
Anan mengajak Seara berkeliling pasar malam, sesekali wanita cantik itu menghentikan langkah nya pada stand yang menjual makanan untuk mencicipi makanan yang belum pernah di coba nya.
" Ini apa Mas? " Anan tersenyum kecil ketika Seara kembali memanggilnya Mas bukan nama nya lagi. " Ck, ditanyain ini makanan apaan malah senyam senyum sendiri." Gerutu Seara karena Anan tidak menanggapi pertanyaan tadi.
" Ini cilok sayang." Kali ini Seara yang tersenyum kecil mendengar Anan kembali memanggil nya sayang bukan nama nya lagi apalagi Nona.
" Kenapa senyam senyum sendiri? " Pertanyaan Anan membuat Seara mengalihkan pandangan kearah lain. Anan mengusap lembut pucuk kepala Seara lalu menggengam tangan Seara dengan erat.
" Mang Atep, cilok nya seporsi ya, minta sambal kacang nya di banyakin." Ucap Anan kepada si penjual saat giliran Anan.
" Eh Mas Anan, tumben bawa gandengan biasanya sendirian aja " Sapa sang penjual. " Eh tapi kok bukan Neng Ratna " Lagi lagi ucapan Mang Atep membuat Seara kesal.
" Ini istri Saya yang asli Mang, yang kemarin bukan " Jawaban Anan membuat Mang Atep menatap Anan bingung.
" Oalah, jadi kemarin nikah nya boongan gitu Mas? " Tanya Mang Atep kepo, membuat Seara mendengus kesal.
" Nikah nya batal Mang, Ratna nya hamil bukan anak nya Kak Anan " Ucap Lilis yang tiba-tiba datang bersama beberapa orang gadis sebaya nya.
" Oalah, Alhamdulillah atuh kalau nikah nya batal." tersenyum kecil mendengar ucapan Mang Atep, namun tidak dengan Seara, wajah cantik nya semakin terlihat kesal ketika para gadis itu sengaja berdiri di dekat Anan, bahkan Lilis secara terang-terangan berdiri di samping kiri Anan tanpa Anan sadari.
" Ini Mas Anan pesanannya " Mang Atep menyerahkan pesanan Anan dan Anan pun menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan kepada Mang Atep.
" Makasih Mang, coba di icip Yang, ini enak lho " Tanpa memperdulikan sekitar, Anan menyuapi Seara sebuah cilok kepada Seara.
" Dipotong Mas, itu kegedean, nggak muat di mulut kalau langsung makan segitu " Protes Seara melihat ukuran cilok yang bisa dua kali gigitan baru habis itu.
__ADS_1
" Gigit sebisa Kamu aja yang " Anan kembali menyodorkan cilok itu kearah Seara, lalu Seara pun menggigit nya separuh. "Enak kan?" Seara mengangguk menyetujui ucapan Anan.
" Lho kok, Kamu yang makan? " Seara bertanya saat Anan memakan sisa cilok yang tadi di makan oleh Seara. " Makan bekas Kamu lebih enak Yang " Seara memukul lengan pelan lengan Anan.
" Makasih ya Mang."
" Sama sama Mas, Neng. Heleh menih kompak pisan euy, bener-bener pasangan sejati ini mah " Ucap Mang Atep membuar Seara dan Anan tersenyum.
"Yuk kita cari jajan lagi " Seara mengangguk menyetujui ucapan Anan, mereka pun melangkah meninggal tempat Mang Atep berjualan dengan mengabaikan keberadaan Lilis dan teman teman nya tersebut.
" Ada lagi yang mau di beli? " Tanya Anan ketika hampir seluruh stand sudah mereka jelajahi. Seara menggelengkan kepalanya.
" Belikan camilan untuk Ayah juga Mas." Pinta Seara. " Kita belikan Ayah candil saja, soal nya Ayah nggak suka jajanan kaya gini" Ucap Anan yang di angguki Seara.
Ya Pak Budi memang lebih menyukai jajan tradisional, pria paruh baya itu tidak menyukai jajan kekinian. Jadi Anan pun akhir nya mengajak Seara ketempat penjual jajanan tradisional.
