
"Bagaimana hasil nya Vin?" Seorang pria muda menyerahkan setumpuk berkas di dalam binder berwarna hijau kepada seorang pria paruh baya.
"Seperti sudah Ku duga" Senyuman kecut menghiasi wajah paruh baya yang semakin terlihat pucat di atas tempat tidur di kamar pribadi nya.
Ya pria paruh baya itu adalah Pak Wibi yang menolak untuk melanjutkan pengobatan di Rumah Sakit dan lebih memilih ingin menghabiskan sisa hidup di rumah pribadi nya sambil meratapi kebodohan nya yang masuk kedalam perangkap Maria mantan istri nya dulu.
"Tuhan membayarkan karma nya dengan lunas kepada Saya di dunia" Ucap nya miris menatap sendu kearah plafon kamar nya, sementara Alvin hanya bisa menundukkan kepala nya meratapi nasib majikan nya yang juga menjadi majikan kedua orang tua nya.
"Apa Tuan akan memberitahukan kabar ini kepada Pak Hendra?" Pak Wibi menggelengkan kepala nya lemah. "Setidaknya dengan memberitahukan kabar ini kepada Pak Hendra, Tuan akan lebih tenang menikmati hari hari Tuan" Pak Wibi mendengus kesal, anak kepala pelayan dan kepala koki yang satu ini memang mewarisi sifat, sikap juga kelakuan dari Ayah nya si kepala pelayan, yang selalu menasehati bahkan menegurnya jika Pak Wibi berbuat salah.
"Kamu nyumpahin Saya Vin?" Dengan wajah datar seperti wajah Ayah nya Alvin menggelengkan kepala nya dengan cepat.
"Saya mana berani Tuan, Saya hanya memberikan saran untuk Tuan" Pak Wibi berdecak kesal. " Kamu memang benar-benar keturan Cipto" Alvin tersenyum kecil mendengar celoteh kesal Pak Wibi.
"Tarik semua fasilitas yang masih di nikmati bocah tengik itu, biarkan Dia kemari!"
"Tapi Tuan_"
"Saya akan menemui Pak Hendra dan juga Anan" Wajah Alvin yang biasa nya datar kini semakin terlihat datar ketika pria berusia 30 tahun itu mengernyitkan kening nya.
" Kamu tenang saja, Saya sudah sehat" Alvin mengangguk pelan menjawab keinginan Tuan besar nya itu.
🌹🌹🌹
Kediaman Seara di minggu pagi yang biasa nya penuh tawa, kini mendadak sepi. Walaupun ada enam orang yang tengah duduk melingkar di sofa keluarga Seara, tak membuat suasana ruangan hangat seperti biasa nya yang penuh dengan canda tawa.
__ADS_1
"Ehm" Dehaman Alvin membuat perhatian dalam keheningan ruangan beralih kepada pria yang tengah duduk berdampingan dengan Wisnu dan berhadapan dengan Seara dan Anan yang duduk di depan nya dengan hanya di batasi meja.
Sementara Pak Wibi dan Pak Budi atau Pak Hendra duduk saling berhadapan di sisi kanan dan kiri Seara dan Anan.
"Mohon maaf sebelum nya Pak Budi, Pak Anan juga Bu Seara, kedatangan Kami kesini_"
"Biar Saya saja yang lanjutkan Vin" Alvin mengangguk mengerti dan tak melanjutkan ucapan nya setelah Pak Wibi memotong pembicaraan.
Pak Wibi menghela nafas sejenak, pandangan beralih kepada Anan dan Pak Budi secara bergantian "Maaf" Pria paruh baya itu menundukkan kepala nya dalam dalam tanda menyesal dengan suara parau menahan tangisan saat berucap.
"Saya tahu kesalahan Saya terlalu besar kepada Bang Hendra terutama kepada Anan. Kalian berhak untuk tidak bisa memaafkan kesalahan Saya itu. Tetapi Saya mohon, izinkan Saya untuk meminta maaf di sisa waktu Saya yang tersisa kepada Bang Hendra dan Kamu Anan. Maaf" Pak Wibi berucap lirih, bahkan pria paruh baya itu tampak mengusap pelan pinggiran kedua mata nya bergantian.
