Antara Aku Dan Kau

Antara Aku Dan Kau
C66. Hah Dadakan lagi?


__ADS_3

Bunyi HP Papa Wisnu dan Mama Nita terus saja bergantian memanggil.


Tertera nama Davi di layar HP mereka yang muncul bergantian sesaat setelah panggilan mereka abaikan dengan tidak mengangkat panggilan dari Davi tersebut.


Sementara Dava dan Zahra baru saja tiba di sebuah ruangan VIP restoran milik Mama Nita yang baru beberapa bulan di resmikan nya.


"Davi Mas_" Bisik Mama Nita kembali memperlihatkan layar HP nya yang lagi-lagi bertuliskan "Davi memanggil".


"Abaikan dulu. Kita tunggu Mas Andi, agar ada solusi" Bisik Papa Wisnu yang di balas helaan nafas Mama Nita.


Pandangan mereka kini beralih kepada Zahra dan Dava yang tengah duduk berdampingan. Seulas senyuman terukir di bibir kedua pasangan muda itu saat Umi Ara terus saja melontarkan kalimat yang menggoda kedua remaja itu.


Taklama kemudian Ayah Andi dan Bunda Yulia pun tiba. Kedua nya turut menggoda pasangan remaja yang rencananya akan mereka khitbahkan hari ini.


"Mas Andi_" Panggil Papa Wisnu memanggil Ayah Andi dan acara melontarkan kalimat yang menggoda Zahra dan Dava itu pun terhenti.


Pandangan yang berada di dalam ruangan VIP pun segera terarah kepada Papa Wisnu dan Mama Nita yang tampak tengah kebingungan.


"Wah jangan bilangan mereka berdua akan Kalian berdua samakan dengan kalian berempat?" Pertanyaan atau lebih tepat nya pernyataan Ayah Andi membuat Papa Wisnu dan Mama Nita mengangguk.


Dan hal itu membuat Abi Anan dan Umi Seara pun menatap tak percaya kepada Papa Wisnu dan Mama Nita, sementara kedua remaja yang tengah menyimak perbincangan para orang tua itu terlihat kebingungan memandangi para orang tua yang tengah memasang wajah tegang.


"Hal itu harus kita lakukan sekarang. Kalau tidak Davi akan merusak semua yang sudah kita susun" Papa Wisnu berucap memberikan alasan kepada pada tetua yang lain.


"Tapi Bang_" Abi Anan menyentuh lengan Umi Ara membuat Umi Ara tak melanjutkan ucapan nya.

__ADS_1


"Apa Abang yakin?" Papa Wisnu menganggukan kepala nya lalu melihat kepada Dava yang menganggukan kepalanya seolah paham apa yang di maksud oleh Papa nya.


"InsyaAllah Dava siap Abi" Abi Anan mengangguk sementara Umi Ara justru memeluk erat Zahra membuat putri semata wayang nya itu pun keheranan.


Zahra melirik penuh tanda tanya kepada Dava yang mengulas senyuman kepada Zahra seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Kalian yakin hal ini tidak akan menjadi masalah kedepannya terutama bagi Davi?" Tanya Ayah Andi.


"InsyaAllah selama kita bisa menutupi nya sampai kelulusan sekolah semuanya akan baik-baik saja. Zahra akan tinggal dirumah Kami dulu selama belum kelulusan sekolah" Jawab Abi Anan yang rupanya di setujui oleh para orang tua lain nya.


"Lho Abi gimana sih kan selama ini Za juga tinggal di rumah sama Abi dan juga Umi. Memang nya Za mau tinggal di mana kalau bukan sama Abi dan Umi?" Zahra bertanya karena dia sama sekali belum memahami maksud dari perbincangan ini.


Umi Ara mengusap lembut pucuk kepala Zahra dan kemudian memeluk tubuh putri kesayangannya itu dengan erat hingga membuat Zahra kebingungan namun tak urung gadis cantik itu membalas pelukan Umi kesayangannya itu dengan tak kalah erat.


"Jadi kalian yakin?" Tanya Ayah Andi sekali lagi.


