
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka sampai di taman. Mommy, membiarkan baby berjalan sendiri dengan tangan kanan memegang tali Leo dan tangan kiri memegang rabbit. Sementara ketiga wanita dewasa itu mengawasi baby dari kursi taman yang ada di bawah pohon, mereka berbincang mengenai pekerjaan mereka dan sesekali mata mereka memperhatikan baby yang sedang bermain dengan rabbit dan Leo.
"Tidak terasa baby bulan depan sudah berusia 8 tahun saja. Apa belum ada kepikiran ingin melakukan perayaan ulang tahun baby nanti?" Tanya perempuan berbibir hati.
"Benar, unn, rasa nya baru kemarin baby di lahirkan oleh unnie, but sekarang baby sudah bisa berlari ke sana-kemari. Baby, cepat sekali besar nya". Timpal aunty Osi.
"Iya, aku sebagai mommy nya saja merasa kalau baby cepat sekali besar nya. Padahal, terasa seperti baru kemarin tangan ini memandikan, memapah nya belajar untuk berjalan dan mengajarinya berbicara perkata. Tetapi lihat lah sekarang, baby sudah bisa mandi sendiri, berlari, dan sudah pandai berbicara. Rasanya aku tidak rela melihat baby cepat dewasa, hah ... (Menarik napas dan menghembuskan dengan kasar). Entahlah, unn, baby belum ada membuka obrolan tentang perayaan ulang tahun nya. Tetapi nanti aku nanya baby." Jawab mommy, sambil melihat baby, yang sedang duduk di ayunan bersama rabbit dan Leo. Sementara kedua wanita dewasa di samping nya menanggapi dengan anggukan.
"Tetapi, unn, unnie harus bersyukur karena baby adalah anak yang dewasa pemikiran nya di banding kan anak-anak yang seusia baby. Lihat, dia mengerti keadaan mommy dan aunty nya yang sibuk dengan pekerjaan, dia tidak sama sekali rewel seperti anak pada umum nya. Dia juga jarang sekali meminta apa pun pada kita, kecuali kita yang memberikan nya baru dia memiliki barang itu. Berbeda dengan anak seusia nya yang merengek meminta barang-barang pada orang tua nya. Padahal, baby tahu kalau mommy dan aunty nya orang kaya, apa pun yang dia minta pasti akan dia dapatkan dengan mudah, yakan unn?" Tanya aunty Osi.
"Yah, baby, bisa di bilang anak yang dewasa pemikiran nya di banding kan anak-anak seusia nya. Dia benar-benar mini daddy nya, mulai dari fisik maupun sifat nya, untung nya dia hanya mengambil sedikit sifat mommy nya yang ketika marah persisi seperti mommy nya. Setidak nya masih ada peran mommy nya di dalam diri baby." Timpal aunty Chu, sambil tertawa kecil menjahili mommy baby.
"Astaga, unnie, jahat sekali. Tetapi di pikir-pikir syukur lah baby lebih dominan ke daddy nya, aku benar-benar tidak
terbayang kan kalau baby dominan ke diriku, aku harus menghadapi versi mini diriku yang pasti nya manja dan sangat keras kepala. Benar, Rose, unnie, sangat bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih pada daddy baby, karena sudah menghadir kan dan meninggal kan unnie tidak sendirian setelah kepergian daddy baby, setidak nya unnie bisa melihat dan merawat versi mini dari daddy baby. Hah ... jadi rindu daddy baby. (Sambil menarik napas kasar dan berbicara sendu). Aku, rasa juga begitu, baby, adalah anak yang matang dalam berpikir dan perbuatan nya selalu meluluh kan hati mommy nya ini. Mommy mencintaimu sayang." Mommy.
"Yang sabar unn, aku yakin daddy baby pasti bangga di atas sana karena dia memiliki istri yang tangguh dan baby yang pengertian." Aunty Osi, sambil mengusap lengan mommy. Yang di balas anggukan oleh mommy baby.
"Daddy baby, pasti bangga dengan istri dan anak nya. Gen daddy baby tidak di ragu kan lagi, selain visual nya
yang seperti dewi, sifat yang di turunkan pun bukan main untuk di jadi kan panutan." Aunty Chu.
"Ya, unnie, aku bersyukur karena mendapat pasangan dan keturunan yang sangat sempurna untukku, lihat lah baby, selain cantik dia juga punya kepribadian dan otak yang cerdas." Mommy.
Dianggukin kedua wanita dewasa lainnya. Merekapun lanjut mengobrol dan sesekali melihat kondisi baby.
