BABY ALUNA

BABY ALUNA
Mansion Baby


__ADS_3

Berhentilah sebuah mobil di halaman depan mansion yang megah dan mewah, yang tidak lain adalah mansion baby. Turun lah baby, yang masih terlelap di gendongan mommynya. Sintia, sudah di gendong dengan aunty Chu, sementara Airin, memegang rabbit dan Rose memegang kandang Leo.


"Mari masuk unn, anggap mansion sendiri, unn." Mommy.


"Ah, (Airin, tersadar dari lamunan nya, karena kagum dengan mansion baby). Iya Jane." Airin.


Masuk lah mereka ke dalam mansion, di sambut dengan ketua pelayan baby, bibi Han.


"Selamat datang nyonya. Oh, tuan putri sepertinya kelelahan, sampai-sampai tertidur di pelukan nyonya." Bibi Han, dengan senyum manisnya menyapa mereka termasuk juga pada Airin.


"Terima kasih bibi, sepertinya seperti itu bi. Seharian baby bermain di taman dan berakhir kelelahan.  (Sambil melihat sang anak yang tertidur dengan tenangnya). Bibi, tolong buatkan minum dan makanan ringan di depan TV ya, bi." Mommy.


"Baik nyonya." Bibi Han.


Saat ini mereka sudah duduk di ruang TV.


"****Unn****, tolong tidurkan saja Sintia di kamar tamu, akan sangat tidak nyaman kalau harus tidur seperti itu." Mommy.


"Ah, tidak perlu Jane, biar ****unnie**** pangku saja Sintia," Ujar Airin, yang hendak mengambil alih tubuh Sintia dari aunty Chu.


"Tidak usah sungkan unn, aku tidurkan Sintia dahulu, unn." Aunty Chu.


"Unn, Rose, aku izin menidurkan baby dahulu." Ujar mommy, beranjak menuju kekamar baby.


Sampailah mommy di kamar baby, lebih tepat nya kamar mommy yang selalu di tiduri baby. Karena baby tidur dengan mommynya. Sedang kan kamar baby, dijadikan tempat mainan nya dan hanya sesekali di tiduri, itu pun bersama mommy.


"Kesayangan mommy kelelahan ya sayang. Tidur yang nyenyak sayang, mommy mencintai baby." Mommy

__ADS_1


mencium bibir baby, dan memberikan guling di pinggiran tempat tidur agar anaknya tidak jatuh, setelahnya dia perlahan keluar dari kamar dan menuju ke ruang TV.


Saat ini keempat wanita dewasa itu sedang duduk sambil bersantai di sofa ruang TV.


"Unn, malam ini menginap lah dahulu di sini, unnie bisa pergi nanti setelah unnie mendapatkan tempat tinggal." Mommy, sambil menatap Airin. Di balas anggukan oleh Airin.


"Dan unnie, tolong berikan gaji unnie awal selama sebulan di awal, supaya unnie Airin bisa menyewa tempat tinggal dan membeli keperluannya dan Sintia." Mommy, sambil menatap aunty Chu.


"**Unnie**, juga baru mau membahas hal itu Jane dengan, unnie Airin." Aunty Chu.


"Unn, besok unnie bisa ikut bersamaku kekantor. Nanti akan ada orang yang memberi tahu unnie apasaja yang


unnie lakukan sebagai sekretaris ku. Dan unn, gaji utama unnie perbulan 100 juta, gaji unnie akan bertambah kalau unnie berkontribusi dalam memajukan agensi." Aunty Chu.


"Terima kasih sebelumnya untuk kalian yang sudah sangat baik dengan unnie dan Sintia. Unnie, tidak tahu harus membalas nya dengan apa, tetapi unnie akan menjaga kepercayaan kalian dan unnie akan bekerja dengan sungguh-sungguh Ji. Baiklah malam ini unnie menginap di sini. Maaf Ji, tetapi unnie tidak ada pakaian untuk besok kekantormu. Apa tidak terlalu besar 100 juta perbulan Ji? Itu sangat besar." Airin.


"Unn, 100 juta perbulan bukan sesuatu yang besar bagi agensi unnie Ji, unn. Keuntungannya beratus kali lipat, unn. Kalau kurang minta tambah saja, unn." Aunty Osi, sambil memakan keripik kentang.


"Yah, tidak seperti itu juga Rose, kamu ini. 100 juta tidak besar unn, itu memang pasaran gaji sekretaris di agensiku, unn." Aunty Chu.


"Terima kasih banyak, Jane. Tidak-tidak, 100 juta bagi unnie sangat besar, itu lebih dari cukup untuk unnie, sekali lagi terima kasih untuk kebaikan kalian. Dan Ji, besok pagi unnie akan ikut kekantormu." Airin.


