
Jane dan Laskar, saat ini sedang berada di dalam lift yang penuh, membuat mereka menempel di dinding lift. Laskar, melihat dari raut wajah Jane yang tidak nyaman. Laskar, membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Jane, membiarkan tubuhnya bergesekan dengan orang lain.
Jane hanya diam dengan posisi canggung ini, karena terlalu lama berdiri dan menahan sakit di kepalanya Laskar, membuka suara meminta izin pada Jane.
"Unn, maaf, kepalaku benar-benar terasa sakit. Aku tidak sanggup menahannya lagi, bisakah aku memelukmu, meletakkan kepalaku di bahumu, unn." Izin Laskar, dengan mata memerah dan sudah menunduk, karena menahan sakit.
Tidak ada jawaban dari Jane, namun Laskar merasakan seseorang maju memeluknya dari depan, mendempetkan tubuh mereka, meletakkan kepala Laskar bersandar di bahunya dan orang tersebut mengelus kepala belakang Laskar dengan ritme pelan.
Laskar, menikmati perlakuan itu, tanpa membuka mata,d ia sudah tahu siapa yang melakukan itu. Dia balik memeluk pinggang wanita yang sedang memeluknya.
Lift terbuka, di lantai apartemen, Jane.
TING ...
"Kita sudah sampai, tolong lepaskan." Jane.
"Unn, bisakah begini saja. Ini benar-benar nyaman unn, sakit kepalaku menghilang, unn." Laskar.
"Modus, tidak, lepaskan sekarang. Kita, harus masuk apartemen." Jane, sudah memberontak di pelukan Laskar.
"Astaga, pelit sekali, unn, siapa juga yang modus." Laskar, melepaskan pelukan, berjalan duluan di lorong apartemen, Jane. Sementara Jane, yang melihat tingkah Laskar, mati-matian menahan tawa, karena melihat tingkah merajuk Laskar.
***
Jane, membuka pintu dengan kartu aksesnya. Dia masuk terlebih dahulu, setelahnya dia mempersilahkan Laskar masuk.
"Ayo, masuk. Kau, duduk, tunggu aku, aku ke dapur sebentar." Jane, pergi ke dapur mengambil air putih kompres.
Slang beberapa saat Jane kembali dan melihat Laskar, tertidur dengan posisi duduk. Tidak tega dengan melihat keadaan Laskar. Jane, membangunkan Laskar, untuk pindah ke kamarnya.
"Hei, bangun kau pindah ke kamar, akan terasa sakit tubuhmu kalau tidur seperti itu." Jane.
"Iya." Laskar, berdiri menuju toilet untuk tamu.
"Astaga, Kau, mau ke toilet. Kamar ku berada di sebelah sana. Ayo, aku tuntun. Sebelum itu habisakan dulu
minummu." Jane, memegang lengan Laskar yang setengah sadar dan menyodorkan gelas air putih.
Setelah habis tandas diminum Laskar, Jane membantu Laskar tidur di atas kasurnya. Jane membantu mengatur posisi tidur Laskar. Mengingat kepala Laskar, yang masih harus dia kompres. Setelah pas, dia ke arah dapur mempersiapkan peralatan untuk mengompres kepala Laskar.
Setelah semua siap ia kembali ke kamar dan melihat posisi Laskar yang sudah berubah, sepertinya selain sakit kepala, Laskar, juga merasa mengantuk yang luar biasa hingga dia ke sampingkan rasa sakit di kepalanya.
"Hei, perbaiki posisi tidurmu, aku akan mengopres kepalamu." Jane, menggoyangkan lengan Laskar.
"Ah unn, maaf. Aku, benar-benar mengantuk. Unnie, ingin apa?" Laskar, setengah sadar sambil duduk.
"Perbaiki posisi tidurmu, aku akan mengopres kepalamu." Jane.
"Kemari uun, nah seperti ini sudah pas, unn." Laskar, menarik Jane, hingga membuat Jane terlentang di atas kasur dan dia meletakkan kepalanya di lengan kiri Jane. Laskar, jangan di tanya dia sudah memeluk perut Jane.
Jane hanya diam menetralkan jantungnya yang berdetak tidak karuan. Setelah tersadar dia membiarkan posisi itu
dan mulai mengambil kain kompresan yang dia bawa tadi di tempelkan di kepala Laskar. Sambil melihat Laskar, yang sudah kembali tidur dengan wajah damai.