" Wah, kaya nya enak enak ya Mas " Seara bahkan menelan saliva nya berkali-kali melihat anek jajanan yang menggunakan selera nya itu.
" Aku mau cucur, odading sama ini juga Mas, kue talam ubi. Udah lama banget Aku nggak makan ini " Tunjuk Seara kearah jajanan yang berada di hadapan nya.
Anan membelikan Seara kue yang di inginkan wanita tersebut, tak lupa dua bungkus candil di beli Anan yang satu untuk Ayah nya yang satu lagi di siapkan untuk Seara jikalau tiba-tiba wanita itu ingin mencoba Candil.
" Ini istri Kamu Nan? " Tanya si penjual kue saat melihat Seara. Seperti nya Ibu penjual kue ini sudah lebih tahu perihal masalah yang tengah menimpa Anan.
" Iya Mbok Jum " Jawab Anan.
__ADS_1
" Alhamdulillah, Mbok senang mendengar nya. Selamat ya semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, di berikan keturunan yang sholeh dan sholehah serta cantik dan juga ganteng seperti Ibu dan Bapak nya. Aamiin " Ucap do'a Mbok Jum yang di Aamiin kan Anan dan Seara.
" Jadi berapa Mbok? " Tanya Anan saat menerima kantung berisikan jajanan yang di belinya.
" 35rb Nan " Jawab Mbon Jum.
Anan merogoh saku celana nya dan sengaja mengambil uang seratus ribuan kepada Mbok Jum, " Kembali nya buat Mbok Jum aja " Ucap Anan.
" Kebanyakan ini Nan " Ucap Mbok Jum menolak, dan tetap memberikan yang kembalian kepada Anan, namun Anan bersikeras menolaknya.
" Buat tambahan jajan nya Jamal Mbok." Ucapkan Anan membuatmu Mbok Jum menitikkan air mata nya.
Pasal nya setiap Anan belanja kepada nya, Anan selalu membayar dengan uang yang besar dan selalu menolak uang kembalian nya dengan alasan untuk uang jajan Jamal, cucu semata wayang nya yang harus menjadi yatim piatu di saat usia nya baru menginjak 2 tahun.
" Om Nan" Seorang bocah berusia lima tahun menarik narik celana panjang Anan, Anan pun menoleh kearah si bocah laki-laki lalu mengusap lembut pucuk kepala si bocah seraya mengumamkan sebaik do'a untuk kebaikan si bocah tersebut, setelah bocah itu mencium punggung tangan kanan Anan dan Seara bergantian.
" Jamal dari mana Nak? " Ucap Mbok Jum khawatir.
" Habis bantuin bawa belanjaan Mbok " Seara menatap dalam bocah kecil yang langsung mencium punggung tangan kanan Mbok Jum dengan takzim, lalu duduk di samping Mbok Jum dan kemudian merogoh saku kemeja yang di kenakan bocah bernama Jamal tersebut.
" Ini buat Mbok" Jamal menyerahkan uang yang terkuntal dari saku kemeja nya tanpa menghitung ada berapa jumlah uang yang di serahkannya kepada nenek nya itu.
" Simpan buat jajan Jamal aja " Tolak Mbok Jum. Jamal menggelengkan kepalanya dan tetap menyerahkan uang tersebut kepada nenek nya.
" Buat Mbok aja " Ucap Jamal. Seara tersenyum kecil lalu berjalan kearah Jamal dan Mbok Jum, tanpa sungkan wanita cantik itu duduk di samping Mbok Jum, lalu meraih tangan tangan kanan Mbok Jum dan mencium punggung tangan tersebut dengan takzim, membuat Anan terlebih Mbok Jum dan Jamal terkejut.
__ADS_1
Anan memang sempat menceritakan kepada Seara sosok Jum yang menjual aneka jajan tradisional saat dalam perjalanan menuju stand Mbok Jum, sebagai sosok wanita hebat yang mengurus cucunya yang yatim piatu di tengah hidup yang bisa di bilang hanya pas pas an, hingga membuat Jamal cucu nya tak bisa mengenyam pendidikan TK ataupun PAUD karena keterbatasan biaya. Dan hebat nya Jamal tidak pernah menuntut atau pun iri saat teman sebaya nya bersekolah.
" Jamal udah sekolah? "