BABY ALUNA

BABY ALUNA
Flashback Daddy dan Mommy (4)


__ADS_3

Saat ini Jichu, Jane, Joy dan Nayla tengah berada di kantin, mereka sedang menikmati makanan mereka, hanya Jane yang belum sama sekali menyentuh makanannya.


"Jane, makan jangan di diami makanannya." Nayla.


"Nanti, Nayla, nunggu Boo, dulu." Jane, melirik kesana kemari.


"Boo? Boo siapa unn?". Joy.


"Boo, itu panggilan unnie untuk Laskar." Jane.


"Nah, pucuk di cinta bulan pun tiba, tuh si Laskar, Jane." Jichu.


"Boo." Panggil Jane, berdiri dari duduknya melambaikan tangan.


"Hai princess, hallo unn, kak." Laskar, datang menyapa bersama Rose.


"Boo, duduk sini, unn geser." Jane mengusir Jichu.


"Iya, princess. Sayang tidak apakan Rose ikut gabung." Laskar, duduk di samping Jane.


"Iya Boo, Rose duduklah jangan berdiri seperti tiang listrik. Jangan canggung dengan kami." Jane, memeluk


lengan Laskar.


"Ah, i-ya uun. Hallo kak perkenalkan saya Rose dari Australia. Hai unn." Rose menyapa dan terakhir menegur Jichu.


"Hai Rose, duduklah, bergabung disini. Ah, perkenalkan ini Nayla, dan yang ini Joy." Jichu.


"Rose, panggil kami unnie jangan kakak, berlaku juga untukmu Laskar." Nayla, memberikan intrupsi.


"Iya, unn." Rose dan Laskar.


"Ah, sayang, Boo dan Rose pergi pesan makan dulu ya." Laskar, mengelus jemari Jane.


"Iya, boo, jangan lama." Jane.


"Ayo, Rose." Laskar dan Rose memesan makanan, setelahnya kembali ke meja geng Jane.


"Princess, kenapa belum di makan makanannya?" Laskar, duduk sambil menaruh 1 kota susu cokelat dan


ramen pedas.


"Aku nunggu Boo. Aku, ingin makan bersama Boo. Kenapa boo memesan ramen?" Jane.


"Boo, ingin mencoba, karena Boo belum pernah makan ramen, sayang." Laskar.

__ADS_1


"Ah, kami berasa menjadi obat nyamuk. BTW, Laskar selamat sudah memenangkan hati Queen Bee kami, unnie


titip Jane, tolong jangan sakiti Jane." Jichu, dengan kalimat menyebalkan namun dengan perasaan tulus.


"Iya benar sekali, selamat Laskar sudah memenangkan hati manusia cuek satu ini, tolong jaga sahabat ku,


jangan kamu sakiti." Nayla, menatap tajam mata Laskar.


"Aku titip Jane unnie, tolong cintai dia." Joy. dengan senyumnya.


"Nay, tolong matamu. Mau aku colok pakai garpu!" Jane, dengan muka judes, Nayla melembutkan pandangannya.


"Iya uun, aku akanĀ  mencintai dan menjaga princess dengan sepenuh hati." Laskar, dengan menatap satu per satu geng Jane. Rose sibuk dengan dunia makannya.


"Good, unnie pegang kata-katamu. Makanlah kasihan princess mu dari tadi belum menyentuh makanannya." Jichu.


"Iya unn, princess makanlah. Boo, sudah di sini." Laskar, mengelus rambut Jane.


"Iya Boo, selamat makan, Boo." Jane. Di jawab anggukan oleh Laskar. Sementara the geng yang mendengar itu menampilkan wajah penuh senyum, karena melihat betapa lembutnya perlakuan Laskar ke sahabatnya.


Laskar pun memakan ramen dengan berbagai macam ekspresi wajah yang berbeda, mungkin karena dia baru pertama kali mencoba ramen instan dan salahnya dia memilih ramen ekstra pedas.


UHUK ... UHUK ...


Laskar yang tersedak dengan kuah pedas. Rose, langsung menyodorkan airnya yang belum sama sekali dia minum untuk di berikan pada Laskar.