Aku menyukaimu. Batin Jane.
***
Tidak terasa malam menyelimuti permukaan bumi, sepasang manusia masih asyik dengan alam bawah sadar mereka. Hingga, si mata kucing, yang mulai kelaparan terbangun dari alam bawah sadarnya.
"Ah, sepertinya dirimu sangat kelelahan." Jane.
"Bangunkan, tidak, bangunkan, tidak. Ah, bangunkan saja, kasihan dia belum makan, aku pun merasa lapar." Jane, membangunkan Laskar dengan mengusap punggung Laskar.
"Laskar, bangun. Kita, perlu mengisi tenaga, aku lapar." Jane.
"Iya, unn." Laskar, perlahan membuka mata dan menatap Jane, tanpa mereka sadari masih dengan posisi saling berpeluka.
"Bagaimana dengan kepalamu, apa masih pusing?" Jane, masih mengusap punggung Laskar.
"Ah, sudah tidak lagi, unn. Terima kasih, unn, sakitnya langsung hilang begitu princess mengobatinya." Jawab Laskar, dengan senyum manis.
"Dasar gombal." Jane.
"Kau, memiliki kekasih?" Tiba-tiba Jane bertanya.
"Ah, aku belum memiliki kekasih, unn." Laskar.
"Benarkah?" J.
__ADS_1
"Iya unn, kenapa unnie, mau menjadi ke kasihku. Kalau aku sih tidak bakal nolak, unnie. Kalau unnie, jadi kekasihku." Jawab Lisa, dengan gamblang.
"Jadikan aku sebagai, kekasihmu." Jane, tanpa ada keraguan.
"What's, unnie jangan bercanda." Laskar, terkejut dan menganggap perkataan Jane, sebagai angin lalu.
"Mengapa? Dirimu yang bermain-main dengan perkataanmu? Aku serius. Jadikan aku sebagai kekasihmu. Kau dengar itu." Jane.
"Ah, bukan seperti itu, unn. Maksudku itu terlalu cepat unn, kita belum saling mengenal bukan." Laskar.
"Baiklah, kalau begitu mulai saat ini aku Kim Ruby Jane adalah kekasih dari Laskar Raga Darmawa. Dan kamu harus mengucapkan yang sama dengan ku." Jane, dengan mata mengintimidasi.
"Ah, uun bukan seperti itu maksudku, unn." Laskar, bingung terjebak dengan situasi.
"Oh, jadi kamu menolak ku, begitu maksudmu?" Jane.
"Aduh, tidak, sabar unn. Baiklah aku Laskar Raga Darmawa adalah kekasih dari Kim Ruby Jane." Laskar.
"Kau merasa terpaksa?" Jane.
"Tidak, princess, aku tidak terpaksa hanya saja terkejut, perbuatan apa yang aku lakukan hingga mendapat balasan indah dari Tuhan. Belum 1 hari di kampus, aku sudah memiliki kekasih. Kekasih cantik, ketua presiden mahasiswa." Laskar, mulai mengusap balik punggung Jane.
"Jane, suka panggilan princess dari Boo." Jane mengusap rahang tegas milik Laskar.
"Princess, tidak merasa menyesal karena sudah memiliki hubungan dengan, Boo." Laskar.
"Tidak, Jane tidak akan menyesal, Jane mencintai Boo. Atau Boo, yang menyesal karena sudah menjadi kekasih Jane atau Boo, memiliki banyak menyimpan wanita kencan Boo?" Jane, mengintimidasi dengan tatapan mata kucingnya.
"Tidak princess. Boo, tidak memiliki orang spesial di hati Boo, selain princess yang sudah menjadi kekasih Boo. Boo, love you too princess. Ayo pergi makan princess, setelahnya kita bertukar cerita saling mengenal satu sama lain." Laskar.
"Iya, Boo. Aku, tidak sabaran untuk bertukar cerita dengan, Boo. Aku belum memesan makan Boo, aku pesan." Jane.
"Boo, yang akan memasakkan, princess. Let's go." Laskar, beranjak dari kasur dan mengulurkan tangannya untuk di genggam Jane dan di terima Jane.
"Boo, bisa memasak?" Jane.
"Hanya sekedar bisa sayang." Laskar.
"Wah, setidaknya Boo, bisa masak dari pada aku. Masak telur saja aku tidak bisa, Boo." Jane.
