
Sementara di salah satu kamar di lantai atas, terdapat seorang anak perempuan berusia 7 tahun yang baru saja bangun dari tidurnya. Dia, mencari keberadaan mommy kesayangannya. Anak perempuan berusia 7 tahun itu pun turun dari tempat tidurnya dengan hati-hati dan mencari mommynya di ruang penyimpanan pakaian dan aksesoris mommynya namun tidak ada. Kemudian, dia pergi kedepan pintu kamar mandi namun, tidak juga mendengar suara air, yang artinya mommynya tidak ada didalam kamar mandi. Akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan memanggil mommynya dari lantai atas. Mengapa tidak turun sendiri? Jawabannya adalah: karena dia trauma dengan kejadian yang menimpanya ketika berusia 3 tahun.
"Mommy ... mommy ... baby, sudah bangun. Bisakah mommy menemui baby di atas, baby takut, mommy!" Teriak baby, sambil mengeraskan suaranya namun dengan nada yang sopan.
Sementara di lantai bawah tepatnya di ruang TV, obrolan keempat wanita dewasa itu terhenti karena mendengar suara dari lantai atas. Dan tak menunggu lama mommy, langsung menjawab panggilan sang anak.
"Iya ... tunggu mommy, sayang. Mommy, akan ke sana." Mommy.
"Unn, Rose aku ke atas menghampiri baby dahulu." Izin mommy, pada ketiga wanita dewasa lainnya.
"Iya Unn, segeralah hampiri baby. Takut baby turun sendiri, **unn**." Rose.
"Iya." Mommy, melangkah naik ketangga kelantai 2.
"Ah, mengapa baby tidak turun sendiri?" Tanya Airin, dengan penasaran.
"Baby trauma karena ketika usianya 3 tahun baby jatuh dari tangga dan menerima beberapa jahitan di kepalanya dan Jane juga tidak membiarkan baby turun sendiri unn. Berakhir lah setiap kali baby akan turun, baby akan memanggil mommy nya atau kami, kalau kami tidak ada baby akan meminta tolong pada pelayan yang ada di rumah, unn." Aunty Chu.
"Astaga, kasihan sekali baby." Airin.
***
Sementara dilantai atas terdapat wanita dewasa dan anak perempuannya yang terlibat dalam dialog pembicaraan.
"Selamat malam, baby nya mommy. (Menghampiri sang anak dan menggendongnya). Apa tidur baby nyenyak?" Mommy.
"Selamat malam juga mommy, tidur baby nyenyak, tetapi lebih nyenyak lagi kalau tidur di pelukan mommy. Mengapa mommy meninggalkan baby dan ke mana aunty dan Sintia, mom?" Baby, sambil menyembunyikan wajahnya ditekuk leher mommynya.
"Maaf sayang, mommy tadi sedang mengobrol dengan aunty di lantai bawah sayang, setelah menidurkan baby
di kamar. Maaf ya, besok-besok baby akan bangun dalam pelukan mommy, sayang. Aunty, sedang di ruang TV dan Sintia sedang tidur di kamar tamu sayang. Ayo, kita hampiri aunty, dan sebelum itu, mommy akan membantu baby untuk mandi dan mengganti baju baby dengan baju tidur." Mommy, sambil mengusap punggung baby dan menciumi kepala anaknya.
__ADS_1
"Iya mommy." Baby.
Setelah selesai menyiapkan baby, sekarang mommy dan baby, sedang menuju keruang TV. Di mana di sana sudah ada aunty-aunty dan Sintia yang sudah bangun.
"Hay baby, apa tidur baby nyeyak sayang?" Anty Osi.
"Hay juga aunty, tidur baby nyenyak. Tetapi akan lebih nyenyak kalau baby tidur dan bangun di pelukan mommy, aunty." Baby.
"Maaf sayang, mommy baby, aunty pinjam tadi, untuk membahas baby yang akan satu lingkungan sekolah dengan Sintia." Aunty Osi.
Mommy, sedang mengatur posisi untuk mendudukkan dirinya dengan nyaman agar sang anak nyaman juga.
"It's okay aunty, baby maafkan aunty. Lain kali aunty kalau mau pinjam sesuatu pada orang lain, aunty jangan lupa bilang pada orangnya, ya." Baby, pada aunty Osi, mengingatkan aunty. Yang mendapat respons menahan tawa dari mommy dan auntynya yang lain
"Iya sayang, terima kasih sudah mengingatkan aunty." Aunty Osi.
"Sama-sama aunty. Mommy, apa benar yang di katakan aunty Osi, Sintia akan satu sekolah dengan baby." Baby.
