
Setelah 2 Minggu lamanya, luka yang di dapat baby, sudah menutup, jahitannya sudah dibuka 1 Minggu lalu. Saat
ini mommy, dan baby, sedang berada di dalam mobil menuju ke apartemen aunty Airin, dan Sintia unnie. Aunty Chu, dan aunty Osi, akan menyusul, karena merekamasih ada beberapa pekerjaan yang belum di selesaikan.
"Mom, apa yang harus kita bawa untuk merayakan apartemen aunty Airin dan Sintia unnie." Baby, yang duduk di kursi depan samping mommynya yang sedang menyetir mobil.
"Mommy, juga belum tahu, sayang. Bagaimana kalau kita membeli perlengkapan dapur untuk apartemen baru aunty Airin dan Sintia unnie baby?" Tanya mommy, sesekali melirik baby.
"Iya mom, kalau begitu kita bisa berhenti dulu di pusat perbelanjaan perabotan rumah, mom. Mom, apa baby boleh minum susu coklat?" Tanya baby.
"Iya sayang, nanti kita mampir pusat perbelanjaan perabotan rumah. Baby haus, tunggu sebentar sayang, sebentar lagi kita mencapai lampu merah." Mommy, memberhentikan mobilnya karena lampu merah dan mengambil susu coklat, membukanya dan memberikannya pada baby. Tidak lupa dengan memberi alas pada baju baby, agar ketika tumpah tidak mengenai bajunya.
"Terima kasih, mommy." Baby, dengan senyum manisnya.
"Iya sayang, nikmati susu baby." Mommy, mengelus rambut baby.
Mobil kembali berjalan dan berhenti disalah satu pusat perbelanjaan perabotan rumah. Baby, juga sudah menyelesaikan kegiatan minum susu coklatnya.
"By, sini mommy, lap dulu tangan, baby." Mommy.
"Iya, mom." Baby. Mommy, mengelap kedua tangan baby.
"Ayo, sudah selesai by, ingin mommy gendong atau jalan sendiri sayang?" Mommy.
"Baby, jalan sendiri saja, mommy." Baby, dengan senyumnya.
"Iya, sayang. Tunggu mommy, bukakan pintu dulu untuk tuan putri mommy, ini." Mommy, turun memutari mobil
dan membuka pintu depan baby. Menyodorkan tangannya yang langsung diterima baby.
"Terima kasih mommy, cantik." Baby.
"Sama-sama, tuan putri." Mommy, menggenggam tangan baby, dan memasuki pusat perbelanjaan perabotan.
"By, bagaimana dengan hiasa rumah, seperti; guci, piring atau gelas sayang?" Tanya mommy, bertanya pada
baby.
"Boleh guci mom, kalau piring atau gelas baby rasa aunty Airin, sudah memilikinya, mom. Bisa juga di tambah beberapa peralatan memasak yang sudah canggih, mom." Baby, memberikan saran pada mommy.
"Ah, benar sekali. Pintarnya babynya mommy ini." Sambil mencium kepala anaknya. Karena baby, sedang
duduk di keranjang belanja menghadap mommynya.
"By, bagus yang kanan atau yang kiri sayang gucinya?" Tanya mommy, bertanya pada baby.
"Yang kanan mom, warnanya elegan dan soft baby, suka." Baby.
"Ayo, by, lukisan yang bagus yang mana sayang?" Mommy.
"Yang itu mommy, gambar bunga. Sepertinya aunty Airin, menyukai bunga mommy. Jadi ambil yang itu saja
mommy, warnanya juga pas dengan guci tadi mom." Baby, menjelaskan.
"Iya, sayang." Mommy.
Ketika sedang melihat-lihat, mata baby, tertuju pada salah satu lampu tidur dengan ornamen boneka salju. Karena, tertarik iapun meminta pada mommynya.
"Mom, apa baby boleh membeli itu untuk Sintia unnie, mom?" Tanya baby.
"Tentu sayang, hanya satu untuk sulgi unnie. Apa baby, tidak ingin juga memilikinya untuk di kamar baby?" Mommy, sambil mengambil 1 lampu tidur boneka salju.
