
Matahari menampakkan diri, orang-orang di muka bumi sibuk dengan aktivitas dan rutinitas mereka masing-masing,
sebagaimana yang dilakukan perempuan bermata kucing yang saat ini telah rapi menunggu jemputan sang kekasih di kafe bawah apartemennya. Dia membeli roti, air mineral dan 1 kotak susu cokelat, yang nantinya akan di makan bersama dengan kekasihnya. Moodnya pagi ini benar-benar bagus, bisa di lihat dari senyumnya yang tidak luntur dari tadi.
"Selamat pagi princess, siap untuk berangkat ke kampus, sayang?" Laskar, membawa paperbag yang berisi sarapan mereka dari tangan Jane, membukakan pintu untuk princess nya dan menutup pintu, setelahnya baru dilanjut dengan dirinya memasuki mobil.
"Selamat pagi juga Boo, sangat siap. Boo, aku tadi membeli roti dan 1 kotak susu cokelat untuk Boo, dan aku. Boo, pasti belum sarapan kan?" Jane.
"Terima kasih sayang, pengertiannya kekasih Boo ini. Ne sayang boo belum sarapan". Laskar, mengemudi sambil sesekali melihat Jane yang sedang membuka bungkus roti.
"Pasti, kekasih, Boo. Kalau begitu, Boo menyetir sambil aku suapi roti ya, Boo." Jane.
"Iya, princess, juga harus makan." Laskar, menerima suapan roti dari Jane.
"Iya, Boo." Jane.
Selesai dengan acara sarapan di dalam mobil, sepasang kekasih itu kini sudah berada di area parkiran kampus.
"Sudah siap ke kelas princess, tidak ada yang tertinggal?" Laskar, membenarkan anak rambut Jane.
"Siap Boo, semuanya sudah Boo." Jane dengan senyumnya.
"Good, tunggu disini sebentar." Laskar, keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil Jane.
"Terima kasih, Boo." Jane, sambil mencium pipi kiri Laskar.
"Iya, sayang, ayo Boo antar princess ke kelas, sekalian Boo ingin tahu dimana kelas princess." Laskar, dengan senyum manisnya menautkan jemari mereka.
"Iya, Boo." Jane, dengan senyum merekahnya. Perubahan sikap Jane, pagi ini membuat seisi kampus gempar
sekaligus terpesona, bagaimana tidak. Queen Bee, datang kemampus dengan menampilkan gummy smile nya dan yang membuat bertanya-tanya, siapa perempuan tampan dan cantik yang di gandeng Queen Bee kampus.
"Princess sepertinya, fans princess akan bertambah dan akan memusuhi, Boo. Lihat hanya dengan senyum princess saja mereka sudah sukses di buat terpesona. Benar-benar pesona Kim Ruby Jane." Laskar.
"Biarkan saja Boo, yang terpenting Jane hanya mencintai dan dimiliki oleh, Boo. Boo, juga sepertinya akan menjadi idol baru di kampus, lihat banyak yang berbisik-bisik membicarakan ke tampanan, Boo. Nah nambah tugas aku saja." Jane.
"Oh, tugas? Tugas apa, sayang?" Laskar, wajah bingung.
"Iya, tugas lebih ekstra lagi menjaga Boo, dari cewek-cewek centil." Jane, muka kesal.
__ADS_1
"Hahah, astaga sayang. Biarkan mereka, Boo tidak akan tergoda." Laskar, mengelus kepala Jane.
"Iya, Boo." Sampailah mereka di depan kelas Jane.
"Sayang, Boo ke kelas Boo ya, princess masuklah ke kelas." Laskar, mengelus pipi Jane.
"Kiss, Boo." Jane, memegang tangan Laskar yang mengelus pipinya.
CHUP ... (Kening)
CHUP ... (Pipi kiri)
CHUP ... (Pipi kanan)
"Sudah sayang, boo pergi dulu ya. Semangat kuliahnya sayang." Laskar.
"Iya Boo, Boo juga semangat. Aku, tunggu di kantin nanti, Boo." Jane.
"Iya, sayang." Laskar, berbalik dan pergi meninggalkan kelas Jane, ketika sudah melihat Jane masuk dan duduk
bersama teman-temannya.
"Astaga, Jane apa yang barusan kami lihat." Nayla
"Cepat ceritakan unn?" Joy menarik tangan Jane dan mendudukan Jane di antara mereka.
"Astaga, belum genap 1 hari Jane?" Jichu.
"Astaga, manusia kepo ini. Baiklah dengarkan baik-baik dan jangan potong." Jane.
Di angguki dengan gengnya.
