Antara Aku Dan Kau

Antara Aku Dan Kau
C23. Penghinaan


__ADS_3

Benar apa yang Seara ucapan beberapa hari yang lalu, kini dengan tanpa memberitahukan kedatangan mereka, keluarga besar Pak Gunawan mendatangi kediaman Seara di hari minggu yang cerah itu.


" Mana Seara? " Tanya seorang pria paruh baya kepada Mbak Yuni saat Mbak Yuni baru saja membuka pintu rumah.


Tanpa permisi pria yang bernama Fatah itu memasuki rumah di iringi seorang wanita paruh baya dan seorang wanita muda seusia Seara sebelum Mbak Yuni memberitahukan dimana keberadaan Seara.


" Maaf Pak Fatah, Non Ara sedang berada di kamar nya " Ucap Mbak Yuni.


Lagi lagi tanpa permisi keluarga itu mendudukan tubuh mereka di ruang keluarga Seara.


" Panggilkan Ara sekarang juga. Bilang Saya datang " Ucap Fatah angkuh, sementara wanita muda yang merupakan anak tunggal Fatah yang bernama Malika itu terlihat memperhatikan isi rumah Seara dengan tatapan takjub.


" Daddy, apakah kita bisa tinggal di sini?. Seperti nya rumah ini terlalu besar kalau hanya di tempati oleh anak itu? " Tanya Malika dengan suara mengiba.


" Tentu saja bisa sayang, kita akan tinggal di sini. " Ucap Fatah yang di angguki oleh Amelia istrinya.


" Jangan pernah bermimpi untuk tinggal disini, bahkan seharusnya Kalian tidak diperkenankan lagi untuk datang ke rumah ini " Raut wajah ketiga orang yang tengah duduk santai di ruang keluarga Seara itu langsung berubah kesal dan masam saat mendengar ucapan dari Seara yang berjalan menuju ke ruang tamu nya.


" Apa kabar Paman dan Bibi? " Walau pun Seara membenci keluarga itu, tapi Seara masih bisa bersopan santun dengan tetap mencium punggung tangan kanan Paman dan Bibi nya.


" Jaga ucapan Kamu Ara, biar bagaimana pun juga Saya ini Paman Kamu " Ucap Fatah yang dibalas tawa kecil Seara.


" Bisa Paman pindah duduk nya?, Kursi ini selalu di tempati Papa sebagai tuan rumah nya, dan karena saat ini Ara adalah tuan rumahnya jadi kursi itu lebih cocok jika Ara yang duduki " Ucap Seara membuat Fatah langsung bangun dari duduk nya dan beralih duduk di sofa yang sama dengan anak dan istri nya.


Seara mendudukan tubuh nya di sofa yang tadi Fatah duduki, sofa yang selalu di tempati sang Papa saat menyambut para tamu atau keluarga nya.

__ADS_1


" Dimana pasukan Paman yang lain nya? " Tanya Seara membuat Fatah berang.


" Kenapa sikap Kamu setelah menikah dengan orang miskin semakin tak ada rasa hormat nya kepada orang yang lebih tua? " Seara tersenyum kecil mendengar ucapan Fatah.


" Ara akan sopan apabila orang itu sopan , jadi jangan bawa bawa pernikahan Ara dengan suami Ara untuk menilai cara Ara menghormati orang yang lebih tua " Ucapan telak Seara membuat Fatah terdiam.


Sejak dulu Seara memang tidak pernah menyukai sikap keluarga Papa nya yang selalu gila hormat, harta dan juga tahta, padahal kalau di runtut, mereka bisa menikmati kehidupan layak itu pun karena Papa Seara yang selalu membantu kehidupan mereka. Bahkan usaha yang saat ini dijalankan oleh Paman dan Bibi Seara saat ini adalah milik dari Papa nya.


" Dimana suami miskin Kamu? " Pertanyaan Fatah di balas senyuman kecil Seara.


" Dito, Ara biasa memanggil suami Ara dengan nama itu, bukan miskin atau apapun " Jawab Seara membuat Fatah semakin berang.


" Oh lupa, Paman kan selalu memanggil suami Ara dengan anak supir, iya kan Paman? " Ucap Seara balik bertanya.


" Maaf Paman, bukan tidak sopan dengan tidak menyambut kedatangan Paman dan Bibi, tapi saat ini Mas Dito sedang membuat ada urusan, jadi atas nama Mas Dito, Ara minta maaf karena tidak bisa menyambut kedatangan Paman dan Bibi" Ucap Seara berusaha se sopan mungkin, dan hal itu tak lepas dari permintaan Anan.