"Ugh, terima kasih Rose. Iya, princess. Astaga pedas sekali ramennya." Laskar, dengan wajah berkeringat,


hidung merah, wajah merah.


"Iya." Rose.


"Kamu tidak tahan makan pedas, tetapi kamu pesan ramen ekstra pedas?" Jichu memperhatikan Laskar.


"Ugh, aku tidak tahu, unn. Ini pertama kalinya aku makan ramen, unn." Lisa, dengan minum di tangannya.


"Boo, minum dulu. Ini bisa meredahkan rasa pedas ramen." Jane, menyodorkan susu cokelat ke tangan Laskar,


susu cokelat Laskar yang di beli bersama Rose.


"Kamu sama sekali tidak pernah makan ramen? yang benar saja." Jichu, dengan muka tidak percaya.


"Terima kasih, sayang. Iya unn, mommy dan daddy tidak menyetok makanan instan, unn." Laskar, sambil meminum


susu cokelat. Kebetulan mereka semua sudah selesai makan dan saat ini sedang duduk santai menunggu waktu masuk kelas selanjutnya.

__ADS_1


"Hem, Laskar apa yang Jane katakan itu benar. Kamu anak dari konglomerat Tuan Jacob?" Nayla, penasaran dengan perkataan Jane, di kelas tadi.


"Iya, unn." Jawab Laskar, dengan sopan. Jane, menyimak sambil mengelap wajah Laskar yang berkeringat.


"Astaga Jane, dirimu benar-benar mendapat seorang pangeran." Jichu, Nayla, Joy. Mereka semua syok dengan perkataan Laskar.


"Aku tidak berimajinasikan, unn, Nay, Joy." Jane, dengan senyum manis melihat wajah syok gengnya.


"Iya." Jichu, Nayla dan Joy.


"Rose, dirimu tidak sama sekali merasa terkejut?" Nayla, bertanya, karena melihat respons Rose yang biasa saja.


"Tidak unn, diriku sudah lebih dulu syok dari, unnie. Karena Laskar, sudah memberitahu latar belakang dirinya, unn." Rose, dengan tatapan lembut.


"Boo, daddy akan pulang 2 hari lagi. Boo, bisa ikut Jane bertemu dengan daddy?" Jane, yang sudah berhenti mengelap keringat Laskar.


"Iya, boo ikut, princess." Laskar, dengan senyum manisnya.


"Astaga, pantas saja Jane langsung jatuh cinta. Senyummu mengalihkan duniaku." Nayla.


"Benar unn, pantas saja Jane unnie minta untuk di jadikan kekasih." Joy.


"Salah satunya karena senyumnya, bahkan aku minta Laskar, menikahiku." Jawab Jane dengan santainya.


"What's kau bercanda Jane." Jichu.


"Tidak unn, tanyakan saja pada, Boo." Jane memainkan jemari Laskar.


"Apa benar Laskar?" Jichu.


"Iya unn, princess memintaku menikahinya setelah 30 menit kami menjadi pasangan kekasih. Aku akan meminta restu daddy Jane untuk menikah dengannya ketika di hari ulang tahunnya, unn." Laskar, dengan santai.


"Astaga, kamu agresif sekali Jane." Nayla. Di balas tatapan tajam dari Jane.


"Baru kemarin dirimu di ledek dengan dunia novelmu, kau akan jomblo seumur hidupmu, unn. Sekarang kamu mengejutkan kami dengan kabar langsung ingin menikah. Kamu terbaik, unn." Joy. Di balas senyum manis dari Jane.


"Apa tidak terlalu terburu-buru Laskar, Jane? Usia kalian belum 20 tahun. Mengapa tidak menunggu kalian


selesai kuliah saja." Jichu, memberikan pengertian.


"Tidak unn, aku dan Lasker, sudah membahas ini dan kami setuju untuk menikah muda." Jane.


"Iya unn, unnie tenang saja aku akan menjaga dan membahagiakan, Jane." Laskar, mengelus kepala Jane.


"Unnie, mendoakan yang terbaik saja untuk kalian. Jujur unnie, masih syok." Jichu.

__ADS_1


Obrolan mereka terhenti, karena mereka harus masuk kelas mata kuliah selanjutnya


__ADS_2