
Ceklek
Kotak kayu itu terbuka dengan sendirinya bersamaan dengan beberapa lembar foto dan juga sebuah buku kecil yang langsung terjatuh berserakan tepat di kaki Anan.
" Jangan sentuh "
Anan membatalkan keinginan untuk meraih lembaran foto dan buku kecil itu, ketika teriakan Pak Budi terdengar dari depan pintu kamar nya.
" Ayah " Pak Budi menghiraukan panggilan terkejut Anan, dan segera memunguti lembaran foto dan buku dan kemudian memasukkan nya kembali kedalam kotak kayu tersebut.
" Itu apa Ayah? " Wajah Pak Budi berubah muram, ketika Anan bertanya, tanpa menjawab Pak Budi pun bergegas berjalan meninggalkan kamar Anan sambil memeluk erat kotak kayu tersebut.
Dari peluh yang terlihat saat Pak Budi memunguti foto juga buku tadi, Anan bisa memastikan kalau Ayah nya itu pulang ke rumah dengan tergesa-gesa.
Kecurigaan Seara pun semakin menjadi, ketika Seara melihat sekilas wajah yang sangat mirip dengan Anan dan seorang wanita muda dalam selembar foto yang sudah hampir pudar warnanya itu sedang berdiri berdampingan.
" Apa itu Om Wibi? " Bisik hati Seara. " Sea " Lamunan Seara pun bayar ketika Anan memanggilnya sambil menyentuh bahu kanan Seara membuat nya berjengkit terkejut.
" Kenapa? " Seara menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Anan.
" Aku mandi dulu ya Mas " Anan mengangguk pelan, dan Seara pun bergegas keluar kamar dengan membawa pakaian ganti nya menuju kamar mandi.
Suasana hening menghiasi meja makan ketika makan malam berlangsung. Sejak pulang tadi atau lebih tepat nya setelah peristiwa kotak kayu terjatuh tadi, Pak Budi lebih banyak terdiam. Hanya sesekali menyahuti pertanyaan salam yang Seara dan Anan ajukan tadi.
" Ayah " Panggilan Seara pelan, saat Pak Budi terlihat hanya mengacak isi di dalam piring nya, dan hanya sesekali menyuap makanan yang berada di dalam piring nya tersebut.
" Ayah sedang tidak enak badan?." Tanya Seara yang di balas seulas senyuman kecil.
__ADS_1
" Tidak Nak, Ayah sehat-sehat saja " Jawab Pak Budi lalu kembali menyuap makanan.
" Apa ada yang sedang Ayah pikirkan? " Pak Budi melihat kepada Anan sesaat lalu menggelengkan kepalanya pelan.
" Sekiranya ada yang Ayah pikirkan, berbagilah kepada Kami, jangan Ayah tanggung sendiri. Anan juga Sea nggak mau Ayah sakit karena memikirkan suatu hal " Ucap Anan, Pak Budi tampak menghela nafas pelan lalu mengangguk pelan.
" Maaf, Ayah sudah selesai makan nya " Seara dan Anan melihat kearah piring Pak Budi yang masih terlihat sisa makanan, padahal biasanya Pak Budi selalu menghabiskan makanan nya, apalagi kalau Seara yang memasak. Ayah Anan itu bisa menambah lauk berkali-kali.
" Maafkan Ayah Ara, malam ini Ayah tidak menghabiskan masakan yang Kamu buat " Ucap Pak Budi menyesal.
" Nggak apa-apa Ayah, seperti nya Ayah sedang lelah, lebih baik Ayah beristirahat saja dulu " Pak Budi mengangguk pelan lalu beranjak meninggalkan ruang makan menuju kamar nya dan kemudian terdengar pintu kamar yang ditutup dan di kunci dari dalam.
" Seperti nya ada yang Ayah pikirkan " Ucap Anan.
" Lebih baik Mas menunggu Ayah bicara terlebih dahulu, dan jangan memaksa Ayah untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan nya " Anan mengangguk menjawab ucapan Seara.
🌹🌹🌹
Seara hanya mengatakan akan ada sahabat Papa nya yang ingin mengunjungi untuk membahas bisnis bersama Seara dan Anan, karena itulah Seara sengaja memasak hidangan makan siang yang cukup banyak.