"Kami tadi malam resmi menjadi sepasang kekasih. Singkat perjalanan kami hingga memutuskan untuk menjadi kekasih. But kami sama-sama merasa nyaman dan kami memiliki tujuan hidup yang sama. Aku yang meminta Laskar terlebih dahulu untuk menjadikan diriku kekasihnya, awalnya Laskar menolak dengan alasan kami masih belum mengenal satu sama lain. Setelah dia tahu alasan kenapa aku begitu yakin dengan meminta Laskar menjadikan ku sebagai kekasihnya, Laskar tidak menolak dan berakhirlah sekarang kami sebagai pasangan kekasih. Bahkan dalam waktu kurang 1 hari kami sudah mengetahui latar belakang keluarga kami, kami saling menerima kekurangan kami." Jane, antusias bercerita.
"What's?" Joy muka syok.
"Aku no komen Jane. Kamu sukses membuat ku tidak berkutik." Nayla dengan menggeleng-geleng kepala.
"Unnie, sebenarnya sudah menaruh curiga padamu Jane dengan tidak sengaja melihat perlakuanmu pada Laskar di ruang kesehatan kemarin. But, unnie tidak menyangka kau seagresif itu. Seorang Queen Bee kampus yang memiliki banyak fans, yang setiap harinya menerima banyak menerima kata-kata cinta dan hadiah, tapi justru yang mengejutkan dirimu yang agresif untuk di jadikan kekasih pada Laskar, yang notabennya anak baru. Unnie
__ADS_1
senang Jane, but bagaimana kalau Laskar adalah orang yang hanya bermain-main dan bukan orang yang baik? Unnie tidak ingin dirimu terluka Jane." Jichu.
"Unn, dengarkan, aku bisa merasakan Laskar adalah seseorang yang di takdirkan Tuhan untuk memberikanku
kebahagiaan unn. Bukankah sudah lama sejak mommy meninggal aku tidak merasakan kebahagiaan unn, saat melihat dan berada di dekat Laskar, jantung ku berdegub kencang, bahkan kata hatiku berkata aku mencintainya. Aku, nyaman berada di pelukannya, lidahku dimanja dengan masakan sederhanannya, perkataannya melembutkan hatiku unn. Semua tentang dia mengingatkanku pada mommy unn, dia seperti mommy, but versi kekasihku unn. Katakan unn, apa diriku tidak berhak merasakan kebahagiaan dalam hidupku?" Jane sambil menitihkan air mata menatap Jichu.
"Unnie, tidak melarangmu, kau berhak bahagia, unnie hanya takut kau merasa sakit. Unnie takut dia hanya
bermain-main denganmu, kamu adik unnie, wajar bukan seorang kakak khawatir dengan adeknya. Unnie bahagia dan mendukungmu, kalau bersama dengan Laskar, bisa membuat kamu bahagia". Jichu memeluk Jane.
"Unn, aku bingung harus bagaimana. Karena aku belum mengenal kekasihmu, but aku percaya kalau kekasih
unnie adalah yang terbaik, karena berhasil meciptakan gummy smile di wajah unnie, Aku ikut bahagia unn." Joy, ikut dalam memeluk Jane dan Jichu.
"Jane aku sebagai sahabatmu, berbahagia dengan hubungan kalian. Tidak ku sangka Jane, manusia novel menemukan pangerannya. BTW Laskar tampan." Nayla, ikut berpelukan.
"Nay, Laskar dia adalah pangeran keturunan bangsawan dari keluarga konglomerat." Jane dengan senyum merekahnya, membayangkan wajah kekasihnya.
"Jane, ku rasa kamu harus berhenti membaca novel-novelmu, lihat halumu di atas overdosis." Nayla, dengan
meledek.
"Setuju, unnie harus pensiunkan novel-novel unnie. Kasihan kekasih unnie harus mengikuti kehaluan, unnie." Joy. ikut meledek
"Jane, unnie tahu kau sedang berbunga-bunga, tapi jangan sampai gila. Keluar dari imajinasi novelmu itu." Jichu.
"Oh, kalian tidak percaya. Dengarkan aku baik-baik. Laskar Raga Darmawa anak tunggal dari Jacob Darmawa, pewaris tunggal Darmawa Company. Darmawa, keturunan bangsawan, di hormati dan di junjung di Thailand. Kalian tahukan Darmawa Company? Company terbesar di dunia, penguasa semua sektor di dunia." Jane dengan sombongnya.
Sementara 3 orang itu nyawanya sudah melayang entah kemana, mendengar pernyataan dari sahabatnya.
"Un,unnie tidak bercandakan?" Joy, menggoyangkan tubuh Jane memastikan.
"Nanti tanyakan saja pada kekasih ku, kalau kalian tidak percaya." Jane.
"Astaga, Jane, berikan tips bagaimana bisa mendapatkan Laskar. Cepat berikan Jane." Nayla, dengan memegang
pipi Jane.
"Astaga, Jane, sekalinya jatuh cinta. Spek dewa yang kamu dapatkan." Jichu, dengan tatapan antara percaya dan tidak percaya.
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti dengan datangnya dosen mata kuliah.