Antara Aku Dan Kau

Antara Aku Dan Kau
C61. Persiapan Launching


__ADS_3

"Kenapa?. Anda takut kalau Nita masih mempunyai rasa terhadap Saya?" Wisnu tertawa kecil menanggapi ucapan Bram.


"Takut bersaing dengan Anda?. Apa yang membuat Nita harus melepaskan Saya hanya demi pria rendahan seperti Anda?"


Bram mengepalkan kedua telapak tangan dengan kencang menahan kesal akibat ucapan Wisnu.


"Sekali lagi Saya tanyakan kepada Anda, ada urusan apa Anda dengan istri Saya?" Wisnu bertanya. Bram hanya diam tak menjawab pertanyaan Wisnu, namun arah pandangan terarah kepada sisi penumpang mobil Wisnu.


"Ada yang ingin Saya sampaikan kepada Nita" Akhirnya Bram menjawab pertanyaan Wisnu, namun seulas senyuman smirk menghias wajah Wisnu kala pandangan nya bersitatap dengan Bram.


"Apa yang mau di sampaikan?. Permintaan maaf atau permintaan ingin kembali merajut kisah kasih dengan istri Saya?"


"Atas nama istri Saya, Saya memaafkan semua kesalahan Anda terhadap istri saya terutama kepada kedua mendiang mertua Saya."


"Kalau untuk kembali, sebaik nya Anda bangun dari tidur Anda Pak Bram, apa mungkin ada orang yang mau kembali kepada orang yang sudah membuat nya harus kehilangan kedua orang tua nya?. Saya rasa Anda paham apa yang saya maksud bukan?" Wisnu menepuki punggung Bram dengan kencang lalu beranjak pergi menuju pintu pengemudi mobil nya.


Namun Wisnu mengurungkan niat nya untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu menatap tajam kearah Bram yang masih setia mematung memandangi mobil Wisnu bagian penumpang depan yang di yakini Bram, Nita saat ini bisa melihat nya.


"Satu hal lagi" Atensi Bram teralihkan kepada Wisnu yang tengah menatap nya tajam.


"Se senti saja Anda mendekati istri Saya, bisa Saya pastikan Anda akan kehilangan pekerjaan Anda saat ini Pak Bram" Ancaman Wisnu membuat kedua telapak tangan Bram terkepal kesal.


🌹


🌹


🌹


Usia kandungan Seara sudah akhir dari trisemester akhir. Seperti di awal kehamilan, menjelang akhir kehamilan pun tampak Anan yang sangat antusias menyambut kelahiran putri pertama nya dan Seara.


Ya seorang putri akan segera menghiasi kebahagian keluarga Gunawan dan Wibisana. Hanya tinggal menghitung hari dari perkiraan yang sudah Dokter putri mereka akan lahir.

__ADS_1


Anan terlihat sibuk merapikan perlengkapan calon putri nya dan Seara, sementara Seara justru terlihat tengah berjalan di dalam kamar nya.


Sejak pagi tadi Seara sudah merasakan mulas, namun melihat Anan yang tengah sibuk merakit box bayi, wanita cantik itu lebih memilih merasakan sendiri mulas nya.


"Ststststst" Seara meringis kecil ketika terasa mulas yang amat sangat ketika berada tidak jauh dari Anan dan membuat Anan mengalihkan perhatiannya dari box bayi yang tengah di rakit nya kearah Seara yang tengah menyadarkan tubuh nya di tembok sambil meringis.


"Sayang, Kamu kenapa?" Anan menghampiri Seara. Wajah pucat Seara sontak membuat Anan panik.


Inilah yang Seara takut kan kalau Dia mengeluhkan mulas yang sudah datang sejak pagi tadi, Anan akan panik dan pasti nya akan membuat Seara sibuk menenangkan Anan.


Ya Dokter pribadi keluarga sempat memvonis Anan menderita trauma ketika kandungan Seara memasuki Trisemester akhir.


Dalam ingatan Anan, Sang Bunda harus merenggang nyawa ketika melahirkan nya membuat Anan menjadi ketakutan hal yang sama akan menimpa Seara, sehingga secara tidak sadar memantik rasa trauma Anan yang selama ini ditutupi oleh pria itu sejak awal kehamilan Seara.


"Sststststs" Seara kembali meringis kali ini rasa sakit nya lebih terasa sehingga memaksa nya meremas erat lengan tangan Anan. "Sakit Mas" Seara merintih pelan dengan peluh yang mulai keluar dari kening nya.


