Antara Aku Dan Kau

Antara Aku Dan Kau
C64. Our Secret


__ADS_3

"Jelaskan" Dava mengambil nafas pelan lalu menghembuskan nya dengan perlahan-lahan.


" Maaf Kami Abi, Umi, Papa dan Mama. Dava dan Kak Zahra menjalani hubungan diluar hubungan Kami sebagai kerabat"


Tak ada tanggapan dari para orang tua. Keempat nya terlihat biasa saja tak terkejut mendengar ucapan Dava, hingga membuat kedua remaja itu saling melirik satu sama lain dengan penuh tanda tanya.


"Ck. Betul kan tebakan Kami. Kalian berdua saja yang tidak percaya, kalau di balik sikap jutek Za ke Dava itu cuma buat nutupin hubungan mereka" Ucapan Umi Ara membuat Dava dan Zahra yang justru terkejut.


"Papa, tolong tutup pintu kamar nya. Mama nggak mau Davi denger apalagi tahu hal ini". Papa Wisnu pun segera menutup pintu kamar Dava dan mengunci nya dari dalam.


Beruntung saat mereka pulang tadi, mereka tidak menemukan mobil yang bisa Davi pakai tidak terparkir di halaman rumah. Namun tetap saja Mama Nita khawatir kalau Davi tiba-tiba kembali pulang dan mendengar juga melihat percakapan mereka nanti.


Abi Anan dan Papa Wisnu menghela nafas mereka pelan lalu saling melihat satu sama lain dan kemudian mengalihkan pandangan mereka kepada istri mereka masing-masing guna meminta solusi tentang masalah Zahra dan Dava yang kini tak mereka tutupi lagi.


"No pernikahan Dini. Umi nggak setuju!" Ucap Umi Ara yang di anggukin Mama Nita.


"Usia mereka masib labil. Mama juga nggak setuju kalau mereka menikah dini. Apalagi kalau nanti mereka berhubungan dan Zahra hamil. BIG NO. Mama nggak mau Zahra kenapa-kenapa karena harus hamil dan melahirkan di usia muda" Ucapan Nita membuat kedua remaja itu saling berpandangan heran.


"Astaghfirullah Mama, kenapa mikir nya sampai kesitu sih. Za juga nggak mau hamil dan melahirkan di usia muda Mama" Ucap Zahra ngeri yang di angguki oleh Dava.


"Tapi kalau hubungan kalian tetap dilanjutkan Kami takut kalian khilaf dan melakukan hal-hal yang di larang agama" Ucap Abi Anan tegas yang di angguki para orang tua lain nya.


"Sampai sejauh mana kalian berhubungan?" Pertanyaan Papa Wisnu membuat kedua remaja itu membulat kedua bola mata mereka masing-masing.

__ADS_1


"Astaghfirullah Papa. Hubungan Kami masih kamu jalani dengan sewajarnya. Dan Kami nggak pernah melakukan hal-hal yang lebih jauh selain memeluk pinggang itupun kalau Kak Za Aku bonceng" Ucap Dava dan mendapat tepukan keras di bahu nya dari sang Mama yang kini menatap nya dengan tatapan tajam.


"Bener yang Dava bilang Abi, Umi, Papa juga Mama. Kita nggak pernah kok kaya Davi yang suka main sosor-sosoran sama pacar-pacar nya. Auh Dava apaan sih geli tau!" Ucapan keceplosan Zahra membuatnya mendapat colekan di pinggang dari Dava.


Dava menggelengkan kepala nya pelan membuat Zahra menepuk kening nya karena baru sadar kalau dia keceplosan bicara.


"Astaghfirullah. Kelakuan tuh anak bener-bener!" Ucap Papa Wisnu kesal. " Dan kalian berdua. Papa nggak mau tau, mulai sekarang Kalian jaga jarak. Papa nggak mau kalian kebablasan dan akhirnya khilaf!" Ucap Papa Wisnu yang langsung mendapatkan protes dari Dava dan Zahra.


"Lho kok gitu Pa. Kami kan nggak ngapa-ngapain" Bela Zahra yang memang memiliki sifat berani seperti Seara.


