
Seara merenggangkan tubuh nya yang terasa sakit dan linu di sekujur badan nya terutama bagian inti tubuh nya yang terasa perih dan seperti ada yang mengganjalnya.
Kedua bola mata nya membulat kala menyadari ada sebuah tangan yang tengah melingkar di pinggang nya dan lengan yang menjadi bantalan kepala nya.
perlahan lahan wanita yang sudah tidak gadis itu pun menurunkan pandangan nya kearah selimut yang masih membalut tubuh nya.
Telapak tangan kanan wanita itu menutup mulut nya agar suara tidak keluar dari mulut nya saat mengintip tubuh nya di balik selimut.
Kedua kelopak mata nya mengeluarkan air mata yang diiringi isakan pelan yang tak dapat di tahan nya kala melihat tubuh nya yang polos di balik selimut.
" Nona sudah bangun? " Tangis Seara semakin menjadi kala mendengar suara serak khas bangun tidur dari belakang tubuh nya yang familiar di telinganya.
" Kita sholat dulu, lalu Saya akan menceritakan kepada Nona, apa yang sudah terjadi semalam " Seara menenggelamkan kepala nya dalam selimut dan semakin terisak dalam tangisan nya, hingga membuat Anan pun menghela nafas nya pelan.
" Seperti nya Saya harus menceritakan dulu apa yang terjadi semalam " Anan mengusap lembut pucuk kepala Seara lalu menunjukkan telapak tangan kanan Seara dan kemudian mengusap lembut jari manis Seara yang sudah melingkar sebuah bekas tutup minuman kaleng.
Anan terkekeh geli, kala mengingat Yulia yang menyodorkan bekas tutup botol minuman kaleng yang sedang di minum nya kepada Anan sebelum wanita itu keluar kamar bersama suami nya, " Besok ganti dengan yang asli! " Itu ucapan Yulia sebelum berjalan mengiringi Andi keluar kamar Seara.
" Maaf semalam dadakan, jadi nggak sempat belikan cincin" Ucap Anan lembut yang menyadarkan Seara akan kejadian semalam.
" Apa semalam... " Anan mengangguk pelan menanggapi ucapan Seara yang menggantung.
" Maaf " Gumam Seara lirih dan sedikit demi sedikit mulai mengingat apa yang terjadi semalam.
Anan membalikkan tubuh polos Seara kehadapan nya, dan kini ke-dua nya saling berhadapan, dengan tangan kanan Anan yang masih menjadi bantalan kepala Seara dan tangan kiri yang mengusap lembut pucuk kepala Seara membuat wajah Seara yang tengah menatap Anan langsung memerah melihat tatapan teduh Anan dari jarak yang sangat dekat.
" Saya yang harus minta maaf, karena sudah lancang menikahi dan menyentuh Nona " Ucap Anan lembut, lalu memeluk tubuh Seara.
__ADS_1
" Maafkan Saya " Bisik Anan lalu mengecup pucuk kepala Seara. Seara pun mengangguk lalu membalas pelukan AnanSeen seen dengan erat.
" Ck, kalau begini terus sholat shubuh nya bisa bablas nih " Seara memukul pelan bokong Anan hingga membuat Anan terjengkit kaget lalu tertawa kecil, karena semalam pun Seara tak henti henti nya memukuli bokong nya saat Anan menggendong nya ke kamar nya.
" Sepertinya Nona gemas sekali dengan bagian belakang Saya " Seara menyerukkan kepala nya kedalam dada polos Anan.
" Kita sholat dulu, baru kita bicara lagi " Seara mengangguk lalu melerai pelukan nya kepada Anan.
Anan pun bangkit dari tidur nya, dan kemudian mendudukan tubuh nya di pinggir ranjang.
" Pasti akan sakit, biar Saya bantu Nona ke kamar mandi " Tanpa menunggu persetujuan Seara, Anan membopong tubuh polos Seara yang berbalut selimut menuju kamar mandi.
Seara melingkarkan kedua lengan nya di leher Anan, sehingga Dia bisa melihat dan memperhatikan wajah Anan yang ternyata kalau di perhatikan dengan seksama sangat tampan, bahkan lebih tampan dibandingan Tyo mantan brengsek nya itu.
Helaan nafas Anan bahkan terasa, membuat wajah Seara menghangat ketika helaan nafas khas bangun tidur beraroma mint itu menerpa wajah bantal nya, dan akhir nya Seara pun merebahkan kepala nya dalam dada Anan.
