
Seara menatap kosong seisi kamar nya. Selepas sarapan wanita cantik itu kembali ke kamar nya untuk beristirahat di hari libur nya kali ini.
Hati nya masih terasa sakit saat Anan mengatakan status nya sebelum menikahi nya semalam.
Flash Back
Anan meraih kedua telapak tangan Seara dan meletakkan nya di atas pangkuan Seara yang tengah duduk di pinggir kasur, sementara Anan berjongkok di hadapan Seara.
" Maaf, kalau semalam, Saya belum sempat bercerita kepada Nona " Seara hanya terdiam menunggu Anan mengucapkan kalimat selanjut nya yang semakin membuat Seara penasaran.
" Sebenarnya sebelum Saya mengantarkan Nona pergi, Saya baru saja melakukan akad terhadap Ratna, saudara sepupu Saya " Ucapan Anan membuat Seara menarik paksa kedua telapak tangan nya dari genggaman Anan.
Seara menatap Anan dengan kecewa, namun hal itu tidak bisa Seara ungkapkan, karena menyadari semalam Anan hanya terpaksa mengakadkan diri nya agar terlepas dari zina.
" Nona " Anan tetap menarik kedua telapak tangan Seara dan kembali menggenggam nya kali ini dengan sangat erat, sehingga Seara tidak bisa lagi menarik tangan nya dari genggaman Anan.
" Kalau begitu, lebih baik Kita berpisah " Anan menggelengkan kepala nya tanda tak setuju dengan pernyataan Seara.
" Aku tidak sudi di cap sebagai istri kedua " Ucap Seara meninggikan dua kalimat terakhirnya.
" Jangan meminta hal yang tidak bisa Saya kabulkan Nona, karena bagaimana juga Saya adalah suami Nona " Ucap Anan tegas.
Seara berdecak kesal lalu menatap Anan dengan tatapan kesal.
" Tapi Kamu juga suami dari wanita lain yang bernama Ratna" Bentak Seara.
" Pergilah " Seara kembali menarik secara paksa kedua telapak tangan nya dari genggaman Anan.
__ADS_1
" Nona " Anan memanggil Seara dengan lembut, namun Seara mengacuhkan panggilan tersebut dan memilih merebahkan kembali tubuh nya di atas kasur dengan membelakangi Anan.
" Pergilah, tinggalkan Saya sendiri " Ucap Seara lirih, lalu terisak dalam tangis nya.
Anan mengacuhkan ucapan Seara, pria itu pun merebahkan tubuh nya di samping Seara, lalu memeluk tubuh Seara dari belakang.
" Maaf " Bisik Anan yang hanya dibalas Seara dengan isakan tangis.
" Lepaskan Saya, Saya tau dan paham bagaimana rasanya jika di duakan " Seara menghempaskan tangan kiri Anan yang berada di pinggang nya.
" Jangan merasa menjadi yang kedua Nona, Saya menikahi Ratna atas desakan Ayah " Ucap Anan memberikan alasan.
" Bahkan Saya belum pernah menyentuh Ratna, seperti Saya menyentuh Nona " Isakan Seara semakin kencang ketika Anan selesai berucap.
" Tapi tetap saja, Saya adalah yang kedua " Seara kembali berucap dengan lirih.
" Pergilah, biarkan Saya sendiri " Seara menggeser tubuh nya menjauhi Anan, dan hal itu membuat Anan menghela nafas kecewa.
" Apa Nona mau, Allah melaknat Nona, karena menolak Saya sebagai suami? " Seara berdecak kesal dan pada akhir nya hanya bisa pasrah menerima pelukan Anan yang sejujurnya membuat Seara nyaman.
" Lalu bagaimana dengan Ratna? " Anan memeluk tubuh Seara semakin erat ketika nama wanita pertama yang di akad kan nya itu terlontar dari ucapan Seara.
" Ayah mendesak Saya untuk menikah dengan Ratna karena bentuk balas budi " Seara menghela nafas pelan karena ucapan lirih Anan.
" Apa yang membuat mereka mendesak Kamu untuk menikahi Ratna?" Anan menggelengkan kepala nya tak mengerti.
