
" Jadi berapa yang harus Saya bayar, agar suami Saya bisa membatalkan pernikahan nya dengan anak Anda? "
Sorot mata Rini menatap tajam kepada Seara yang juga tengah menatap nya santai.
" 1 Milyar " Ucap Rini membuat terkejut Anan dan Pak Budi juga Bagus suami nya.
" Bu " Panggil Bagus dengan nada tinggi, karena Rini mengajukan nilai yang mencapai 5x lipat dari apa yang dihitung Rini sebagai hutang kakak nya.
" Apa?. Sudah sepantasnya wanita itu membayar segitu atas penghinaan yang Dia berikan kepada keluarga Kita, demi lelaki yang tak layak seperti Anan " Ucap Rini yang kembali menyulutkan emosi Pak Budi sebagai Ayah Anan.
" Yang tak layak itu adalah anak Kamu. Dia lah yang tak layak menjadi istri anak ku " Ucap Pak Budi yang membuat Bagus tersinggung.
" Mas " Panggil Bagus dengan nada tinggi kepada kakak nya.
" Apa?. Memang benarkan apa yang Aku ucapkan?. Kalian memaksa dan meminta Aku untuk menikahkan nya dengan Ratna anak kalian yang tengah hamil dari pria lain." Ucap Pak Budi tegas.
" Cukup " Seara mengambil alih percakapan sengit di keluarga Anan.
" Yang layak menentukannya layak atau tidak itu hanya Allah, bukan kita " Para orang tua hanya bisa terdiam mendengar ucapan Seara.
" Saya akan memberikan 1 Milyar itu kepada Ibu, dan Saya minta Ibu harus menandatangani ini " Ucap seara lalu membuka tas yang di bawa nya dan menyerahkan selembar kertas yang sudah berisi poin poin dan sudah bermaterai.
" Baca dengan seksama lalu tanda tangani dengan segera " Ucap Seara menyodorkan kertas itu kearah Rini yang lansung di ambil oleh wanita itu.
__ADS_1
Rini membaca beberapa poin yang di tulis Seara. Diantaranya menuliskan poin bahwa pernikahan Anan dan Ratna terpaksa terjadi karena desakan keluarga Ratna. Dan ada satu poin yang paling penting Seara sisipkan di poin akhir, yang menjelaskan bahwa anak yang di kandung Ratna bukanlah anak Anan, sehingga Bagus dan keluarga nya harus menjelaskan kepada orang-orang yang selama ini mengira Anan telah menghamili Ratna yang merupakan adik sepupu nya sendiri.
" Bagaimana? " Tanya Seara kepada Rini.
" Biarkan orang-orang mengira kalau anak yang di kandung Ratna itu adalah anak Anan " Jawab Rini tak tahu malu.
" Kalau begitu, Saya akan membawa kasus ini ke pihak yang berwajib " Ucap Seara lantang hingga membuat kedua bola mata Rini membulat.
" Kalian sudah melakukan tindakan pemaksaan kepada Dito dan kalian juga sudah menipu dengan menutupi kehamilan Ratna serta kalian juga sudah melakukan pemerasan karena telah meminta ganti rugi berkali kali lipat " Ucapan Seara berhasil membungkam Rini dan membuat wanita itu pun langsung menandatangani lembaran yang Seara berikan tadi.
Tak hanya Rini, Bagus dan Ratna serta Pak Budi pun turut menandatangani kertas tersebut.
Seara mengambil kertas yang sudah di tanda tangani tersebut, lalu memberikannya kepada Anan, untuk di simpan Anan.
" Sudah selesaikan?. Kalau begitu Kami hanya tinggal menunggu Kalian memberitahukan kepada orang-orang kalau kalian sudah memaksa Anan menikahi Ratna yang hamil karena pria lain. Ingat kalau sampai kalian ingkar, maka Saya kan menuntut kalian kepada pihak yang berwajib dan kalau kalian kabur, kalian akan Saya masukkan ke dalam DPO " Ucap Seara mengancam.
