BABY ALUNA

BABY ALUNA
Baby Sedih


__ADS_3

Matahari cerah di Paris, semua orang sibuk dengan aktivitas mereka. Begitu pun dengan salah satu rumah yang di


isi beberapa manusia, yang saat ini bergulat dengan aktivitas masing-masing ada yang masih tidur, ada yang sedang memasak di dapur dan ada yang sedang menonton TV.


"Sayang, bangun, yuk." Mommy, membangunkan baby, mengusap punggung dan memberikan banyak ciuman di


wajah baby.


"Eugh, mommy peluk 5 menit." Baby, mengalungkan tangan ke leher mommy, mencari posisi nyaman.


"Iya, sayang." Mommy, ikut berbaring di atas kasur.


Setelah beberapa saat.


"Morning mommy, terima kasih pelukannya." Baby, dengan senyum manisnya memberikan ciuman di bibir mommynya.


"Morning too cintanya, mommy, apa pun untuk, baby. Tidur nyenyak, sayang?" Mommy, merapikan poni baby.


"Iya, mommy, sangat nyenyak. Bagaimana dengan mommy?" Baby, mengelus pipi mommy.


"Mommy, tentu tidur nyenyak di dalam pelukan, baby." Mommy, menikmati usapan di pipinya yang dilakukan anaknya.


"Of course, mommy hari ini kita akan melakukan apa?" Baby.


"Hari ini kita akan ikut berjalan-jalan bersama aunty dan Sintia, sekalian menemui teman mommy sayang. Kita akan berjalan kaki berdua di Paris di hari kedua sayang, bagaimana?" Mommy.


"Iya, mommy." Baby, dengan senyum manis merekahnya.


TOK ... TOK ... TOK ...


"Unnie, apa baby sudah bangun? Makanan sudah siap." Aunty Osi, memanggil mommy dan baby dari


luar pintu.


"Iya, aunty baby sudah bangun." Baby, menjawab dari dalam kamar.


"Rose, kami bersiap dulu, setelahnya baru kami turun." Mommy, dan baby, turun dari kasur pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri mereka.


"Iya, unn, baby." Aunty Osi berlalu.


Setibanya aunty Osi di ruang makan bersama yang lainnya.


"Jane dan baby sudah bangun, Rose?" Airin.


"Sudah unn, Jane unnie dan baby tadi sepertinya baru selesai dengan mood pagi unn, dan mereka sedang bersiap unn." Aunty Osi.


"Mood pagi?" Airin.


"Iya, unn, mood pagi. Kebiasaan yang di terapkan daddy baby, saat bersama Jane, unn, di mana setiap sebelum meninggalkan kasur, mereka akan menanyakan bagaimana tidurnya, apakah nyenyak atau bagaimana perasaannya pagi ini. Dan yah, itu di turunkan Jane pada baby, unn, untuk tahu baik atau buruk mood baby."


Aunty Chu.


"Bagus sekali kebiasaannya, Unnie, saja tidak kepikiran." Airin.


"Iya, unn, kami pun sama, unn. Tetapi dampaknya luar biasa unn, kita jadi paham situasi baby. Nanti unnie akan melihat sendiri kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan daddy baby yang diterapkan Jane ke baby." Aunty Chu.


"Kalau unnie perhatikan, baby selalu menanyakan apakah sesuatu yang dia inginkan boleh atau tidak pada


orang-orang disekitarnya unn dan selalu minta izin. Nah, itu salah satu kebiasaan daddy baby, unn, tidak egois selalu bertanya dan meminta izin orang di sekitarnya agar tidak menyakiti hati orang itu, unn. Dan terbawalah ke Jane dan baby." Aunty Osi.


"Bagus sekali attitude nya, unnie kagum." Airin.


"Iya, unn." Aunty.


Terdengar suara langkah kaki orang menuruni tangga, itu adalah mommy dan baby yang di gendong mommynya.


"Morning, aunty." Baby, menyapa.


"Morning too, baby". Aunty.


"Di mana Sintia unnie, aunty Airin?" Baby.

__ADS_1


"Sintia Unnie masih diruang TV, apa boleh tolong baby, panggilkan Sintia unnie untuk bergabung sarapan sayang?" Airin.


"Iya, aunty. Baby, panggil Sintia unnie, dulu. Mommy, tolong jaga ayam baby, jangan biarkan aunty Chu, menyentuhnya, oke mommy, baby pergi dulu, jangan rindu." Baby, berjalan keruang TV.


"Astaga, belum apa-apa diri ku sudah di fitnah." Aunty Chu.


"Percaya diri sekali anak Daddy ini." Mommy.


"Versi mini Daddynya, unn." Aunty Osi.


"Ah unn, apa kegiatan kita hari ini?". Aunty Osi


"Berkeliling di Paris dan menemui Nayla. Ah unn, nanti kita akan bertemu dengan teman sekelas kami waktu kuliah unn. Apa tidak masalah, unn?" Mommy.


"Tidak, unnie ikut saja Jane". Airin.


"Nayla unnie, sedang di butik, unn?" Aunty Osi.


"Iya, katanya berkunjunglah, dia merindukan, baby." Mommy.


"Astaga, dia tidak merindukan unnienya ini?" Aunty Chu.


"Terlalu percaya diri itu bukan bakat aunty, mengaku saja kalau baby lebih menarik dari pada aunty, ya kan, mommy?" Baby, menjahili auntynya datang bersama Sintia.


"Iya, sayang." Mommy.


"Astaga, masih pagi sudah 2 kali baby menjahili, aunty. Dendam sekali dengan aunty, hem." Aunty Chu, geram mencium pipi baby dengan paksa di sampingnya.


"Iih, mommy. Pipi baby, di cium. Aunty, tolong tisu, baby takut pipi baby terkontaminasi oleh aunty Chu". Baby.


