
Setelah kepergian Airin, baby membuka obrolan dengan unnienya.
"Unn, baby tidak suka dengan mommy." Baby, melihat ke arah Sintia dan Sintia mengalihkan atensinya ke arah baby.
"Kenapa bagitu, sayang?" Tanya Sintia.
"Baby dan mommy tadi bertemu teman mommy, baby tidak suka dia seperti berniat jahat ingin merebut mommy dari baby. Baby tidak suka dia melihat mommy baby dengan tatapan nakal. Dia meminta nomor hp mommy, tapi baby langsung tolak. Mommy, menegur baby setelah kami keluar dari lift, tapi mommy menegur baby dengan nada tinggi, baby tidak suka. Baby, hanya melindungi, mommy." Baby, dengan wajah sendunya.
"Suttsss, sudah sayang. Unnie, mengerti perasaan baby. Sudah seharusnya kita menjaga mommy dan ibu kita, baby tidak salah. Mungkin aunty, tidak bermaksud meninggikan suaranya sayang, sudah-sudah mommy, baby tidak sengaja saja kok." Sintia, sambil memeluk baby.
"Iya, unn." Jawab baby, di dalam pelukan Sintia.
***
Selang berapa lama satpam, aunty Chu dan aunty Osi sampai di depan pintu apartemen Airin dan Sintia. Sintia dan baby, masih dalam posisi yang sama. Airin, dan mommy, keluar membuka pintu.
"Nyonya, ini barang Nyonya dan ini kuncinya. Ingin di letakkan di mana Nyonya?" Satpam.
"Pak, tolong letakkan saja di atas meja itu, terima kasih, pak," Mommy.
"Sama-sama, Nyonya." Satpam.
"Jichu, Rose masuklah. Kebetulan baby dan Sintia, sedang menunggu di ruang TV." Airin.
"Iya, unn." Aunty Chu dan aunty Osi masuk menghampiri baby, dan Sintia, yang sedang berpelukan.
"Unn, ini ada sedikit hadiah dari aku dan baby. Baby, yang memilih dan di dalamnya ada lampu tidur boneka salju untuk unnienya, unn." Mommy.
"Terima kasih, kalian sering berkunjung saja unnie, dan Sintia, sudah senang, ini repot-repot harus membawa hadiah." Airin.
"Tidak repot unn, anggap ini penebus waktu kami yang tidak bisa ikut unnie berberes apartemen." Mommy.
"Iya, Jane." Airin. Airin, mengeluarkan lampu tidur boneka salju untuk di tunjukkan pada Sintia yang diberikan oleh baby. Mommy, dan Airin berjalan menuju ruang TV.
****
Sementara di ruang TV. Aunty Chu dan aunty Osi merasa aneh kenapa tiba-tiba baby, dan Sintia, berpelukan. Seperti Sintia yang sedang menenangkan baby.
"Hai baby, hai Sintia?" Aunty Osi.
"Hai aunty." Jawab mereka kompak, masih dengan posisi yang sama.
"Baby, tidak rindu aunty?" Aunty Osi.
"Baby, rindu aunty Osi dan aunty Chu." Jawab baby, melepaskan pelukan pada Sintia dan merentangkan kedua tangannya minta di pangku, aunty Chu. Aunty Chu, yang terkejut namun paham akan keinginan ponakannya, akhirnya memilih untuk mengambil baby.
"Baby, ada masalah?" Aunty Chu.
"Tidak, baby tidak suka dengan, mommy." Baby, sambil membalikkan badannya dan memeluk leher auntynya.
"Oh, tumben sayang, ada apa? Apa mommy, memukul, baby?" Aunty Chu.
__ADS_1
"Aniya aunty, baby tidak suka mommy, meninggikan suaranya pada, baby." Baby, dengan nada sendunya.
"Kenapa mommy, seperti itu, sayang." Aunty Osi. Namun baby, hanya diam. Akhirnya aunty Osi meminta jawaban pada Sintia.
"Baby, tidak suka dengan teman aunty Jane, baby merasa dia memiliki niat yang buruk. Dan baby, menolak ketika paman itu meminta nomor hp aunty Jane. Setelah keluar dari lift aunty Jane menegur baby, dengan suara yang tinggi. Baby, tidak suka." Sintia, menjelaskan.
"Sayang, mommy hanya terkejut dengan sikap baby yang tidak seperti biasanya, mommy tidak marah sayang," Aunty Osi menjelaskan,
"Benarkah aunty?" Baby, masih di bahu auntynya. Aunty Chu, hanya menyimak dan mengusap punggung baby.
"Iya, sayang." Aunty Osi.
Setelah beberapa saat, aunty Chu tidak merasakan pergerakan dari keponakannya, setelah dilihat ternyata baby sudah terlelap di pelukannya.
"Unn, anakku tidurkah?" Mommy, yang baru datang bersama Airin.
"Ya." Jawab singkat aunty Chu.
"Ji, pindahkan baby ke kamar Sintia. Kasihan kalau posisi baby seperti itu, bisa sakit badannya." Airin, berjalan menunjuk kamar Sintia.
"Iya, unn." Aunty Chu, masuk dan meletakkan baby, dengan pelan-pelan. Mommy, yang mengikuti dari belakang memberikan pembatas di sekeliling baby, agar tidak jatuh anaknya.
"Ayo keluar, biarkan baby istirahat. Unnie perlu bicara Jane." Aunty Chu, dengan mengajak Airin dan mommy keluar kamar.
***
Saat ini Sintia, sedang berada di ruang TV masih menonton kartun, aunty Osi dan Airin sedang masak di dapur. Mommy dan aunty Chu sedang berada di balkon.