"Tidak masalah princess. Boo, yang akan masak untuk princess dan kalau kita sudah menikah nanti Boo, akan memperkerjakan seorang chef yang akan memasakkan makanan apapun yang princess inginkan." Laskar.
"Oh, princess, tidak sabar ingin menikah dengan Boo? Baru beberapa menit menjadi kekasih Boo, princess langsung mau diajak Boo menikah. Bagaimana kalau Boo jawab 10 tahun lagi, karena Boo harus mengumpulkan uang yang banyak untuk menikah bersama princess?" Laskar.
"Tidak, itu terlalu lama, Boo bagaimana kalau 3 bulan lagi Boo. Bertepatan dengan hari ulang tahun ku. Boo, jangan
pikirkan soal uang, aku anak orang kaya dan anak tunggal. Jadi, apapun yang aku inginkan pasti di berikan daddy." Jane, menjawab gamblang, tidak tahu kalau Laskar, adalah pewaris tunggal dari Darmawa Company.
"Hahah, Boo, apresiasi semua ke inginan, princess. Nanti, kita lanjutkan obrolannya setelah kita selesai makan.
Oke princess." Laskar dan di jawab anggukan kepala oleh Jane.
***
Saat ini mereka sedang makan di ruang makan. Laskar, masak nasi goreng sosis, karena di kulkas Jane, hanya ada bahan itu.
"Selamat makan, Boo." Jane, memasukkan sesuap nasi kemulutnya, tiba-tiba dia terdiam mukanya berubah menjadi sendu dan menitihkan air mata.
"Selamat makan princess. Oh, princess mengapa menangis? Apa masakan Boo, tidak enak sayang. Sudah jangan di makan lagi, kita makan di luar saja princess." Laskar, melepaskan sendok dari tangan Jane, dan ingin menyingkirkan nasi goreng sosisnya jauh dari Jane.
"Tidak, nasi goreng, Boo mengingatkan pada nasi goreng buatan Mommy." Jane.
"Iya, princess, lanjutkan makannya, nanti kita cerita ya, sayang." Laskar.
***
Setelah selesai dengan urusan makan, mereka saat ini sedang berpelukan di sofa ruang TV di temani dengan film kartun.
"Princess, apa boleh Boo, bertanya?" Laskar.
"Iya, Boo." Jane.
"Princess, rindu dengan mommy, princess kan bisa pulang untuk bertemu mommy dan daddy?" Tanya Laskar.
"Mommy, sudah tidak ada Boo. Di mansion juga hanya ada pelayan, daddy sesekali saja berada di rumah, karena daddy, menghabiskan waktunya dengan gila kerja. Berpindah-pindah negara, daddy, lakukan itu semenjak mommy meninggalkan kami karena mommy memiliki penyakit jantung. Sejak saat itu apa menjadi gila bekerja, meninggalkan Jane yang masih berusia 10 tahun dengan pelayan, daddy hanya bisa memenuhi kebutuhan ku dari
finansial, tapi tidak dengan kasih sayang." Jane.
"Maafkan Boo, princess. Boo, tidak tahu kalau mommy, sudah tidak ada. Princess, jangan bersedih, karena princess sudah memiliki Boo, sebagai kekasih, princess. Boo, janji akan selalu menjaga princess, dan tidak akan menyakiti princess." Laskar.
__ADS_1
"Boo, janji ya." Jane, mengulurkan jari kelingkingnya.
"Boo, janji sayang, selama Boo, masih bernafas di dunia ini." Mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Jane.
"Sebelumnya Boo ingin bercerita. Boo, adalah anak tunggal dari Jacob Darmawa dan Yonna Aliska. Boo, anak dari konglomerat dan pewaris tunggal dari Darmawa Company." Laskar.
"Aku, sudah tahu tentang Boo. Jadi tidak ada alasan lagi untuk Boo, menolak menikahi aku kan Boo? Kecuali Boo
hanya ingin bermain-main dan membuang waktu saja dengan aku?" Jane, sudah menangis.
"Princess, berhenti menangis, dengarkan, Boo. Baiklah kita akan menikah ketika dihari ulang tahun princess. Kita akan segera menemui daddy princess, biar Boo minta restu untuk bisa menikahi putrinya dan setelahnya kita pergi ke Thailand menemui mommy dan daddy Boo, princess senang?" Laskar, menghapus air mata Jane.
"Benarkah, Boo?" Jane.
"Iya, princess." Laskar.
"Terima kasih Boo, Jane akan minta appa untuk segera pulang dalam waktu 3 hari." Jane, ingin mencium bibir Laskar namun Laskar menghindar.
