
Jadi selama ini, teman-teman Jane mendapatkan cerita buruk dari Jane tentang baby dan Laskar. Jane mengatakan kalau Laskar hanya memerasnya dan bermuka dua di depan Daddy Kim, baby anak yang nakal, selalu meminta apa pun padanya.
Hal ini dilakukan Jane agar teman-temannya mendukung perselingkuhan yang dilakukan dia pada cinta pertamanya Hans. Dan benar saja, dia mendapat dukungan dari teman-temannya, walaupun Jichu merasa kalau Laskar dan baby tidak berperilaku seperti itu.
Sementara di dalam rumah Daddy Kim.
"Daddy!" Jane menghampiri Daddy Kim yang sedang duduk di meja makan dengan tatapan kosong.
"Ah, iya sayang." Daddy Kim yang sudah kembali sadar.
"Daddy, memikirkan sesuatu?" Jane.
"Iya, Daddy minta maaf karena sudah gagal menjadi Daddy yang baik untukmu. Maafkan Daddy yang memaksamu menikah dengan laki-laki bajingan itu. Maafkan Daddy karena hal itu membuat princess harus merasakan kegagalan pernikahan dan merasakan perselingkungan yang dilakukan bajingan itu. Daddy, minta maaf sayang." Daddy Kim berdiri dan memeluk Jane.
Jane hanya diam dan menitihkan air mata, sebegitu cintanya Laskar dengan dirinya hingga harus memutar balikkan fakta. Bahkan kesalahan yang dilakukan oleh dirinya, di detik-detik perpisahan mereka, Laskar masih melindungi dirinya. Dia akan berterima kasih dan akan membalas kebaikan Laskar.
"Tidak, Daddy tidak salah, dia yang bajingan. Apa yang terjadi dengan keningnya Dad? dan apa yang dia katakan?" Jane sudah melepas pelukannya pada Daddy Kim.
"Daddy, melemparnya dengan gelas. Daddy, tidak terima dengan apa yang sudah dia perbuat pada putri Daddy. Dia mengakui kesalahannya dan tidak akan menampakkan wajahnya di depan Daddy dan dirimu lagi. Daddy mengusirnya dan anaknya, segera urus perceraian kalian. Sekarang Daddy membebaskanmu memilih pasanganmu." Daddy Kim.
"Iya,Daddy." Jane, pergi bergitu saja keluar dari rumah melihat apakah Laskar dan baby, masih ada di sana, ternyata mereka sudah pergi. Dia memasuki mobil bergabung dengan geng'snya.
"Jane, barusan Laskar berpamitan dan meminta kami untuk menjagamu." Jichu.
"Ah, iya unn. Unnie, bisa antar aku ke apartemenku terlebih dahulu." Jane dengan wajah cemas.
"Iya." Airin mengendarai mobil ke arah apartemen Jane.
Sementara di bandara, sudah ada baby dan Laskar yang sedang menunggu penerbangan mereka. Mereka sedang duduk di kursi tunggu sambil memakan makanan mereka. Kening Laskar sudah di obati sendiri, supir Taxi memberikan Laskar kotak P3K karena tidak enak harus menjadi pusat perhatian dengan kening yang sudah berhenti mengeluarkan darah. Laskar juga sudah mengganti baju yang terkena darah dengan baju yang bersih.
__ADS_1
Di kediaman apartemen Jane. Jane turun terburu-buru masuk ke apartemennya, tanpa menunggu dan menghiraukan panggilan dari geng'snya. Dia mencari keberadaan Laskar dan baby tapi tidak ada, dia memeriksa pakaian Laskar dan baby tapi tidak ada juga. Hatinya seperti ada yang kosong, tapi dia tidak tahu apa.
"Kamu mencari sesuatu Jane. Ah, ini HP mu dari tadi Hans menelponmu." Airin.
"Ah, Iya Unn, aku angkat dulu Unn." Jane, pergi ke balkon kamar menerima panggilan dari Hans. Suasana hatinya kembali dalam mood yang baik lagi dia melupakan suami dan anaknya.
