
Suasana tegang menyelimuti ruang kerja Seara saat ini, suasana sedikit tenang ketika Mbak Yuni mengantarkan minuman keruang kerja Seara.
Acara makan siang pun terpaksa mereka tunda, setelah melihat raut wajah permusuhan yang Pak Budi berikan kepada Pak Wibi.
Hendra, nama yang di ucapkan Pak Wibi kepada Pak Budi sempat membuat Seara dan Anan bertanya-tanya, namun setelah mengetahui nama lengkap Pak Budi mereka pun akhir nya sadar kalau Hendra yang dimaksud Pak Wibi adalah Hendrawan Budiman nama lengkap Ayah Anan yang baru Anan dan Seara ketahui, karena selama ini Pak Budi hanya menyematkan huruf H di depan nama Budiman, sehingga orang menganggap H itu adalah singkatan dari Haji. Dan Pak Budiman memang sudah berangkat Haji bersama Pak Gunawan lima tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahun Pak Budi.
" Lama tak bertemu, seperti nya Abang masih dalam keadaan sehat " Pak Budi berdecak kesal mendengar ucapan Pak Wibi.
" Alhamdulillah, Allah masih memberikan Saya kesehatan baik jiwa dan raga setelah apa yang sudah kalian lakukan terhadapku dan juga adik ku " Wajah Pak Wibi langsung terlihat pucat ketika Pak Budi menyelesaikan ucapan nya.
" Bagaimana rasanya hidup sebagai pasangan pengkhianat?. Pasti menyenangkan bukan? " Tanya Pak Budi mencibir Pak Wibi. Pak Wibi terlihat menyunggingkan senyuman tipis nan lirih.
Seara dan Anan hanya bisa berdiam diri, kedua nya masih menyimak perbincangan mereka yang seperti nya tengah membahas masa lalu dan bisa dipastikan masa lalu mereka itu adalah hal yang buruk.
" Tak ada kata bahagia, ketika dua pengkhianat bersama Bang " Pak Budi tertawa lantang mendengar ucapan lirih Pak Wibi.
" Bagaimana rasa nya di khianati oleh anak yang Kamu banggakan itu?. " Tawa Pak Budi semakin kencang saat Dia mengingat cerita Anan dan Seara tentang pengkhianatan yang dilakukan Pras dan juga Clara terhadap Pak Wibi.
" Setidaknya Kamu merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dari apa yang Saya dan adik saya rasakan akibat ulah kalian dulu " Ucap Pak Budi mulai tenang, ketika Anan menyentuh bahu Pak Budi ketika Dia menertawakan nasib Pak Wibi.
__ADS_1
" Maafkan Saya Bang, Saya... " Pak Budi mengangkat telapak tangan kanannya menandakan agar Pak Wibi menghentikan ucapannya.
" Seandainya kata maaf itu bisa menghilangkan rasa sakit hati Kami, tentu sudah kami maafkan. Seandainya kata maaf itu bisa mengembalikan adik ku, tentu sudah kulupakan semua pengkhianatan kalian." Anan merengkuh bahu Pak Budi yang mulai bergetar menahan tangis.
Seolah paham akan ada pembahasan mengenai Anan, Seara pun merengkuh lengan kanan Anan dan menyandarkan kepalanya di lengan Anan untuk sekedar memberikan Anan ketenangan di tengah perbincangan panas antara Pak Budi dan Pak Wibi.
" Tapi semua nya sudah terjadi. Setidaknya Saya masih bisa bersama dengan harta yang paling berharga di dunia ini ". Pak Budi mengusap tangan kiri Anan yang merangkul bahu nya.
" Apakah? " Seolah paham maksud pertanyaan Pak Wibi, Pak Budi menganggukan kepala nya sebagai jawaban nya.
" Biarkan semua nya seperti ini. Anggaplah hal ini hukuman atas pengkhianatan yang sudah Kamu lakukan kepada Saya terutama adik saya"
Kedua telapak tangan Pak Wibi terlihat terkepal mendengar pernyataan Pak Budi.