"Terima kasih mommy. Tidak mom, baby tidak perlu itu mom. Baby, hanya perlu pelukan mommy." Baby, dengan senyum manisnya.
"Uh, manis sekali kesayangan mommy, ini." Mommy, mencium kedua pipi gembul baby, yang kegelian.
__ADS_1
"Apa semuanya sudah, sayang?" Mommy.
"Sudah mom, ayo ke apartemen Sintia unnie, mom." Baby.
"Iya sayang, kita kekasir dulu." Mommy.
"Totalnya 33.270.000 Nyonya." Ucap kasir.
"Tolong bawa belanjaan saya ke mobil." Mommy, sambil memberikan kartu pada kasir.
"Baik, Nyonya." Sambil mengembalikan kartu mommy, dan menyuruh pelayan pria membawakan belanjaan baby, ke mobil.
"Ayo, sayang kita lanjut perjalanan." Mommy, sambil menggenggam tangan baby.
"Iya, mom." Baby.
Setelah semua urusan selesai mereka melajukan mobil ke apartemen aunty Airin dan Sintia unnie. Setelah sampai
di lobby, mommy meminta tolong untuk satpam membawakan belanjaan yang dibeli tadi menuju lantai apartemen aunty Airin dan Sintia unnie.
"Pak tolong bawa belanjaan yang ada di bagasi mobil saya ke apartemen atas nama Airin, dan ini untuk bapak." Mommy, sambil memberikan kunci mobil dan 5 lembar uang merah 500.000.
"Iya, Nyonya. Terima kasih, Nyonya." Satpam.
"Sama-sama paman." Baby.
"By, ingin mommy gendong atau berjalan sendiri." Mommy.
"Berjalan sendiri saja, mommy." Baby.
"Oke, sayang." Mommy.
Masuklah mereka kedalam lift yang kebetulan ada 1 pria dewasa kisaran usia 30 tahun.
"Ah, Antony. Baik. Kamu sendiri apa kabar?" Mommy, sambil menyambut kedua tangan baby yang tiba-tiba minta di gendong olehnya.
"Aku juga baik. Oh, siapa perempuan cantik ini?" Tanya Antony.
"By, beri salam pada paman Antony, sayang, ini kakak tingkat mommy waktu mommy kuliah dulu. Dan Antony, ini
putriku." Mommy, saling mengenalkan mereka. Namun, baby, sama sekali tidak bergeming.
"By, berisalam dulu pada paman Antony." Mommy, membujuk baby.
"Ah, tidak papa Jane, mungkin putrimu merasa asing karena tidak pernah melihat aku." Antony.
"Iya, maaf Antony." Mommy, sambil mengusap punggung baby.
"Tidak papa Jane, kau tinggal di sini Jane?" Tanya Antony.
"Tidak, aku hanya mengunjungi rumah unnieku." Mommy.
"Ah. Hanya berdua saja, suamimu tidak ikut Jane?" Tanya Antony.
"Tidak, suamiku sudah meninggal." Mommy. Mendengar perkataan mommy, baby, memperkuat cengkraman
pada baju bagian belakang mommynya. Seolah-olah baby, tidak nyaman dengan pembahasan yang barusan.
"Ah, maaf Jane, aku tidak tahu. Aku, turut berduka cita." Antony.
"Iya, tidak papa.Terima kasih." Mommy, mengelus punggung baby, memberikan kenyamanan.
"Ah, boleh aku minta nomor hp mu?" Antony.
"Maaf paman, hp mommy baby yang pegang dan baby tidak suka paman menyimpan nomor hp mommy." Ujar baby, yang tiba-tiba menjawab dengan suara tegasnya, masih di posisi memeluk mommynya.
__ADS_1
"Ah, maaf. Sepertinya kami harus pamit dulu. Kalau begitu kami duluan." Mommy, dan baby, keluar dari lift.
"Iya Jane, hati-hati." Antony. Tidak mendapatkan jawaban karena pintu lift sudah tertutup kembali.
Sepanjang lorong menuju unit apartemen Irene dan sulgi, mommy menanyai sikap baby di dalam lift tadi, karena anaknya tidak seperti biasanya.