"Iya, sayang. Princess, hanya boleh di pipi dan di kening, setelah menikah nanti baru boleh yang lainnya sayang. Boo, ingin kita sama-sama merasakannya ketika kita sudah sah menikah, sayang. Karena kata Daddy Boo, itu lebih berkesan. Princess, mengerti?" Laskar, mengusap pipi Jane.
"Iya, Boo. Terima kasih, Boo. Jane mencintai, Boo." Jane benar-benar tidak salah menjadikan Laskar sebagai kekasih sekaligus calon suaminya, lihat di saat orang lain meminta lebih, lain halnya dengan Laslar yang meminta untuk menjaganya.
"Iya, princess. Boo, mencintai princess." Laskar.
"Princess, Boo pulang ya." Laskar.
"Mengapa pulang Boo, tidak ingin menginap saja?" Jane.
"Tidak, kita belum menikah princess. Tidak boleh pasangan yang belum menikah tinggal bersama, sayang. Besok kita bertemu lagi, sayang." Laskar.
"Iya, Boo. Oh, ya Boo. Kita, belum menyimpan nomor satu sama lain. Keluar kan HP Boo, aku akan masukkan nomor ku. Dan Boo, pulang bawa mobil ku, agar besok pagi Boo, jemput ku dan berangkat ke kampus bareng, Boo." Jane.
"Nih, sayang HP, Boo. Baiklah, sesuai dengan permintaan, princess, Boo akan turuti. Besok kita berangkat ke kampus bersama. Dan Boo, pulang dengan mobil princess, princess happy?" Laskar.
"Iya, Boo, Boo yang terbaik, Love you. Nih, Boo, aku sudah simpan nomorku dengan nama kontak Princess ❤️. Ini kunci mobil ku Boo hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai ya, Boo." Jane.
Mereka berjalan bersama kearah pintu keluar apartemen Jane, dengan posisi Jane memeluk lengan kiri Laskar.
"Iya princess. Boo, pulang dulu, sayang." Laskar, ingin melangkahkan kaki keluar, namun lengannya di tahan Jane.
"Mengapa, princess?" Laskar mengelus lengan Jane.
"Kiss, Boo." Jane, dengan suara kecilnya.
"Ah, iya sayang. Maaf Boo, lupa." Laskar, berjalan kedepan Jane mencium kening Jane selama 15 detik. Setelahnya baru dia di bebaskan Jane untuk pulang. Jane masuk ke apartemen dengan memegang dadanya, jantungnya berdegup kencang.
Aku mencintai Boo. Mommy, tolong restui aku dan Boo. Boo, orang baik mom. Mommy, baik-baik di sana ya, Jane mencintai mommy. Batin Jane.
Tidak lama HP Jane berdering.
KRING ... KRING ... KRING ...
(Daddy)
"Hallo princess, apa kabar, sayang?" Daddy.
"Hallo juga daddy, aku baik, bagaimana dengan kabar daddy?" Jane.
"Syukurlah kalau princess, apa baik-baik saja di sana, daddy baik juga di sini, sayang. Princess, daddy akan pulang 2 hari lagi, princess pulang ke mansion ya. Daddy, merindukanmu, sayang." Daddy.
"Syukurlah, daddy baik di sana, iya daddy, princess akan pulang ke mansion dan princess akan mengenalkan daddy dengan seseorang, sekalian ada beberapa hal yang ingin aku katakan pada daddy." Jane dengan senyumnya.
"Seseorang?" Daddy.
"Iya daddy, secret. Daddy, akan mengetahuinya nanti." Jane.
"Wah, princess daddy sudah besar ya, sekarang sudah rahasia-rahasia dengan daddynya sendiri. Baiklah princess sampai bertemu di mansion, sayang. Daddy menyayangi princess." Daddy.
"Hahah, iya daddy. Dadyy jaga kesehatan, aku juga menyayangi daddy." Jane, sambungan telpon pun terputus.
Jane membuka pesan dari nomor baru yang ternyata dari kekasihnya.
+016***
(Princess, Boo barusan sampai rumah sayang. Selamat istirahat kesayangan Boo ❤️). Laskar,
(Iya Boo, Boo juga selamat istirahat. ❤️). Jane.
Jane menyimpan nomor Laskar; Boo ❤️. Setelahnya dia meletakkan HPnya dan tidur.
__ADS_1