Tidak menemani ibu Anan ketika hamil Anan dan tidak mendampingi Anan saat dilahirkan, terlebih diri nya tidak berada di sisi Anan ketika Ibu nya menghembuskan nafas terakhir nya, serta bertahun-tahun tak mengetahui kalau ternyata Dia memiliki buah hati dari wanita yang sampai saat ini masih menjadi ratu di hati nya, membuat Pak Wibi hanya bisa menahan sakit dan tangis nya dalam hati.
Hati nya semakin teriris ketika melihat Anan kini memeluk tubuh Pak Budi yang menangis dalam pelukan anak nya. Ya tanpa Pak Budi mengatakan Anan adalah putra nya Pak Wibi pun sudah mengetahui hal tersebut dari hasil test DNA yang di lakukan nya secara sembunyi-sembunyi tersebut.
" Maafkan Ayah Nak, selama ini Ayah... " Anan menepuk punggung Pak Budi dengan lembut sambil menggelengkan kepalanya sebagai tanda agar Pak Budi tidak meneruskan ucapan nya.
__ADS_1
" Sampai kapan pun Ayah, tetap lah Ayah Anan, tak ada yang lain "
Ucapan Anan membuat Pak Wibi tertunduk lemah. Dia sudah bisa menebak Anan akan menolak kehadiran nya sebagai Ayah kandung nya.
Pasrah, ya Pak Wibi hanya bisa pasrah ketika Dia menyadari begitu banyak orang yang di kecewakan nya akibat perselingkuhan nya dulu dengan Maria yang merupakan istri Pak Budi dan juga sekretaris Pak Wibi setelah Pak Budi memohon bantuan kepada Pak Wibi untuk menerima Maria sebagai sekretaris pribadi nya dengan dasar keluarga.
Namun kepercayaan yang Pak Budi berikan kepada Maria dikhianati oleh wanita tersebut. Tergiur ingin hidup mewah Maria pun akhirnya mendekati Pak Wibi dan menyebabkan hubungan mereka berlanjut hingga mengkhianati pasang sah mereka masing-masing.
Terlebih ketika Maria mengakui kalau Dia hamil anak Pak Wibi bukan Pak Budi, membuat Maria memaksa Pak Budi untuk menceraikan nya. Dan hal yang sama pun dilakukan oleh Pak Wibi yang lebih memilih menceraikan Aaliyah istri yang di nikahin nya selama bertahun-tahun dan tak pernah hamil.
Namun pernikahan nya dengan Maria yang sudah berlangsung lama itu pun harus kandas, ketika lagi-lagi Pak Wibi terjerat pesona sekretaris baru yang usia nya lebih muda beberapa tahun dari nya yang bernama Clara, menceraikan Maria karena Maria tidak ingin dimadu, sehingga membuat Maria depresi dan memilih mengakhiri hidup nya.
Dan kini Pak Wibi sudah mendapatkan balasan yang lebih menyedihkan, Dia harus menerima kenyataan pahit istri dan anak nya berselingkuh di belakang nya.
Bukankah Pak Wibi kini sudah mendapatkan karma nya yang langsung di bayar lunas di dunia dengan perbuatan anak dan istri nya?. Dan kini kenyataan pahit kembali dialami ketika Anan menolak kehadiran nya sebagai orang tua kandung nya.
" Maafkan Saya " Lagi lagi ucapan penuh penyesalan itu terlontar dari mulut Pak Wibi.
" Saya akan menjadi orang yang egois apabila masih mengharapkan apa yang sudah Saya buang walaupun saat itu Saya tidak mengetahui kalau ternyata Aaliyah sedang hamil "
__ADS_1
Anan masih bergeming menahan amarah juga iba melihat Pak Wibi yang terlihat sangat ingin diakui oleh nya sebagai Ayah.
Namun tanpa harus mendengar lebih lanjut kisah Ibu nya, Anan sudah bisa menangkap kisah pahit yang ibu dan Ayah atau lebih tepatnya Pakde nya alami dulu, dan itu membuat Anan menjadi benci dan kecewa kepada Pak Wibi.