"Iya sayang, Sintia akan satu sekolah dengan baby. Apa baby senang?" Mommy.
"Sintia dan baby, nanti beda tingkatakan kelas sayang. Karena Sintia lebih tua 3 tahun di atas, baby." Mommy, sambil mengusap jemari tangan baby di pangkuannya.
"Wah, berarti baby panggil Sintia unnie, mommy. Iyakan, mom?" Tanya baby.
"Iya, sayang. Baby, memanggil Sintia dengan unnie." Mommy.
"Wah, baby punya unnie. Baby, happy, mommy. Mommy, bolehkah baby bermain dengan Sintia unnie dengan mengajak Leo dan rabbit?" Tanya baby.
"Tentu sayang, mommy akan meminta tolong pelayan untuk membawa mainan baby yang lain juga. Pergi lah ajak
Sintia unnie bermain. Tetapi, jangan sampai kelelahan sayang. Sintia, aunty titip baby, ya." Mommy, sambil menurunkan baby dan menyuruh pelayanan mengambil mainan baby
__ADS_1
"Tentu aunty, aku akan menjaga baby. Baby, sudah aku anggap sebagai adikku dan aku menyayangi baby." Jawab Sintia sambil memegang tangan baby.
"Terima kasih, mommy. Mommy, aunty, baby bermain dahulu ya, jangan rindukan, baby." Izin baby, yang menerima tangannya di genggam unnienya.
Setelah kepergian mereka ke tempat bermain yang tidak jauh dari ruang TV. Tinggal lah empat wanita cantik yang sedang mengobrol.
"Terlalu percaya diri Kim kecil." Ujar aunty Chu, yang menjawab perkataan baby yang sudah pergi.
"Hahahah ... persis seperti daddynya." Aunty Osi.
"Dewasa sekali baby, benar-benar unnie tidak percaya baby, berusia 7 tahun. Pemikiran nya benar-benar seperti orang dewasa." Airin.
"Hahahah ... benar sekali unn, dan jangan lupa kan rasa percaya dirinya yang dia turunkan dari daddynya, unn." Mommy.
"Unn, bagaimana kalau kita memasak makan malam sambil menunggu baby dan Sintia bermain, hitung-hitung bisa memperkuat hubungan kita." Aunty Osi.
"Ide bagus, ya sudah ayok ke dapur." Mommy. Yang di ikuti tiga wanita dewasa lainnya.
***
Di ruangan khusus bermain baby, terdapat dua anak perempuan dan satu hewan peliharaan yang sedang bermain dengan berbagai macam mainan yang ada. Tetapi saat ini mereka sedang bermain rumah-rumahan barbie milik baby.
"Baby, baby tahu tidak kalau kita harus bersyukur dengan keadaan kita. Walaupun, kita tidak memiliki ayah dan daddy lagi. Tetapi, kita masih memiliki ibu dan mommy, serta memiliki aunty yang sayang pada diri kita." Sintia sambil memainkan mainan boneka.
"Baby, bersyukur unn, sekalipun daddy baby, tidak ada lagi dan baby tidak pernah melihat wajah daddy baby, secara langsung. Baby, sangat bersyukur Tuhan memberikan mommy, aunty, yang sayang dengan baby. Apalagi sekarang baby memiliki unnie dan aunty Airin." Baby, sambil menyusun rumah barbienya.
"Syukurlah. Selama unnie, berada di jalanan bersama ibu. Unnie, melihat banyak anak kecil yang telantar
dan tidak memiliki orang tua. Bahkan, ada yang harus membawa adiknya ke mana pun dia pergi, tidak memiliki tempat tinggal, mereka juga sama-sama kelaparan seperti, unnie. Tetapi, unnie lebih beruntung dari mereka, karena unnie masih memiliki ibu yang sayang pada, unnie." Sintia, sambil menatap baby yang saat ini sedang berhenti menata rumah barbienya, karena fokus pada cerita unnienya.
"Mengapa seperti itu unn, kasihan sekali mereka, unn. Bagaimana cara mereka mendapatkan makanan, tinggal
__ADS_1
di mana mereka unn dan bagaimana kalau mereka sakit, unn?" Tanya baby, prihatin dan penasaran dengan mata yang sendu. Karena anak-anak yang diceritakan unnienya.
"Yah, begitu lah, baby. Mereka, makan dengan menunggu pemberian orang lain atau mencari makan dari kotak sampah di restoran, tinggal berpindah-pindah, di kolong jembatan, depan toko-toko, kalau mereka sakit ya mereka biarkan saja sampai sembuh." Sintia, sambil menatap baby, yang sudah mengeluarkan air mata.