BABY ALUNA

BABY ALUNA
Trauma Baby


__ADS_3

Matahari pulang kerumah, senja menampakkan dirinya, walaupun malu-malu. Di salah satu ruangan rumah sakit, sudah ramai dengan dipenuhi kaum wanita dewasa dengan objek utama anak perempuan yang tengah tiduran di atas kasur rumah sakit. Sedari pagi tadi, ia belum juga berbicara dengan siapa pun, hanya menjawab singkat seperti haus, lapar, susu.


"By, ingin keluar melihat senja sayang?" tanya aunty Chu.


"Bolehkah aunty?" tanya baby.


"Tentu sayang. Joy tolong bantu bawa tiang infus baby, unnie akan menggendong baby," ucap aunty Chu menggendong baby dan aunty Joy membawa tiang infus menuju rooftop rumah sakit. Mommy Jane, aunty Nayla dan aunty Airin diam di ruangan baby, memberikan baby waktu.


"Bagaimana sayang, indah 'kan senjanya?" tanya aunty Chu mendudukkan dirinya di bangku salah satu rooftop dengan aunty Joy yang duduk di sebelah baby.


"Sangat indah aunty," jawab baby memandang senja yang mulai menampakkan dirinya.


"Baby, boleh aunty bertanya pada baby?" tanya aunty Chu.


"Iya aunty," jawab baby masih melihat senja.


"Kenapa baby mendiamkan mommy, apa mommy menyakiti baby, sayang?" tanya aunty Chu dengan hati-hati.


"Tidak, mommy tidak menyakiti baby, aunty," kata baby.


"Lalu kenapa baby mendiamkan mommy, sayang?" tanya aunty Joy bertanya sambil memperhatikan siluit baby.


"Baby tidak suka mommy membahas paman jahat. Baby tidak suka aunty, baby bukan anak paman jahat. Baby anak Daddy Laskar!" tekan baby tiba-tiba emosional dan menatap aunty Joy dan aunty Chu dengan bergantian.


"Paman jahat?" tanya aunty Joy bingung dengan seseorang yang dimaksud baby.


"Paman Hans, by?" tanya aunty Chu untuk memastikan.


"Iya aunty, baby bukan anak paman jahat. Paman jahat yang melukai baby, paman jahat menculik baby. Paman jahat membuat baby masuk rumah sakit dan koma. Paman jahat yang membuat Daddy dan mommy berpisah. Baby tidak suka paman jahat aunty, dia melukai baby, dia membakar tubuh baby. Itu sakit aunty, itu menyakitkan!" pekik baby sambil menangis.


"Iya sayang, paman jahat sudah grandpa masukkan kepenjara sayang. Tidak ada lagi yang mengganggu baby dan mommy lagi, sayang," ucap aunty Joy memeluk baby menenangkan ponakannya.


"Baby di bakar?" tanya aunty Chu mencerna kata-kata baby.


"Iya aunty, paman jahat itu membakar bahu baby dengan rokok. Baby sudah berteriak kesakitan tapi paman jahat, terus menyakiti baby," ucap baby menangis di pelukan aunty Joy.


"Sayang, hei mana yang sakit, mana biar mommy sembuhkan. Mommy minta maaf sayang, baby bukan anak paman jahat, baby anak Daddy dan mommy. Paman jahat sudah mendapat balasannya. Tunjukkan pada mommy dimana paman jahat melukai baby," ucap Mommy Jane tiba-tiba menghampiri mereka dan berlutut di depan baby membalikkan tubuh putrinya untuk berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Di sini mommy, ini menyakitkan. Baby terus bermimpi, dia jahat mommy, dia memukul baby, membakar baby, dia mengurung baby di ruangan gelap, berdebu, baby susah bernafas mommy," adu baby dengan lirih, menunjuk bahunya yang ada beberapa titik bekas luka bakar rokok.


Aunty's yang melihat itu sedih dan marah. Bagaimana bisa seseorang yang mereka percayai akan menjaga sahabatnya adalah seorang psikopat.


"Iya sayang, maafkan mommy, ya. Baby tidak akan merasakan itu lagi sayang. Baby akan selalu bahagia, tidak ada kesedihan dan rasa sakit lagi, sayang," ucap Mommy Jane memeluk anaknya yang menangis sesenggukan mencurahkan traumanya.


"Itu menyakitkan mommy, itu sakit, sakit aunty's," adu baby dengan menangis pilu.


Aunty's yang mendengarnya pun ikut merasakan dan menitihkan air mata. Tak terbayangkan jika harus berada di posisi baby.


"Iya sayang, maaf, maafkan mommy sayang. Sudah jangan menangis lagi, ya, nanti dada baby sakit, sayang," kata Mommy Jane mengelus punggung dan menciumi rambut baby yang masih sesegukan.


"Jane, unnie rasa baby harus di bawa ke psikiater anak. Cek trauma baby, takutnya itu akan terbawa hingga baby dewasa nanti," usul aunty Airin yang sedari tadi memperhatikan obrolan mereka sambil menitihkan air mata karena mendengar isi hati baby.


