BABY ALUNA

BABY ALUNA
Baby Kesayangan Mommy


__ADS_3

"Jane, tidak seharunya kamu menegur baby dengan ekspresi dan nada suaramu yang mengintimidasi. Baby, masih kecil, wajar kalau dia tidak menerima kebahagiaan yang baru dia dapat kan kemarin harus di pisahkan dengan keadaan. Jane, kamu bisa memberi tahu baby dengan cara yang lebih lembut." Aunty Chu, tatapan mata kecewa.


"Maaf unn, aku, lepas kendali. Karena baby, tidak seperti itu sebelumnya. Maaf unn, aku salah unn, karena menyikapi baby dengan cara kekanak-kanakan." Mommy, sambil menatap unnienya, menahan air mata.


"Minta maaf pada baby, bukan pada unnie. Jangan sampai kamu kehilangan baby, lagi." Aunty Chu, pergi menuju tempat keberadaan baby.


Mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan unnienya, pecah sudah tangisnya, ribuan jarum menusuk relung hatinya, air mata tidak terbendung lagi. Melihat hal ini, Airin, berinisiatif untuk menenangkan mommy baby, dengan berdiri dan menarik kepala mommy, di letakkan di perutnya dan Airin memeluknya, tidak lupa dengan mengusap punggung mommynya.


"Jane, sudah jangan menangis. Unnie, paham yang barusan kamu ucapkan adalah reflek kamu karena tidak terbiasa melihat baby yang seperti itu. Tapi Jane, yang harus kita ingat adalah sedewasa apa pun baby. Baby, akan tetap memiliki sisi anak-anaknya. Seperti baby tadi, baby biasanya bersikap baik, tapi karena dia merasa dia akan di jauhkan dengan salah satu kebahagiaannya dia merespon sama halnya dengan anak-anak yang ketika sedang bermain tiba-tiba mainannya direbut, sangat wajar bukan kalau baby memberikan respon seperti itu." Jeda Airin.


"Kita sebagai orang yang dewasa harus lebih bisa mengendalikan emosi dan lebih bijak lagi. Sudah unnie, tidak


menyalahkan siapa pun di sini, kamu dan baby hanya salah paham saja. Berhenti menangis, kasihan baby, pasti baby sangat sedih dan merasa bersalah. Karena sudah mengira bahwa dia anak yang mengecewakan, karena dia membuat mommynya menangis. Basuh mukamu, dan segeralah temui baby." Airin.


"Terima kasih, unn, untuk nasehatnya, kalau begitu aku pamit basuh muka dulu unn. Setelah itu baru menemui baby." Mommy.


***

__ADS_1


Sementara di sisi mansion lainnya, tepat nya di halaman samping di tepi kolam ikan. Terdapat dua anak kecil dan satu wanita dewasa.


"Apa baby, dan Sintia, ingin memberi makan ikan?" Aunty Osi.


"Apa boleh, aunty?" Sintia.


"Boleh, Sintia, temui paman Sttif, bilang Sintia, ingin memberi makan ikan." Aunty Osi.


"Iya aunty. Baby, jangan sedih ya, unnie, tidak akan meninggalkan baby, sekalipun kita tidak tinggal di rumah yang sama. Unnie, menyayangi baby." Sintia, pergi menemui Stiff.


Tinggal lah baby, dan aunty Osi, dimana baby, sedang menatap ikan dengan tatapan kosong. Dia masih terkejut


"Aunty, apa baby salah, kalau baby ingin aunty Osi, aunty Chu, aunty irene dan Sintia unnie, untuk tinggal disini? Hingga membuat mommy marah? Apa baby sudah menjadi anak nakal?" Baby, masih memandang kolam ikan dengan tatapan kosong.


"Baby, tidak salah sayang. Baby, dengar aunty sayang. Sayang, sekalipun kita tidak tinggal di rumah baby, kami akan selalu menyayangi, baby. Kita bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama, sayang. Aunty baby, memiliki pekerjaan yang jauh dari jarak rumah baby, jadi supaya aunty baby tidak telat, aunty tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat kerja kami, sayang." Aunty Osi, sambil mengusap kedua jemari tangan baby.