" Lalu apakah Kamu juga menikahi Aku karena terpaksa? " Anan terdiam, dan hal itu membuat Seara menyadari kalau posisi nya dan Ratna adalah sama sama wanita yang di nikahi Anan karena desakan.
__ADS_1
Ratna di akad kan oleh Anan karena desakan balas budi, sementara Seara di akad kan oleh Anan karena desakan terbebas dari zina.
" Sebaik nya kita saling renungi apa yang sudah terjadi dalam hubungan kita ini dengan sebaik baik nya. Sehingga masing-masing diantara Kita tidak ada lagi kata terpaksa dalam pernikahan ini " Ucap Seara yang seolah menyadarkan Anan kalau Seara tetap ingin terjadi perpisahan dalam rumah tangga mereka.
" Berikan Saya waktu satu bulan, tidak beberapa minggu kedepan agar Saya bisa memberikan bukti untuk mengajukan pembatalan akad yang sudah Saya ucapkan kepada Ratna " Ucap Anan sungguh-sungguh.
" Dan hal yang sama pun harus Kamu lakukan kepada Saya, kalau sampai sebulan setelah semalam, Saya tidak hamil " Ucap Seara yang berhasil membuat Anan murka.
" Hamil atau tidak nya Nona sebulan mendatang, tidak akan pernah membuat kata haram itu keluar dari mulut Saya, camkan itu. Suka atau tidak suka Saya adalah suami sah Nona secara agama, dan haram bagi Saya mengucapkan kata untuk mengakhiri pernikahan Saya dan Nona, terlepas pernikahan itu terjadi karena terpaksa agar tidak terjadi zina di antara kita! " Ucapan Anan berhasil membuat Seara terbungkam dan tak lagi berucap.
" Lalu apa yang akan Kamu lakukan sekarang?. Tetap bertahan dengan Ratna dan juga Saya? " Tanya Seara kepada Anan.
" Dengan Ratna hanya menunggu waktu beberapa minggu saja untuk Saya mengajukan pembatalan pernikahan, sedangkan dengan Nona, setelah penyatuan semalam, membuat Saya tidak akan pernah melepaskan Nona sebagai istri Saya sekarang dan hingga ajal yang memisahkan " Untaian beberapa kalimat terakhir yang Anan ucapkan membuat Seara tersenyum kecil.
" Bersabarlah, hanya untuk beberapa minggu kedepan " Anan mengecup pucuk kepala Seara dari belakang dan mengeratkan pelukan nya kepada Seara.
" Lalu apa yang sekarang Kamu rasakan terhadap Saya? " Bibir Anan terkatup rapat, hati dan pikiran nya bimbang dan ragu tentang apa yang di rasakan nya saat ini kepada sang Nona yang sejak malam tadi berubah statusnya sebagai istrinya secara agama.
" Tak perlu di jawab kalau masih ragu apalagi bimbang " Ucapan Seara bagaikan hantaman gada di dada Anan, hingga membuat dada Anan terasa sesak dan menyakitkan.
" Pulanglah, saat ini Kamu tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap Saya, tetapi Kamu juga harus memberikan hak yang sama terhadap istri pertama Kamu juga " Seara melerai pelukan Anan lalu bangun dan mendudukkan tubuh nya menyender pada hardboard kasur nya.
Anan pun bangkit dari rebah nya dan mengikuti Seara yang menyandarkan tubuh nya pada hardboard kasur. Kedua nya duduk saling berdampingan, dengan Anan yang menggenggam jemari kanan Seara dengan telapak tangan kanan nya.
" Pulanglah, nggak enak sama Ayah, beliau pasti mencari Kamu yang tidak pulang semalam " Anan menghela nafas nya pelan. Hati nya enggan kembali pulang kerumah nya, yang pasti nya akan bertemu dengan Ratna dan Ayah nya yang akan menanyakan keberadaan nya semalam ada di mana.
Hati Anan menghangat kala Seara menyebut kata Ayah untuk memanggil Ayah nya bukan Pak Budi seperti yang selama ini Seara selalu ucapkan.
__ADS_1
" Istirahat lah, Saya akan kembali lagi setelah pulang kerumah sebentar " Seara mengangguk pelan dan hanya terdiam kala Anan mengecup kening nya sebelum pergi pulang ke rumah nya.
Flash back Off