Anan menundukkan kepalanya, Seara yang paham kalau suami berondong nya itu terlihat bingung, sedih juga kecewa itu menggenggam erat telapak tangan kanan Anan, mengusap nya dengan lembut membuat Anan mengalihkan pandangan nya kearah Seara yang tersenyum sambil mengangguk kecil.
Anan membalas senyuman Seara, mengusap lembut jemari yang tengah menggenggam jemari nya lalu melihat kearah Pak Budi yang tengah menatap Anan dan anggukan pelan Pak Budi membuat Anan menghela nafas pelan.
"Alhamdulillah" Gumam Pak Wibi, Wisnu, Alvin bersamaan.
"Tapi mohon maaf, Saya tidak bisa menerima pemberian Pak Wibi" Pak Wibi tampak kecewa dengan apa yang Anan ucapkan.
"Masih ada Pak Pras yang lebih berhak menerima nya" Alasan Anan, membuat Alvin tanpa di perintahkan oleh Pak Wibi mengeluarkan binder yang berada dalam tas kerja nya.
"Ada yang harus Pak Anan juga Pak Hendra ketahui tentang Pak Pras" Alvin meletakkan binder itu keatas meja dan menyodorkan nya kearah Anan.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Pak Budi dan Seara, Anan pun mengambil binder itu dan membuka binder yang berisikan lembaran berkas dari rumah sakit.
__ADS_1
Kedua bola mata Anan membulat lalu melihat kearah Pak Budi. Mendapat tatapan terkejut dari Anan membuat Pak Budi penasaran, seolah paham akan maksud tatapan Ayah nya Anan pun memberikan binder tersebut kepada Pak Budi yang langsung membaca nya.
"Ini tidak mungkin." Ucap Pak Budi tak terima. Semua mata tertuju kearah Pak Budi. Wajah Pak Budi pun terlihat sangat marah setelah selesai membaca binder yang Anan berikan tadi.
"Jangan karena ulah nya dan Kamu sudah mengetahui kalau Anan itu adalah anak kandung Kamu, maka Kamu tidak mengakui nya lagi sebagai anak kandung Kamu."
Pak Budi membentak kearah Pak Wibi yang tertunduk.
"Tapi itulah kenyataan nya Bang. Pras bukanlah anak kandung Aku dengan Maria"
Pak Budi tertawa lirih mendengar pengakuan Pak Wibi. "Apa Kamu tahu selain gila harta, Maria pun memaksa Saya segera menceraikan nya dikarenakan Saya MANDUL" Pak Budi sengaja menekan kata MANDUL hingga membuat semua nya tak percaya.
"Ya Saya mandul, karena itulah setelah Saya menceraikan Maria, Saya memilih untuk tidak menikah lagi, karena takut mengecewakan wanita yang akan menjadi istri Saya."
"Jadi bisa dipastikan kalau Pak Pras bukanlah anak Saya" Tanpa permisi Pak Budi meninggalkan ruang kerja Seara dan Anan.
Semua nya terdiam setelah Pak Budi meninggalkan ruangan.
"Kalau bukan Bang Hendra, lalu siapa Ayah kandung Pras?" Pak Wibi bergumam resah.
"Tidak menutup kemungkinan selain Om, Bu Maria mempunyai Pria lain selain Om dan Pak Budi" Ucap Wisnu yang di angguki Alvin.
"Vin, cari tahu siapa orang terdekat Maria selain Saya dan Bang Hendra. Saya harus mengetahui siapa ayah kandung Pras" Ucapan Pak Wibi sontak membuat Alvi terkejut.
"Astaghfirullah Pak, gimana cara nya Saya mencari bukti kejadian yang bahkan saat itu Saya pun masih kecil" Ucap Alvin frustasi namun tak membuat Pak Wibi bersimpati.
__ADS_1
"Saya tau Kamu pasti bisa. Kalau tidak, buat apa Saya menjadikan Kamu asisten pribadi Saya" Alvin menjenggut frustasi rambut nya mendengar ucapan santai Pak Wibi.
Wisnu tersenyum kecil lalu menepuk pelan bahu Alvin "Semangat" Alvin berdecih kesal mendengar bisikan Wisnu.