"Baiklah unn, jam 8 kita sudah berangkat, unn." Aunty Chu.


"Baiklah." Airin.


"Unn, kalau boleh tahu berapa usia, Sintia?" Aunty Osi.

__ADS_1


"Sintia, berusia 7 tahun, Rose." Airin.


"Apa Sintia, sudah sekolah, unn?" Aunty Osi.


"Belum, Sintia, belum pernah bersekolah termasuk TK. Karena unnie, untuk makan saja susah, apalagi menyekolah kan Sintia. Tetapi walau pun Sintia, tidak sekolah, dia bisa membaca dan pandai berhitung, karena unnie, mengajarinya, sebelum dia tidur malam." Airin.


"Unn, bagaimana kalau Sintia, di sekolah kan di tempat yang akan menjadi sekolah baby, di Kim School. Sintia, bisa bersekolah di tingkat Sekolah Dasar nya, sama dengan baby. Biar baby, ada teman nya unn, selain teman kelas nya nanti. Dan unnie, tenang saja Sintia bersekolah tidak di kenakan biaya." Mommy.


"Astaga, unnie, benar-benar tidak tahu lagi, kebaikan apa yang unnie lakukan, hingga tuhan memberikan unnie kebaikan yang begitu banyak melalui kalian. Sekali lagi unnie ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian." Airin, dengan meneteskan air mata.


"Unn, sudah lah jangan banyak berterima kasih. Unnie, pantas mendapatkannya, sudah rezeki nya unnie. Unnie, di pertemu kan dengan kami melalui pertemanan singkat baby, dengan Sintia." Aunty Osi, sambil memberikan tisu dan di berikan pada Airin.


"Benar sekali, berhenti lah menangis, unn. Ini sudah menjadi jalan nya, unnie. Dan unn, bagi kami apa pun yang


di minta baby, pada kami selagi itu bisa kami penuhi, kami akan berikan, unn. Begitu pun ketika baby meminta langsung kepadaku untuk memberikan unnie, pekerjaan. Aku, langsung mengiyakan, unn." Aunty Chu, sambil menatap Airin.


"Beruntung nya baby, di besar kan dengan kasih sayang dari mommy dan auntynya. Kalau boleh tahu,


ke mana daddynya baby, selama obrolan tidak ada yang membahas daddynya baby. Daddynya baby, pasti bangga memiliki baby, yang berhati lembut dan memiliki kepribadian yang baik." Airin.


"Kami yang beruntung unn, karena kehadiran baby di tengah-tengah kami, unn. Kami banyak belajar dari baby unn, semenjak baby hadir di kehidupan kami. Kami tidak terlalu gila dengan bekerja, tidak bisa berbicara kasar, tidak bisa menunjuk kan tindakan sesuka hati kami unn, semuanya harus benar-benar di jaga agar baby tidak mengikuti kami, unn." Jeda mommy.


"Untuk masalah daddy baby. Hah ... (Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan). Daddy baby, sudah meninggalkan kami, ketika diriku dan baby sedang berjuang untuk hidup kami, unn. Daddy baby, mengalami kecelakaan di saat menuju rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Baby, sama sekali tidak merasakan pelukan nyata daddynya, karena setelah baby lahir kami hampir kehilangan baby, untung saja Tuhan masih berbaik hati menitip kan baby pada kami, unn. Baby mendominasi fisik dan kepribadian daddynya, unn. Hal itu lah yang membuat baby menjadi anak yang berhati lembut dan berkepribadian baik." Sambung mommy, sambil tersenyum membayang kan kenangan indah bersama daddy baby.


"Maaf Jane, *unnie, *benar-benar tidak tahu kalau daddy baby, sudah tiada. Unnie, ikut berduka cita atas kepergian daddynya baby." Airin, merasa bersalah.


"Tidak papa unn, itu hal wajar karena unnie baru mengenal kami." Mommy.

__ADS_1


Obrolan mereka pun berlanjut membahas berbagai macam pembahasan, mulai dari asal usul Airin, pekerjaan Rose, Jisoo dan Jane. Dan betapa kaget nya Airin, baru menyadari bahwa ketiga wanita yang ada di depan nya ini adalah wanita yang memiliki pengaruh pada negara ini, terutama, Jane. Dan tak lupa rasa syukurnya, karena di pertemukan dengan mereka yang memperlakukan diri nya dan anak nya dengan baik. Airin, berjanji akan mengabdikan diri nya pada keluarga ini dan tidak akan mengecewakan mereka.


__ADS_2