" Nona Ara, kok tumben Pak Wibi mau main ke sini, padahal kan Tuan Pras dan Nona Ara sudah nggak berhubungan lagi? " Mbak Yuni bertanya dengan heran ketika tengah membantu Seara memasak makan siang.
" Namanya menyambung tali silaturahim Mbak, lepas dari Saya dan Pak Pras sudah tidak berhubungan lagi, tapi mengingat Papa dan Om Wibi itu bersahabat, jadi Ara menganggap Om Wibi itu sebagai Papa nya Ara juga " Jawab Seara, Mbak Yuni tersenyum sambil manggut-manggut mendengar ucapan Seara.
" Tuan Pras itu bodoh ya Non, melepas Nona Ara demi belatung nangka macam Bu Clara. Aduh saya jadi kasihan sama Pak Wibi, yang di khianati anak juga istri nya " Ucap Mbak Yuni gemas ketika mengingat pengkhianatan Pras juga Clara kepada Seara terlebih Pak Wibi.
" Walaupun Mbak kasihan sama Pak Wibi, tapi Mbak bersyukur karena Nona Seara akhir nya bisa menemukan jodoh yang jauh jauh jauh lebih baik dari Pak Pras " Ucap Mbak Yuni tulus.
__ADS_1
" Alhamdulillah Mbak, itu namanya Saya buang sampah tapi dapat hadiah " Ucapan Seara di hadiahi tawa Mbak Yuni dan juga Seara sendiri.
" Tapi maaf Non, kok Mbak lihat Pak Budi sejak datang tadi terlihat kurang bersemangat ya? " Tanya Mbak Yuni.
" Ayah hanya kecapean Mbak " Jawab Seara.
" Saya kedepan dulu ya Mbak " Ucapan Seara setelah selesai merapikan masakan keatas meja makan.
" Iya Nona, silahkan " Mbak Yuni pun melanjutkan kegiatan nya membersihkan peralatan bekas mereka memasak tadi.
" Sudah selesai masak nya Sayang? " Anan bertanya ketika melihat Seara menghampirinya juga Pak Budi yang tengah berada di teras rumah sedang berbincang-bincang dengan Pak Agung dan Pak Slamet.
" Sudah Mas, kopi nya mau ditambah lagi Bapak-bapak? " Ucap Seara seraya bertanya ketika melihat gelas kopi yang berada di atas meja teras itu hanya tersisa ampas nya saja.
" Nggak usah Nak / Nona " Jawab Pak Budi, Pak Agung dan Pak Slamet bersamaan.
Beberapa saat kemudian tampak mobil Pak Wibi memasuki halaman rumah Seara yang sengaja di buka Pak Agung, karena Seara bilang akan ada tamu yang datang berkunjung jadi pagar rumah lebih baik tidak usah di tutup agar tidak repot.
Seara melirik kearah Pak Budi yang tengah memperhatikan mobil yang berhenti di depan teras, karena kalau libur mobil Seara selalu berada di dalam garasi. Pak Budi tampak terkejut kalau melihat Pak Wibi keluar dari kursi belakang penumpang.
" Binggo" Gumam Seara dalam hati ketika melihat Pak Wibi pun sama terkejut ketika melihat Pak Budi. Tapi sebisa mungkin Pak Wibi menyembunyikan keterkejutan nya melihat Pak Budi, dan hal itu di buktikannya dengan mengulas senyuman saat mengucapkan salam kepada Seara dan yang lain nya.
" Assalamu'alaikum " Salam sapa Pak Wibi.
" Waalaikumsalam " Balas sapa Seara, Anan, Pak Budi, Pak Slamet juga Pak Agung bersamaan, dan mereka pun bersalam saling bersalam bergantian, hingga yang terakhir Pak Budi.
Pak Wibi menyodorkan tangan kanan nya kepada Pak Budi, namun seperti nya Pak Budi dengan enggan menyambut uluran tangan Pak Wibi, dan hal itu terlihat jelas di mata yang lain nya.
__ADS_1
Mereka saling berjabat tangan namun Pak Budi terlihat melihat Pak Wibi dengan tatapan penuh kebencian.
" Apa kabar Bang Hendra? "