"By, kenapa baby seperti itu pada paman Antony. Paman Antony, orang baik, sayang." Mommy, memberikan penjelasan.
"Baby, tidak suka, mommy." Baby, menjawab dalam pelukan mommy.
"Kenapa by? Babykan baru berkenalan dengan paman Antony. Kenapa langsung tidak suka?" Mommy, dengan sedikit menaikkan nada.
"Baby, tidak suka mommy. Kenapa mommy, memaksa, baby. Baby, tidak suka ya tidak suka." Baby, berontak di pelukan mommy, minta di turunkan.
"Oke-oke mommy, minta maaf, jangan berontak sayang, nanti baby, bisa jatuh." Mommy.
"Turunkan baby, mom." Baby, kesal pada mommynya.
"Ne sayang." Mommy, menurunkan baby. Ketika hendak memegang tangan baby, tangan mommy di hempas dengan halus. Baby, masih kesal dengan mommynya.
"Oh sayang, mommy kan sudah minta maaf, kenapa baby mendiamkan, mommy." Mommy. Namun, tidak payah
mendapat respon dari baby.
Hingga tibalah mereka di depan pintu apartemen Airin dan Sintia. Mommy, menekan bel, tak berapa lama pintu
di buka oleh aunty Airin.
"Oh, hai Jane, hai baby." Airin.
"Hai unn/hai aunty." Mommy dan baby.
"Silahkan masuk, kebetulan Sintia unnie baby, sedang menonton di ruang TV." Aunty Airin, memandu jalan.
"Aunty, baby bermain dengan Sintia unnie." Baby, karena sudah melihat keberadaan unnienya.
"Iya sayang, bergabunglah." Aunty Airin. Baby, pergi bergabung dan tak menoleh pada mommynya.
"Ah, apa ada masalah antara dirimu dan baby, Jane?" Airin.
"Hah, aku juga tidak tahu unn. Tiba-tiba perubahan sikap baby, berubah karena tadi kami satu lift dengan Kakak tingkat kuliahku dulu, unn. Sikap baby, benar-benar jauh berbeda dengan baby yang aku kenal unn. Dan aku tidak sengaja menaikkan nadaku ketika menegur baby tadi." Mommy.
"Mungkin baby merasa seseorang akan mengambil mommynya. Anak kecil itu bisa merasakan hal yang baik dan buruk, Jane. Dan mungkin baby salah paham ketika kamu menaikkan suaramu, baby pikir mungkin kamu sedang membela kakak tingkat mu." Airin, sambil menyuguhkan segelas jus stroberi pada mommy.
"Iya unn, padahal kami hanya mengobrol biasa saja unn, dan ketika Antony, ingin meminta nomorku, baby langsung menolaknya mentah-mentah unn, aku tidak masalah unn, akupun tak ingin memberi nomor hp ku, hanya saja aku tak suka dengan sikap baby unn". Mommy menjelaskan.
"Fix itu artinya baby merasakan kalau kakak tingkat mu itu memiliki aura yang tidak baik. Kamu, harus lebih sabar lagi Jane dalam menghadapi baby. Harus lebih lembut lagi dalam menyikapinya, ingat baby tetaplah anak-anak". Airin.
"Iya, unn." Mommy, sambil meminum jus stroberi.
"Ah, Jane, unnie minta maaf belum sempat menjenguk baby, ketika sakit. Unnie, baru tahu ketika baby, melepas jahitannya." Airin, dengan nada menyesalnya.
"Tidak apa unn, lagian baby juga sudah baikan unn. Lihat sekarang dia bisa merajuki mommynya." Mommy, sambil melirik baby, yang sedang menonton dengan unnienya.
"Hahah, ada-ada saja kamu ini Jane. Unnie, antar susu coklat baby dulu." Airin.
"Ah, unn. Air putih saja, baby sudah minum susu coklat di mobil tadi." Mommy.
"Iya." Airin.
"Uhh, serius sekali menontonnya, sayang. By, minum dulu." Airin, menegur Sintia dan baby, yang fokus menonton
film kartun.
"Terima kasih aunty." Baby, sambil meminum air putih.
__ADS_1