" Iya. Ayo Pak, Ratna kita pulang sekarang " Ucap Rini yang bersiap beranjak dari duduk nya, sementara Bagus hanya terdiam dan menundukkan kepala nya dan pergi begitu saja tanpa pamit kepada Pak Budi kakak nya.
Lalu Ratna masih tetap terdiam, meskipun Rini terus menerus menarik tangan Ratna keluar dari rumah Pak Budi.
" Carilah pria yang menghamili Kamu, minta Dia mempertanggung jawaban perbuatannya " Pesan Seara saat Rini berhasil menarik Ratna keluar dari dalam rumah nya dan membuat Ratna menatap Seara dengan tajam.
Suasana hening seketika setelah kepergiaan keluarga Bagus. Pak Budi tampak canggung dengan kedatangan Seara ke rumahnya dan melihat Anan yang terlihat menjaga Seara sejak kedatangannya.
__ADS_1
" Ayah " Pak Budi terkejut mendengar panggilan Seara kepadanya, membuat Pak Budi melihat kepada Seara dan Anan bergantian dengan tatapan heran.
" Jangan bilang, kalau ucapan Anan tadi itu adalah benar Nona" Ucap Pak Budi. " Anan bohongkan kalau Nona Seara adalah istri nya? " Lanjut ucap Pak Budi tak percaya.
" Maaf Yah, apa yang Dito ucapkan benar ada nya, sejak beberapa minggu yang lalu Kami sudah menikah." Ucapan Seara membuat Pak Budi langsung melemas. " Maaf kalau pernikahan Kami dilakukan secara mendadak tanpa meminta izin kepada Ayah." Kali Anan yang melanjutkan ucapan Seara, bahkan Anan langsung duduk bersimpuh di hadapan Pak Budi yang masih terkejut dengan ucapan Anan dan Seara.
" Tapi Nona, Anan __" Seara tersenyum kecil lalu memotong ucapan Pak Budi.
" InsyaAllah Anan bisa menjadi Imam yang baik untuk Ara Ayah. Ara mohon agar Ayah bisa memberikan restu kepada Kami " Pak Budi tak bisa berkata kata, kedua mata nya tanpa sadar sudah menitikkan air mata terharu, lalu menganggukkan kepala nya pelan.
Seara pun tersenyum lalu mencium punggung tangan Pak Budi dengan takzim yang di balas Pak Budi dengan mengusap lembut kepala Seara yang tengah menunduk saat mencium punggung tangan nya.
" Ayah memberikan restu kepada Kalian, Ayah harap Nona bersedia menerima Anan dengan segala kekurangan " Ucap Pak Budi lirih saat Seara selesai mencium punggung tangan kanan nya.
" Insya Allah Ayah " Jawab Seara yang semakin membuat Pak Budi terharu, melihat Seara yang mau menerima Anan yang merupakan anak seorang supir dan kini Anan menggantikan posisi nya sebagai supir.
" Ah, Ara minta Ayah jangan memanggil Ara dengan embel embel Nona lagi, karena Ara sekarang sudah menjadi menantu Ayah, yang berarti Ara sudah menjadi putri Ara. Dan ini juga berlaku untuk Kamu " Seara mengalihkan pandangannya kepada Anan dan menatap pria itu dengan tajam.
" Berhenti memanggil istri mu dengan embel embel Nona" Pak Budi tertawa melihat mode marah Seara kepada Anan yang sejak kecil selalu terlihat menggemaskan kalau memarahi putra nya.
Pipi Seara mengembangkan dengan bibir yang mengerucut dan hidung mancung nya yang terlihat kembang kempis menahan amarah sambil menatap tajam Anan yang menggaruki tengkuk nya walapun tak gatal.
" Ekspresi Nona, tidak pernah berubah kalau sedang memarahi Anan " Ucap Pak Budi.
__ADS_1