"Baiklah, kalau begitu Ayah yang akan menjadi penghulu nya sementara Abi yang menjadi Wali, Papa menjadi saksi. Tunggu sebentar Ayah panggilkan Abah Umar untuk menjadi saksi satu lagi" Ayah Andi pun pamit sebentar untuk mencari Abah Umar si pemilik rumah makan tempat mereka berkumpul saat ini.


"Tunggu dulu Za nggak ngerti. Kok khitbah pakai penghulu, wali juga saksi udah kaya orang mau nikah aja?" Ucap Zahra kebingungan dan tak mendapatkan jawaban balasan yang mendengar ucapan nya termasuk Dava, hingga membuat kedua alis nya menukik tajam lalu melihat kearah Dava yang tampak terlihat tenang.


"Jangan bilang kalau Za dan akan menikah bukan khitbah?" Tanya Zahra yang di angguki pelan oleh yang lain nya.


Kedua bola mata Zahra membulat dengan sempurna. "Hah, dadakan lagi?" Pekik Zahra pelan.


"Ya Allah kenapa, sejarah nikah di keluarga kita selalu serba mendadak" Zahra menepuk pelan kening nya yang justru di tertawai yang lain nya.

__ADS_1


Bibir Zahra mengerucut ketika Abi dan Umi nya memaksanya pulang ke rumah mereka. Seolah tak rela berpisah sejak keluar dari private room kedua tangan nya tak mau lepas dari lengan Dava membuat pria muda itu melebarkan senyuman nya sambil sesekali mengusap lembut pucuk kepala istri nya.


Seulas senyuman tersinggung dari bibir Dava kala mengingat gadis cantik yang berada di samping nya kini sudah sah menjadi istri nya sejak beberapa menit yang lalu.


"Za ikut kerumah Opa ya Abi, Umi?" Zahra kembali merengek kala Umi nya kembali memaksa nya masuk kedalam mobil.


"Nggak usah ngadi-ngadi Kak. Sesuai perjanjian Kamu pulang ke rumah bareng Abi dan Umi!" Zahra menghela nafas pelan lalu menatap penuh iba kepada kedua orang tua nya.


"Kami pengantin baru lho Abi, Umi. Masa tega sih misahin suami istri. Dosa lho. Za juga nggak mau di kutuk Allah karena lalai sebagai istri" Umi memutar malas kedua bola mata nya mendengar ucapan Zahra yang benar ada nya.


Namun para orang tua memang sengaja untuk tidak menyatukan kedua remaja itu dalam satu rumah karena banyak hal yang menjadi pertimbangan para orang tua tentang pernikahan anak mereka yang masih di bawah umur.


"InsyaAllah Za dan Dava bisa jaga diri biar Za nggak hamil di usia muda." Kembali Za merengek masih tak rela kalau harus berpisah dengan suami nya, walaupun besok pagi Dava akan menjemput nya untuk berangkat ke sekolah bersama.


"Biar nanti Dava aja yang nginep di rumah Abi dan Umi. InsyaAllah Kami nggak kebablasan" Ucapan Dava membuat wajah muram Zahra seketika itu juga menjadi cerah.


"Kamu bisa, tapi Umi nggak yakin sama anak Umi sendiri" Ujar Umi melirik Zahra dengan tajam.


"Astaghfirullah Umi. Sama anak sendiri nggak percaya gitu. Lagi juga kalau ke bablasan juga nggak apa-apa, kan udah sah secara agama. Ayah juga kan lagi minta dispensasi pernikahan supaya sah secara negara juga hukum" Ucap Zahra panjang lebar.


"Hilih, itu mah alasan Kamu aja. Pokok nya Umi nggak setuju kalau kalian harus punya anak di usia dini. Tunggu dua tahun lagi baru kalian Umi izinkan punya anak!" Ucap Umi Ara tegas.


"Siap Umi. Za bakal hati-hati biar nggak hamil di usia dini" Jawab Zahra yakin.


"Sayang. Kita boleh_"

__ADS_1


" Zahra" Belum sempat Zahra melanjutkan ucapannya para orang tua sudah berteriak kesal mendengar ucapannya yang belum selesai itu.


__ADS_2