
"Tidak, terasa baby sudah tepat 8 tahun. Perasaan baru kemarin baby, baru belajar berjalan, berbicara, sekarang
sudah bisa kesana kemari, sudah bisa mengungkapkan isi hatinya." Mommy.
"Betul sekali unn, kemarin saja masih merangkak, sekarang sudah bisa berjalan sendiri." Aunty Osi.
"Bayi kecilku sudah dewasa." Aunty Chu.
"Iya Jane, kita sebagai orang tua akan sangat merasa rugi kalau harus melewatkan setiap tumbuh kembang anak kita. Lihat, sekarang tidak terasa, tiba-tiba mereka sudah bisa berlarian, menanggapi ucapan kita dan lainnya. Kita, sebagai orang tua, menikmati saja setiap proses tumbuh kembang anak kita. Namun, harus tetap dalam pengawasan kita." Airin.
"Iya, unn. Ngomong-ngomong unn, kemarin aku, sudah berbicara dengan pihak sekolah tentang Sintia dan baby, yang akan satu sekolah. Sintia, bisa mulai bersekolah 3 minggu lagi. Apa tidak masalah untuk Sintia, unn?" Mommy.
"Unnie, sudah membuka obrolan mengenai dirimu yang menawarkan Sintia, untuk satu sekolahan dengan baby. Respon Sintia, sangat bersemangat, dia selalu menanyakan kapan dia bisa mulai bersekolah, karena kata Sintia dengan satu sekolahan yang sama dengan baby, akan membuat mereka bisa bertemu hampir setiap harinya." Airin.
"Ah, bagaimana kalau kita pergi berlibur ke Paris 1 minggu lagi sebelum Sintia dan baby, masuk sekolah?" Aunty Chu.
"Boleh juga unn, kebetulan di minggu depan jadwalku kosong." Aunty Osi.
"Aku ikut saja unn, CEO bebas." Mommy.
"Sombongnya CEO satu ini." Aunty Chu.
"Bagaimana unn, unnie bisakan ikut kami bersama Sintia?" Aunty Osi.
"Unnie, tidak enak dengan kalian. Kalian sangat baik pada unnie dan Sintia. Apa lagi unnie dan Sintia, belum pernah sama sekali naik pesawat berangkat keluar negeri. Akan sangat merepotkan perjalanan kalian nanti." Airin.
"Unn, ini permintaan baby, unn. Apa yang akan kami jawab kalau baby, bertanya kenapa unnie dan Sintia tidak ikut? unnie, tahukan baby, sangat menyayangi unnienya." Aunty Osi.
"Ikut kami unn, kita akan berlibur bersama unn. Anggap saja ini rezeki unnie dan Sintia, untuk bisa pergi berlibur keluar negeri. Kita akan mengambil cuti dari agensi, unn." Aunty Chu.
"Unn, Unnie dan Sintia, sudah menjadi bagian dari kami, jadi jangan katakan lagi kalau unnie dan Sintia akan merepotkan kami. Baby, akan sedih bahkan tidak akan jadi pergi keparis kalau unnie dan Sintia, tidak ikut pergi, unn." Mommy.
"Iya, unnie dan Sintia, akan ikut." Airin.
"Call." Aunty Chu.
__ADS_1
***
Sementara di dalam kelompok anak-anak yang sedang bermain dengan mainan baru dan ada juga yang sedang makan dan mengobrol, terdapat baby dan Sintia yang ikut dalam membaurkan diri mereka. Mereka bermain dan mengobrol dengan canda tawa mereka. Sampai antensi baby tertuju pada salah satu anak perempuan yang duduk menyendiri di bawah pohon dengan memegang satu batang coklat. Baby, yang merasa tertarik dengan apa yang dia lihatpun berjalan menghampiri anak perempuan tersebut.
"Hai, apa baby, boleh duduk di sampingmu?" Baby, berbicara pada anak perempuan itu.
"Silahkan." Anak perempuan.
"Perkenalkan baby, namamu siapa?" Baby, menyodori tangannya.
"Wendy." Wendy, dengan menanggapi tangan baby.
"Unnie, kenapa duduk disini sendirian, kenapa tidak bergabung bersama mereka?" Baby.
"Aku rindu dengan ibu dan ayahku". Wendy.
"Dimana ibu dan ayah unnie?" Baby.
"Ibu dan ayah unnie, sudah meninggal dalam kecelakaan mobil." Wendy.
"Terima kasih, baby. Apa unnie, boleh memeluk baby, unnie rindu ibu dan ayah?" Wendy.
