BABY ALUNA

BABY ALUNA
Flashback Daddy dan Mommy (5)


__ADS_3

Matahari datang menyinari beberapa titik di permukaan bumi. Pagi ini cuaca sangat bagus, tidak terlalu panas dan tidak memberi tanda hujan turun. Hari ini semua manusia sibuk dengan aktivitas santainya di akhir pekan. Sama halnya dengan sepasang kekasih yang saat ini sedang bersiap-siap untuk mengunjungi rumah megah orang kaya.


Ya, siapa lagi kalau bukan Jane dan Laskar yang hari ini akan bertemu dengan Daddy Jane. Laskar menjemput Jane yang berada di apartemennya, mereka akan pergi berkunjung ke rumah megah yang jarang sekali Jane tempati.


"Sudah siap untuk berangkat sekarang, princess?" Laskar membuka pintu mobil untuk Jane.


"Sudah boo, terima kasih boo. Kita berhenti di cafe sebentar ya boo." Jane, dengan senyum manisnya.


"Iya princess. Jam berapa uncle sampai nanti sayang?" Laskar, yang sudah memasuki mobil dan dirasa sudah aman melihat Jane dan dirinya memasang seat belt, dia mulai menjalankan mobil meninggalkan apartemen Jane dengan kecepatan sedang.


"Jam 08:30 daddy, sudah tiba di bandara, jam 09:45 daddy tiba di rumah boo." Jane dengan bersandar di salah


satu lengan Laskar.


"Iya, princess, ke cafe ingin sarapan sayang?" Laskar, sesekali mencium rambut Jane.


"Tidak, Jane hanya ingin membeli roti kesukaan Daddy. Dan beberapa roti untuk kita makan disana nanti boo. Boo sudah sarapan?" Jane, masih dengan memeluk lengan Laskar.


"Iya, sayang, boo sudah sarapan dengan roti dan susu cokelat. Princess, sudah sarapan?" Laskar, memilih tempat untuk memarkinkan mobilnya di area parkir cafe.


"Sudah boo, dengan roti." Jane.


"Good." Laskar, mengacak rambut Jane, bukannya marah, Jane malah memberikan gummy smilenya.


"Ayo, sayang." Laskar, membukakan pintu untuk Jane dan menawarkan tangannya untuk menghalau kepala Jane agar tidak terbentur atap mobil.


"Iya sayang, terima kasih, Boo." Jane, memeluk lengan Laskar yang sudah menutup pintu mobil.


"Sama-sama, sayang." Laskar memegang tangan Jane.


***


Mereka tengah menunggu pesanan yang sedang di buat dan di kemas. Sambil menunggu di salah satu meja, kedua mata Laskar, teralihkan dengan pemandangan anak laki-laki yang sepertinya menginginkan salah satu kue ulang tahun yang ada di dalam etalase cafe. Karena merasa kasihan, dia pun meminta izin pada Jane untuk menghampiri anak laki-laki itu.


"Princess, sayang tunggu disini dulu, boo ingin menghampiri anak laki-laki itu, sepertinya dia tertarik dengan salah satu kue ulang tahun yang ada di dalam etalase." Laskar, mengelus tangan Jane.


"Iya boo, aku tunggu disini." Jane, memperhatikan setiap gerak-gerik Laskar dari dalam cafe.


"Hai, sedang apa adik tampan ini di luar cafe?" Laskar dengan menyamakan tingginya dengan anak laki-laki itu dan dengan senyum merekahnya.


"Ah, Kakak, maaf kalau kehadiranku mengganggu selera makan Kakak. Aku hanya melihat kue ulang tahun saja Kak. Kakak lanjutkan saja makannya." Anak laki-laki tampan.


"Tidak, Kakak tidak marah tampan. Siapa namamu?" Laskar, dengan lembutnya mengusap rambut anak laki-laki itu.


"Kakak, tangan Kakak akan kotor kalau bersentuhan  denganku, namaku Jery, Kak." Anak laki-laki, itu mundur satu langkah dari Laskar, hingga tangan Laskar terlepas tidak mengusap rambut anak laki-laki itu lagi.