"Iya Jane, betul yang di katakan unnie. Sebaiknya berikan baby penanganan atas rasa traumanya, kasihan baby harus hidup dengan bayang-bayang kejadian masa lalunya," timpal aunty Nayla angkat bicara.


"Iya, nanti akan aku atur jadwal baby dan psikiater anak untuk menangani trauma baby," saut Mommy Jane masih di posisi yang sama.


"Unn, sebaiknya kita masuk. Senja sudah berakhir dan malam juga sudah tiba, kasihan Baby kedinginan," ajak aunty Joy.


"Ayo sayang, berhenti menangis, ya. Mommy akan sedih kalau baby sedih," ucap Mommy Jane menggendong baby dan menenangkan putrinya di sepanjang lorong rumah sakit.


"Minum dulu sayang, jangan di ingat lagi ne. Sekarang ada mommy yang akan menjaga baby," tutur Mommy Jane memberikan baby minum untuk menenangkan putrinya.


"Sudah, terima kasih mommy," kata baby sudah duduk di atas kasurnya.


Tok ... tok ... tok ...


Masuklah Suster yang mengantar makan malam baby.


"Permisi Miss, saya mengantar makan malam baby," ujar Suster meletakkan makanan baby yang diterima mommy Jane.


"Iya, terima kasih Sus," kata Mommy Jane.


"Sama-sama Miss, saya permisi. Cepat sembuh baby," pamit Suster keluar dari ruangan baby setelah melihat respons baby dengan senyumnya.


"Makan dulu sayang," ujar Mommy Jane mengelap tangan baby dengan tisu basa terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya mommy," kata baby.


"Makan yang banyak sayang biar cepat sembuh, ya," ucap aunty Airin mengelus rambut baby yang sudah mulai di suapi mommynya. Baby mengangguk-anggukkan kepala.


Mereka menyaksikan baby yang sedang di suap mommy Jane dengan antengnya. Anak itu tidak banyak berbicara setelah makan, mungkin karena masih merasa sedih dengan luka lamanya yang mengingatkannya kembali dan bisa juga karena faktor kekenyangan, hingga membuat dia merasa mengantuk dan ingin tidur.


"Mommy, temani baby tidur disini," pinta baby meminta mommynya tidur disebelahnya.


"Iya sayang, baby sudah mengantuk, hm. Ayo tidur, akan mommy nyanyikan baby lagu untuk pengantar tidur," ajak Mommy Jane bernyanyi sambil menepuk-nepuk punggung baby.


Aunty's yang lain sedang keluar membeli makan malam untuk mereka dan mommy Jane. Karena mereka sedari tadi hanya memperhatikan baby yang sedang di suapi mommy Jane.


"Unn, aku kasihan dengan baby. Sungguh kejam Hans menaruh trauma yang sangat besar pada baby," sendu aunty Joy.


"Iya, aku ikut pilu dengan kejadian yang di lalui baby," lirih aunty Nayla.


"Kalian tenang saja, nanti unnie akan katakan pada Uncle Kim untuk membuat Hans merasakan hal yang lebih kejam lagi dari apa yang dia perbuat pada baby," usul aunty Chu.


"Iya Ji, unnie setujuh. Laporkan pada uncle Kim," timpal aunty Airin.


Mereka sedang berjalan menuju kekamar baby setelah selesai membeli beberapa hidangan makan malam mereka.


Klik ... Membuka pintu kamar baby dengan hati-hati, takut baby bangun.


"Jane, kemari bergabung bersama, kau harus makan malam juga. Kami sudah membelikan mandu makanan ke sukaanmu," ajak aunty Airin membuka kemasan makanan di bantu yang lainnya.


"Iya unn," kata Mommy Jane melepaskan pelukannya pada baby dan turun dari kasur baby dengan pelan-pelan, takut baby terbangun.


"Mari makan," ajak aunty Chu membuka suara setelah mereka selesai membuka semua bungkus makanan.


"Makan," saut mereka kompak menjawab.


Setelah selesai makan aunty's pulang, itu atas permintaan mommy Jane. Mommy Jane kasihan dengan aunty's yang terus menemani dirinya dan baby. Mommy Jane juga mengerti kalau geng'snya harus bekerja dan melakukan kegiatan lainnya.


Mommy Jane menyakinkan geng's kalau dia sanggup untuk menjaga baby. Kalau ada sesuatu yang berat barulah mommy Jane akan meminta bantuan aunty's. Sekarang hanya ada mommy Jane dan baby di ruangan putrinya. Mommy Jane memeluk baby sambil menepuk-nepuk punggung baby yang sangat nyaman di alam bawah sadarnya. Mommy Jane memperhatikan muka baby.


Cepat sembuh sayang. Mommy mencintai baby, batin mommy Jane mencium pipi baby.

__ADS_1


__ADS_2