"Bukan nggak ngapa-ngapain tapi belum ngapa-ngapain. Tadi aja kalau Kami nggak memergoki kalian, apa yang akan kalian lakukan?" Balas ucap Umi tegas.


"Abi setuju dengan ucapan Papa. Kalian harus jaga jarak" Ucap Abi membuat Zahra mengerucutkan bibirnya.


"Za nggak mau" Protes Zahra, Dava menyentuh pelan punggung tangan Zahra lalu menggelangkan kepalanya menandakan agar Zahra menuruti permintaan para orang tua.


"Za!" Dava meninggikan panggilannya kepada Zahra dan hal itu membuat Zahra kecewa dengan Dava yang membentaknya.


"Jangan membantah. Aku nggak mau Kamu melawan orang tua!" Tangis Zahra pun pecah karena ucapan Dava, dan membuat Dava pun menyesal sudah membetak Zahra.


"Maaf karena Aku membentak Kamu. Tapi Aku nggak suka kalau Kamu bicara dengan nada keras kepada orang tua Kita. Please jangan nangis Za" Ucap Dava menyesal. Kalau saja tak ada para orang tua di dekat mereka sudah bisa dipastikan Dava akan memeluk Zahra karena sudah membentak Zahra.


Para orang tua menghela nafas mereka masing-masing. Melihat interaksi sepasang remaja di hadapan mereka yang terlihat tulus saling menyayangi satu sama lain membuat mereka saling bertatapan dengan pasangan masing-masing.

__ADS_1


"Kita bicarakan ini lagi nanti. Untuk saat ini Abi minta kalian rahasiakan hubungan kalian dari Davi." Ucap Anan yang di angguki Dava namun tidak dengan Zahra yang masih menangis di dalam pelukan Umi Ara nya.


"Untuk saat ini Abi belum ada solusi untuk hubungan Kalian. Abi dan Papa akan membahas nya bersama Umi dan juga Mama. Jadi untuk saat ini Abi minta sama Za dan Dava agar menjaga jarak." Ucap Abi Anan memberikan penjelasan.


"Kalian tahukan di dalam agama kita tidak mengenal pacaran?. Jadi Abi harap kalian bisa menerapkan hal itu" Ucap Abi.


"Dan hal itu sama saja dengan meminta Kami untuk putuskan Abi?" Tanya Zahra pelan.


"Za" Dava memanggil Zahra dengan lembut membuat gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah seolah mengerti maksud Dava agar tidak melawan orang tua.


"Kalian bisa ta'aruf tapi seperti nya khitbah lebih cocok, karena kalian sudah mengenal sejak kecil" Ucapan Umi Ara membuat Dava tersenyum dan mengangguk setuju.


"Kalau begitu. Papa dan Mama. Dava mohon kepada Papa dan Mama agar meminta izin kepada Abi dan Umi, agar Zahra bisa di jadikan Dava sebagai calon pendamping Dava, ibu dari anak-anak Dava kelak" Keempat orang tua itu menatap tak percaya kepada remaja berusia 16 tahun yang beberapa bulan lagi baru akan memiliki KTP itu.


Zahra bahkan menatap tak percaya remaja yang sejak setahun lalu menjadi kekasih rahasia nya itu. Senyuman dan anggukan Dava membuat Zahra kembali meneteskan air mata haru nya.


"Hua ... Pengen peluk Dava" Umi menoyor pelan kening Zahra saat anak gadis nya itu akan memeluk remaja tampan yang masih dalam model culun itu.


"Ck kaya Umi sama Abi nggak gitu aja dulu" Gumam Zahra yang langsung mendapatkan pitingan pelan di leher nya dari Umi cantik nya itu.


"Ck, Umi dan Abi saat itu sudah cukup umur, sementara kalian masih di bawah umur!" Bantah Umi yang di angguki oleh Mama.


"Betul kata Umi. Kalian masih di bawah umur dan masih dalam pengawasan orang dewasa" Ucap Mama yang diangguki oleh Umi.

__ADS_1


"Abi... Za mau nikah muda aja kalau gitu!" Rengek Zahra menatap memelas kepada Abi nya.


"Za..." Pekik para orang tua dan juga Dava bersamaan.


__ADS_2