
Sedangkan di dapur, keempat wanita dewasa itu sudah menyelesaikan kegiatan memasak dan saat ini sedang
menata makanan di meja makan.
"Unnie, aku panggil anak-ank dahulu ya." Aunty Osi, di jawab anggukan oleh ketiga unnienya.
Masuk lah wanita berambut pirang itu kedalam ruangan bermain baby, menghampiri baby dan Sintia, yang sedang
duduk serius di karpet lantai ruangan. Rose, belum menyadari kalau baby, sedang menangis dalam diam, karena baby dan Sintia, memunggungi tempat Rose, berdiri.
"Baby, jangan menangis, apa unnie ada melakukan kesalahan? Unnie, minta maaf baby." Sintia, sambil mengusap air mata baby.
"Unn ... unn ... unnie, baby kasihan pada mereka." Baby, dengan terbata-bata dan nafasnya sudah mulai tidak teratur lagi.
"Baby, sudah jangan menangis. Maaf ya, unnie tidak akan bercerita yang membuat baby sedih lagi, maaf baby, sudah jangan menangis lagi. Unnie, ikut sedih kalau baby sedih." Ucap Sintia, masih terus menghapus air mata baby. Yang diangguki oleh baby.
"Sayang, hey, baby mengapa? (Sambil membalikkan punggung baby dan menghapus air mata baby)." Aunty Osi.
"Aunty, maaf baby menangis karena aku, menceritakan cerita tentang anak-anak yang telantar, hingga buat baby menangis." Sintia, sambil menundukkan kepala, merasa bersalah.
"Tidak papa, aunty tidak marah. Sekarang waktunya makan, kita temui mommy, ibu dan aunty Chu di meja
makan ya. (Sambil mengangkat dagu dan menatap mata Sintia). Baby, berhenti menangis ya sayang, dada baby akan sakit. (Sambil menggendong baby)." Ucapan aunty Osi, tidak mendapat respons sama sekali dari baby.
***
Sampai lah mereka di meja makan, di mana sudah tersedia banyak makanan dan sudah di tunggu dengan ketiga wanita dewasa.
"By, turun dahulu dari gendongan aunty Osi, sayang kita makan dahulu yuk." Ajak mommy, sambil mengambil alih tubuh baby.
"Oh, mengapa ada air mata di pipi baby, baby menangis kah?" Mommy, saat melihat wajah anaknya. Tidak ada jawaban dari baby. Mommy, melihat aunty Osi.
"Unn, nanti saja. Anak-anak harus makan." Aunty Osi.
"Ah, baiklah. Baby ingin makan apa sayang? Unnie, Rose dan Sinta, makan lah terlebih dahulu.". Mommy.
"Mommy, bisakah baby minum susu cokelat saja. Baby, tidak ingin makan." Pinta baby.
"Tidak sayang, baby harus makan. Sedikit saja ya sayang." Bujuk mommy.
"Baby, tidak menghargai mommy baby dan aunty yang sudah lelah memasak." Aunty Chu dengan nada tidak bersahabat nya.
"Ba ... by ... makan paha ayam saja mommy, tolong." Baby dengan nada sedih dan mata sayu nya.
"Ini baby, tidak ingin mommy suap kah?" Mommy, memberikan baby makan.
__ADS_1
"Tidak, baby makan sendiri. Mommy, makan saja." Baby.
Keempat wanita dewasa itu hanya memperhatikan baby, yang makan dengan lesu. Sedangkan, Sintia, sudah makan dengan tenang. Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang TV.
"Baby, apa sekarang bisa cerita dengan mommy, sayang." Mommy, sedang berhadapan dengan baby, yang
ada di pangkuannya saat ini. Baby hanya diam, moodnya belum kembali membaik. Hingga, akhirnya Sintia, yang menjelaskan.
"Hem ... aunty, Sintia, minta maaf. Baby, sedih karena Sintia, menceritakan keadaan anak-anak di pinggir jalan yang tidak memiliki orang tua dan hidup telantar. Setelah, mendengar itu baby, menangis aunty, baby bilang baby sedih, aunty. Maafkan Sintia, aunty, tidak bisa menjaga, baby." Sintia, sambil memegang erat tangan ibunya.
