Antara Aku Dan Kau

Antara Aku Dan Kau
C62. Sang Pewaris


__ADS_3

Anan mengumandangkan Adzan di telinga kanan bayi cantik yang berada di dalam gendongan dengan terbata-bata karena terharu. Kedua mata nya tak berhenti meneteskan air mata ketika melihat perjuangan Seara melahirkan buah hati mereka.


Buah hati yang di gadang-gadang kelak akan menjadi pewaris dua perusahaan besar di bidang konstruksi dan properti milik Abi dan Umi nya.


"Cantik banget mirip sama Abi nya" Seara menepuk lengan Anan ketika memperlihatkan bayi cantik nya kepada Seara.


"Mana ada Kamu cantik Mas" Gerutu Seara.


Anan menunjukkan kembali putri cantik nya kepada Seara "Lihat Dek, Dede bayi nya mirip Mas, jadi ini versi Mas cantik Dek" Ucapan Anan membuat Yulia yang tengah menjahit jalan lahir Seara itu tertawa kecil.


"Eh fokus Kak Yulia. Jangan sampai nanti nggak fokus malah di jahit semua nya" Ucap Anan yang tak ayal kembali mendapatkan pukulan di lengan nya dari Seara.


"Biar, nanti Aku jahit semua, biar Kamu susah jebol nya" Ucapan absurd Yulia sontak membuat Anan menatap tajam sahabat dan merangkap sepupu ipar Seara.


"Ya nggak harus di jahit semua juga kali Kak, minta di buatkan seperti sedia kala aja ya Kak" Protes Anan membuat Seara dan memutar malas bola mata nya.


"Nggak usah ngadi-ngadi deh Mas" Ucap Seara yang di balas tawa kecil Anan.


"Cantik tapi mirip Abi nya. Plek ketiplek. Memang selagi hamil Kamu sebel sama Anan, Ra?" Tanya Yulia mengambil kembali bayi Seara untuk di berikan kepada Seara untuk IMD ( Inisiasi Menyusui Dini ).


"Nggak kok. Justru Ara nggak bisa tidur kalau nggak Aku temenin" Jawab Anan.


"Siapa bilang. Justru Kamu yang nggak bisa tidur kalau nggak ngusap perut Aku" Seara memberikan bantahan atas ucapan Anan.


"Nah tuh tau" Balas ucap Anan lalu mengecup kening Seara.


"Ck dasar bucin" Ucap Yulia kepada Anan.

__ADS_1


"Kayak Mas Andi nggak aja" Jawab Seara sambil tertawa kecil membalas ucapan Yulia.


"Itu mah dari dulu Ra" Kedua wanita cantik itu pun tertawa bersama, sementara Anan melihat kearah bayi nya yang ternyata sudah mulai belajar menyusui dari sumber nya.


"Wah Dede udah pinter. Bener-bener mirip Abi nya pinter menjelajahi sumber kehidupan" Ucapan Anan membuat Seara menatap tajam Anan dan Yulia tertawa.


"Mas Anan_" Anan menampakkan senyuman tanpa dosa nya kepada istri tercinta nya.


"Iya sayang. Love you more and more " Lagi-lagi kecupan kali ini bertubi-tubi dilabuhkan Anan di kening Seara sebagai ungkapan kebahagian dan sebagai tanda terima kasih nya kepada Seara karena telah memberikan nya seorang bayi cantik.


🌹


🌹


Tujuh belas tahun kemudian.


Seorang gadis cantik memaksakan langkah kaki nya terhenti ketika mendengar teriakan memanggil namanya.


"Lelet banget sih Kamu Dava. Liat udah mau telat!". Dengan masih mengatur deru nafas yang berpacu kencang, pria muda berkaca mata itu hanya bisa menampilkan senyuman nya kepada gadis cantik yang tengah menatap nya dengan tatapan tajam.


"Maaf Kak" Ucap lirih remaja pria itu dan setelah mendengar ucapan itu gadis cantik itu pun berjalan dengan menghentakkan kesal kaki nya memasuki pelataran sekolah.


