
Pras mendatangi kediaman Pak Wibi dengan di temani oleh Clara. Pasangan selingkuh tak tahu malu itu, kali ini datang atas undangan Pak Wibi kemarin.
Pak Wibi sengaja mengundang mereka untuk datang ke rumahnya dengan alasan ingin memberitahukan kabar penting kepada Pras. Namun entah bagaimana cerita nya Clara pun ikut hadir di kediaman Pak Wibi.
Namun seperti nya Clara memang sengaja mendatangi kediaman Pak Wibi bersama dengan Pras dengan maksud meminta bagian warisan dengan mengatasnamakan mantan istri Pak Wibi. Padahal Pak Wibi menikahi Clara karena wanita itu menjebak Pak Wibi, sehingga Pak Wibi terpaksa menikahi Clara.
Pernikahan terpaksa yang Pak Wibi lakukan dengan Clara justru berhasil membuat Pak Wibi berhasil terbebas dari jeratan pernikahan tak sehat nya dengan Maria ibu dari Pras yang juga terpaksa dinikahi nya karena Maria mengaku hamil anak Pak Wibi, sementara Aaliyah istri sah Pak Wibi saat itu menolak dipoligami dan memilih mengajukan perceraian kepada Pak Wibi.
Namun ternyata saat Aaliyah mengajukan perceraian tersebut Aaliyah dinyatakan hamil. Karena sakit hati akan pengkhianatan Pak Wibi juga Maria sebagai Kakak Ipar Aaliyah saat itu membuat Aaliyah menyembunyikan kehamilannya, dan Pak Budi yang merupakan kakak kandung Aaliyah pun menyetujui keputusan Aaliyah untuk menyembunyikan kehamilannya tersebut dari Pak Wibu terutama Maria, yang di yakini Pak Budi pasti akan melakukan hal hal buruk kepada Aaliyah, jika Maria mengetahui kehamilan Aaliyah.
Tetapi hal yang tak di harapkan terjadi kepada Aaliyah saat melakukan persalinan Anan kala itu. Aaliyah mendadak terkena serangan jantung sesaat setelah melahirkan Anan dan langsung meninggal dunia saat Anan tengah diazani oleh Pak Budi.
Dan sejak saat itulah Pak Budi mengurus Anan dan mengakui Anan sebagai anak kandung nya. Apalagi setelah Pak Budi melakukan pengecekan kesuburan ulang dan lagi lagi mendapat hasil kalau Dia Mandul, membuat keseharian hidup nya hanya mengurus Anan hingga saat ini.
Kembali ke Pras dan Clara yang kini tengah menunggu kedatangan Pak Wibi, Alvin dan Pak Bambang juga Bu Yumna yang ternyata selain menjadi pengacara keluarga Gunawan, Mereka juga menjadi pengacara keluarga Wibisana.
Kedatangan ke empat nya di ruang keluarga Wibisana membuat Pras juga Clara saling berpandangan heran satu sama lain.
Apalagi dibelakang mereka berempat ada Seara juga Naan yang sengaja Pak Wibi minta kedatangan mereka secara pribadi.
"Kenapa ada Seara dan Asisten nya?". Bisik Clara yang di balas Pras dengan mengangkat kedua bahu nya tanda tak mengerti.
__ADS_1
Pak Wibi duduk dengan di apit Alvin disebelah kiri, Anan di sebelah kanan nya dan Seara duduk di samping Anan. Sementara Pak Bambang dan Bu Bu Yumna duduk berseberangan di samping sofa yang di duduki kubu Pak Wibi dan kubu Pras.
"Apa kabar Pa?" Sapa Pras, Pak Wibi hanya berdehem menjawab sapa Pras, namun saat Pras hendak bangkit dari duduk nya dan menghampiri Pak Wibi untuk mencium punggung tangan nya, Pak Wibi langsung mengangkat tangan kanan nya seolah menolak keinginan Pras.
Pras mendengus kesal mendapat penolakan dari Pak Wibi dan duduk kembali mengurungkan niat nya untuk menghampiri Pak Wibi.
Pandangan Pras beralih kepada Seara, kedua sorot mata nya memicing tajam ketika pandangan terarah kepada perut Seara yang mulai membuncit karena suda memasuki usia empat bulan kehamilan nya.