"By ... baby, harus tahu, mommy baby, adalah salah satu orang yang menantikan baby, untuk lahir ke dunia ini. Mommy baby, adalah orang pertama kali menangis tiada henti, bahkan tidak mau makan, karena memikirkan baby, yang harus tinggal untuk mendapatkan perawatan. Mommy baby, melakukan apapun untuk bisa membuat baby, tersenyum. Mommy, tidak marah sayang. Baby, anak yang baik, bukan anak nakal." Sambung aunty Osi, sambil memeluk baby. Baby, meletakkan kepalanya di bahu aunty Osi dengan posisi menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Benarkah aunty? Mommy, sangat menyayangi baby. Aunty, baby takut daddy, akan kecewa dengan baby, karena membuat mommy kecewa. Baby, takut daddy, tidak akan datang memeluk mommy dan baby setiap malam. Baby, takut aunty." Baby, menangis.


Hati Rose, sakit, mendengar isi hati dari kesayangannya. Dia mengusap punggung baby, dan mencium rambut baby. Saat, dia ingin menanggapi keresahan hati baby, terdengarlah langkah kaki dan suara mommy baby, yang langsung mengambil alih tubuh baby.


Di salah satu sudut pintu terdapat dua orang wanita dewasa yang sedang mendengar percakapan aunty Osi, dan baby. Ya, sedari tadi aunty Chu, dan mommy, mendengar percakapan mereka dan alangkah teriris hati mereka mendengar isi hati dari baby, yang berusia 7 tahun. Sedari tadi juga mommy ingin langsung menemui baby, namun, ditahan oleh aunty Chu, supaya memberikan waktu baby, untuk mencurahkan isi hatinya.


Hingga akhirnya dirasa tidak memiliki kemampuan lagi dalam memendam beban dalam hatinya, berakhirlah mommy mengambil alih tubuh baby.


"Sayang, maaf. Maafkan mommy, karena sikap mommy, tadi. Baby, tidak mengecewakan mommy. Mommy, yang salah karena tidak mendengarkan isi hati baby. Mommy, malah memotongnya. Maafkan mommy, sayang. Daddy, tidak akan kecewa dengan baby, karena baby tidak mengecewakan mommy. Daddy, akan selalu memeluk baby, dan mommy, setiap malamnya, sayang. Karena Daddy, mencintai baby dan mommy. Maafkan, mommy." Mommy, mencium seluruh wajah anaknya diakhiri dengan menghapus air mata anaknya yang terus menangis.


"Mom ... mommy ... my, baby minta maaf ya. Tolong bilang pada daddy jangan marah. Baby, janji tidak akan membatah perkataan mommy lagi. Baby, takut daddy, tidak memeluk baby lagi. Karena baby hanya merasakan pelukan daddy, ketika baby sedang tidur bersama mommy." Ujar baby, dengan nafas tersengal-sengalnya.


"Tidak sayang, mommy, akan bilang pada daddy. Daddy, dengarkan mommy, baby adalah anak yang baik dan menyayangi mommynya. Jadi, daddy, tidak ada alasan untuk marah pada babykan daddy." Mommy, berbicara seolah-olah berbicara langsung pada dadyy baby.


Dimana aunty Airin dan Sintia? Ya, mereka ikut bergabung mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu. Setelah Sintia, menemukan ibunya, Sintia, menarik tangan ibunya untuk melihat keadaan baby. Namun, setelah sampai di sisi pintu, ibu memberhentikan langkahnya, dan Sintia pun ikut berhenti. Sintia, melihat arah pandang mata aunty Chu, dan ibunya, dimana dia melihat baby dan aunty.


"Terima kasih, mommy." Dan ajaibnya tangisan baby, langsung berhenti dan nafasnya mulai normal.

__ADS_1


"Terima kasih, daddy, karena sudah memeluk baby." Baby, dengan senyum lebarnya.


__ADS_2