Zahratunnissa Ananra putri pertama Anan dan Seara kini sudah menginjak usia 17 tahun dan saat ini sudah duduk di bangku SMU kelas 12, sementara Zachari Ananra putra Anan dan Seara saat ini sudah berusia 13 tahun dan lebih memilih tinggal di pondok pesantren milik sahabat ayah nya.


Nita dan Wisnu pun sudah di karuniai anak kembar pria yang saat ini berusia 16 tahun. Si kembar bernama Davindra saat ini sudah duduk di bangku SMP kelas 10 dan Davandra yang duduk di bangku SMU kelas 12 satu kelas dengan Zahra.


Ya Dava memang baru berusia 16 tahun, namun karena kecerdasan dan kepintarannya remaja itu mengikuti kelas akselerasi hingga lulus SMP saat berusia 13 tahun.

__ADS_1


Walaupun kembar rupa mereka tidak identik. Davindra atau yang biasa di panggil Davi merasa tersaingi karena Davandra yang biasa di panggil Dava itu jauh lebih unggul dari nya baik dari segi wajah juga kepintaran dan kecerdasan.


Walaupun Dava selalu menutupi paras nya yang lebih unggul dari Davi dengan selalu berpakaian dan berpenampilan culun, namun hal itu tak membuat Davi senang, sehingga Davi sering kali menunjukkan sikap ketidaksukaan nya terhadap Dava ketika berada di luar lingkungan keluarga nya.


Sejak sekelas dengan Zahra, Dava memang selalu menumpang kendaraan Zahra yang memang sudah boleh memiliki SIM sehingga Abi Anan pun menghibahkan sebuah motor matic kepada Zahra sebagai alat transportasi nya ke sekolah.


Dava memang berbeda dengan Davi yang terpaksa di izinkan oleh Papa Wisnu untuk membawa mobil padahal Davi belum memiliki SIM. Dengan alasan lingkungan sekolah yang berada tidak jauh dari rumah mereka, Davi meminta mobil sebagai alat transportasi ke sekolah nya sehari-hari.


Namun begitu Davi selalu membawa mobil nya pergi di luar lingkungan sekolah hingga di luar jam sekolah.


Sementara Dava justru setiap hari selalu nebeng dengan Zahra dan hal itu tak membuat Zahra keberatan, karena Zahra melihat Dava adalah sosok pria yang lemah lembut berbeda dengan Davi yang sedikit nakal.


"Baru datang Za?" Kedua alis Zahra menukik tajam mendengar pertanyaan Davi yang sudah tiba di sekolah terlebih dahulu dan sengaja mencegat langkah nya bersama teman satu geng nya saat melintasi lorong menuju kelas nya, sementara Dava masih berlari kecil di belakang Zahra.


Beda dengan Dava yang memanggil Zahra dengan panggilan Kakak karena usia Zahra lebih tua beberapa bulan, walaupun secara susunan keluarga status Dava dan Davi lebih tua di bandingkan Zahra, Davi justru memanggil Zahra tanpa embel-embel Kakak.


"Ngapain masih di sini?. Balik ke kelas!" Davi mendengus kesal dengan jawaban Zahra yang berbeda dari yang di tanyakannya.


"Udah mau bel masih aja kelayapan!" Gerutu Zahra lalu menarik lengan Dava yang baru saja berada di samping nya. "Ayo Dava buruan, Gue nggak mau di setrap Bu Widya gara-gara nungguin Elo".


Sementara Dava hanya menghela nafas nya menerima tarikan Zahra dengan mengekori langkah kaki gadis cantik itu, Davi justru menatap tajam kembaran nya itu dengan kesal sambil mengepalkan kedua telapak tangan nya menahan amarah.


"Sabar Vi" Davi menepis kasar tangan teman geng nya yang menepuk bahu nya.


"Dasar culun!" Umpat Davi yang justru membuat ketiga anggota geng nya itu mengulum senyuman karena ketua geng mereka mengatai saudara kembar sendiri culun.


"Ketawa gue hajar Lo pada!" Dava pun berjalan meninggalkan tiga anggota geng nya yang terpaksa menahan tawa mereka karena takut di hajar Davi.

__ADS_1


__ADS_2