
"Aunty, kapan berangkatnya kenapa lama sekali mommy di dalam?" Baby, bertanya pada aunty Osi sedang berada di pangkuan auntynya
"Nah itu mommy, sayang." Aunty Osi, sambil mengarahkan pandangannya pada mommy, yang sedang berjalan menuju mobil. Airin, Sintia dan aunty Chu beda mobil dengan baby. Mereka diantar dengan pak Jack, baby satu mobil dengan aunty Osi dan mommy bersopir kan pak Won.
"Hai, sayang". Sapa mommy, setelah mendudukkan dirinya di dalam mobil bersama aunty Osi dan baby. Mobil Pun berjalan menuju bandara.
"Mommy, kenapa lama sekali di dalam?" Baby, masih di pangkuan aunty Osi menatap mommynya.
"Maaf sayang, mommy tadi menitipkan Leo dan rumah pada Nek Han, dan paman Sttif terlebih dahulu." Mommy.
"Ah, benarkah mommy, terima kasih, mommy." Baby, dengan senyumnya.
"Sama-sama sayang, tidak ingin duduk di pangkuan mommy?" Mommy, menawarkan diri sambil mengelus rambut baby.
"Tidak, sesekali dengan aunty Osi, tak apa kan, mom." Baby, bertanya dengan lembutnya, agar tidak menyinggung perasaan mommynya.
"Lakukan apapun yang membuat baby, nyaman, sayang." Mommy, sambil membalas senyuman anaknya dan mengusap kepala baby.
Sepanjang perjalanan menuju bandara mommy dan aunty Osi asik berbincang mengenai model baju atau hal-hal yang sedang trendy di dunia saat ini. Hingga, mobil berhenti di bandara, mereka tidak menyadari kalau baby, tertidur. Sepanjangan perjalanan tadi.
"By, kita sudah sampai sayang. Ingin aunty, gendong atau baby di gendong, mommy." Aunty Osi, yang belum sadar, karena tak mendapat jawaban dari baby, mommy menundukkan pandangan dan melihat wajah baby yang ternyata sedang tertidur.
"Ah, pantas saja tidak ada pertanyaan sepanjang perjalanan. Baby, tidur, aunty." Mommy, menirukan suara anak kecil di kalimat akhirnya.
"Oh, tidur." Aunty Osi, membernarkan posisi baby.
"Rose, tunggu biar unnie turun terlebih dahulu. Biar unnie yang menggendong baby." Mommy, keluar dari mobil, berjalan ke sisi mobil tempat baby dan aunty Osi berada, membuka pintu dan mengambil alih tubuh baby untuk berada di pelukan mommy.
Aunty Osi pun memberikan baby, dengan hati-hati dan memperbaiki baju belakang baby, yang sedikit terbuka.
"Ah, Rose, unnie minta tolong kamu pegang tas unnie dan bilang dengan Stiff untuk langsung saja membawa koper ke bagian pemeriksaan barang, setelahnya minta tolong buat di bawakan ke bagasi pesawat." Mommy, sambil mengusap punggung baby.
"Iya, unn." Aunty Osi, membawa tas jinjing mommy dan menghampiri Stiff berbicara seperti yang mommy katakan. Setelahnya ia menemui baby dan mommy.
"Unn, sepertinya kita langsung saja. Airin unnie, Jichu unnie, dan Sintia, sudah berada di ruang tunggu VVIP." Aunty Osi, sambil membawa tas miliknya dan milik mommy baby.
"Iya, Rose." Mommy dan aunty Osi berjalan menuju ruang VVIP bersama baby, yang masih nyaman tertidur di pelukan mommynya.
__ADS_1
***
"Di sana mereka, unn." Aunty Osi, menunjuk arah keberadaan Airin, Jichu, dan Sintia, yang sedang berbincang sembari menunggu kedatangan mereka.