"Maaf unn, aku tidak bermaksud kenaikan nada suara ku, hanya terkejut saja dengan sikap baby". Mommy.
"Siapa temanmu yang dimaksud Sintia, tadi?" Tanya aunty Chu,
"Antoy unn, kami tidak sengaja bertemu." Mommy.
"Astaga, kakak tingkat yang pernah menyatakan cintanya padamu itu?" Aunty Chu.
"Iya, unn." Mommy.
"Wajarlah baby, menilai kalau dia akan membawa dampak buruk padamu. Kamu ingatkan, bahkan daddynya baby saja, tidak begitu suka dengan dia. Kamu tahu artinya, like daddy like baby. Ah lantas kalau baby tidak melarangmu memberikan nomor hp mu, apa kamu akan memberikannya?" Aunty Chu.
"Hah, like father like daughter. Tidak unn, kalau pun baby tidak melarang, diriku yang tidak mau memberikan. Yang benar saja, hatiku sudah di lock dengan daddy baby." Mommy.
"Syukurlah otakmu masih waras. Minta maaflah nanti pada baby, beri baby penjelasan. Jangan mudah meninggikan suara ketika berhadapan dengan baby, bagaimanapun baby tetaplah anak-anak, Jane." Aunty Chu, sambil mengelus punggung mommy.
"Iya unn, bolehkah aku memelukmu sebentar, unn?" Mommy.
"Kemari, unnie tahu kamu lelah dengan kegiatanmu dan kamu merindukannya. Unnie, hanya ingin bilang Jane, kamu adalah mommy terbaik untuk baby, sekalipun kamu kekanak-kanakan, tapi kamu kamu memiliki cinta yang besar untuk baby. Jangan menyerah dan lelah, ingat kamu masih memiliki baby. Uhhh, manjanya adik unnie ini." Aunty Chu sambil memeluk mommy.
"Iya, unn." Mommy.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan dan masuk ke ruang dapur.
__ADS_1
"Makanan sudah siap, Ji tolong panggilkan Sintia dan Jane, bangunkan baby untuk makan." Airin.
"Iya, unn." Aunty Chu dan mommy.
"Sintia, sudahi dulu menontonnya, sekarang kita temui aunty Osi dan ibumu untuk makan." Aunty Chu, pada Sintia.
"Iya, aunty." Mematikan remote TV, dan menyusul aunty Chu ke meja makan.
Sementara di dalam kamar, baby, sudah bangun dan mendudukkan dirinya di atas kasur unnienya sambil menunggu nyawanya terkumpul. Tidak lama ia mendengar suara pintu terbuka dan melihat mommynya berjalan kearahnya.
"Hai sayang, sudah bangun." Mommy, mencium wajah baby.
"Iya, mom." Baby, menghamburkan tubuhnya pada tubuh mommynya.
"Tidur baby, nyenyak sayang?" Mommy, mengusap punggung sang anak.
"Tidak, baby tidak nyenyak tidur karena tidak di peluk mommy. Baby, minta maaf mommy, karena mendiami, mommy." Baby, meletakkan pipinya di bahu mommynya.
"Aniya baby, tidak salah. Mommy yang salah karena meninggikan suara mommy. Tapi, mommy berterima kasih karena baby, langsung menolak paman tadi untuk meminta nomor hp mommy, mommy pun tidak akan memberikan no hp mommy padanya." Mommy.
"Benarkah mommy? Mommy, tidak marah pada baby?" Baby.
"Tidak, mommy tidak marah. Mommy, hanya tidak suka baby bersikap seperti itu pada orang yang lebih tua sayang. Lain kali tetap menyapa, sekalipun baby, suka atau tidak, anggap saja itu sebagai rasa hormat bab, pada orang yang lebih tua. Baby, mengertikan yang mommy katakan." Mommy.
"Iya, mom." Baby.
"Uhh, pintarnya anak mommy, ini. Kita ke meja makan sekarang, sayang. Aunty Osi dan aunty Airin sudah memasak, mereka juga sudah menunggu, baby." Mommy.
"Iya mom, ayo. Tapi, sebelum itu cuci tangan dulu, mom." Baby.
"Ayo, tuan putri." Mommy, membawa baby mencuci muka dan tangan kemudian bergabung ke meja makan.
"Wah, tuan putri, sudah bangun." Aunty Chu. Baby hanya melirik tak berniat menjawab,
"Oh, astaga tadi saja memeluk aunty, sekarang setelah berbaikan dengan mommynya aunty di buang. Astaga, jahat sekali kesayangan aunty ini." Aunty Chu, dengan dramatis.
"Hahah, terima saja alurnya, unn." Aunty Osi.
"Baby, ayo makan unnie, sudah lapar." Sintia.
"Oh, sudah lapar, sayang. Ya, sudah selamat makan." Aunty Airin, mengambil makanan untuk anaknya kemudian baru dirinya.
"Baby, ingin makan apa sayang?" Mommy, yang duduk di sebelah baby.
"Tolong nasi goreng, mommy dan air putih." Baby.
" Iya sayang, ingin mommy suap atau makan sendiri?" Tanya mommy, menyodorkan piring berisi nasi goreng untuk baby.
"Makan sendiri saja mom, mommy juga makanlah." Baby.
"Iya, sayang." Mommy.
__ADS_1
Merekapun makan dengan hikmat, tanpa suara dan setelah makan mereka mengobrol ringan di meja makan. Sementara 2 bocah sedang melanjutkan tontonan mereka.