***
__ADS_1
Berbeda dengan kondisi baby, yang sedang asyik bermain ayunan bersama Leo dan rabbit. Baby, tertarik dengan anak perempuan yang duduk di bawah perosotan dengan memegang perut, seperti orang yang kesakitan. Baby pun menghampiri nya dengan membawa Leo dan rabbit.
"Hai ... mengapa kamu memegang perutmu, apa kamu sedang sakit?" Tanya baby, dengan raut wajah khawatir.
"Perutku sakit, aku belum makan dari kemarin." Jawab anak perempuan.
"Kamu belum makan? mengapa kamu tidak makan?" Tanya baby, yang saat ini sudah berjongkok menyamakan tinggi nya dengan anak perempuan.
"Karena, tidak ada yang bisa di makan, ibu belum mendapat kan uang untuk membeli makan." Jawab anak perempuan.
"Kalau begitu kamu bisa ikut baby ke tempat mommy, dan aunty. Nanti, baby, akan minta mommy dan aunty untuk memberi kamu makan." Ucap baby.
"Tidak usah, terima kasih. Kata ibu tidak boleh percaya dengan orang yang tidak di kenal." Tolak anak perempuan.
"Kalau begitu kenal kan, aku Aluna, kamu bisa memanggilku, baby. Dan siapa namamu?" Tanya baby, sambil menyodor kan tangan kanan nya untuk mengajak berkenalan.
"Aku Sintia, maaf tanganku kotor, jadi tidak bisa bersalaman denganmu." Jawab anak perempuan, bernama Sintia.
"Apa mommy dan auntymu mau menerimaku, lihat lah pakaianku kotor." Sintia.
"Mommy dan auntyku, bukan orang jahat. Jadi, ayo jangan membuang waktu, kasihan perutmu." Baby, sambil menarik Sintia, dengan tangan kanan dan memegang tali Leo dan rabbit di tangan kiri. Menghampiri tempat mommy dan aunty nya.
***
Dari kejauhan mommy dan aunty, sudah memperhati kan baby, dan bertanya-tanya siapa anak perempuan yang baby mereka bawa.
"Baby, bersama siapa, sayang?" Tanya mommy.
__ADS_1
"Mommy, aunty, ini teman baru baby nama nya Sintia dan Sintia ini mommy baby, mommy (Sambil nunjuk mommy) ini aunty Chu (Sambil menunjuk aunty Chu) dan ini aunty Osi (Sambil menunjuk aunty Osi)." Baby, sambil memperkenal kan keluarga nya pada Sintia.
"Hallo, aunty, perkenal kan nama saya Sintia." Sintia.
"Hallo juga sayang". Ujar mommy dan aunty baby.
"Mommy, aunty. Hallo juga saja, tidak usah pakai, sayang," Baby cemburu.
"Astaga, ada yang cemburu, nih, mommy dan aunty nya berbicara sayang pada orang lain." Aunty Osi.
"Wah ,,, wah ,,, akhir nya aunty merasa kan bagaimana rasa nya di posesifin baby. Ah, bahagia nya, aunty." Aunty Chu.
"Maaf, baby, mommy dan aunty tidak akan meulangi lagi. Rasa sayang mommy, dan aunty hanya untuk baby." Mommy, sambil memeluk dan mencium pipi gembul baby. Yang mendapat anggukan dari baby.
"Mommy, aunty, bisa kah kita pergi ke tempat makan terdekat dari sini?" Tanya baby.
"Oh, apa perut kecil baby, ini butuh makan lagi, sayang?". Tanya aunty Chu, sambil mencolek perut baby.
"Bukan, aunty, tetapi Sintia, belum makan dari kemarin. Karena ibunya belum mendapat kan uang dan tidak bisa membeli makan. Jadi boleh kan kalau mommy, dan aunty membeli kan makan untuk Sintia?" Baby, pada mommy dan aunty nya.
"Astaga, kasihan sekali kamu nak. Yasudah, kita ke kedai makan itu saja bagaimana, apa Sintia mau?" Tanya aunty Osi.
"Apa tidak merepot kan, aunty? Aku, takut nanti merepot kan dan membuat ibu marah, kata ibu tidak boleh meminta-minta pada orang lain, lebih baik kelaparan asal jangan meminta-minta." Sintia.
"Ah, begini saja. Anggap saja baby, yang mentraktir kamu. Karena kamu adalah teman baru, baby. Dengan begitu Sintia tidak meminta-minta kan pada orang lain. Bagaimana?" Tanya mommy.
"Baiklah, terima kasih banyak baby, dan aunty." Jawab Sintia.
__ADS_1
"Sama-sama, jadi let's go tunggu apalagi." Aunty Chu, sambil memegang rabbit baby.
Sedangkan baby, berpegangan tangan dengan Sintia dan tetap memegang tali Leo. Mommy, dan aunty Osi mengawasi dari belakang.