"Baby, sedih karena mendengar cerita Sintia unn?" Aunty Osi.
"Maafkan Sintia, Jane, kalau ceritanya malah membuat baby sedih." Airin.
"Tidak unn, tidak perlu minta maaf Sintia, unnie. Baby, memang memiliki hati yang lembut, sehingga dia mudah tersentuh dengan cerita ataupun keadaan orang lain. Sintia, aunty tidak marah, jadi jangan takut, ya." Mommy, sambil mengusap jemari tangan baby.
"Baby, bisakah baby berbicara, apa yang baby rasakan sayang. Katakan pada mommy dan aunty, sayang." Aunty Chu, sambil mengusap punggung baby.
"Mom ... mommy ... bisakah mommy, bantu mereka." Baby langsung menatap mata mommynya, dengan air mata di pelupuk matanya.
"Siapa sayang, baby ceritakan dahulu pada mommy apa yang baby ingin kan sayang. Dan satu bulan lagi ulang tahun baby, tema apa yang ingin baby minta, kado apa yang ingin baby minta sayang." Mommy, sambil menciumi jari-jari baby.
"Mommy, bisakah ulang tahun baby tidak usah di rayakan. Apa boleh ulang tahun baby, baby minta mommy untuk berikan tempat tinggal untuk anak pinggiran mom, baby tidak minta apa pun mom, baby hanya ingin kado mommy berikan mereka tempat tinggal, makan dan menyekolah kan mereka mom. Maaf, kalau permintaan baby banyak, mom." Baby, sudah meneteskan air mata.
"Apakah benar mommy, mommy berjanji pada baby?" Baby, sambil menangkup pipi mommy nya dan menatap mata kucing mommynya.
"Apa mommy pernah ingkar janji pada baby? Mommy, berjanji sayang. Bulan depan di hari ulang tahun baby,
yang baby minta sudah akan terpenuhi." Mommy, sambil memegang punggung baby agar tidak jatuh kebelakang.
"Terima kasih mommy, terima kasih mommy, baby percaya pada mommy. Mommy, adalah mommy terthe best baby. Baby, mencintai mommy." Baby, sambil mencium bibir mommynya.
Sementara ketiga wanita dewasa itu hanya menyaksikan dan membatin dalam hati.
Sungguh mulia hatimu sayang, aunty benar-benar tidak ada alasan untuk berhenti menyayangimu dan memberikan hidup aunty kepadamu sayang. Batin Aunty Chu.
Terima kasih sudah meninggalkan malaikat kecil berhati lembut yang hadir di tengah-tengah kami. Baby, benar-benar memiliki hati yang tulus sepertimu. Aunty Osi.
Hatimu benar-benar tulus sayang. Entah apa yang membuatmu memiliki pemikiran dan hati yang dewasa. Aunty janji, aunty akan menyayangi baby sama seperti aunty menyayangi anak aunty sendiri sayang. Batin Airin.
***
"Bu, aku mengantuk." Sintia, sambil menatap ibunya.
"Ah, sudah mengantuk sayang." Airin.
__ADS_1
"Unn, bawa saja Sintia tidur di kamar tamu yang tadi Sintia, tiduri unn. Unnie, istirahatlah sekalian, besok pagi kita berangkat bersama ke agensi, unn." Aunty Chu.
"Iya Unn, bawalah Sintia kekamar. Lihat matanya sudah benar-benar menahan kantuk, unn." Aunty Osi.
"Ah, iya. Unnie dan Sintia ke kamar dahulu Ji, Rose, Jennie. Ayok nak kita tidur." Pamit Airin, yang sudah menggendong Sintia, karena anak itu sudah benar-benar tidak sanggup untuk berjalan lagi.
Setelah kepergian Airin dan Sintia, tersisa lah mommy yang sedang memeluk baby yang tertidur di pangkuannya, sedangkan aunty Osi dan aunty Chu diam mencerna obrolan yang keluar dari mulut baby.
"Jane, apa kamu benar-benar akan mengabulkan permintaan baby?" Aunty Chu.