__ADS_1


"Jery kemari, Kakak sama sekali tidak masalah kalau harus kotor. Bukankah laki-laki harus berani dengan kotor? Jery menginginkan salah satu kue ulang tahun yang ada di dalam cafe?" Laskar, dengan lembutnya.


"Iya, Kak. Kakak, adalah super heroku. Kakak, benar laki-laki tidak boleh takut kotor. Kakak baik sekali, disaat semua orang menjauhiku karena diriku kotor, Kakak malah mendekatiku. Iya, Kakak,  hari ini adik perempuanku Nara berulang tahun, aku ingin membelikan dia kue, tapi uangku tidak cukup Kak, uangku hanya 50.000, tidak cukup untuk membeli kue." Jery yang sudah melangkah mendekat ke Laskar.


"Wah, kebetulan hari ini Kakak sedang berulang tahun juga, Kakak juga akan berbagi dengan orang lain. Sepertinya doa Jery dikabulkan Tuhan, karena Kakak akan berbagi dengan orang lain, artinya Jery juga mendapatkannya. Ayo, sekarang Jery ikut Kakak untuk bertemu dengan princess Kakak dan setelahnya Jery bebas memilih kue ulang tahun untuk Nara adik Jery." Laskar, dengan senyumnya.


"Benarkah Kak? Terima kasih Kak, terima kasih Tuhan. Iya, Kak, Jery ingin bertemu princess Kakak." Jery, dengan semangat.


"Ayo." Laskar, memegang tangan Jery memasuki cafe menemui Jane yang sudah menunggu kedatangan mereka


berdua dari tadi.


"Hai princess, kenalkan laki-laki tampan ini bernama Jery, dan Jery kenalkan ini princess Kakak." Laskar, dengan gembiranya sudah duduk di kursi bersama Jery di depan Jane.


"Hai princess unnie, perkenalkan Jery." Jery, membungkuk dan mengelap kasar tangannya dan menyodorkannya pada Jane. Perlakuan Jery, sukses membuat Laskar dan Jane tersenyum.


"Hai Jery, Jane unnie princess, Kakak." Jane, dengan menerima uluran tangan Jery.


"Ah, pesanannya belum selesai, sayang?" Laskar menatap Jane.


"Sudah sayang, Jane menunggu, Boo." Jane dengan gummy smilenya.


"Maaf sayang, tunggu sebentar ya princess. Boo, tepati janji boo dengan Jery terlebih dahulu." Laskar, dengan lembutnya.


"Iya, sayang." Jane.


"Kakak, Jery ingin yang itu saja, Kak." Menunjuk kue yang biasa saja dan ukurannya paling kecil dari yang lain.


"Kenapa tidak yang itu saja Jery." Laskar, menunjuk kue besar bergambar Frozen berwarna biru.


"Tidak Kak, itu berlebihan. Ibu, bilang harus tahu diri ketika diberikan di tolong orang lain. Itu saja sudah cukup, Kak." Jery, menatap Laskar.


"Jery dengar, bukankah sudah Kakak katakan, hari ini hari ulang tahun Kakak, jadi Jery bebas memilih kue ulang tahun untuk Nara. Kakak ikhlas berbagi dengan Jery dan Nara." Laskar, mengelus rambut Jery.


"Iya Kak, terima kasih banyak Kak." Akhirnya Jery membawa pulang kue ulang tahun Frozen, mereka berdua sedang menunggu kue ulang tahun di berikan tulisan.


Wisata masa depan. Batin Jane, yang sedari tadi tidak lepas mengamati pergerakan mereka berdua.


***


Setelah selesai dengan semua urusan di cafe saat ini mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju kediaman


Jery, Laskar meminta izin pada Jane untuk terlebih dahulu mengantarkan Jery pulang dan sekalian ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada adik Jery. Sampailah mereka di sebuah rumah kecil namun rapi dan bersih.


"Kakak, unnie ini rumah Jery, maaf kalau tidak besar dan bagus. Ayo, masuk Kak, unnie." Jery, berjalan menuju pintu rumah.