Geng's yang lain sudah duduk di ruang TV, menunggu panggilan telpon yang dilakukan Jane pada Hans. J ikut bergabung.
"Sepertinya sudah tidak ada barang-barang mereka lagi Jane." Airin.
"Iya, Unn." Jane.
"Baguslah unn. Unnie, tidak perlu membuang sampah lagi." Joy.
"Hm." Jane.
"Unn, minggu depan Hans akan menemui Daddy, dia ingin meminta restu untuk menikahiku." Jane.
"Baguslah, dia yang terbaik untukmu Jane. Unnie, ikut berbahagia." Airin.
"Aku ikut bahagia unn." Joy.
"Akhirnya kalian bersatu juga Jane." Nayla.
"Apa tidak terlalu cepat Jane?" Jichu.
"Terlalu cepat apanya unn, kami sudah lama menjalin kasih bahkan sebelum aku menikah." Jane dengan nada tidak terima.
"Tidak, maksud unnie. Kamu bahkan belum mengurus perceraianmu. Dan kamu langsung ingin menjalin hubungan lagi?" Jichu.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa Jichu, dari tadi unnie perhatikan. Kamu selalu berpihak pada Laskar. Kamu menyukainya?" Airin.
Jane yang mendengar pernyataan itu serasa hatinya di tusuk pisau, dia tidak menyukai pertanyaan unnienya.
"Tidak unn. Aku mendoakan yang terbaik untukmu saja Jane." Jichu.
"Iya, terima kasih girl's." Jane.
Selamat tinggal Korea dengan segala ke indahan dan luka. Aku melepaskanmu, semoga hidupmu di limpahi kebahagiaan. Aku akan menjaga anugerah terindah yang telah Tuhan berikan dalam hubungan kita. Batin Laskar yang sudah di atas pesawat.
***
Sampailah Daddy dan Baby di depan rumah sederhana, Laskar membelinya dengan uang tabungannya. Rumah di depan mereka ini yang akan mereka mulai dengan kehidupan baru dan status baru. Di sini dia akan membangun kisah dengan anaknya.
"By, maafkan Daddy, kita harus tinggal di rumah ini dulu." Daddy memegang tangan baby.
"Tidak Daddy, ini sudah lebih dari cukup Daddy. Dimana pun tinggalnya, asalkan baby bersama Daddy, baby akan bahagia Daddy." Baby, menatap mata Daddynya.
"Iya sayang. Daddy, janji akan bekerja keras dan akan memberikan baby kehidupan yang lebih baik lagi sayang." Daddy.
"Baby, percaya Daddy." Baby.
"Ayo, masuk sayang, kita beristirahat." Daddy, di jawab anggukan dengan baby.
Sementara di Korea, di sebuah unit apartemen, terjadi kesunyian. Jane duduk di atas kasur baby melihat sisi kasur yang biasa di tiduri Laskar dan baby. Belum sehari dia sudah merindukan kehadiran suami dan anaknya. Biasanya, dia pulang dari luar apartemen akan di suguhi makanan di atas meja makan.
Saat sesudah makan melihat sekilas baby dan Laskar sedang belajar, melihat sekilas Laskar yang mendongengkan baby hingga terlelap dan mereka akan tidur bersama di kamar baby. Semenjak Jane mengandung anak Laskar, Jane mengusir Laskar dan meminta untuk pisah kamar hingga baby besar tidak pernah satu kamar lagi.
Tidak ada lagi senyum hangat yang bisa dia lihat dari suami dan anaknya, ketika dia di apartemen. Dia merasa hampa, tapi tidak tahu arti dari kehampaannya. Dia mengaku mencintai Laskar, tapi dia belum terlalu yakin dan di tambah lagi dia sedang menjanlin kasih dengan cinta pertamanya. Tidak ingin berlarut dalam kehampaannya, dia keluar dari kamar baby dan memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.
__ADS_1