"Hahah, dengar itu, unn." Aunty Osi.


"Baby, dan aunty sama saja, sama-sama suka jahil." Mommy, membersihkan tangan dan pipi baby.


Sintia sudah duduk di samping Airin.


"Bisa kita makan sekarang, by?" Mommy, setelah selesai mengurus baby.


"Baby, pimpin doa dulu." Aunty Osi.


"Iya, aunty. Ayo, unnie kita pimpin doa." Baby, mengajak Sintia.


"Iya, by." Sintia.


Setelah mereka selesai memimpin doa.


"Selamat makan." Baby.


"Baby, ingin makan apa, sayang?" Mommy.


"Tolong, nasi goreng dan susu cokelat, mommy." Baby.


"Iya, sayang." Mommy, mengambil permintaan baby dan baru dirinya.


***


Saat ini mereka sedang di dalam mobil menuju ke butik Nayla, awalnya mereka ingin pergi berkeliling terlebih dahulu baru setelahnya menemui Nayla. Namun, Nayla ingin ikut katanya sudah rindu dengan baby dan bosan di butik.


"Mommy, apa kita akan bertemu aunty Nay?" Baby, duduk di pangkuan mommynya.


"Iya, sayang, Kenapa? Baby suka?" Mommy.


"Baby suka, hanya saja baby tidak suka kalau aunty Nay mencubit pipi baby. Itu menyakitkan mommy." Baby menjelaskan.


"Ah, nanti akan aunty halangi ketika aunty Nay ingin menyentuh pipi baby." Aunty Osi.


"Hahah, itu artinya baby menggemaskan sayang. Makanya aunty suka mencubit pipi baby." Mommy mencium jemari baby.


"Terima kasih aunty Osi, tapi itu menyakitkan mommy." Baby, muka cemberut.


"Iya sayang, nanti akan mommy bilang pada aunty." Mommy.

__ADS_1


"Tidak mommy, tidak usah mommy. Nanti aunty merasa baby tidak suka pada aunty, biarkan saja mommy". Baby.


"Tidak, nanti mommy akan bicarakan baik-baik sayang, biar tidak membuat hati aunty Nay sakit. Okey." Mommy.


"Oke mommy." Baby.


"Unnie, nanti akan baby tunjukkan tempat makan es krim gambar kepala beruang dan kita akan makan di sana


unn." Baby, berbicara menghadap sulgi yang duduk di belakang melihat-lihat kota Paris


"Iya by, unnie mau, unnie mau." Sintia, antusias, Airin mengelus kepala Sintia.


"Mommy, bisakan hari ini kita makan es krim kepala beruang?" Baby, bertanya pada mommynya.


"Iya,sayang." Mommy.


Yang lain menyimak obrolan, sampailah mereka di butik Nayla. Melihat banyak orang yang berkunjung ke store. Mereka disambut dengan sekretaris Nay, yang diberi tugas untuk mengantar mereka ke ruangan Nayla.


"Mari nona, saya antar, nona Nayla sudah menunggu." Adel.


"Iya." Aunty Chu.


Baby, bergandeng tangan dengan Sintia mengikuti langkah aunty Chu, kemudian dibelakangnya baru di ikuti mommy, Airin dan aunty Osi.


TOK ... TOK ... TOK ...


"Masuk!" Nayla, sedang melihat sketsa rancangan baju keluaran terbarunya.


"Wah, sibuk sekali nona satu ini." Aunty Chu.


"Unnie!" Nay, berlari kearah aunty Chu dan memeluknya. Baby, yang terkejut dan melihat itu iya melepaskan tangan Sintia dan langsung memeluk kaki mommynya.


"Astaga, unn, kamu mengejutkan baby. Lihat baby takut!" Aunty Osi.


"Mom ... mommy." Baby, minta digendong mommynya. Mommy, mengangkat baby dan memeluknya.


"Nay, dirimu tidak berubah. Lihat baby terkejut ya sayang." Mommy, mengusap punggung baby.


"hahah, maaf sayang. Aunty, terlalu merindukan kalian." Aunty Nay, berjalan menghampiri baby.


"Baby, itu aunty Nay". Mommy. Baby, membalikan badan melihat aunty Nay.


"Aunty, mengejutkan baby." Baby, menjulurkan tangan minta di gendong aunty Nay.


"Maaf,sayang, maaf. Ah, duduk dulu kalian." Nayla, membawa baby, duduk di sofa ruangannya.


"Iya, Nay perkenalkan ini Airin unnie dan ini Sintia anak. Unnie ini Nayla teman kuliah kami, Sintia beri salam Aunty Nay." Aunty Chu.


"Nayla. unn. Hai sayang, perkenalkan nama aunty Nayla." Menyapa Airin dan Sintia.


"Hallo aunty, perkenalkan Sintia." Sintia, membungkuk memberi salam.


"Airin." Airin, dengan senyumnya.


"Aunty, Hai saja tidak pakai sayang." Baby, cemberut. Nay masih loading dengan perkataan baby.


"Cemburu, unn." Aunty Osi.


"Ah, iya sayang, maaf." Aunty Nay, ingin mencubit pipi baby, tapi di tahan mommy.


"Aunty, plis jangan cubit pipi baby, itu menyakitkan." Mommy, menirukan isi hati baby.


"Hahah, maaf, sayang." Nayla mencium pipi baby.


"Apa pekerjaan mu sudah selesai Nay? Bisakah kita berangkat sekarang?" Jichu.


"Iya, unn, kita berangkat sekarang." Nayla, dengan masih menggendong baby.


"Iya, let's go, aunty." Baby.


"Iya, sayang." Jawab mereka kompak.

__ADS_1


__ADS_2