ratna terkejut dan ketakutan.
" Nggak apa apa Kak, Aku hanya masuk angin " Ucap Ratna memberikan alasan.
" Seperti kita harus pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatan Kamu. Nggak baik kalau sakit itu di diamkan " Ucap Anan yang di diamkan oleh Ratna.
" Nggak usah Kak, nanti Aku minta tolong Mbak Din abuat kerokin aja " Anan mengangkat kedua bahu nya tak perduli dengan ucapan Ratna, " Terserah Kamu saja enak nya gimana " Ujar Anan lalu melangkahkan kaki nya kembali ke ruang makan di susul Ratna yang berjalan dengan lemas di belakang nya.
Anan sudah duduk di atas jok motor nya ketika Dia mendengar suara teriakan ayah nya dari ruang tamu dan memaksa Anan untuk kembali masuk ke rumah nya.
__ADS_1
" Astaghfirullahalazim, Ratna kenapa yah? " Tanya Anan bingung, lalu mengangkat tubuh Ratna menuju sofa di ruang tamu.
" Ayah nggak tau Nan, tau tau pas Ayah keluar kamar Ratna sudah seperti ini " Jawab Pak Budi yang terlihat panik mendapati Ratna yang tiba tiba pingsan di depan kamar nya.
" Anan akan panggil Bu Yayuk untuk memeriksa Ratna " Pak Budi menahan Anan yang akan keluar rumah untuk memanggil Bu Yayuk yang bekerja sebagai bidan di sekita rumah nya.
" Jangan Nan " Anan menatap Pak Budi dengan heran.
" Kenapa jangan Pak?. Kita harus tau alasan Ratna bisa pingsan. Belum lagi setiap hari dia muntah muntah " Ucap Anan memberikan alasan kepada Pak Budi.
" Kita tunggu Ratna sadar saja dulu " Anan berdecak kesal tak menerima alasan Ayah nya.
" Maaf Yah, Anan akan tetap memanggil Bu Yayuk untuk memeriksan Ratna " Pak Budi hanya bisa pasrah menerima keputusan Anan yang akan tetap memanggil Bu Yayuk.
Dengan telaten Bu Yayuk memerikas Ratna yang masih pingsan. Bu Yayuk tersenyum setelah selesai memeriksa Ratna.
" Alhamdulillah, selamat ya Pak Budi, Anan akan segera menjadi Ayah dan Pak Budi akan segera mempunyai cucu " Ucapan Bu Yayuk membuat Anan terkejut dan Pak Budi hanya bisa pasrah menundukkan kepala nya tak berani melihat Anan yang tengah menatap nya tajam.
" Tolong dibantu agar Ratna bisa menjaga kandungan nya dengan baik " Anan hanya menjawab ucapan Bu Yayuk dengan menganggukkan kepala nya pelan.
Anan mengantarkan Bu Yayuk keluar rumah, dan setelah itu Anan langsung menghampiri Pak Budi yang kini duduk terdiam.
" Bagaimana Ratna bisa hamil, padahal selama ini Ratna adalah wanita yang tak tersentuh oleh Anan, Yah. Apa mungkin ketika Anan menikahi Ratna, Dia sudah hamil? " Anan melirik kearah Pak Budi yang hanya terdiam. " Apa Ayah sudah tau kalau Ratna sudah hamil sebelum menikah dengan Anan? " Pak Budi kembali terdiam tak menjawab, membuat Anan semakin kesal dan kecewa terhadap Ayah nya.
__ADS_1
" Diam nya Ayah menandakan apa yang Anan tanyakan itu benar ada nya. "
" Ayah tau hukum nya kalau memaksa menikahkan dengan wanita yang sudah hamil dengan pria yang bukan menghamilinya? " Pak Budi lagi lagi diam tak menjawab pertanyaan Anan. " Haram hukum nya menikahi wanita yang sedang hamil, apalagi kalau memaksa pria yang bukan menghamili wanita tersebut untuk menikahinya " Ucapan Anan membuat Pak Budi menundukkan kepala nya dalam dalam.
Kedua nya melihat kearah Ratna, kala wanita itu terlihat menggerakkan tubuh nya. Perlahan-lahan Ratna membuka kedua mata nya, lalu melihat kearah Anan dan Pak Budi bergantian.
" Kak Anan. Pakde " Panggil Ratna lirih lalu berusaha untuk duduk di sofa.
" Ratna kenapa Kak? " Ratna bertanya sambil memijit pelipis kanan nya yang terasa nyut-nyutan.
"Kamu hamil " Jawab Anan membuat Ratna terkejut, lalu berusaha menyunggingkan senyuman kepada Anan.
" Bagaimana Kamu bisa hamil, kalau Kita saja tidak pernah melakukan hal tersebut " Senyuman Ratna memudar setelah Anan selesai berucap.
" Setiap malam Kita kan tidur bersama Kak, jadi wajar kalau Ratna hamil " Anan tersenyum mengejek kepada Ratna, membuat Ratna semakin gelisah.
" Kamu pikir berbuat seperti itu bisa di lakukan sambil tidur lelap hah? " Pak Budi menyentuh lengan kiri Anan ketika mendengar suara Anan yang mulai meninggi kepada Ratna.
" Siapa yang menghamili Kamu Na? " Ratna terdiam tak menjawab pertanyaan Anan. " Jawab Ratna, siapa yang menghamili Kamu " Bentak Anan hingga membuat Ratna dan Pak Budi terkejut.
" Siapa lagi kalau bukan Kak Anan " Jawab Ratna membuat Anan tertawa kencang.
" Saya?, menghamili Kamu ? " Anan menunjuk diri nya sendiri. " Kamu tau sendiri hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena selama Kita menikah tidak pernah sekali pun Saya menyetu*** Kamu. Dan Kamu yang lebih tau kalau Kamu adalah wanita tak tersentuh bagi Saya sejak kita menikah " Bentakan Anan membuat Ratna pun akhir nya menangis.
__ADS_1
" Jadi katakan kepada Saya, siapa Ayah dari anak yang Kamu kandung itu? "