BABY ALUNA

BABY ALUNA
Tolong Jemput Baby (2)


__ADS_3

"Ugh ... Daddy," lirih Baby dengan suara pelan.


Mommy Jane langsung berdiri menghampiri kasur baby. Daddy Kim berada di sebelah baby.


"Iya sayang, ini mommy. Baby butuh sesuatu sayang?" tanya mommy Jane sambil mengelus pipi baby.


Daddy Kim menekan tombol yang terhubung ke panggilan dokter.


"Daddy mommy, Daddy," lirih baby dengan wajah pucatnya.


"Iya sayang, sebentar ya," saut mommy Jane.


Aunty's sudah memalingkan muka menahan air mata, kasihan pada baby yang harus mendengar kabar kalau Daddynya sudah meninggal. Daddy yang dia cintai, cinta pertama serba Daddy, harus di pisahkan dengan kematian.


Tidak lama Dokter datang dan memeriksa keadaan baby. Setelah dirasa aman, Dokter berbicara.


"Ah, tuan. Cucu anda sudah sadar dari pengaruh obat bius. Kemungkinan nanti malam dia akan merasakan pusing di kepala dan suhu tubuh sedikit tinggi akibat dari benturan dan luka jahit yang dia terima. Atau bahkan dia akan muntah-muntah, untuk itu biarkan dia mengeluarkan isi perutnya. Setelahnya tolong berikan dia minum hangat untuk menetralkan tenggorokannya," tutur Dokter menjelaskan keadaan baby.


"Iya Dok, terima kasih," ucap Daddy Kim.


"Sama-sama tuan, kalau begitu kami pamit dulu tuan. Cepat sembuh adik manis," pamit Dokter dengan senyumnya. Baby yang masih lesu hanya tersenyum lemah.


"Sayang, ingin minum?" tawar mommy Jane menawarkan baby yang terus memegang erat jemari tangan mommynya.


"Iya mommy," ucap baby.


"Hati-hati sayang," kata mommy Jane membantu memberi minum pada baby.


Setelah minum, baby diam saja menatap daddy Kim. Daddy Kim yang sadar itu pun bertanya.

__ADS_1


"Baby butuh sesuatu sayang?" tanya daddy Kim.


"Grandpa, gendong," pinta baby dengan muka melasnya.


Daddy Kim yang tak tega, akhirnya berdiri dan menggendong baby dengan bantuan mommy Jane. Daddy Kim memperlihatkan gedung-gedung tinggi dan jalanan lalu lalang dari jendela ruangan baby. Baby menikmati itu sambil meletakkan kepalanya di bahu daddy Kim.


"Mommy, baby rindu Daddy. Tolong telepon Daddy. Katakan baby sakit, Daddy akan langsung datang menemui baby mommy," pinta baby masih dengan kepala di bahu grandpanya.


"Hm ... Sayang. Bisa mommy bicara," ucap mommy Jane menatap dalam mata baby.


"Iya mommy," saut baby dengan menegakkan kepalanya dari bahu daddy Kim, menatap mata kucing mommynya.


"By, Daddy dan Mimi mengalami kecelakaan mobil ketika ingin ke bandara. Daddy dan Mimi ingin menemui baby yang sedang dalam penanganan Dokter," tutur mommy Jane menjeda ucapannya.


"Daddy dan Mimi baik-baik saja 'kan mom?" tanya baby meneteskan air mata.


"Daddy, Mimi dan little baby sudah di surga sayang bersama grandpa dan grandma baby," ungkap mommy Jane mengelus pipi baby sambil meneteskan air mata.


"Tidak, mommy berbohong. Grandpa, mommy berbohong! mommy pembohong! Daddy masih hidup. Baby tidak suka mommy pembohong! Aunty's, mommy berbohong! baby tidak suka!" pekik baby menangis meninggikan suaranya menepis tangan mommynya.


"Sabar sayang, cucu grandpa kuat. Ikhlaskan Daddy sayang, bukankah baby menyayangi Daddy, sayang. Kalau baby menyayangi baby harus mengikhlaskan Daddy. Baby harus terus berdoa agar Daddy di berikan Tuhan tempat terbaik di sana sayang. Baby menyayangi Daddy, tapi Tuhan lebih menyayangi Daddy, sayang," tutur daddy Kim mencium rambut baby dan mengelus punggungnya.


"Daddy tolong Jemput baby, ayo Daddy bawa baby," lirih baby.