" Astaghfirullahalazim. Ini semua.. " Ucapan Seara kembali digantung kala melihat dan menjunjuk jejak keganasan nya di leher, dada bahkan perut Anan, Anan hanya tersenyum kecil melihat wajah Seara yang menahan malu.
" Tenang saja, kita melakukan semua nya secara sah secara agama " Ucapan Anan membuat Seara lega, karena Dia dan Anan tidak terlibat dalam hubungan zina, walaupun dalam kondisi One Night Stand.
Anan meletakkan tubuh Seara kedalam bathtub setelah sebelum nya pria itu mengisi bathtub sambil membopong tubuh Seara.
Dengan telaten Anan meneteskan beberapa aromaterapi yang ada di kamar mandi Seara guna membuat tubuh Seara lebih segar, walau pun bisa di pastikan wanita itu akan tetap berjalan dengan mengangkang karena sejak semalam sampai pukul 1 pagi Seara menggempur Anan habis habisan hingga pengaruh obat itu menghilang setelah Seara berkali kali merasakan kenikmatan surga dunia bersama Anan.
" Auh " Seara mengaduh saat akan bangkit dari berendam di bathtub, Anan yang baru saja selesai membilas tubuh nya di shower itu pun bergegas menghampiri Seara dan membantu wanita cantik yang sudah sah sebagai istri nya itu membersihan diri di bawah kucuran air shower.
Harum bunga chamomile dan lavender menguar dari tubuh Seara hingga membuat Anan merasakan kenyamanan saat indera penciumannya itu mengirup aroma tersebut.
__ADS_1
Dengan lembut Anan membilas tubuh Seara, kemudian kembali membopong tubuh Seara keluar dari kamar mandi setelah Seara membalut tubuh nya dengan kimono mandi nya dan berwudhu sehingga mereka berdua tidak saling bersentuhan kulit karena terhalang kimono mandi yang di kenakan mereka masing masing.
Dengan lembut Anan mendudukan tubuh Seara di pinggir kasur, lalu berjalan menuju lemari yang menyimpan pakaian Seara.
" Untung hari ini libur, jadi Nona tidak perlu khawatir dengan keadaan Nona sekarang " Anan menyerahkan selembar daster panjang yang rupa nya menjadi pakaian kesukaan Seara saat berada di rumah. Hal itu terbukti dengan banyak nya daster yang tersusun rapi di dalam lemari pakaian nya.
Seara pun segera mengganti kimono mandi nya dengan daster yang di berikan Anan dilanjutkan mengenakan mukena yang sudah Anan letakkan di dekat duduk nya.
" Ada pakaian ynag yang biasa Papa pakai kalau sholat di lemari gantung. Kamu pakai saja dulu, daripada Kamu pakai baju Kamu yang semalam "
Anan membatalkan mengenakan kembali kemeja yang semalam di kenakan nya, lalu kembali melangkah menuju lemari pakaian Seara.
Sebuah baju koko berwarna putih diambil Anan dan langsung di pakai nya hingga membuat Seara yang sejak tadi memperhatikan Anan itu menitikkan air mata karena teringat sang ayah yang selalu mengajak nya sholat berjamaah di kamar Seara setiap shubuh.
" Hey, kenapa menangis Nona " Anan duduk berjongkok di hadapan Seara dan memandang teduh wajah Seara yang menggelengkan kepala nya pelan.
" Kita sholat sekarang? " Seara mengangguk pelan lalu mencoba berdiri sambil menahan perih di area sensitif nya.
Kedua nya pun mengerjakan sholat dengan Anan sebagai imam nya, Seara di buat takjub dengan suara merdu Anan saat mengumandangkan lantunan ayat suci yang di baca nya saat menjadi imam sholat nya.
Hati nya semakin tentram kala mendengar lantunan do'a yang di Aamiin kan Seara selepas melaksanakan sholat shubuh, sebuah kecupan di kening Seara, Anan berikan ketika Seara selesai mencium punggung tangan nya untuk pertama kali nya.
" Apakah ini akan menjadi pernikahan rahasia? " Seara mencubit pelan pinggang Anan ketika pria yang sudah berstatus sebagai suami nya itu mengajukan pertanyaan atau lebih tepat nya pernyataan kepada Seara.
" Apa Kamu tidak keberatan kalau hal itu terjadi? " Anan hanya terdiam kala Seara mengajukan balik pertanyaan.
" Ada satu hal yang ingin Saya sampaikan kepada Nona, mengenai status Saya sebelum menikahi Nona semalam ".
__ADS_1