"Ah, kalian baru tiba. Apa baby tidur Jane?" Aunty Airin, yang lebih dulu menyadari keberadaan mommy Jane, aunty Osi dan baby.
"Iya unn, baby tidur." Mommy, duduk di samping aunty Chu.
"Sintia, apa dirimu siap untuk naik pesawat?" Aunty Osi.
"Hemm, iya aunty, sedikit takut karena Sintia belum pernah naik pesawat." Sintia, dengan ragu menjawab.
"Hei, tenang lah. Bukankah aunty sudah katakan. Di pesawat hanya sedikit menegangkan ketika sedang landas dan mendarat nya saja, setelah berada stabil di permukaan awan nanti Sintia, bisa melihat awan yang berbeda bentuk dan warna langit." Aunty Chu, menghilangkan rasa takut Sintia sambil mengusap rambut Sintia.
"Benar apa yang di katakan aunty Chu, jadi jangan takut oke." Aunty Osi.
"Iya, aunty." Sintia.
"Ah, sepertinya kita sudah di panggil. Kalau begitu ayo naik ke pesawat." Aunty Chu.
Saat ini mereka duduk di kursi masing-masing dengan baby, yang sudah bangun dan duduk di sebelah bangku mommynya.
"Baby, ingin sesuatu, sayang?" Tanya mommy, sambil mengelus jemari baby.
"Mom, baby haus." Baby, setengah sadar.
"Iya sayang, sebentar ya". Mommy memanggil Pramugari.
"Saya minta 2 botol air putih dan satu kota susu cokelat." Mommy, pada Pramugari. Langsung saja Pramugari itu mengambilkan pesanan mommy.
"By, buka dulu matanya. Di minum dulu sayang." Mommy, menyodorkan pipet yang terhubung dengan botol air putih.
"Iya, mom." Baby, meminum air dari pipet.
"Sudah, mom." Baby.
"Iya, sayang. Butuh sesuatu lagi, sayang?" Tanya mommy.
__ADS_1
"Mom, tolong temani baby ke toilet." Baby.
"Iya sayang." Menggandeng, tangan baby menuju toilet.
Airin, Sintia, aunty Chu sedang tidur. Sintia, awalnya takut ketika pesawat baru ingin terbang, tetapi setelah pesawat di atas, dia puas dengan memandangi awan dan langit, benar kata aunty Chu, kalau itu sangat indah. Aunty Osi, sedang sibuk dengan earphone nya, karna dia sedang menonton sambil mengemil makanan.
"Mommy tolong, baby kesusahan membuka celana baby, baby ingin buang air kecil, mom." Baby.
"Iya sayang, mommy gulung dulu ujung lengan baju baby." Mommy, menggulung lengan baju baby, setelahnya baru membantu membuka celana baby.
"Silakan, sayang." Mommy.
"Terima kasih, mommy." Baby, buang air kecil dengan perasaan lega.
"Sudah, mom." Baby.
"Iya sayang, sebentar mommy, siram dan bersihkan dulu. Baby, jangan pegang apa pun, tangan baby belum mommy bersihkan." Mommy, memperingati baby.
"Iya, mom." Baby, yang sedang di bersihkan oleh mommynya.
"Nah, sudah selesai sayang. Kita kembali ke tampat." Mommy, mengajak baby, keluar dari toilet.
"Iya, mom." Baby.
Duduklah mereke seperti semula.
"Baby, tidak ingin tidur lagi?" Mommy.
"Tidak mom, baby sudah puas tidur." Baby.
"Mom, apa daddy suka awan?" Baby.
"Daddy baby, sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan benda mati yang ada di atas langit sayang, seperti matahari, bulan, bintang, awan, pelangi, hujan, dan daddy sangat tertarik dengan pembahasan alien, sayang." Mommy.
"Benarkah mom? Mommy tolong cerita awal mommy bertemu, daddy, hingga mommy menikah dan memiliki, baby." Baby, dengan semangatnya.
"Iya, sayang." Mommy.
__ADS_1