"Sayang, hei. Tidak boleh bicara seperti itu sayang. Baby masih ada mommy, aunty's dan grandpa," ucap mommy Jane mengambil alih tubuh baby dari daddy Kim.


"Mommy tolong, bilang pada Daddy baby ingin ikut, baby ikut mommy," ucap baby menatap dengan sendu mata mommynya.


"Tidak sayang, baby masih ada mommy. Baby tega meninggalkan mommy sendiri disi sayang?" tanya mommy Jane sudah ikut menangis.

__ADS_1


"By, ikhlas Daddy, sayang. Baby banyak kirimkan Daddy doa sayang. Minta pada Tuhan untuk menjaga Daddy di sana. Daddy akan sedih melihat baby seperti ini dan Daddy tidak suka melihat baby melukai hati mommy Jane dengan perkataan baby tadi. Baby ingin Daddy kecewa sayang?" tanya aunty Chu.


"Baby, masih ada aunty's yang akan menemani baby sayang. Baby tidak sendiri sayang," tutur Airin.


Sementara aunty's lainnya menyimak sambil meneteskan air mata. Daddy Kim pun, menyimak pembicaraan mommy dan anak itu, dia sedih dengan nasib cucu semata wayangnya.


"Maaf mommy, maafkan baby mommy. Mommy jangan sedih, nanti Daddy kecewa dengan baby, baby tidak ingin itu terjadi mommy. Sorry mommy," lirih baby menghapus air mata mommy Jane dengan satu tangan yang tidak ada infus.


"Iya sayang, mommy tidak akan sedih lagi kalau baby berhenti menangis sayang. Mommy akan menyayangi dan menjaga baby. Mommy mencintai baby," ucap mommy Jane menghapus air mata putrinya dengan 1 tangan, sementara 1 nya lagi digunakan untuk menopang tubuh baby di gendongannya.


"Iya mommy, baby tidak sedih lagi. Mommy ayo temani baby tidur. Mommy tidur di sebelah baby, tolong peluk baby," pinta baby yang sudah berhenti menangis walaupun napasnya masih belum kembali normal.


"Iya sayang, apa pun untuk baby," ucap Mommy Jane meletakkan baby di atas kasur dan kemudian ia menidurkan tubuhnya di kasur baby. Memeluk dan menyanyikan lagu untuk mengantar tidur putrinya. Daddy Kim menyelimuti mereka berdua. Hingga beberapa saat anak dan ibu itu tertidur bersama. Kelelahan karena habis menangis dan syok dengan kejadian hari ini.


"Uncle pulanglah, bukankah uncle besok ada penerbangan ke Swiss. Kami akan menjaga Jane dan baby, uncle," ucap Airin.


"Iya, uncle pulang dulu. Maaf merepotkan kalian. Kabari uncle jika terjadi sesuatu. Uncle titip Jane dan baby," pamit daddy Kim mencium kepala baby dan mommy Jane kemudian meninggalkan ruang rawat baby.


"Iya uncle," Merek kompak.


Setelah kepergian daddy Kim.


"Kasihan sekali Jane unnie, baru ingin memulai keluarga yang utuh. Tapi suaminya meninggal bersama istrinya," lirih Joy dengan sendu memperhatikan baby dan mommy Jane.


"Kita tidak tahu takdir kita seperti apa, tapi yang jelas setidaknya dia sudah dipertemukan dan sudah meminta maaf pada suaminya," ucap Nayla.


"Jane, Jane, karma mu sungguh berat. Suami memiliki istri lain, meninggal dengan istrinya juga sambil membawa cinta Jane sampai mati. Harus menjadi orang tua tunggal untuk putri semata wayangnya," lirih Airin.


"Hah ... Kasihan baby, masih kecil harus kehilangan cinta pertama dan terbesar dalam hidupnya. Sekalipun duka yang dia terima teramat besar, tapi baby masih memikirkan perasaan mommynya. Dia mengutamakan perasaan mommynya. Dan Jane harus menerima karmanya dengan menjadi orang tua tunggal untuk baby. Tuhan memberikan Jane kesempatan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama baby. Semoga dengan semua kejadian ini, Jane bisa lebih dewasa lagi dalam mengahadapi keadaannya yang sekarang sudah ada baby di hidupnya," tutur aunty Chu.

__ADS_1


"Semoga unn, Ji." Mereke kompak sambil memperhatikan mommy dan anak itu.


__ADS_2