"Tentu unn, lagian sekalian hitung-hitung membantu mereka dan menambah pahala unn. Toh tidak akan rugi unn,
bahkan yang akan dikeluarkan tidak akan melebihi 2% dari pendapatan dari perusahaanku unn. Lagian yang minta juga baby, unn, selagi aku mommynya mampu, akan aku lakukan unn. Demi kebahagiaan baby." Mommy.
"Unnie, jangan meremehkan mommy baby, unn. mommy baby, orang kaya, usahanya banyak di berbagai bidang, jadi anggap saja kalau yang diminta baby adalah salah satu jalan untuk mengurangi uang mommy baby dan sebagai pahala. Ya, sekalipun yang dikeluarkan sama sekali tidak berpengaruh pada kekayaan mommy baby." Aunty Osi.
"Ah ya, unnie lupa kalau mommy baby, ini adalah miliarder, yang hartanya tidak akan habis-habis. Hanya saja apa sebegitu dewasanya baby? Disaat anak-anak lain meminta berbagai macam kado, bahkan liburan keluar negeri, sedangkan baby, meminta hal yang bahkan orang dewasa saja berpikir-pikir untuk melakukan hal itu." Aunty Chu.
"Entahlah unn, yang jelas baby, benar-benar berhasil membuat diriku sadar akan keadaan. Terkadang unn, aku merasa insecure dengan jalan pikiran baby, yang lebih dewasa di bandingkan aku sendiri yang notabennya adalah mommynya." Mommy.
"Benar unn, aku pun begitu unn. Secara pikirannya benar-benar di luar nalar anak seusianya, bahkan sulit dijangkau orang dewasa." Aunty Osi.
"Tetapi, apa pun yang diminta baby, selama itu baik dan bisa aku penuhi, aku akan berikan unn, Rose." Mommy, sambil mencium bibir baby yang sudah terlelap.
"Unnie dan rose menginap lah hari sudah gelap, tidak baik pulang malam. Istirahat lah di mansion." Mommy.
"Iya, unnie dan Rose akan menginap malam ini di mansion. Kami izin istirahat, kamu pun istirahat lah, kasihan
baby, tidur dengan posisi seperti itu." Aunty Chu.
"Iya unn, aku dan baby, izin istirahat unn. Selamat malam unn, Rose." Mommy, sambil berjalan meninggalkan ruang TV.
"Selamat malam." Aunty Chu dan aunty Osi.
***
Sampai lah mommy, di kamarnya dan baby, dan meletak kan baby dengan sangat pelan. Setelahnya dia berjalan menuju balkon kamar meninggalkan baby dengan dikelilingi bantal guling di sisi tempat tidur. Saat ini perempuan bermata kucing itu sedang menatap langit malam yang cerah dengan taburan banyak bintang, tak lupa bulan yang indah pun ikut menemani.
Apa Kabar sayang? Kamu tahu bulan depan baby akan genap berusia 8 tahun, dan tak terasa juga dengan kepergian mu yang juga sudah 5 tahun lamanya. Sayang, apa kamu bisa melihatku dari sana. Aku benar-benar merindukanmu. Aku rindu suaramu, pelukanmu, senyummu, tawamu, aku rindu semua hal yang ada pada dirimu. Sayang, tidak bisakah kamu memelukku sebentar saja untuk saat ini. Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu. Batin mommy, meneteskan air mata hingga mengenai besi pembatas balkon dengan lantai bawah.
"Eugh ... Mommy." Suara baby, yang meraba-raba tempat tidur untuk mencari keberadaan mommynya.
Mendengar suara anaknya yang mencari dirinya. Wanita bermata kucing itu buru-buru berjalan masuk ke kamar, menutup pintu balkon dan masuk kedalam selimut yang sama dengan baby. Membenarkan kepala baby di letakkan di dadanya, tangan kanannya mengusap punggung sang anak dan tangan kirinya menopang tubuh baby.
"Mommy di sini sayang. Mommy mencintai baby, selamat malam sayang, tidur yang nyenyak. Baby, adalah segalanya untuk mommy." Mommy, sambil mencium kepala baby. Tidak lama dari itu, mommy pun ikut tertidur.
__ADS_1