" Paman pasti sudah sangat lebih tahu, siapa benalu dalam keluarga sebenarnya tanpa harus Ara beritahu bukan? " Ucapan balik Seara membuat Fatah mengepalkan telapak tangan. Tatapan tajam diarahkan kepada Seara yang masih terlihat duduk santai disertai senyuman kecil menghiasi wajah nya.


" Mas Fatah dan Mbak Amel sudah datang? " Seara masih terlihat santai saat beberapa orang kembali memasuki ruang keluarga rumah nya tanpa permisi.


" Tidak bisakah mengucapkan salam saat memasuki rumah orang lain? " Ucapan Seara membuat aksi cipika cipiki tiga sembilan orang yang baru datang tanpa permisi itu teralihkan.


Kedua belas orang itu menatap dengan tajam Seara yang tengah menjentikkan jemari jemari nya santai, lalu melihat kearah mereka dengan senyuman kecil.


" Jaga ucapan Kamu Ara " Ucap Seorang wanita paruh baya yang langsung mendudukan tubuhnya di sofa diikuti dia wanita paruh baya lain nya, sedangkan untuk yang tidak kebagian sofa mereka memilih berdiri tak jauh dari para wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


Seara tersenyum kecil, lalu berdiri dari duduk nya untuk menghampiri para orang tua, dengan sopan Seara mencium punggung tangan kanan mereka satu persatu, dan kemudian kembali ketempat duduk nya semula.


" Seperti nya sudah datang semua nya. Baiklah kalau begitu, sebaik nya kita pergi ke ruang kerja Papa, ada beberapa hal yang ingin Ara sampaikan dan juga memberikan penjelasan atas pesan juga wasiat Papa yang sudah seharus nya Ara sampaikan sejak Papa meninggal" Ucap Seara membuat keluarga besar Papa nya itu heran.


Bagaikan kerbau yang di cocok hidung nya kedua belas orang itu mengekor dibelakang Seara menuju ruang kerja Ayah nya.


Seara membuka ruang kerja Papa nya, didalam sana sudah ada Anan yang tengah berbincang dengan Andi dan Yulia serta Pak Bambang dan Bu Yumna yang merupakan pasangan pengacara Pribadi Papa Seara.


" Assalamu'alaikum " Salam sapa Seara saat memasuki ruang kerja Papa nya.


" Waalaikumsalam " Balas sapa Anan, Andi dan Yulia juga Pan Bambang dan Bu Yumna.


Seara berjalan menghampiri mereka. Anan lebarkan tangan kanan nya menyambut kedatangan Seara dan Anan langsung memeluk pinggang Seara dengan erat.


" Aku baru mau panggil Kamu, eh tau nya Kamu udah ada disini " Bisik Seara.


" Tadi di WA sama Mas Andi, eh nggak tau nya di ajak kemari ketemuan sama Pak Bambang dan juga Bu Yumna disini " Balas ucap Anan. Anan mengangguk sopan kala pandangan nya beralih kearah dua belas orang yang sudah masuk kedalam ruang keluarga Papa Seara.


" Ayo, Aku perkenalkan secara resmi kepada saudara tiri Papa " Anan mengangguk lalu mengikuti Seara menghampiri keluarga Papa nya.


" Paman dan Bibi, perkenalkan ini Anandito suami Ara " Anan menghampiri keluarga Seara berniat untuk mencium punggung tangan mereka, namun Anan mengurungkan niat nya itu saat melihat tak ada tanggapan dari para orang tua tersebut.


" Assalamu'alaikum Tuan dan Nyonya, saya Anan " Sapa Anan sopan yang di balas decihan para orang tua, sementara tiga wanita muda yang berada di dekat mereka justru menatap memuja kearah Anan, dan hal itu terlihat oleh Seara hingga membuat Seara pun bersuara.


" Malika, Bella, Nadia. Jaga mata kalian dari zona terhadap suami Saya " Ucapan telak Seara membuat ketiga wanita itu malu dan langsung mengalihkan pandangan mereka kearah lain.

__ADS_1


" Jangan merasa bangga Ara. Suami Kamu tak ada kelebihan nya sama sekali, dibandingkan kekasih mereka yang seorang anak pengusaha ternama, tidak seperti suami kamu yang hanya anak supir " Ucapan Fatah justru membuat Seara tertawa kecil.


__ADS_2