"Kemari uun, peluk baby. Kalau itu bisa membuat rasa rindu unnie, pada ibu dan ayah unnie, terobati." Baby, merentangkan tangannya dan Wendy masuk ke dalam pelukan baby.
"Unnie, jangan sedih ya. Unnie, harus tersenyum kasihan ibu dan ayah unnie, kalau melihat unnie sedih. Mereka, juga akan sedih di atas sana. Unnie, harus kuat, unnie harus semangat mengejar cita-cita unnie, buktikan pada ibu dan ayah unnie. Kalau unnie bisa mencapai impian unnie dan membanggakan mereka dengan unnie manjadi sukses. Baby, akan sesekali kesini menjenguk dan bermain bersama, unnie." Baby, menepuk-nepuk pelan punggung Wendy.
"Terima kasih baby. Unnie, akan menjadi anak yang membanggakan untuk ibu dan ayah unnie. Baby, janji ya akan mengunjungi dan bermain dengan, unnie." Wendy melepaskan pelukan mereka dan menyodorkan jari kelingking nya pada baby.
"Iya unn, baby tidak pernah ingkar janji. Baby, berjanji." Baby, menerima uluran kelingking jemari Wendy.
"By, astaga unnie mencari baby dari tadi. Ayo, pulang mommy dan aunty sudah mengajak untuk pulang." Sintia.
"Ah unn, maaf baby, tidak bilang kalau baby kesini. Unn, kenalkan ini Wendy unnie dan Wendy unnie ini unnienya baby Sintia unnie." Baby, mengenalkan Sintia pada Wendy.
"Ah, Wendy." Wendy, mengenalkan diri pada Sintia, dengan menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Sintia." Sintia, menerima uluran tangan Wendy, dan dengan senyuman.
"By, kita samperin mommy baby dan aunty. Ayo, Wendy, ikut kami." Sintia, menarik tangan baby, dan mengajak Wendy.
"Unn, ayo kesana samperin mommy baby dan aunty baby." Baby.
"Tudak, unnie, disini saja. Sampaikan salam unnie pada mommy dan aunty baby. Baby, dan Sintia, jangan lupa sering-sering bermain kesini ya." Wendy. memeluk baby, dan Sintia.
"Iya, unn, baby dan Sintia unnie, akan sering main kesini. Unnie, jaga kesehatan ya." Baby, membalas pelukan Wendy.
"Iya Wen, kami akan sering bermain kesini." Sintia, sambil membalas pelukan Wendy. Mereka pun berpisah. Baby, dan Sintia, menyamperi tempat keberadaan mommy, aunty.
"By, kita pulang, sayang." Mommy, menggendong baby, sambil mengelap keringat di kening anaknya dan mengelap kedua tangan baby, dengan tisu basah.
"Iya, mommy." Baby, menyandarkan kepalanya pada bahu mommynya, karena baby, sudah merasa mengantuk dan kelelahan.
"Unn, kami pulang dulu ya, kalian pulang hati-hati." Mommy, memisahkan diri.
"Iya Jane, unn." Aunty. Sintia, sudah tidur di pelukan ibunya.
***
Saat ini baby, dan mommy, sudah berada di dalam kamar. Selama di perjalanan baby, tidur di pelukan mommynya. Setelah sampai rumah mommy, membersihkan dirinya dan baby, yang setengah sadar karena masih mengantuk.
"By, sini mommy peluk, lanjut tidurnya, sayang." Mommy, memeluk baby, dan mengusap punggung putrinya.
"Iya, mommy. Mom, baby tadi bertemu dengan teman baru baby. Namanya Wendy unnie. Wendy unnie, sudah tidak memiliki ibu dan ayah. Ibu dan ayah Wendy unnie, meninggal dalam kecelakaan mobil. Baby, dan Sintia unnie berjanji pada Wendy unnie, untuk sering berkunjung kesana. Kita akan sering kesana kan mom?" Baby, menatap mata mommynya.
"Wah, baby dan Sintia unnie sudah memiliki teman baru. Baby, harus bersyukur, setidaknya baby, masih memiliki mommy, sebagai orang tua baby. Iya, sayang kita anak sering bermain kesana." Mommy, mencium kening anaknya.
"Iya, mom, baby sangat bersyukur, mom. Terima kasih, mom." Baby, mencium bibir mommy.
"Iya, sayang, sekarang kita tidur ya. Selamat malam baby, mommy, mencintaimu dan selamat ulang tahun untuk baby." Mommy, mencium bibir baby.
"Iya, mommy, selamat malam juga, mommy. Baby, mencintai, mommy juga." Baby. Mereka, tidur dengan saling berpelukan.
__ADS_1