__ADS_1


"Kakak dan unnie suka dengan suasana rumah Jery, bersih dan rapi. Iya, Jery." Jawab Jane yang berjalan berdampingan bersama Laskar mengikuti langkah Jery.


"Ibu, Nara, Kakak, pulang." Jery, membuka pintu, menyapa orang di dalam rumah dan mempersilahkan Jane dan Laskar, untuk duduk. Sementara Jery mencari keberadaan Ibu dan adiknya.


Tidak lama mereka disambut dengan seorang wanita yang berusia 40 tahun dan anak perempuan berusia 5 tahun yang berada di dalam gendongan ibunya. Jane dan Laskar, berdiri dan membungkuk memberi salam pada eomma Jery.


"Maaf kalau Jery merepotkan kalian. Saya Dara, Ibunya Jery, Jery sudah bercerita kebaikan hati kalian, aunty sebagai Ibu Jery dan Nara mengucapkan terima kasih banyak." Dara yang sudah duduk dengan Nara yang berada di dalam gendongannya.


"Perkenalkan saya Laskar dan kekasih saya Jane. Jery tidak merepotkan sama sekali, aunty. Sama-sama aunty, saya dan kekasih saya hanya berbagi hal kecil dengan orang lain aunty, dan kebetulan doa Jiwoon di jawab dengan Tuhan melalui kami. Aunty maaf sebelumnya, kenapa adik Jery seperti terlihat kurang sehat? apa Nara sakit?" Laskar, dengan kelembutan. Datanglah Jery dengan membawa 3 gelas air putih.


"Silahkan diminum Kakak, unnie." Jery dengan senyum manisnya.


"Iya, Jery, terima kasih." Jane dan Laskar.


"Silahkan diminum Nak, Jane dan Laskar. Nara sedang demam." Dara membalikkan posisi Nara menghadap Jane


dan Laskar.


"Iya aunty, apa sudah di obati, aunty?" Jane.


"Sudah diberi sirup penurun panas dan sudah di kompres." Dara. Nara sudah mulai merengek.


"Iya, sayang. Ibu, di sini." Dara menenangkan Nara.


"Apa boleh Laskar gendong, aunty?" Laskar, kasihan dengan Dara yang sepertinya kerepotan mengurus rengekan Nara.


"Iya." Dara, memberikan Nara pada Laskar. Dan ajaibnya anak itu seketika langsung mengalungkan lengannya


di leher Laskar, menempatkan kepalanya di bahu Laskar, Nara anteng, seperti sudah mengenal lama Laskar.


Laskar, bersenandung kecil untuk menidurkan Nara. Dan benar saja anak itu tidak membutuh waktu lama sudah masuk ke alam bawa sadarnya, terdengar dengkuran halus dari mulutnya.


Tuhan kau benar-benar baik denganku, Kau utus pangeran tampan berhati tulus di dalam hidupku. Lihatlah sayang daddymu dengan anak orang lain saja begitu sayangnya, apa lagi dengan dirimu nanti sayang. Batin Jane, yang sedang tersenyum melihat pemandangan di depannya. Dia membayangkan nanti perlakuan Laskar akan lebih manis lagi dengan anak-anak mereka nanti.


Setelah menidurkan Nara di kamar rumah Dara, Laskar dan Jane pamit dengan Jery dan Dara. Karena mereka sudah kedeluan dengan daddy yang sepertinya sudah lebih dulu sampai di rumah.


"Aunty, Jery, Kakak dan unnie pamit pulang dulu ya. Cepat sembuh untuk Nara dan sampaikan ucapan ulang tahun


dari Kakak dan unnie." Laskar dan Jane yang saat ini sedang berada di depan pintu rumah Jery berpamitan.


"Terima kasih banyak Kakak, unnie dan selamat ulang tahun juga untuk Kakak. Nanti akan Jery sampaikan


Kak, unn." Jery, dengan senyumnya.


"Terima kasih Nak, Laskar dan Jane, Tuhan membalas kebaikan kalian. Selamat ulang tahun juga untuk Nak, Laskar." Dara.

__ADS_1


"Ah, iya aunty." Jane dan Laskar, meninggalkan kediaman Jiwoon dan saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju rumah Jane.


__ADS_2