"Kita ke Rumah Sakit sekarang ya" Pinta Anan, namun Seara menggelengkan kepala nya.


"Kamu sudah pucat sayang. Mas nggak mau ambil resiko" Ucap Anan mengabaikan gelengan kepala Seara.


Belum sempat pertanyaannya keluar Anan segera meminta nya untuk membawakan tas yang berisikan perlengkapan Seara yang akan di pakai saat melahirkan nanti.


"Mbak tolong bawakan tas yang sudah Ara siapakan sama Mbak kemarin ya" Pinta Anan kepada Mbak Yuni. Mbak Yuni pun bergegas masuk kedalam kamar Anan dan Seara. Sementara Anan kembali melanjutkan langkahnya menggendong Seara menuju keluar rumah.


Seara merengkuh leher Anan, menelusupkan kepalanya di ceruk leher Suami nya ketika berjalan. "Sakit Mas" Rintih Seara membuat Anan mempercepat langkahnya menuju mobilnya.


Pak Slamet yang melihat Anan keluar dari rumah dengan menggendong Seara pun bergegas membuka pintu belakang mobil Anan "Mbak Ara mau melahirkan Mas?" Tanya nya ketika Anan akan memasukkan Seara kedalam mobil.


"InsyaAllah Pak" Jawab Anan.


"Biar mobil nya Saya yang bawa Mas Anan. Mas Anan di belakang saja menemani Mbak Ara" Anan mengurungkan niat nya untuk keluar dari mobil.

__ADS_1


"Mas Anan di belakang aja. Temani Mbak Ara" Mbak Yuni yang baru memasukkan tas yang berisikan perlengkapan Seara pun mengusulkan hal yang sama dengan Pak Slamet suami nya.


"Sabar ya Sayang" Anan mengusap lembut surai Seara di sela gumaman Seara membaca sholawat. Sementara Anan terus mengumamkan Surah dan doa agar persalinan Seara di mudahkan dan di lancarkan oleh Sang Khalik.


Anan bergegas kembali menggendong Seara ketika mobil yang mereka tumpangi tiba di depan pelataran ruang IGD. Mbak Yuni pun mengikuti langkah Anan memasuki ruang IGD sementara Pak Slamet memarkirkan mobil terlebih dahulu sebelum menyusul kedalam rumah sakit.


"Assalamu'alaikum Kak Yulia" Anan menyapa Yulia yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Waalaikumsalam. Gimana Nan?" Yulia bergegas menghampiri Seara sesaat setelah Anan merebahkan tubuh Seara di atas bangkar rumah sakit.


"Dari rumah Ara bilang sakit Kak" Ucap Anan.


"Suda dari kapan mules nya Ra?" Tanya Yulia.


"Dari pagi _"


Belum sempat Seara melanjutkan ucapan, Anan sudah memotong ucapan Seara "Astaghfirullah Sayang. Kenapa Kamu nggak bilang sama Mas_"


"Udah bukaan lima" Kedua bola mata Anan membulat ketika mendengar ucapan Yulia.


"Sayang_" Seara meletakkan telunjuk tangan kanan nya tepat di depan bibir Anan memaksa Anan tidak melanjutkan ucapan nya.


"Nggak apa-apa Mas. Mas tenang aja. Ara nggak apa-apa kok" Ucap Seara lembut di sela ringisan nya.


" Mas temenin Ara ya. Bismillah, InsyaAllah lancar" Ucap Seara yang kembali mencoba menenangkan Anan yang mulai terlihat panik.


Hal ini lah yang ditakutkan oleh Seara, Anan yang akan lebih panik pada saat persalinan nya d bandingkan nya sendiri.


"Mas_" Seara menggenggam erat telapak tangan kanan Anan membuat Anan yang sempat melamun itu terkejut lalu menatap kepada Seara yang tengah menatap nya dengan lembut.


"Bacain surah pendek lagi ya. Dede pengen denger suara Abi nya mengaji" Senyuman Seara di sela permintaan nya membuat Anan tenang dengan lembut pria itu mengecup kening Seara dan mulai melantunkan surah pendek yang selalu di baca nya ketika menemani Seara tidur.

__ADS_1


Yulia kembali memeriksa jalan lahir Seara, seuals senyuman menghiasi wajah nya "Cepet banget pembukaan. Udah masuk pembukaan 7 kita pindah keruangan tindakan ya Ra" Seara dan Anan mengangguk bersamaan.


"Bismillah_" Gumam Anan dan Seara saat memasuki ruang tindakan


__ADS_2