"Jaga pandangan Anda dari istri Saya Pak Pras!" Ucapan peringatan Anan membuat Pras juga Clara terkejut. Namun tak lama kemudian senyuman mengejek Pras terarah jelas kearah Seara.
"Ternyata setelah perpisahan Kita, selera Kamu menurun amat sangat drastis Nona Seara, sampai-sampai harus menikah dengan anak supir bahkan kini mengandung anak nya" Ucap Pras mengejek yang ditertawai kecil oleh Clara.
"Kau_"
"Cukup!" Pak Wibi kembali mengangkat tangan kanan nya kearah Pras, dan menatap tajam pria muda yang duduk berhadapan dengan nya dengan hanya terpisah meja.
"Kenapa Kamu harus marah atas ucapan Anan yang benar ada nya"
"Pa" Protes Pras kepada Pak Wibi, yang dibalas sunggingan senyuman mengejek dari Alvin, bahkan pria terdengar sempat mengeluarkan tawa kecil sesaat, padahal biasanya Pria itu tidak pernah merespon apa pun ketika ada sesuatu hal entah itu menarik atau tidak.
"Berhentilah membuat kekacauan. Ada yang akan Pak Bambang sampaikan dan Saya harapkan Kalian bisa mendengarkan penjelasan nya tanpa menginterupsi ucapan nya sampai Beliau menyelesaikan ucapan nya" Ucap Pak Wibi sambil menatap tajam kearah Pras dan Clara secara bergantian.
__ADS_1
Pras dan Clara mengangguk menyetujui ucapan Pak Wibi. "Kalau begitu Pak Bambang dan Bu Yumna bisa memulai nya sekarang juga". Kali Pak Bambang dan Bu Yumna yang mengangguki ucapan Pak Wibi.
Pak Bambang memulai menjelaskan maksud dan tujuan Pak Wibi memanggil Pras, namun berhubung Clara juga hadir, maka Clara pun bisa mendengar apa yang akan Pak Bambang jelaskan mengenai warisan yang akan Pak Wibi berikan kepada para ahli waris nya nanti.
"Apa maksud nya ini Pa?" Pras menunjukkan selembar kertas berlogo sebuah Rumah Sakit ternama yang menyatakan kalau Pras bukanlah anak kandung Pak Wibi dari hasil tes DNA yang Pak Wibi lakukan.
Pras menahan emosi nya saat Pak Wibi tak menganggap pertanyaan, sementara Clara yang mengakui kertas dalam pegangan Pras itu terlihat terkejut.
"Disini dijelaskan kalau Aku bukan anak Papa?" Pak Wibi kembali diam tak menyahuti ucapan Pras, dan hal itu membuat Pras semakin emosi. "Jawab Pa. Apa ini cara Papa membalas sakit hati Papa, dengan tidak mengakui kalau Pras bukanlah anak kandung Papa, hanya karena Clara lebih memilih Pras dibandingkan Papa?" Pras mencecar Pak Wibi dengan pertanyaan.
"Ayolah Pa, Pras akan mengembalikan Clara kepada Papa, asalkan Papa tetap menganggap Pras sebagai anak Papa" Clara memukul kesal pundak Pras dengan kesal sesaat setelah Pras berucap.
"Jangan gila Kamu Pras, mana mungkin Saya akan menerima kembali sampah yang sudah Saya buang" Bentak Pak Wibi kesal.
"Jaga emosi Pa" Anan menahan Pak Wibi untuk bangkit dari duduk nya. Panggilan Anan untuk Pak Wibi membuat Pras semakin marah.
"Jangan lancang Kamu, memanggil Papa Saya dengan panggilan Papa" Bentak Pras tak terima.
"Sayang, lebih baik bawa Papa ke kamar. Aku takut Papa kembali drop" Ucap Seara yang di angguki Anan, namun Pak Wibi menggelengkan kepala nya saat Anan dan Alvin akan membantu nya untuk beranjak dari duduk nya.
"Jangan, biar Kita selesaikan masalah ini sekarang juga. Agar jika Tuhan memanggil Papa saat ini, Papa bisa tenang karena sudah memberikan kewajiban Papa kepada orang yang berhak"
__ADS_1